Thursday, March 30, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 17

Dunia Empat Dimensi
            Akhir-akhir ini, Hitomi dan Tousuke sudah tidak bertemu lagi dengan Profesor Polder. Selama seminggu ini, mereka berdua jalan-jalan di padang rumput seperti hari-hari biasanya untuk menunggu pesawat tong Profesor Polder datang dan mendarat ke bumi. Tapi usaha mereka sia-sia.
            “Hitomi, Profesor Polder kenapa ya?” Tidak biasanya Tousuke khawatir. Tousuke berpikir mungkin saja seorang yang bisa disebut Tuhan atau setan saking hebatnya Profesor Polder itu, terkena radang paru-paru lalu terkapar pingsan.
          “Iya, kenapa yaa? Apa mungkin Profesor sedang jalan-jalan ke tempat jauh sampai nggak bisa datang kesini?” Hitomi berpikir Profesor sedang pergi ke tempat jauh.
            “Tapi roket tong Profesor kan roket berkecepatan luar biasa. Sejauh apapun pasti bisa sampai dengan cepat, kan?”
            “Yaa, mungkin dia pergi ke ujung luar angkasa kali. Aku pernah bilang kan kalo aku pengen liat ujung luar angkasa itu sekaliii aja.”
            “Iya juga ya. Kalo kita kesana dengan naik roket tong Profesor Polder, pasti nggak sampe sebulan lah yaa.” Saat Tousuke bilang begitu, tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat familiar di telinga mereka.
            “Ah, itu suara roket tong!”
           Suara itu makin lama makin keras terdengar. Ternyata memang roket tong yang jatuh di depan mereka berdua. Tong yang bentuknya unik dengan bagian dalam yang luas. Diatasnya ada semacam cerobong kecil dan ada sisa asapnya yang muncul dari mulut cerobong itu. Lalu diantara asap itu muncul Profesor Polder dengan janggut tebal dan gaunnya.
            “Selamat siang, Hitomi, Tousuke. Lho?Lho? Kalian kaget, ya?”
            “Profesor! Ternyata Profesor datang, ya. Tumben lama banget.”
            “Profesor sakit?”
            “Hahaha....aku tidak pernah sakit, lho. Hohohoho...”
            “Terus, tadi Profesor pergi ke tempat jauh mana?”
            “Apa Profesor pergi ke ujung luar angkasa?”
            “Bukan, bukan.” Profesor menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. “Sebenarnya....tadi aku pergi ke dunia empat dimensi. Aku ingin mengajak kalian ke tempat itu.”
            “Ooh, dunia empat dimensi ya. Itu kan dunia dengan ruang empat dimensi yang misterius dan luar biasa, ya. Tadi kau pergi kesana?”
            “Apa dunia itu jauh dari sini?”
            “Bisa jadi jauh, bisa jadi deket juga. Katanya dunia itu terhubung dengan dunia ini. Dunia sulit yang sepertinya mudah didatangi. Alasan aku telat datang kesini pun karena penghubung antara dunia ini dan dunia sana terputus, jadi sama sekali tidak bisa terhubung. Aku terjebak juga di dunia empat dimensi. Kapal untuk menyebrang antar selat pun tidak datang. Rasanya aku seperti menunggu berhari-hari di pelabuhan.”
            “Haa! Karena laut sedang badai, jadi transportasi pun terhenti ya.”
            “Yaah, bisa jadi begitu. Tapi, diantara dunia tiga dimensi ini dan dunia empat dimensi sana tidak terjadi badai karena cuaca buruk. Kalau kalian kesana, nanti juga mengerti.”
            “Ah, Profesor! Kau mau mengajak kami ke dunia empat dimensi itu, ya?!”
            “Benar. Tapi, tidak hanya pergi ke dunia empat dimensi saja. Aku juga akan mengajak kalian ke dunia dua dimensi dan satu dimensi.”
            “Dunia empat dimensi, dua dimensi dan satu dimensi, ya. Profesor, kenapa tidak mengajak kami ke dunia tiga dimensi?”
            “Hitomi, kamu lagi melamun, ya? Kita bisa pergi ke dunia tiga dimensi tanpa harus diajak sama Profesor Polder.” Kata Tousuke dengan nada malas.
            “Ah, mana mungkin. Aku nggak pernah pergi ke dunia tiga dimensi. Aku juga nggak pernah dengar cerita orang yang pergi kesana.”
            “Hahaha. Hitomi, kamu memang pernah pergi kesana.”
            “Nggak! Aku nggak pernah kesana.”
            “Kamu sudah pergi ke tempat itu. Karena dunia tiga dimensi adalah dunia yang terdiri dari panjang, lebar dan tinggi. Tubuh manusia, pohon, kotak korek api, bukankah semuanya mempunyai ukuran panjang, lebar dan tinggi? Intinya, dunia tiga dimensi adalah dunia yang kita tempati sekarang ini.”
            “Hooooh?! Begitu, ya? Apa itu benar, Profesor Polder?”
            “Benar, Hitomi. Apa yang dikatakan Tousuke memang benar. Karena itu, Hitomi dan Tousuke juga merupakan benda tiga dimensi karena lahir di dunia tiga dimensi. Dan kalian juga tinggal di dunia tiga dimensi ini.”
            “Waah, aku kaget. Nggak nyangka ternyata aku tinggal di dunia tiga dimenssi.”
            “Nah, ayo masuk ke roket tong ku dan kita mulai perjalanan menarik kita!”

