Haaaaaaaaaaai! Wah, udah lama banget yaa aku nggak nge-blog! Mulai hari ini, ceuceu Kumi chan mau share-share cerpen-cerpen Jepang yangcoba-coba aja aku terjemahin.
Ayo ah langsung capcus! Selamat membaca. Minta komennya yaa biar ceu Kumi chan ini tambah pinter. ^__^
Hantu
Ayo ah langsung capcus! Selamat membaca. Minta komennya yaa biar ceu Kumi chan ini tambah pinter. ^__^
Hantu
Oleh Ono Sawao
Di tengah panasnya musim panas yang
menyengat, dan angin sejuk yang memanggil daun untuk jatuh, aku selalu teringat
sebuah kenangan. Kenangan saat aku masih remaja dan tampan (?). Saat itu aku
pindah rumah dari Koishikawa ke Akasaka. Halaman di rumah baruku luas sekali.
Bukit Azabu yang tinggi menjulang, berdiri tegak di belakang halaman yang sudah
lumutan. Daun-daun pohon Yakurumi seperti menggantung di atas langit dengan
rimbunnya. Hamparan bunga-bunga di bawah bukit yang lembab dan basah. Daun-daun
pohon Ara yang membentang membentuk bayang-bayang gelap. Saking gelapnya sampai
pelosok halaman itu tidak bisa tersinari matahari. Rumah yang keliatan stylish dengan pagar kayu yang
mengelilinginya ini, sangat cocok dengan nuansa elegan favorit Ayah. Di rumah
yang bisa dibilang besar ini, selain ruang tamu sepuluh tatami[1]di
lantai dua, ada juga ruangan bertatami enam dan delapan. Kamarku adalah ruangan yang bertatami enam
sedangkan ruangan bertatami delapan di sebelahnya diberikan ke kakak
perempuanku yang kedua. Sedangkan orang lain selain Ayah-Ibu ditempatkan di
lantai bawah.
Dapurnya luar biasa luas. Aku yang
kekanak-kanakan merasa senang bisa memanfaatkan ruang dapur ini untuk bermain
bersama teman di hari hujan, tapi..... di tengah lantai semennya, ada sebuah
sumur besar berdiameter lima shaku[2].
Namun sumur ini setengahnya ada di dalam dan setengahnya lagi berada di luar
rumah. Aku yakin pasti maksudnya supaya bisa digunakan untuk mengambil air dari
dalam atau luar. Tapi yang bikin aneh, sumur itu ditutup sebuah papan yang
super besar. Ditambah lagi papan itu dipaku kuat dengan paku-paku besar seakan
supaya tidak ada yang membukanya. Pakunya udah berkarat dan berdebu
disana-sini. Tentu saja kami tidak bergantung pada sumur itu karena masih ada
kran air.
“Yaah, sayang sekali sumur sebagus
ini dipaku. Tapi ada bagusnya juga sih, banyak anak-anak disini. Kalo jatuh
bisa bahaya. Untuk sementara, biarkan begini saja dulu deh...” begitulah kata
Ibuku sambil tersenyum saat membereskan barang-barang pindahan. Kemudian, saat
selesai membereskan meja sehabis makan malam, setelah tadi mengantarkan mie
salam pindahan ke tetangga, aku mendengar Ibuku berbicara dengan Ayah.
“Ayah, bukankah ini terlalu murah
untuk rumah semewah ini?”
Seekor katak hitam bergerak pelan
sekali seperti takut kepeleset di atas tanah yang basah. Apa mungkin karena
tanggul di belakang yang penuh dengan air, sekitarnya mendadak gelap bagai
malam yang sudah datang dengan cepat. Aku membuka pintu kertas hendak keluar
dari ruang perlengkapan, menuju kamarku yang berada di lantai dua.
