Tuesday, March 7, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 10



Drama Televisi Lalat
            Profesor Polder masih mengajak mereka ke negeri-negeri ajaib. Tousuke dan Hitomi naik tong roket boat yang diterbangkan oleh Profesor Polder untuk melanjutkan perjalanan ajaib mereka.
            “Kali ini aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih serius.”
            “Tempat yang bagaimana yang kau maksud serius?” Hitomi bangkit dari kursi penumpang.
            “Aku akan mengajak kalian ke perusahaan lalat.”
            “Lho? Yang kau maksud serius tuh jadi perusahaan lalat?”
            “Bagi manusia, memikirkan lalat adalah hal yang serius. Tempat yang akan ku ajak kali ini adalah tempat pembuatan film yang dibuat lalat. Mereka akan menunjukkannya pada kalian.”
            “Waah, hebaat! Ternyata lalat bisa berakting juga, ya. Ditambah lagi mereka akan memproduksi film baru...”
            “Manusia tahu sekali tentang pembagian umatnya. Tapi mereka sama sekali tidak tahu soal kuda, anjing, kelinci, ulat bulu dan lalat. Tidak boleh begitu. Makanya aku ingin mengajak kalian untuk mengerti apa yang dipikirkan seekor lalat.” Kata Profesor Polder dengan wajah yang tumben amat serius.
            “Lalu kita harus pergi kemana untuk bisa melihat drama tv lalat itu?”
            “Kita akan mendaki gunung Himalaya. Lalu lalat-lalat yang tinggal di dunia bawah tanah akan muncul di puncak gunung itu. Nanti kita akan menerima gelombang radio dari mereka. Ah! Kita sudah sampai di Himalaya! Kita akan mendarat dengan tenang.” Seperti yang dikatakannya, tong roket boat nya memang mendarat perlahan dan tenang.
            “Apa kita akan keluar?”
            “Tidak, diluar dingin. Sekarang suhu diluar mencapai minus tiga puluh derajat. Drama tv lalat itu bisa kita lihat dari sini. Alat ini akan menerima gelombang radio lalu memancarkannya ke layar segiempat ini. Lalu bahasa lalat diubah ke dalam bahasa Jepang, dan setelah itu muncul deh.”
            “Bahasa lalat diubah jadi bahasa Jepang?Memangnya bisa?”
            “Bisa. Kalau orang ingin menyebut nama suatu objek, harus memikirkannya sendiri di dalam hati, kan? Berpikir adalah tugas sebuah hati. Kalau hati bekerja, maka akan muncul sejenis gelombang elektromangnetik. Aku akan menguatkan gelombang itu dan menyiarkannya. Alat ini akan menerima gelombang itu, lalu dengan alat pengubah bahasa, kita bisa mengubah bahasa mereka menjadi bahasa Jepang atau Inggris sesuai kemauan kita. Kalian ngerti?”
            “Ngerti nggak ngerti, sih.” Tousuke menganggukan kepalanya. “Daripada itu, cepat tunjukkan drama tv lalat nya! Ah, tidak. Kasih liat dan perdengarkan! Dengan begitu kami bisa lebih mengerti,”
            “Baiklah, aku akan segera memperlihatkannya pada kalian. Lebih baik kalian taruh kursi kalian di depan sini dan duduk.”Kata Profesor sambil berbalik lalu mengatur alat penerima sinyal tv untuk menerima gelombang radio dari dunia lalat. Profesor mulai memindahkan satu demi satu channel yang banyak muncul. Lalu layar segiempat itu mulai bercahaya dan muncul semacam bentuk samar bergoyang-goyang. Kemudian dari sound system nya terdengar suara parau.
            “Kayaknya ada sesuatu yang muncul tapi nggak begitu jelas.” Kata Tousuke. Hitomi pun sampai bangkit dari duduknya menuju ke depan layar.
            “Sebentar lagi akan jelas. Tunggu, ya.”