-BERSAMBUNG-

Tuesday, March 28, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 16



Percobaan Mistis
            Kursi bagian pertama diam terpaku, sepertinya ketakutan. Saat itu di tengah kegelapan terdengar suara kepala asosiasi yang seperti tertekan.
            “Silahkan muncul tuan Gong. Sekarang Anda ada dimana, tuan hantu Gong?”
Setelah itu lagi-lagi terdengar suara rintihan.
            “Aku sudah berada disini.”Terdengar suara seperti erangan. Madam Iwatake sudah pasti sedang tertidur. Tiba-tiba saja Hitomi dan Tousuke merangkul erat lengan Profesor Polder. Keliatannya mereka ketakutan.
            “Nggak papa. Nggak pa-pa. Coba liat baik-baik.” Profesor menepuk pelan pundak mereka berdua.
            “Apa hantunya sudah datang? Selain itu sepertinya ada yang ingin kau tunjukkan, ya?”
            “Benar. Aku ingin kalian mendengar suara terompetyang sebentar lagi akan terdengar.” Saat terdengar suara tuan Gong, terdengar juga suara terompetdari atas langit-langit. Seluruh langit-langit tersinari cahaya pucat. Tousuke dan Hitomi memeluk lengan Profesor lagi. Suara terompetitu terus berbunyi di sekitar langit-langit. Kemudian suara itu terdengar lebih kencang di langit-langit. Suara itu datang juga di atas kepala para anggota asosiasi. Diantara para anggota, ada juga yang berteriak saking kagetnya. Setelah itu suara terompetkembali ke depan, tapi tetap menggema di langit-langit. Suaranya aneh sekali. Suara ini terus terdengar sampai akhirnya....suara itu menghilang!
            Tak lama kemudian, muncul dua bola api besar berwarna biru pucat. Bola api itu terus berputar-putar di tengah kegelapan. Saat bola api itu berputar-putar di atas kepala para anggota, tiba-tiba menghilang. Meja kecil bergerak-gerak dan permukaannya memancarkan cahaya biru. Lalu cahaya biru satunya juga merasuk ke meja lain.
            Aku memetik bunga anggrek dari pulau tropis, dan aku akan meletakkannya di meja ini. Ini bunga anggrek tropis.” Ini suara tuan Gong! Gong merintih. Tiba-tiba saja muncul semacam bunga anggrek biru.
            Ini...hmmm....kalian cari saja sendiri. Tidak salah lagi.” Kata tuan Gong.
            “Aku akan menunjukkan wujud diriku saat masih hidup di dunia ini. Kira-kira empat ribu tahun yang lalu.”
            Lalu dari langit-langit, muncul bayangan seseorang yang berpakaian kain panjang. Diliat sekilas saja langsung tau kalo orang itu orang Yunani. Sosoknya remang-remang.
            Kali ini akan menjadi berisik.”
            Suara tuan Gong, dua bola api, suara terompet, bunga anggrek, meja kecil dan lain sebagainya menggantung-gantung di langit. Melihat hal mistis begitu, rasanya napas seperti berhenti. Saat itu, Profesor Polder berbisik-bisik ke Tousuke.
            “Coba kamu pakai kacamata ini. Kamu akan bisa lihat sesuatu dengan jelas di tengah kegelapan. Ini kacamata infra merah. Aku juga diam-diam memakai kacamata ini dan melihat ke arah tuan Gong. Sinar infra merah tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tapi dengan memakai kacamata infra merah, jadi bisa terlihat. Cepat liat. Tapi nanti kamu jangan ketawa ya dengan apa yang kamu liat.”
            Tousuke mencoba memakai kacamata dari Profesor. Wow! Ajaib! Di tengah gelapnya ruangan, bisa terlihat jelas seperti terangnya sore hari. Tousuke terkejut. Hal yang membuat Tousuke terkejut adalah sosok Madam Iwatake yang menghilang padahal tadi terikat kuat di kursi. Dan Madam itu sudah berdiri di depan dengan kedua tangan yang mengendalikan dua bola api yang terikat dengan tali panjang.Bola api itu terus saja berputar-putar di atas kepala para anggota. Salah satu pria memegang sebuah terompet dari bambu tipis. Ada semacam pipa karet panjang di terompet itu. Ia menggembungkan pipinya lalu meniup terompet. Dan terdengarlah bunyinya. Pria yang satu lagi memegang semacam boneka bambu berbentuk orang Yunani. Orang itu menggerakan boneka itu ke kanan dan kiri.
Trik yang hebat! Siapa sebenarnya tuan hantu Gong itu?! Tousuke merasa antusias sampai membatin begitu. Ia mengembalikan kacamata infra merah ke Profesor Polder. Tapi karena sudah diperingatkan untuk tidak berisik, terpaksa deh diam mengikuti acara sampai selesai tanpa tahu apa-apa. Setelah acara percobaan ini berakhir sukses, tuan hantu Gong bertepuk tangan dan abis itu menghilang. Kemudian, ketua asosiasi menyalakan lampu. Entah sejak kapan Madam Iwatake tidur terikat kuat di kursi seperti sebelumnya. Untuk membangunkannya, ketua asosiasi berjanggut putih itu mengucapkan mantera-mantera.
            “Aah, nyenyak sekali tidurku. Apa aku melakukan sesuatu? Aku tidak tahu apa-apa.” Kata Madam Iwatake dengan suara kencang.
            “Penjelajahan negeri ajaib hari ini adalah penjelajahan yang penuh trik. Para anggota asosiasi itu benar-benar percaya kalo tadi emang kejadian mistis. Susah juga ya.”
            “Padahal tubuh sang spirit medium itu terikat kuat di kursi, kenapa tadi bisa lepas ya?”
            “Itu dinamakan trik ikatan tali. Ikatan di tubuh spirit medium itu sudah dirancang agar mudah lepas dan mudah terikat kuat lagi.”
            “Jadi bunga anggrek itu bukan benda dari pulau tropis?”
            “Itu memang anggrek asli. Tapi mereka memanfaatkan suhu ruangan juga sih. Hmm...memang penuh kecurangan.”