Tiba-tiba terdengar suara seperti
ringkikan kuda dan setelah itu samar-samar terdengar suara rintihan jauh dari
dasar lantai semen. Tapi bagiku suara-suara itu seperti menyedihkan dan
membuatku penasaran.
“Tuan muda, suaranya kedengeran
menyedihkan dan mengganggu sekali, ya. Kalo pergi ke dapur, akan ada sesuatu
yang menyeramkan muncul lho.” Pembantuku yang sedang membentangkan selimutku bernama
Kaya, bicara seperti itu padaku. Setelah
menata rak buku, aku langsung menarik selimut dan merentangkan kakiku. Apa
mungkin karena jendelanya ditutup, kamarku serasa panas dan pengap sekali. Tapi
tanpa sadar aku udah tertidur lelap—mungkin karena kecapekan mengurus barang
pindahan.
Entah udah berapa lama waktu
berputar aku nggak tau. Tiba-tiba aku membuka mata—lebih tepatnya seperti
dibangunkan tiba-tiba oleh seseorang, sehingga aku membuka mata. Kepalaku
anehnya terasa ringan. Urat-urat kayu terlihat jelas di mataku yang sedang
memandang langit-langit kamar. Saat mataku memandang tembok, terlihat pigura
yang letaknya miring. Aku berniat akan membetulkan letak piguranya besok pagi).
Mataku tertutup lagi. Tapi anehnya aku sama sekali nggak mengantuk. Saat itu
juga, aku mendengar sesuatu yang bergerak dari arah ujung kakiku tepatnya di
kaki tempat tidurku. Aku mengangkat kepalaku untuk memastikan bahwa mungkin
saja ada kucing kebetulan lewat. Tapi....
“AAAAAAA!” aku menahan napasku.
Kepala! Kepala buntung yang basah
kuyup seperti bermandikan air. Aku sampai mengucek mataku dua-tiga kali, dan
sayangnya ini bukan mimpi apalagi perasaan saja. Kepala buntung yang masih
hidup. Dari mulutnya yang hitam, gigi putihnya bergetar dan keluarlah suara
seperti dengungan nyamuk. Kulit wajahnya hijau pucat seperti teh hijau pahit.
Rambutnya yang basah meneteskan air, segaris-dua garis terjulur dari kepalanya.
Dan di antara helai rambutnya yang basah, ada mata melotot yang terus
memandangku dengan sorot yang mengerikan. Aku ingin berteriak. Aku ingin kabur
dari tempat tidurku. Tapi kerongkonganku mendadak kering. Jangankan suara,
badanku aja sama sekali nggak bisa digerakkan. Aku memang pernah dengar
samar-samar soal hantu atau monster. Namun wajah hantu wanita tua ini, pembuluh
darah yang berada di mata putihnya sampai terlihat jelas seperti benang merah. Rasa
gemetar di tubuhku mendadak hilang. Aku udah berusaha menutup mataku, tapi
entah kenapa serasa nggak mungkin bisa. Saat aku merasa keadaan ini sangat
buruk, kepala hantu wanita tua itu bergoyang-goyang. Helai rambutnya ikut
bergerak seperti benang yang terulur mengikuti gerak kepala yang bagaikan
menarik bayangannya. Kepala buntung itu terus saja melayang-layang lalu
mendekat ke arahku. Dalam sekejap. Tapi sesaat setelah itu yang terlihat di
mataku adalah badan bagian atas lengkap dengan kulit dan tulang yang terbungkus
kimono bermotif garis mekura.
Tulang-tulang rusuk tersusun secara diagonal. Saking mengerikannya, aku sampai
ingin menutup seluruh tubuh sampai kepalaku dengan selimut. Tapi tangan dan
kakiku mendadak mati rasa. Tubuh basah kuyupnya yang berjarak tiga shaku
dariku, mulai terlihat kedua tangan dan kakinya yang merangkak naik menuju
tempat tidurku. Kedua tangannya yang seperti pohon mati yang kurus kering,
mulai mendekati kakiku lalu lutut dan....