            Oh, ternyata memang benar. Sebentar saja, gambarnya terlihat jelas. Pada layarnya muncul sekitar lima-enam lalat yang sedang berkumpul di atas labu yang telah busuk. Suaranya pun terdengar jelas. Lalat-lalat itu terus berbicara diantara suara sayap dan paruhnya yang seperti sedang menghirup sup.
            Kami siarkan episode kedua dari drama tv yang berjudul ‘Akhir Perang Bom Nuklir’. Sake manis dari buah labu bisa diminum sepenuh hati oleh para profesor universitas yang sedang ngobrol di tempat sampah sebuah bar di tengah mekarnya bunga-bunga.”
            “Manusia adalah makhluk yang kejam. Jumlah mereka sekitar satu setengah miliar orang. Seiring bertambahnya manusia di muka bumi ini, jumlah makhluk hidup seperti gajah dan paus berkurang. Manusia berbuat kejam karena merasa bumi ini milik mereka. Benar-benar tidak bisa dimaafkan!”
            “Manusia emang begitu.”
            Iya kan? Perbandingan jumlah manusia dan bangsa lalat seperti kita tidak juga bisa dibilang satu berbanding semiliar. Tapi apa yang dilakukan manusia? Mereka membunuh kita dengan alat yang mereka sebut pemukul lalat. Kadang mereka menggunakan pestisida untuk menghentikan napas kita.”
            “Ada lagi! Ada juga yang namanya kertas lalat yang bagi kita neraka portable yang kejam.”
            “Day Day Day lebih hebat lagi. Kalo terkena itu, kita semua bakalan mati.”
            “Kalo itu kan harganya mahal jadi tidak bisa diproduksi banyak. Lagipula manusia tidak bisa menabur kita dengan itu. Yaah kita memang selamat, tapi cukup bahaya kan.”
            “Manusia punya kebebasan untuk membunuh kita para lalat. Tidak bisa diampuni! Ciptaan Tuhan kan bukan hanya manusia. Ada gajah, singa, kuda, anjing, kucing, ikan lalu ular, katak, kami para lalat, bakteri, pohon juga rumput. Kami semua ciptaan Tuhan, oleh karena itu kita juga punya hak yang sama untuk hidup.”
            “Iya benar! Semua makhluk hidup selain manusia,mengadakan rapat tentang manusia. Kita hanya ingin persamaan hak dengan manusia dengan hadir di rapat itu. Dan kita juga harus menyudutkan manusia ke tempat yang kecil dan sempit.”
            “Setuju sekali! Ayo kita adakan rapat antar keluarga nyamuk, keluarga kupu-kupu, keluarga lebah dan lainnya, lalu kita ajak manusia juga.”
            “Boleh juga! Kalau tidak begitu, kita akan musnah!”
            “Hai, apa yang Anda sekalian bicarakan sampai marah-marah begitu?”
            “Oh, kamu. Lama sekali. Ayo duduk sini.”
            “Terimakasih....hmmm...aku dengar sedikit sih. Anda semua masih mengkritik kekejaman manusia, ya.”
            “Iya benar. Makanya kami berniat ingin mengadakan sebuah rapat antar seluruh makhluk hidup di bumi. Kami ingin menyudutkan bangsa manusia. Bagaimana?”
            “Anda semua tidak akan mungkin bisa mengadakan acara itu. Karena sebentar lagi manusia akan mati. Manusia akan mengakhiri hidupnya sendiri.”
            “Yang benar?! Darimana kau dengar itu?”
            “Ini kesimpulanku. Akhir-akhir ini, manusia mulai menciptakan bom nuklir. Hanya dengan sekali ledakan dari bom yang mempunyai kekuatan maha dahsyat itu, ratusan hingga jutaan manusia akan tewas. Manusia sedang berlomba-lomba membuat bom maha dahsyat itu.”
            “Hmm....hebat sekali itu! Tapi kita juga pasti akan ikut terbunuh juga, ya.”