-BERSAMBUNG-

Thursday, March 23, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 15

Spirit Medium Terkenal
            Hitomi dan Tousuke yang ikut bersama Profesor Polder yang sedang menyamar menjadi kakek Matsunaga sampai ke gedung pertemuan Asosiasi Perkumpulan Roh. Tempatnya ada di sebuah wilayah luas di atas bukit kota yang terbakar di pinggiran kota Tokyo. Ternyata para anggotanya sudah berkumpul.
            “Wah, Pak Matsunaga! Sudah lama sekali!”
            “Ooh, ketua asosiasi Pak Kanemitsu. Hari ini aku membawa dua temanku.”
            “Oh, tidak apa-apa. Nah, hari ini kalian berdua bisa melihat hal yang menarik dan mistis lho.” Ketua Kanemitsu berkata kepada Hitomi dan Tousuke dengan janggut putihnya yang bergoyang sampai diluar wajahnya. Ketua asosiasi sama sekali tidak menyadari bahwa kakek Matsunaga yang ada disini palsu.
            “Bagaimana keadaan tubuh sang spirit medium hari ini?”
            “Sepertinya keadaannya baik. Apalagi Madam Iwatake, sampai hari ini aku tidak pernah dengar beliau bilang keadaannya buruk,”       
          “Benar. Madam Iwatake seorang spirit medium yang hebat. Sampai sekarang ini pun beliau tidak ada latihan.” Dari pembicaraan para anggota asosiasi, Madam Iwatake sang spirit medium di asosiasi ini, sepertinya orang yang sangat hebat.
            “Maaf telah menunggu. Karena ruang penelitiannya telah disiapkan, mari kita kesana.” Ketua Kanemitsu mengajak para anggota. Sekitar empat-lima belas orang anggota asosiasi beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan. Profesor Polder, Hitomi dan Tousuke dengan cueknya bergabung dengan mereka. Ruang penelitiannya ternyata sebuah ruang kosong berlantai kayu yang luasnya dua-tiga belas tsubo[1]. Di depan mereka ada kursi untuk para anggota duduk, posisi duduk mereka seperti formasi tapal kuda. Di depan mereka tepatnya di depan tembok kayu, ada sebuah kursi bertangan yang dibuat sangat mirip dengan kursi listrik untuk hukuman mati. Di kanan-kirinya masing-masing ada satu meja bulat. Di luarnya ada sekitar empat-lima kursi yang sepertinya dipakai untuk promotor. Di temboknya, terpasang tirai hitam pekat yang setiap sudutnya tertutupi oleh tirai panjang itu. Dari lorong arah kiri, muncul sekitar empat-lima orang. Diantara mereka ada seorang wanita. Wanita itu gemuk seperti pemain sumo. Umurnya sekitar tiga puluh tahunan. Wajahnya tidak cantik. Lebih ke tambun. Dialah sang spirit medium yang dibicarakan para anggota asosiasi tadi. Seorang spirit medium terkenal bernama Madam Iwatake. Keempat pria lainnya adalah staff di asosiasi ini. Orang-orang ini berbaris horizontal di depan. Ketua asosiasi yang berjanggut putih itu, masuk lalu menutup pintu kertasnya. Setelah itu beliau menyapa para anggota yang sedang berdiri di depan.
