Tuesday, April 21, 2015

Hantu by Ono Sawao

Haaaaaaaaaaai! Wah, udah lama banget yaa aku nggak nge-blog! Mulai hari ini, ceuceu Kumi chan mau share-share cerpen-cerpen Jepang yangcoba-coba aja aku terjemahin.

Ayo ah langsung capcus! Selamat membaca. Minta komennya yaa biar ceu Kumi chan ini tambah pinter. ^__^





 Hantu
Oleh Ono Sawao

            Di tengah panasnya musim panas yang menyengat, dan angin sejuk yang memanggil daun untuk jatuh, aku selalu teringat sebuah kenangan. Kenangan saat aku masih remaja dan tampan (?). Saat itu aku pindah rumah dari Koishikawa ke Akasaka. Halaman di rumah baruku luas sekali. Bukit Azabu yang tinggi menjulang, berdiri tegak di belakang halaman yang sudah lumutan. Daun-daun pohon Yakurumi seperti menggantung di atas langit dengan rimbunnya. Hamparan bunga-bunga di bawah bukit yang lembab dan basah. Daun-daun pohon Ara yang membentang membentuk bayang-bayang gelap. Saking gelapnya sampai pelosok halaman itu tidak bisa tersinari matahari. Rumah yang keliatan stylish dengan pagar kayu yang mengelilinginya ini, sangat cocok dengan nuansa elegan favorit Ayah. Di rumah yang bisa dibilang besar ini, selain ruang tamu sepuluh tatami[1]di lantai dua, ada juga ruangan bertatami enam dan delapan.  Kamarku adalah ruangan yang bertatami enam sedangkan ruangan bertatami delapan di sebelahnya diberikan ke kakak perempuanku yang kedua. Sedangkan orang lain selain Ayah-Ibu ditempatkan di lantai bawah.
            Dapurnya luar biasa luas. Aku yang kekanak-kanakan merasa senang bisa memanfaatkan ruang dapur ini untuk bermain bersama teman di hari hujan, tapi..... di tengah lantai semennya, ada sebuah sumur besar berdiameter lima shaku[2]. Namun sumur ini setengahnya ada di dalam dan setengahnya lagi berada di luar rumah. Aku yakin pasti maksudnya supaya bisa digunakan untuk mengambil air dari dalam atau luar. Tapi yang bikin aneh, sumur itu ditutup sebuah papan yang super besar. Ditambah lagi papan itu dipaku kuat dengan paku-paku besar seakan supaya tidak ada yang membukanya. Pakunya udah berkarat dan berdebu disana-sini. Tentu saja kami tidak bergantung pada sumur itu karena masih ada kran air.
            “Yaah, sayang sekali sumur sebagus ini dipaku. Tapi ada bagusnya juga sih, banyak anak-anak disini. Kalo jatuh bisa bahaya. Untuk sementara, biarkan begini saja dulu deh...” begitulah kata Ibuku sambil tersenyum saat membereskan barang-barang pindahan. Kemudian, saat selesai membereskan meja sehabis makan malam, setelah tadi mengantarkan mie salam pindahan ke tetangga, aku mendengar Ibuku berbicara dengan Ayah.
            “Ayah, bukankah ini terlalu murah untuk rumah semewah ini?”
            Seekor katak hitam bergerak pelan sekali seperti takut kepeleset di atas tanah yang basah. Apa mungkin karena tanggul di belakang yang penuh dengan air, sekitarnya mendadak gelap bagai malam yang sudah datang dengan cepat. Aku membuka pintu kertas hendak keluar dari ruang perlengkapan, menuju kamarku yang berada di lantai dua.
            Tiba-tiba terdengar suara seperti ringkikan kuda dan setelah itu samar-samar terdengar suara rintihan jauh dari dasar lantai semen. Tapi bagiku suara-suara itu seperti menyedihkan dan membuatku penasaran.
            “Tuan muda, suaranya kedengeran menyedihkan dan mengganggu sekali, ya. Kalo pergi ke dapur, akan ada sesuatu yang menyeramkan muncul lho.” Pembantuku yang sedang membentangkan selimutku bernama Kaya, bicara seperti itu padaku.  Setelah menata rak buku, aku langsung menarik selimut dan merentangkan kakiku. Apa mungkin karena jendelanya ditutup, kamarku serasa panas dan pengap sekali. Tapi tanpa sadar aku udah tertidur lelap—mungkin karena kecapekan mengurus barang pindahan.
            Entah udah berapa lama waktu berputar aku nggak tau. Tiba-tiba aku membuka mata—lebih tepatnya seperti dibangunkan tiba-tiba oleh seseorang, sehingga aku membuka mata. Kepalaku anehnya terasa ringan. Urat-urat kayu terlihat jelas di mataku yang sedang memandang langit-langit kamar. Saat mataku memandang tembok, terlihat pigura yang letaknya miring. Aku berniat akan membetulkan letak piguranya besok pagi). Mataku tertutup lagi. Tapi anehnya aku sama sekali nggak mengantuk. Saat itu juga, aku mendengar sesuatu yang bergerak dari arah ujung kakiku tepatnya di kaki tempat tidurku. Aku mengangkat kepalaku untuk memastikan bahwa mungkin saja ada kucing kebetulan lewat. Tapi....
            “AAAAAAA!” aku menahan napasku.