            “Memang sih, tapi tunggu dulu. Manusia memang mati tapi kita tidak akan mati. Intinya manusia bersama teman-temannya akan memulai perang selanjutnya, dan perang kali ini dipastikan akan menggunakan bom nuklir. Ini akan menjadi hal yang luar biasa. Negara yang berperang akan saling menghujani negara lainnya dengan bom nuklir.”Suara ledakan bom nuklir yang dahsyat terus bersahut-sahutan. Lalu suara pesawat tak berawak yang membawa bom nuklir, mulai beradu dengan suara bom. Terdengar juga raungan menyedihkan orang-orang yang akan mati di muka bumi. Suara sirine, suara antiaircraft gun dan suara gelombang radio, terdengar terputus-putus. Setelah itu, suaranya makin melemah. Lalu suara bom nuklir terdengar lagi.
            “Hebat, kan? Wah, wah! Kota sebesar itu saja jadi lenyap tak berbekas! Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah yang terbakar!”
            “Serangan bom tadi menewaskan lima juta orang dan yang selamat cuma dua ratus ribu orang. Tapi dalam waktu tiga minggu, orang-orang ini pun akan tewas.”
            “Tapi bangsa lalat seperti kita pun akan terkena imbasnya juga, kan? Kita juga akan terbunuh.”
            Tapi jumlah bangsa kita tak terhitung banyaknya. Sedangkan bagi manusia, terbunuhnya lima juta orang merupakan kerugian yang sangat besar.”
            “Kenapa? Apa karena dari awal jumlah manusia emang sedikit?”
            “Bukan, bukan itu. Diantara lima juta orang yang tewas itu, sebagian besar adalah orang-orang yang yang berintelijensi tinggi. Artinya, dengan kehilangan orang-orang cerdas tersebut, akan menjadi pukulan keras bagi manusia. Aku ragu kalo negara-negara ini bisa bangkit lagi.”Dan lagi-lagi, terdengar suara ledakan bom nuklir dan jeritan orang-orang yang akan mati. Hanya saja kali ini terdengar dari kejauhan.
            “Habis sudah! Habis sudah! Negara ini telah kehilangan kekuatan sebenarnya. Tamat!”
            “Kenapa, yaa. Tempat yang terkena ledakan tadi ada dimana ya...?”
            “Itu ada di sebuah kota di negara ini yang menciptakan bom nuklir rahasia. Nih, keliatan kan. Hebat ya. Bom nuklir bisa menyusup ke dalam tanah dan meledak. Maka dari itu diadakan penggalian di semua jalan. Mesin pembuatnya, para ilmuwan yang meneliti bom nuklir, dan para teknisi yang membuatnya juga ikut musnah. Negara ini tidak akan mungkin bisa membuat bom nuklir lagi. Tamat sudah!”
            “Hancur, ya. Lalu, apakah negara ini akan menjadi negara musuh, ya?”
            “Yaah, gimana ya. Negara ini tidak akan mungkin diam saja diserang bom nuklir. Pasti negara ini akan menyerang negara musuh.”
            Tiba-tiba terdengar suara dering telepon.
            “Ah, halo.”
            “Halo. Oh, kamu ya. Ada kejadian luar biasa, lho. Tadi kota besar disini telah hancur oleh bom nuklir. Lalu sepuluh tempat yang menjadi area pabrik bom nuklir hancur tanpa tersisa satu pun. Mesinnya, teknisinya, semuanya musnah jadi asap. Tamat sudah negara ini. Hanya manusia tidak berintelijensi saja yang masih hidup.
            “Oh, begitu ya. Sudah ku duga.”
            “Maksudnya?”
            “Negara disini pun begitu. Sekarang informasi terus datang silih berganti. Seluruh penjuru kota dan distrik sedang diserang bom nuklir dari pesawat tak berawak. Semua manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, musnah. Semua manusia yang berilmu tewas. Runtuhnya bangsa manusia telah dimulai. Keruntuhan bangsa manusia. Lihatlah!”