            “Kita akan memulai pertemuan ke-99 Asosiasi Penelitian Roh. Seperti yang Anda sekalian harapkan, hari ini Madam Iwatake telah datang khusus kemari. Yaa, beliau adalah seorang spirit medium terkenal. Saya ingin Anda menunjukkan berbagai macam percobaan mistis. Walaupun ruangan ini gelap, dilarang merekam dan memotret percobaan ini. Kepada para eksekutif staf, bisa tolong turunkan tirai hitam agar ruangan ini jadi benar-benar gelap?”
            Setelah itu, para eksekutif staf itu bangkit dari kursinya lalu menurunkan tirai hitam, dan ruangan menjadi gelap gulita. Saat itu, muncul sepuluh cahaya redup. Kepala asosiasi yang menyalakannya.
            “Seperti yang telah kita lakukan sebelumnya bahwa sang spirit medium Madam Iwatake akan duduk di kursi ini. Empat-lima anggota silakan kemari dan satukan tangan kalian.” Kepala asosiasi seperti hormat sekali pada Madam Iwatake. Dengan tenangnya Madam berdiri dan duduk di kursi yang keliatan mistis dan terletak di tengah-tengah. Para eksekutif staf sedang memegang lima-enam belas tali besar. Kepala asosiasi menyembunyikan matanya dari sosok Madam dengan sapu tangan. Diatas sapu tangannya, ia tambahkan juga baju karet untuk menutupi matanya. Kemudian ia mundur ke belakang setelah mengangkat tangannya. Para anggota dan eksekutif staf yang membawa tali dan duduk di samping Madam, mengikat tangan-kaki dan tubuh Madam yang sedang duduk di kursi. Madam sampai diikat dua kali lipat. Karena kedua telapak tangannya juga diikat ke belakang, dia benar-benar melekat di kursi.
            Dengan begini sang Madam benar-benar tidak bisa bergerak. Pasti dia merasa kesakitan.
            “Begini tidak apa-apa? Apa Anda tidak merasa kesakitan, Madam Iwatake?”
            “Hari ini benar-benar diikat kuat, ya.”
            “Apa saya longgarkan saja?”
            “Tidak, tidak usah. Tolong ikat aku dengan dua-tiga tali lagi.”
            Lalu ikatannya ditambah.
            “Baiklah, kami akan menyerahkan tubuh Madam Iwatake kepada roh.” Tiba-tiba saja kepala asosiasi muncul ke depan, mengangkat tangan seperti berdoa di depan Madam lalu mengucapkan semacam mantera. Saat kepala asosiasi bilang ‘eit!’, Madam yang sedang duduk di kursi seperti merintih, lalu tubuhnya membungkuk ke belakang.
            “Sudah muncul! Aku akan mematikan lampunya! Tolong tenang selama dua puluh menit.” Kepala asosiasi mematikan saklar lampu. Ruangan benar-benar jadi gelap gulita.