Berat badan nenek itu rasanya
melebihi berat kasurku! Tetesan air dingin yang membasahi seluruh tubuhnya
mulai menjalar ke kaki sampai punggungku. Matanya terus menatapku. Sorot
matanya menekan dalam seperti menyimpan dendam atau menuduhku. Dia mulai
merayap ke perutku. Ubun-ubun kepalanya pun terus saja meneteskan air. Seluruh
wajah dan mulutnya pun penuh air. Dari gusinya, keluar segaris darah yang
mengalir di dagunya seperti seutas benang. Bola matanya berwarna merah bata
segar. Dari gigi depannya yang renggang,
terdengar suara rintihan seperti gemuruh tanah. Jangankan mengalihkan
pandanganku, mau menggerakan leher saja aku sama sekali tidak bisa. Akhirnya,
badannya telah sampai di dadaku. Tangannya yang kering seperti laba-laba mulai
menjerat leherku.
Wajah nenek itu jadi dekat sekali
dari wajahku. Kerutan-kerutan di keningnya terus saja terlihat. Rambutnya yang
basah, menutup wajahku. Napasnya yang sedingin es, merasuki darahku. Bisikannya
yang seperti mencekik, terdengar di telingaku. Matanya penuh darah. Bola
matanya yang mengeluarkan darah, menetes, menetes dan terus menetes ke wajah
dan pipiku sambil memandang ke arahku. Aku sudah tidak sanggup bernapas lagi.
``AH!`` Tiba-tiba dua bola matanya
jatuh persis di atas wajahku. Perasaanku sih begitu. Rasanya seperti mau
pingsan. Saat aku berteriak, wajah nenek itu melayang-layang di atasku. Aku
menggeliat seperti orang gila. Badanku serasa kosong dan ringan seperti spon.
Dan saat itu juga.....
``WAAAAAA!`` aku berteriak dan
membuka paksa pintu geser yang membatasi ruanganku dengan ruang sebelah.
``Kaaaak!``
``Hmm?``
``Ada hantu nenek-nenek!``
``Emang nenek kali....``
Mereka berdua turun tangga Dan
tiba-tiba kaki mereka kehilangan keseimbangan dan pingsan seperti telah
direncanakan. Mereka pingsan pukul dua dini hari. Dan seketika itu seluruh
penjuru rumah menjadi sangat ramai.
``Hantu nenek-nenek? Mana ada yang
seperti itu....`` Kata Ayah sambil tertawa. Merasa kalau mereka cuma bermimpi. Kakak
saat itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, tapi ia memang mengalami hal yang
sama dengan yang kuceritakan. Karena pada saat aku mendobrak pintu geser kamar
kakak, ia sudah terbangun dan tanpa disangka kami berteriak. Lalu aku dan
kakakku siuman setelah pembantu kami Kaya memberikan teh hangat untuk kami.
``Aneh sekali, ya. Kalau memang cuma mimpi,
mana mungkin kalian melihat mimpi yang sama?`` Wajah Ibuku menjadi pucat.
``Tuan, dada saya juga terkadang
merasa sesak. Saya rasa....rumah ini menyeramkan.`` Kaya berkata begitu dengan
nada gemetar sambil membetulkan kerah piyamanya.
``Mana mungkin ada yang seperti
itu.`` Ayah dan pelayan rumah, Tokuyoshi naik ke lantai dua lalu turun lagi.
``Kasurnya nggak basah, kok. Mungkin
tadi itu tikus. Kalian berdua pasti sedang melantur tadi. Ahahaha....`` kata
Ayah sambil ketawa lebar. Setelah mendengar kata-kata ayah tadi, Ibu yang
sedang pergi ke dapur karena sebentar lagi pagi datang, berteriak-teriak
kencang.
``Tapi,Yaaah! Apa Ayah nggak mikir
kalo uang sewanya terlalu murah untuk rumah sebesar ini?`` Ibu mengernyitkan
alisnya.
``Ahahahaha! Mana ada hantu di dunia
ini! Nggak mungkin! Mungkin saja mereka berdua tidur sambil merangkul dada
mereka sendiri. Oke, kalau begitu malam ini Ayah akan tidur di lantai dua. ``
Ayah tertawa lebar dan tanpa terasa malam telah datang. Terdengar suara
kendaraan di ruang peternakan susu dari luar.
2
Banyak sekali cacing tanah yang
gendut, menggeliat di sekitar sumur yang mencuat keluar seperti bentuk bulan
separuh. Cacing-cacing itu melewati sebuah galah dan merayap di tanah yang
lembut. Laba-laba tanah yang seperti mutiara kaca itu hancur. Permainan seperti
ini menjadi asik setelah mendekati malam kedua.
Saat sudut taman dan tembok lumpur
yang resimen itu telah tertutup oleh kegelapan yang pekat, aku dan kakakku jadi
takut.
``Pokoknya malam ini aku nggak mau
tidur di lantai dua!`` aku sampai terlentang di lantai dan berguling-guling di
sekitar pelayan Tokuyoshi dan Ibu. Saat Kaya datang dari lantai dua membawa
baju tidur kami, Kaya sudah menyentuh sana-sini untuk mengecek apakah masih ada
darah atau tetesan air dari nenek kemarin malam. Tapi nyatanya, tidak ada
perubahan apa-apa di kasur empuk bermotif bunga-bungaku. Akhirnya aku dan
kakakku tidur bersama Ibu. Kalau ada Ibu, aku sama sekali tidak merasakan
gelisah dan entah sejak kapan aku sudah jatuh tertidur. Namun karena aku
mendengar suara berisik di sekitar kamar di tengah malam, aku membuka mataku
dan semua anggota keluargaku termasuk Ayah yang berwajah pucat duduk melingkar
sambil terus saja berbicara.
``Hantu nenek-nenek itu benar-benar
ada! Itu benar! Itu benar! Nenek-nenek seperti tikus kebasahan.``
Ini suara Ayah! Entah sejak kapan
aku keluar dari selimutku, dan duduk melingkar bersama yang lain. Cerita Ayah
persis seperti yang aku lihat kemarin malam.
``Aneh! Rumah ini benar-benar
aneh!`` Ayah yang sudah selesai bercerita, menyilangkan lengannya lalu
termenung. Dan entah sejak kapan juga aku memeluk lengan Ibuku erat-erat.
``Itu cuma hantu penunggu rumah,
kok. Jangan begitu. Ayah sendiri kan yang bilang ini rumah bagus dengan selera pemiliknya
yang unik? Kalau Ibu sih sudah merasa
nggak enak sejak tiba di depan pagar rumah. Kaya juga yang sering ke dapur saja,
selalu merasa merinding, kok.`` Kata Ibu sambil memandang ke arah Kaya.
``Iya benar, Tuan. Pasti itu hantu
penunggu rumah.`` kata Kaya dengan tubuh gemetaran dan perasaan kosong.
``Iya. Ngomong-ngomong, dibalik
bayangan pohon di taman waktu sore, saya juga pernah liat kakek dan nenek
berkimono hitam sedang berdiri mematung. Tidak ada bayangannya, lho. Setelah
itu mereka menghilang.....benar-benar aneh!`` Tumben sekali, si pelayan
Tokuyoshi memandang kami dengan wajah pucat.
3
Keesokan paginya, langit terlihat
sangat cerah. Dengan cuaca cerah musim gugur yang sangat menenangkan hati.
Capung merah beterbangan dengan riangnya. Misteri ketakutan kemarin malam, menjadi
kesegaran yang tidak membekas satu bagian pun di pikiran mereka. Di dapur, aku
berbisik-bisik cerita sesuatu dengan para pedagang yang berlalu lalang. Tidak
hanya di zaman sekarang, di zaman Taisho pun banyak rumah mewah yang disewakan.