            Kepala! Kepala buntung yang basah kuyup seperti bermandikan air. Aku sampai mengucek mataku dua-tiga kali, dan sayangnya ini bukan mimpi apalagi perasaan saja. Kepala buntung yang masih hidup. Dari mulutnya yang hitam, gigi putihnya bergetar dan keluarlah suara seperti dengungan nyamuk. Kulit wajahnya hijau pucat seperti teh hijau pahit. Rambutnya yang basah meneteskan air, segaris-dua garis terjulur dari kepalanya. Dan di antara helai rambutnya yang basah, ada mata melotot yang terus memandangku dengan sorot yang mengerikan. Aku ingin berteriak. Aku ingin kabur dari tempat tidurku. Tapi kerongkonganku mendadak kering. Jangankan suara, badanku aja sama sekali nggak bisa digerakkan. Aku memang pernah dengar samar-samar soal hantu atau monster. Namun wajah hantu wanita tua ini, pembuluh darah yang berada di mata putihnya sampai terlihat jelas seperti benang merah. Rasa gemetar di tubuhku mendadak hilang. Aku udah berusaha menutup mataku, tapi entah kenapa serasa nggak mungkin bisa. Saat aku merasa keadaan ini sangat buruk, kepala hantu wanita tua itu bergoyang-goyang. Helai rambutnya ikut bergerak seperti benang yang terulur mengikuti gerak kepala yang bagaikan menarik bayangannya. Kepala buntung itu terus saja melayang-layang lalu mendekat ke arahku. Dalam sekejap. Tapi sesaat setelah itu yang terlihat di mataku adalah badan bagian atas lengkap dengan kulit dan tulang yang terbungkus kimono bermotif garis mekura. Tulang-tulang rusuk tersusun secara diagonal. Saking mengerikannya, aku sampai ingin menutup seluruh tubuh sampai kepalaku dengan selimut. Tapi tangan dan kakiku mendadak mati rasa. Tubuh basah kuyupnya yang berjarak tiga shaku dariku, mulai terlihat kedua tangan dan kakinya yang merangkak naik menuju tempat tidurku. Kedua tangannya yang seperti pohon mati yang kurus kering, mulai mendekati kakiku lalu lutut dan....
            Berat badan nenek itu rasanya melebihi berat kasurku! Tetesan air dingin yang membasahi seluruh tubuhnya mulai menjalar ke kaki sampai punggungku. Matanya terus menatapku. Sorot matanya menekan dalam seperti menyimpan dendam atau menuduhku. Dia mulai merayap ke perutku. Ubun-ubun kepalanya pun terus saja meneteskan air. Seluruh wajah dan mulutnya pun penuh air. Dari gusinya, keluar segaris darah yang mengalir di dagunya seperti seutas benang. Bola matanya berwarna merah bata segar. Dari gigi depannya  yang renggang, terdengar suara rintihan seperti gemuruh tanah. Jangankan mengalihkan pandanganku, mau menggerakan leher saja aku sama sekali tidak bisa. Akhirnya, badannya telah sampai di dadaku. Tangannya yang kering seperti laba-laba mulai menjerat leherku.
            Wajah nenek itu jadi dekat sekali dari wajahku. Kerutan-kerutan di keningnya terus saja terlihat. Rambutnya yang basah, menutup wajahku. Napasnya yang sedingin es, merasuki darahku. Bisikannya yang seperti mencekik, terdengar di telingaku. Matanya penuh darah. Bola matanya yang mengeluarkan darah, menetes, menetes dan terus menetes ke wajah dan pipiku sambil memandang ke arahku. Aku sudah tidak sanggup bernapas lagi.
            ``AH!`` Tiba-tiba dua bola matanya jatuh persis di atas wajahku. Perasaanku sih begitu. Rasanya seperti mau pingsan. Saat aku berteriak, wajah nenek itu melayang-layang di atasku. Aku menggeliat seperti orang gila. Badanku serasa kosong dan ringan seperti spon. Dan saat itu juga.....
            ``WAAAAAA!`` aku berteriak dan membuka paksa pintu geser yang membatasi ruanganku dengan ruang sebelah.
            ``Kaaaak!``
            ``Hmm?``
            ``Ada hantu nenek-nenek!``
            ``Emang nenek kali....``
            Mereka berdua turun tangga Dan tiba-tiba kaki mereka kehilangan keseimbangan dan pingsan seperti telah direncanakan. Mereka pingsan pukul dua dini hari. Dan seketika itu seluruh penjuru rumah menjadi sangat ramai.
            ``Hantu nenek-nenek? Mana ada yang seperti itu....`` Kata Ayah sambil tertawa. Merasa kalau mereka cuma bermimpi. Kakak saat itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, tapi ia memang mengalami hal yang sama dengan yang kuceritakan. Karena pada saat aku mendobrak pintu geser kamar kakak, ia sudah terbangun dan tanpa disangka kami berteriak. Lalu aku dan kakakku siuman setelah pembantu kami Kaya memberikan teh hangat untuk kami.
             ``Aneh sekali, ya. Kalau memang cuma mimpi, mana mungkin kalian melihat mimpi yang sama?`` Wajah Ibuku menjadi pucat.
            ``Tuan, dada saya juga terkadang merasa sesak. Saya rasa....rumah ini menyeramkan.`` Kaya berkata begitu dengan nada gemetar sambil membetulkan kerah piyamanya.
           ``Mana mungkin ada yang seperti itu.`` Ayah dan pelayan rumah, Tokuyoshi naik ke lantai dua lalu turun lagi.
            ``Kasurnya nggak basah, kok. Mungkin tadi itu tikus. Kalian berdua pasti sedang melantur tadi. Ahahaha....`` kata Ayah sambil ketawa lebar. Setelah mendengar kata-kata ayah tadi, Ibu yang sedang pergi ke dapur karena sebentar lagi pagi datang, berteriak-teriak kencang.
            ``Tapi,Yaaah! Apa Ayah nggak mikir kalo uang sewanya terlalu murah untuk rumah sebesar ini?`` Ibu mengernyitkan alisnya.
            ``Ahahahaha! Mana ada hantu di dunia ini! Nggak mungkin! Mungkin saja mereka berdua tidur sambil merangkul dada mereka sendiri. Oke, kalau begitu malam ini Ayah akan tidur di lantai dua. `` Ayah tertawa lebar dan tanpa terasa malam telah datang. Terdengar suara kendaraan di ruang peternakan susu dari luar.