-BERSAMBUNG-



[1] satuan ukuran luas Jepang. 1 tsubo=3,31 m2

Monday, March 20, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 14


Profesor Polder = Pak Matsunaga?!   

            Suatu hari saat Hitomi dan Tousuke hendak masuk ke roket tong Profesor Polder, beliau sedang berganti pakaian. Tumben sekali beliau memakai haori dan hakama

            “Selamat siang, Profesor. Kok Profesor pake hakama dan haori begini, sih?”

            “Wah, kalian berdua sudah datang ya. Aku akan memakai kimono ini. Lalu aku akan menyamar jadi orang Jepang. Nanti kalian liat, ya.”

            “Untuk apa profesor menyamar jadi orang Jepang?”

            “Aku ingin mengajak kalian ke sebuah negeri ajaib. Aku akan mengajak kalian mengunjungi Asosiasi Penelitian Roh.”

            “Memangnya apa yang dilakukan Asosiasi Penelitian Roh itu?”

            “Tunggu sebentar. Aku selesaikan dulu samaranku ini.” Profesor Polder berdiri di depan cermin, menghitamkan alis, menekan hidungnya yang mancung jadi pesek, menyipitkan matanya sedikit, dan mewarnai kulitnya dengan warna kuning Oriental. Kemudian ia memakai hakama lalu memasang haori. Dan...sosok Profesor Polder yang biasanya telah menghilang, berubah menjadi orang tua Jepang dengan wajah senyum ramah.

            “Nah, begini sudah oke. Mirip orang Jepang, kan? Hari ini aku akan menyamar menjadi orang tua dengan nama Matsunaga. Pak Matsunaga adalah anggota Asosiasi Penelitian Roh. Dengan menyamar menjadi kakek Matsunaga, pasti aku akan diizinkan masuk dengan mudahnya ke ruang Asosiasi Penelitian Roh itu. Kalo bukan anggota kan nggak boleh masuk. Karena itu aku menyamar sebagai Pak Matsunaga.”

            “Ooh, begitu.”

            “Kalo anak-anak kayak kita, apa diizinkan masuk?”

            “Kalian berdua akan menjadi kenalanku. Tidak apa-apa, pasti akan diizinkan masuk.”

            “Ternyata klub yang ketat, ya.”

            “Iya, karena ini hal yang mistis tentang roh yang masuk ke tubuh medium spirit.”

            “Roh itu apa sih? Medium spirit itu apa?”

            “Roh adalah jiwa manusia, bisa juga disebut arwah.”

            “Ooh, arwah ya. Profesor, memangnya walau manusia mati, arwah tetap hidup ya?”

            “Yaah, itu dia masalahnya. Kalo kita melihat penelitiannya malam ini, mungkin kita akan menemukan jawabannya.”

            “Arwah tuh bakal ikut mati juga kalo manusia mati. Aku rasa cerita soal arwah tuh cuma omong kosong.” Tousuke menyangkal keberadaan arwah.

            “Tapi aku benar-benar pernah liat hantu terbang. Itu sekitar musim panas tahun lalu.”

            “Itu cuma bola api, bukan arwah manusia. Iya kan, Profesor?”

            “Bagaimana, yaah.....” Tidak seperti biasanya, hari ini Profesor Polder tidak menjawab tegas.

            “Profesor, kalo spirit medium itu apa?”

            “Ooh, spirit medium ya. Spirit medium adalah orang istimewa. Orang yang menghubungkan antara dunia roh dan dunia manusia. Intinya, roh meminjam tubuh sang spirit medium. Soalnya kalo hanya dalam wujud roh, suara pun tidak bisa keluar. Bicara pun tidak bisa. Karena itu roh merasuki tubuh sang spirit medium untuk meminjam suara dan mulutnya dengan mengucapkan mantera-mantera. Makanya kalo tidak ada seorang spirit medium, kita tidak akan mungkin bisa bicara soal arwah. Bagaimana? Kalian mengerti?”

            “Jadi intinya manusia yang berprofesi sebagai spirit medium itu meminjamkan tubuhnya untuk para roh, begitu?”

            “Iya, benar.”

            “Apa semua orang bisa menjadi spirit medium?”

