Drama
Televisi Lalat
Profesor Polder
masih mengajak mereka ke negeri-negeri ajaib. Tousuke dan Hitomi naik tong
roket boat yang diterbangkan oleh Profesor Polder untuk melanjutkan perjalanan
ajaib mereka.
“Kali
ini aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih serius.”
“Tempat
yang bagaimana yang kau maksud serius?” Hitomi bangkit dari kursi penumpang.
“Aku
akan mengajak kalian ke perusahaan lalat.”
“Lho?
Yang kau maksud serius tuh jadi perusahaan lalat?”
“Bagi
manusia, memikirkan lalat adalah hal yang serius. Tempat yang akan ku ajak kali
ini adalah tempat pembuatan film yang dibuat lalat. Mereka akan menunjukkannya
pada kalian.”
“Waah,
hebaat! Ternyata lalat bisa berakting juga, ya. Ditambah lagi mereka akan
memproduksi film baru...”
“Manusia
tahu sekali tentang pembagian umatnya. Tapi mereka sama sekali tidak tahu soal
kuda, anjing, kelinci, ulat bulu dan lalat. Tidak boleh begitu. Makanya aku
ingin mengajak kalian untuk mengerti apa yang dipikirkan seekor lalat.” Kata
Profesor Polder dengan wajah yang tumben amat serius.
“Lalu
kita harus pergi kemana untuk bisa melihat drama tv lalat itu?”
“Kita
akan mendaki gunung Himalaya. Lalu lalat-lalat yang tinggal di dunia bawah
tanah akan muncul di puncak gunung itu. Nanti kita akan menerima gelombang
radio dari mereka. Ah! Kita sudah sampai di Himalaya! Kita akan mendarat dengan
tenang.” Seperti yang dikatakannya, tong roket boat nya memang mendarat
perlahan dan tenang.
“Apa
kita akan keluar?”
“Tidak,
diluar dingin. Sekarang suhu diluar mencapai minus tiga puluh derajat. Drama tv
lalat itu bisa kita lihat dari sini. Alat ini akan menerima gelombang radio
lalu memancarkannya ke layar segiempat ini. Lalu bahasa lalat diubah ke dalam
bahasa Jepang, dan setelah itu muncul deh.”
“Bahasa
lalat diubah jadi bahasa Jepang?Memangnya bisa?”
“Bisa.
Kalau orang ingin menyebut nama suatu objek, harus memikirkannya sendiri di
dalam hati, kan? Berpikir adalah tugas sebuah hati. Kalau hati bekerja, maka
akan muncul sejenis gelombang elektromangnetik. Aku akan menguatkan gelombang
itu dan menyiarkannya. Alat ini akan menerima gelombang itu, lalu dengan alat
pengubah bahasa, kita bisa mengubah bahasa mereka menjadi bahasa Jepang atau
Inggris sesuai kemauan kita. Kalian ngerti?”
“Ngerti
nggak ngerti, sih.” Tousuke menganggukan kepalanya. “Daripada itu, cepat
tunjukkan drama tv lalat nya! Ah, tidak. Kasih liat dan perdengarkan! Dengan
begitu kami bisa lebih mengerti,”
“Baiklah,
aku akan segera memperlihatkannya pada kalian. Lebih baik kalian taruh kursi
kalian di depan sini dan duduk.”Kata Profesor sambil berbalik lalu mengatur
alat penerima sinyal tv untuk menerima gelombang radio dari dunia lalat.
Profesor mulai memindahkan satu demi satu channel yang banyak muncul. Lalu
layar segiempat itu mulai bercahaya dan muncul semacam bentuk samar
bergoyang-goyang. Kemudian dari sound
system nya terdengar suara parau.
“Kayaknya
ada sesuatu yang muncul tapi nggak begitu jelas.” Kata Tousuke. Hitomi pun
sampai bangkit dari duduknya menuju ke depan layar.
“Sebentar
lagi akan jelas. Tunggu, ya.”
Oh,
ternyata memang benar. Sebentar saja, gambarnya terlihat jelas. Pada layarnya
muncul sekitar lima-enam lalat yang sedang berkumpul di atas labu yang telah
busuk. Suaranya pun terdengar jelas. Lalat-lalat itu terus berbicara diantara
suara sayap dan paruhnya yang seperti sedang menghirup sup.
“Kami siarkan episode kedua dari drama tv
yang berjudul ‘Akhir Perang Bom Nuklir’. Sake manis dari buah labu bisa diminum
sepenuh hati oleh para profesor universitas yang sedang ngobrol di tempat
sampah sebuah bar di tengah mekarnya bunga-bunga.”
“Manusia adalah makhluk yang kejam.
Jumlah mereka sekitar satu setengah miliar orang. Seiring bertambahnya manusia
di muka bumi ini, jumlah makhluk hidup seperti gajah dan paus berkurang.
Manusia berbuat kejam karena merasa bumi ini milik mereka. Benar-benar tidak
bisa dimaafkan!”
“Manusia emang begitu.”
“Iya kan? Perbandingan jumlah manusia dan
bangsa lalat seperti kita tidak juga bisa dibilang satu berbanding semiliar.
Tapi apa yang dilakukan manusia? Mereka membunuh kita dengan alat yang mereka
sebut pemukul lalat. Kadang mereka menggunakan pestisida untuk menghentikan
napas kita.”
“Ada lagi! Ada juga yang namanya
kertas lalat yang bagi kita neraka portable yang kejam.”