            Banyak sekali cacing tanah yang gendut, menggeliat di sekitar sumur yang mencuat keluar seperti bentuk bulan separuh. Cacing-cacing itu melewati sebuah galah dan merayap di tanah yang lembut. Laba-laba tanah yang seperti mutiara kaca itu hancur. Permainan seperti ini menjadi asik setelah mendekati malam kedua.
            Saat sudut taman dan tembok lumpur yang resimen itu telah tertutup oleh kegelapan yang pekat, aku dan kakakku jadi takut.
            ``Pokoknya malam ini aku nggak mau tidur di lantai dua!`` aku sampai terlentang di lantai dan berguling-guling di sekitar pelayan Tokuyoshi dan Ibu. Saat Kaya datang dari lantai dua membawa baju tidur kami, Kaya sudah menyentuh sana-sini untuk mengecek apakah masih ada darah atau tetesan air dari nenek kemarin malam. Tapi nyatanya, tidak ada perubahan apa-apa di kasur empuk bermotif bunga-bungaku. Akhirnya aku dan kakakku tidur bersama Ibu. Kalau ada Ibu, aku sama sekali tidak merasakan gelisah dan entah sejak kapan aku sudah jatuh tertidur. Namun karena aku mendengar suara berisik di sekitar kamar di tengah malam, aku membuka mataku dan semua anggota keluargaku termasuk Ayah yang berwajah pucat duduk melingkar sambil terus saja berbicara.
            ``Hantu nenek-nenek itu benar-benar ada! Itu benar! Itu benar! Nenek-nenek seperti tikus kebasahan.``
            Ini suara Ayah! Entah sejak kapan aku keluar dari selimutku, dan duduk melingkar bersama yang lain. Cerita Ayah persis seperti yang aku lihat kemarin malam.
            ``Aneh! Rumah ini benar-benar aneh!`` Ayah yang sudah selesai bercerita, menyilangkan lengannya lalu termenung. Dan entah sejak kapan juga aku memeluk lengan Ibuku erat-erat.
            ``Itu cuma hantu penunggu rumah, kok. Jangan begitu. Ayah sendiri kan yang bilang ini rumah bagus dengan selera pemiliknya yang unik?  Kalau Ibu sih sudah merasa nggak enak sejak tiba di depan pagar rumah. Kaya juga yang sering ke dapur saja, selalu merasa merinding, kok.`` Kata Ibu sambil memandang ke arah Kaya.
            ``Iya benar, Tuan. Pasti itu hantu penunggu rumah.`` kata Kaya dengan tubuh gemetaran dan perasaan kosong.
            ``Iya. Ngomong-ngomong, dibalik bayangan pohon di taman waktu sore, saya juga pernah liat kakek dan nenek berkimono hitam sedang berdiri mematung. Tidak ada bayangannya, lho. Setelah itu mereka menghilang.....benar-benar aneh!`` Tumben sekali, si pelayan Tokuyoshi memandang kami dengan wajah pucat.
3
            Keesokan paginya, langit terlihat sangat cerah. Dengan cuaca cerah musim gugur yang sangat menenangkan hati. Capung merah beterbangan dengan riangnya. Misteri ketakutan kemarin malam, menjadi kesegaran yang tidak membekas satu bagian pun di pikiran mereka. Di dapur, aku berbisik-bisik cerita sesuatu dengan para pedagang yang berlalu lalang. Tidak hanya di zaman sekarang, di zaman Taisho pun banyak rumah mewah yang disewakan. Para pedagang terpaksa pindah ke sebuah rumah dan membentuk pelanggan tetapnya, sehingga kompetisi antar toko beras, toko daging dan toko sake semakin meningkat.
            ``Itu!`` mereka baru saja membuat kwitansi dan hal terpenting bagi para pedagang yang terpaksa datang adalah saat membantu orang pindahan. Hari ini banyak pedagang yang seperti itu sedang berkumpul di dapur.
            ``Waah....``
            ``Mau pindah lagi? Memang untuk sementara ini hantu itu tidak muncul, tapi bukan berarti keadaannya sudah baik, sih.``
            ``Hantu nenek-nenek itu? Aku tidak mau mengingatnya lagi.`` Ini suara Ayahku.
             ``Apakah Tuan ingin pindah tanpa tau apa-apa soal rumah ini?``
             ``Rumah ini terkenal dengan hantu penunggu rumahnya.``
            Aku yang berdiri di seberang pelayan Tokuyoshi, cuma bisa diam mendengarkan. Saat makan di sekitar celah sekat pemisah dapur yang luas, aku mendengar cerita tentang rumah ini dari pedagang di sekitar sini. Katanya, rumah ini adalah rumah bekas pembunuhan. Pemilik rumah ini sebelumnya adalah seorang nenek kaya. Beliau membangun rumah bergaya elegan ini, tapi karena merasa kesepian beliau memanggil sepupunya dan mulai hidup berdua dengannya. Namun karena sepupunya ini terjerat uang untuk wanitanya, ia mulai tergiur dengan harta sang nenek. Si sepupu berpikir kalo seandainya sang nenek tidak ada, maka semua hartanya akan jatuh ke tangannya. Maka dari itu di suatu hari, si sepupu membunuh sang nenek lalu mayatnya dimutilasi menjadi beberapa bagian kecil dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Setelah itu, ia menambahkan batu pada kotak itu sebagai pemberat dan mengubur jasad sang nenek ke dalam sumur di dapur. Kasus pembunuhan ini tidak pernah terungkap selama enam tahun, sampai akhirnya di tahun ke tujuh, sepupu yang membunuh sang nenek itu dan wanita yang bersamanya jadi gila. Mereka mengakui perbuatan yang telah mereka lakukan, dan polisi mulai melakukan pencarian di sekitar sumur. Polisi menemukan sebuah kotak dan di dalamnya terdapat jasad seorang nenek yang benar-benar telah berubah menjadi tulang-tulang putih.
            Sekarang, semua anggota keluarga sedang gemetaran diam mematung melihat hal yang sangat menyeramkan di sumur itu. Keluargaku yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan hantu nenek itu pun, diluar dugaan ternyata merasa miris juga dengar cerita tadi. Aku jadi mengerti perasaan sang nenek yang mungkin ingin menyampaikan perasaannya walau dalam wujud hantu.
            Begitulah cerita masa remajaku mengenai pengalamanku melihat hantu menyeramkan. Mulai saat ini, aku percaya akan keberadaan makhluk halus. Aku juga pernah dengar dari temanku yang percaya akan adanya hantu kakek Tokugawa Musei dan hantu Awatani Noriko yang menyeramkan. Kakek Kato Akaishi pun pernah bilang kalau beliau terkadang ketemu hantu saat pergi memancing. Musim semi tahun ini saat aku bertemu dengan Hino Yoshihei di Hakata Kyushu, dia bilang pernah bersahabat dengan Kappa. Apakah semua cerita mereka benar?
            Kakak perempuanku yang saat itu sama-sama melihat hantu nenek itu sekarang sudah punya tujuh anak.


[1] Satuan hitung luas untuk kamar Jepang
[2] Ukuran lebar Jepang. 1shaku=30.3cm