            “Tidak. Tadi aku bilang kan kalo spirit medium orang yang istimewa? Berarti tidak semua orang bisa menjadi spirit medium. Orang yang bisa menjadi spirit medium tidak bisa sembarangan. Seorang spirit medium pun ada yang hebat ada juga yang lemah. Seorang spirit medium yang kuat membuat para roh bisa merasukinya dengan tenang. Perasaannya pun nyaman.”

            “Orang-orang istimewa itu seperti apa, sih?”

            “Orang-orang hebat yang tergabung dalam Asosiasi Penelitian Roh. Orang yang bisa menjadi spirit medium adalah orang yang percaya adanya roh, mengeluarkan rohnya sendiri dari tubuhnya, orang yang bisa membuat dirinya kosong tanpa jiwa. Hanya spirit medium kelas atas saja yang bisa melakukan itu semua dengan sempurna. Nah, saatnya kita keluar.”

-BERSAMBUNG-

Thursday, March 16, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 13


Manusia akan Terbang

            “Bagaimana? Dunia tanpa gravitasi menarik, kan?” Entah sejak kapan Profesor Polder berbalik ke belakang dari kursi kokpit untuk memanggil Hitomi dan Tousuke.

            “Ah! Kau si Janggut panjang! Tadi profesor menyamar jadi si janggut panjang, ya.”

            “Hahaha....ketauan, ya.”

            “Aku tidak pernah liat Si janggut panjang.”

            “Hahaha...aku lebih bagus kalo tanpa janggut ya. Sekarang aku ingin bertanya pada kalian berdua. Dunia yang tadi kita kunjungi telah terjadi suatu insiden di dalam pesawat ruang angkasa kan. Tapi kalo seandainya hal seperti tadi terjadi di bumi, apa yang akan terjadi?”

            “Maksudmu kalau seandainya saat manusia beraktivitas di muka bumi, tiba-tiba gravitasinya menghilang, apa yang akan terjadi? Gitu maksudnya?”

            “Iya. Apa yang akan terjadi?”

            “Aku mengerti. Kita jadi bisa terbang seperti burung. Terus, bisa tidur siang di atas langit tanpa perlu tempat tidur gantung. Pasti menyenangkan!”

            “Aku rasa air laut akan naik ke daratan. Air laut itu akan terbang ke langit seperti awan. Hebatnyaa! Singa Afrika juga akan terbang ke langit dan bisa datang ke Jepang. Iya kan, Profesor Polder?”

            “Tidak, bahkan lebih hebat dari itu. Lihat itu. Pemandangan saat bumi tidak memiliki gravitasi akan terpantulkan di layar mesin waktu ini. Lihat! Di permukaan bumi yang bulat mulai terjadi hal yang gawat.” Pada layar di atas tembok yang ditunjuk profesor, terpancar belahan bumi bagian utara. Permukaannya membengkok. Benda-benda melayang naik dari permukaan tanah. Setelah diliat baik-baik, ternyata rumah! Jembatan! Lalu yang kecil itu mobil! Bentuknya panjang seperti ulat itu kereta! Benda-benda seperti sampah mulai keliatan melayang dari muka bumi. Ternyata itu kumpulan manusia!

            “Coba liat! Kota-kota besar sekarang sedang hancur. Para penduduknya terangkat dari permukaan bumi.”

            “Kenapa manusia dan gedung-gedung terbang semakin tinggi begitu? Ini terlalu dahsyat, kan?”

            “Bukan terlalu dahsyat tapi memang akan seperti ini jadinya. Kecepatan bumi berputar sekitar tiga puluh kilometer per detik. Dengan adanya gravitasi, bumi berevolusi dengan kecepatan tadi dengan manusia dan gedung yang berdiri di permukaan bumi. Tapi, jika bumi kehilangan gravitasinya, maka seperti yang kalian lihat tadi. Manusia dan gedung akan terangkat ke langit. Lalu manusia, binatang dan tumbuhan pun akan mati.”

            “Itu gawat sekali! Aku tidak mau bumi jadi kehilangan gravitasinya.”
            “Hahaha...kalian tidak usah khawatir bumi bakal kehilangan gravitasi. Tapi saat manusia menemukan alat untuk mengurangi gravitasi, dan pada akhirnya digunakan secara berlebihan, mungkin kejadian tadi akan bernar-benar terjadi. Maka dari itu, kalian harus hati-hati.” Profesor memberi nasihat serius kepada mereka.

-BERSAMBUNG-