            “Ooh, bangsa manusia. Lihatlah! Kami bangsa binatang akan bernegosiasi dengan kalian bangsa manusia.”
            “Benar! Saat itu juga,kami ingin kalian memusnahkan semua alat pemukul lalat dan kertas lalat. Musnahkan juga pestisida dan pabrik pembuat Day Day Day. Itulah yang kami minta dari bangsa manusia!”
            “Hilangkan kasa dari jendela! Karena sangat mengganggu kita untuk keluar-masuk.”
            “Sekarang, ayo kita hukum setimpal manusia-manusia yang tewas itu!”
            “Hukum setimpal aja tidak cukup. Kita bangsa lalat akan memakan habis jasad mereka! Ayo kita lakukan!”
            Lagu yang bikin kaget tiba-tiba berbunyi. Lalu....
            “Anda telah melewati seribu tahun.”
            “Hahahaahha!”
            “Uwahahahaha!”
            “Hohohohoho!”
            “Bahagia! Aku bahagia! Bangsa manusia telah musnah. Singa, macan, sapi, kuda, domba, anjing, semuanya berakhir dengan kematian. Semua itu berkat bom nuklir! Cuma kami, bangsa lalat yang tersisa. Dan sekarang dunia ini akan menjadi tempat tinggal yang aman untuk kita. Lalalala.....lalalala...”
            “Yeeeei! Lalalalala....lalala....yuhuuu!”
          “Dunia ini jadi milik bangsa lalat. Dunia ini! Hahahaahha....sudah tidak ada lagi manusia di muka bumi ini.” Musik telah berakhir.
            “Saya penyiar. Sekian drama tv berjudul ‘Akhir dari Perang Bom Nuklir’.
*******
“Bagaimana, Tousuke? Hitomi? Drama tv lalat menarik, kan?” Tanya Profesor Polder.
Tousuke dan Hitomi nggak bisa segera menjawab. Mata mereka berdua sudah penuh dengan air mata.
“Lho? Emangnya menyedihkan, ya? Apa yang kalian tangisi?” Profesor membelai lembut kepala mereka berdua.
            “Habisnya, Profesor.” Tousuke mulai buka suara. “Drama lalat tadi keterlaluan! Manusia saling menghancurkan dengan bom nuklir, kami bukan makhluk seperti itu!”
            “Tapi...kekuatan bom nuklir benar-benar dahsyat, ya. Bisa menghancurkan manusia dan makhluk hidup lainnya. Mungkin saja bumi bisa terbelah karena bom nuklir. Jadi tidak aman, yaa.” 
            “Tapi karena sekarang pun sedang diteliti cara mencegah kekuatan bom nuklir, aku rasa manusia tidak akan punah.” Hitomi pun memberikan pemikirannya.
            “Tapi, Hitomi. Kalo dunia hancur, manusia dan yang lainnya akan musnah tak berbekas. Manusia tidak tahu bahwa kekuatan bom nuklir dan perkembangannya sangat berbahaya.”
            “Iya, benar. Drama tv lalat tadi ya. Aku ingin memperlihatkannya pada semua manusia. Lalu kami para manusia akan menertawakan lalat-lalat yang bilang ‘lihat, mereka semua!’ Kami tidak mau dibilang begitu. Sehingga perang saudara yang bodoh itu tidak akan terjadi.”
            “Benar. Manusia harus saling tolong-menolong. Semua masalah diselesaikan dengan penuh cinta yang dalam, dan menyelamatkannya. Manusia harus satukan kekuatan untuk maju ke jalan yang benar dan baik. Tanggung jawab dan tugas manusia memang berat.”
            “Karena perkataan Profesor, kami jadi semangat lagi.”
            “Iya, aku juga! Dunia ini tidak akan mungkin ditinggali hanya oleh lalat! Aku akan cerita ke teman-temanku tentang drama lalat tadi.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment