Dunia
Empat Dimensi
Akhir-akhir ini,
Hitomi dan Tousuke sudah tidak bertemu lagi dengan Profesor Polder. Selama
seminggu ini, mereka berdua jalan-jalan di padang rumput seperti hari-hari
biasanya untuk menunggu pesawat tong Profesor Polder datang dan mendarat ke
bumi. Tapi usaha mereka sia-sia.
“Hitomi,
Profesor Polder kenapa ya?” Tidak biasanya Tousuke khawatir. Tousuke berpikir
mungkin saja seorang yang bisa disebut Tuhan atau setan saking hebatnya
Profesor Polder itu, terkena radang paru-paru lalu terkapar pingsan.
“Iya,
kenapa yaa? Apa mungkin Profesor sedang jalan-jalan ke tempat jauh sampai nggak
bisa datang kesini?” Hitomi berpikir Profesor sedang pergi ke tempat jauh.
“Tapi
roket tong Profesor kan roket berkecepatan luar biasa. Sejauh apapun pasti bisa
sampai dengan cepat, kan?”
“Yaa,
mungkin dia pergi ke ujung luar angkasa kali. Aku pernah bilang kan kalo aku
pengen liat ujung luar angkasa itu sekaliii aja.”
“Iya
juga ya. Kalo kita kesana dengan naik roket tong Profesor Polder, pasti nggak
sampe sebulan lah yaa.” Saat Tousuke bilang begitu, tiba-tiba saja terdengar
suara yang sangat familiar di telinga mereka.
“Ah,
itu suara roket tong!”
Suara
itu makin lama makin keras terdengar. Ternyata memang roket tong yang jatuh di
depan mereka berdua. Tong yang bentuknya unik dengan bagian dalam yang luas.
Diatasnya ada semacam cerobong kecil dan ada sisa asapnya yang muncul dari
mulut cerobong itu. Lalu diantara asap itu muncul Profesor Polder dengan
janggut tebal dan gaunnya.
“Selamat
siang, Hitomi, Tousuke. Lho?Lho? Kalian kaget, ya?”
“Profesor!
Ternyata Profesor datang, ya. Tumben lama banget.”
“Profesor
sakit?”
“Hahaha....aku
tidak pernah sakit, lho. Hohohoho...”
“Terus,
tadi Profesor pergi ke tempat jauh mana?”
“Apa
Profesor pergi ke ujung luar angkasa?”
“Bukan,
bukan.” Profesor menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. “Sebenarnya....tadi
aku pergi ke dunia empat dimensi. Aku ingin mengajak kalian ke tempat itu.”
“Ooh,
dunia empat dimensi ya. Itu kan dunia dengan ruang empat dimensi yang misterius
dan luar biasa, ya. Tadi kau pergi kesana?”
“Apa
dunia itu jauh dari sini?”
“Bisa
jadi jauh, bisa jadi deket juga. Katanya dunia itu terhubung dengan dunia ini.
Dunia sulit yang sepertinya mudah didatangi. Alasan aku telat datang kesini pun
karena penghubung antara dunia ini dan dunia sana terputus, jadi sama sekali
tidak bisa terhubung. Aku terjebak juga di dunia empat dimensi. Kapal untuk
menyebrang antar selat pun tidak datang. Rasanya aku seperti menunggu
berhari-hari di pelabuhan.”
“Haa!
Karena laut sedang badai, jadi transportasi pun terhenti ya.”
“Yaah,
bisa jadi begitu. Tapi, diantara dunia tiga dimensi ini dan dunia empat dimensi
sana tidak terjadi badai karena cuaca buruk. Kalau kalian kesana, nanti juga
mengerti.”
“Ah,
Profesor! Kau mau mengajak kami ke dunia empat dimensi itu, ya?!”
“Benar.
Tapi, tidak hanya pergi ke dunia empat dimensi saja. Aku juga akan mengajak kalian
ke dunia dua dimensi dan satu dimensi.”
“Dunia
empat dimensi, dua dimensi dan satu dimensi, ya. Profesor, kenapa tidak
mengajak kami ke dunia tiga dimensi?”
“Hitomi,
kamu lagi melamun, ya? Kita bisa pergi ke dunia tiga dimensi tanpa harus diajak
sama Profesor Polder.” Kata Tousuke dengan nada malas.
“Ah,
mana mungkin. Aku nggak pernah pergi ke dunia tiga dimensi. Aku juga nggak
pernah dengar cerita orang yang pergi kesana.”
“Hahaha.
Hitomi, kamu memang pernah pergi kesana.”
“Nggak!
Aku nggak pernah kesana.”
“Kamu
sudah pergi ke tempat itu. Karena dunia tiga dimensi adalah dunia yang terdiri
dari panjang, lebar dan tinggi. Tubuh manusia, pohon, kotak korek api, bukankah
semuanya mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi? Intinya, dunia tiga dimensi
adalah dunia yang kita tempati sekarang ini.”
“Hooooh?!
Begitu, ya? Apa itu benar, Profesor Polder?”
“Benar,
Hitomi. Apa yang dikatakan Tousuke memang benar. Karena itu, Hitomi dan Tousuke
juga merupakan benda tiga dimensi karena lahir di dunia tiga dimensi. Dan
kalian juga tinggal di dunia tiga dimensi ini.”
“Waah,
aku kaget. Nggak nyangka ternyata aku tinggal di dunia tiga dimenssi.”
“Nah,
ayo masuk ke roket tong ku dan kita mulai perjalanan menarik kita!”
-BERSAMBUNG-