Para pedagang terpaksa pindah ke sebuah rumah dan membentuk pelanggan tetapnya,
sehingga kompetisi antar toko beras, toko daging dan toko sake semakin
meningkat.
``Itu!`` mereka baru saja membuat
kwitansi dan hal terpenting bagi para pedagang yang terpaksa datang adalah saat
membantu orang pindahan. Hari ini banyak pedagang yang seperti itu sedang
berkumpul di dapur.
``Waah....``
``Mau pindah lagi? Memang untuk
sementara ini hantu itu tidak muncul, tapi bukan berarti keadaannya sudah baik,
sih.``
``Hantu nenek-nenek itu? Aku tidak
mau mengingatnya lagi.`` Ini suara Ayahku.
``Apakah Tuan ingin pindah tanpa tau apa-apa
soal rumah ini?``
``Rumah ini terkenal dengan hantu penunggu
rumahnya.``
Aku yang berdiri di seberang pelayan
Tokuyoshi, cuma bisa diam mendengarkan. Saat makan di sekitar celah sekat
pemisah dapur yang luas, aku mendengar cerita tentang rumah ini dari pedagang
di sekitar sini. Katanya, rumah ini adalah rumah bekas pembunuhan. Pemilik
rumah ini sebelumnya adalah seorang nenek kaya. Beliau membangun rumah bergaya
elegan ini, tapi karena merasa kesepian beliau memanggil sepupunya dan mulai
hidup berdua dengannya. Namun karena sepupunya ini terjerat uang untuk
wanitanya, ia mulai tergiur dengan harta sang nenek. Si sepupu berpikir kalo
seandainya sang nenek tidak ada, maka semua hartanya akan jatuh ke tangannya. Maka
dari itu di suatu hari, si sepupu membunuh sang nenek lalu mayatnya dimutilasi
menjadi beberapa bagian kecil dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Setelah
itu, ia menambahkan batu pada kotak itu sebagai pemberat dan mengubur jasad
sang nenek ke dalam sumur di dapur. Kasus pembunuhan ini tidak pernah terungkap
selama enam tahun, sampai akhirnya di tahun ke tujuh, sepupu yang membunuh sang
nenek itu dan wanita yang bersamanya jadi gila. Mereka mengakui perbuatan yang
telah mereka lakukan, dan polisi mulai melakukan pencarian di sekitar sumur.
Polisi menemukan sebuah kotak dan di dalamnya terdapat jasad seorang nenek yang
benar-benar telah berubah menjadi tulang-tulang putih.
Sekarang, semua anggota keluarga
sedang gemetaran diam mematung melihat hal yang sangat menyeramkan di sumur
itu. Keluargaku yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan hantu nenek itu
pun, diluar dugaan ternyata merasa miris juga dengar cerita tadi. Aku jadi
mengerti perasaan sang nenek yang mungkin ingin menyampaikan perasaannya walau
dalam wujud hantu.
Begitulah cerita masa remajaku
mengenai pengalamanku melihat hantu menyeramkan. Mulai saat ini, aku percaya
akan keberadaan makhluk halus. Aku juga pernah dengar dari temanku yang percaya
akan adanya hantu kakek Tokugawa Musei dan hantu Awatani Noriko yang
menyeramkan. Kakek Kato Akaishi pun pernah bilang kalau beliau terkadang ketemu
hantu saat pergi memancing. Musim semi tahun ini saat aku bertemu dengan Hino
Yoshihei di Hakata Kyushu, dia bilang pernah bersahabat dengan Kappa. Apakah
semua cerita mereka benar?
Kakak perempuanku yang saat itu
sama-sama melihat hantu nenek itu sekarang sudah punya tujuh anak.