“Day Day Day lebih hebat lagi. Kalo
terkena itu, kita semua bakalan mati.”
“Kalo itu kan harganya mahal jadi
tidak bisa diproduksi banyak. Lagipula manusia tidak bisa menabur kita dengan
itu. Yaah kita memang selamat, tapi cukup bahaya kan.”
“Manusia punya kebebasan untuk
membunuh kita para lalat. Tidak bisa diampuni! Ciptaan Tuhan kan bukan hanya
manusia. Ada gajah, singa, kuda, anjing, kucing, ikan lalu ular, katak, kami
para lalat, bakteri, pohon juga rumput. Kami semua ciptaan Tuhan, oleh karena
itu kita juga punya hak yang sama untuk hidup.”
“Iya benar! Semua makhluk hidup
selain manusia,mengadakan rapat tentang manusia. Kita hanya ingin persamaan hak
dengan manusia dengan hadir di rapat itu. Dan kita juga harus menyudutkan
manusia ke tempat yang kecil dan sempit.”
“Setuju sekali! Ayo kita adakan
rapat antar keluarga nyamuk, keluarga kupu-kupu, keluarga lebah dan lainnya,
lalu kita ajak manusia juga.”
“Boleh juga! Kalau tidak begitu,
kita akan musnah!”
“Hai, apa yang Anda sekalian
bicarakan sampai marah-marah begitu?”
“Oh, kamu. Lama sekali. Ayo duduk
sini.”
“Terimakasih....hmmm...aku dengar
sedikit sih. Anda semua masih mengkritik kekejaman manusia, ya.”
“Iya benar. Makanya kami berniat
ingin mengadakan sebuah rapat antar seluruh makhluk hidup di bumi. Kami ingin
menyudutkan bangsa manusia. Bagaimana?”
“Anda semua tidak akan mungkin bisa
mengadakan acara itu. Karena sebentar lagi manusia akan mati. Manusia akan
mengakhiri hidupnya sendiri.”
“Yang benar?! Darimana kau dengar
itu?”
“Ini kesimpulanku. Akhir-akhir ini,
manusia mulai menciptakan bom nuklir. Hanya dengan sekali ledakan dari bom yang
mempunyai kekuatan maha dahsyat itu, ratusan hingga jutaan manusia akan tewas.
Manusia sedang berlomba-lomba membuat bom maha dahsyat itu.”
“Hmm....hebat sekali itu! Tapi kita
juga pasti akan ikut terbunuh juga, ya.”
“Memang sih, tapi tunggu dulu.
Manusia memang mati tapi kita tidak akan mati. Intinya manusia bersama
teman-temannya akan memulai perang selanjutnya, dan perang kali ini dipastikan
akan menggunakan bom nuklir. Ini akan menjadi hal yang luar biasa. Negara yang
berperang akan saling menghujani negara lainnya dengan bom nuklir.”Suara
ledakan bom nuklir yang dahsyat terus bersahut-sahutan. Lalu suara pesawat tak
berawak yang membawa bom nuklir, mulai beradu dengan suara bom. Terdengar juga
raungan menyedihkan orang-orang yang akan mati di muka bumi. Suara sirine,
suara antiaircraft gun dan suara
gelombang radio, terdengar terputus-putus. Setelah itu, suaranya makin melemah.
Lalu suara bom nuklir terdengar lagi.
“Hebat, kan? Wah, wah! Kota sebesar itu saja
jadi lenyap tak berbekas! Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah yang
terbakar!”
“Serangan bom tadi menewaskan lima
juta orang dan yang selamat cuma dua ratus ribu orang. Tapi dalam waktu tiga
minggu, orang-orang ini pun akan tewas.”
“Tapi bangsa lalat seperti kita pun
akan terkena imbasnya juga, kan? Kita juga akan terbunuh.”
“Tapi jumlah bangsa kita tak terhitung
banyaknya. Sedangkan bagi manusia, terbunuhnya lima juta orang merupakan
kerugian yang sangat besar.”
“Kenapa? Apa karena dari awal jumlah
manusia emang sedikit?”
“Bukan, bukan itu. Diantara lima
juta orang yang tewas itu, sebagian besar adalah orang-orang yang yang
berintelijensi tinggi. Artinya, dengan kehilangan orang-orang cerdas tersebut,
akan menjadi pukulan keras bagi manusia. Aku ragu kalo negara-negara ini bisa
bangkit lagi.”Dan lagi-lagi, terdengar suara ledakan
bom nuklir dan jeritan orang-orang yang akan mati. Hanya saja kali ini
terdengar dari kejauhan.
“Habis sudah! Habis sudah! Negara ini telah kehilangan
kekuatan sebenarnya. Tamat!”
“Kenapa, yaa. Tempat yang terkena
ledakan tadi ada dimana ya...?”
“Itu ada di sebuah kota di negara
ini yang menciptakan bom nuklir rahasia. Nih, keliatan kan. Hebat ya. Bom
nuklir bisa menyusup ke dalam tanah dan meledak. Maka dari itu diadakan
penggalian di semua jalan. Mesin pembuatnya, para ilmuwan yang meneliti bom
nuklir, dan para teknisi yang membuatnya juga ikut musnah. Negara ini tidak
akan mungkin bisa membuat bom nuklir lagi. Tamat sudah!”
“Hancur, ya. Lalu, apakah negara ini
akan menjadi negara musuh, ya?”
“Yaah, gimana ya. Negara ini tidak
akan mungkin diam saja diserang bom nuklir. Pasti negara ini akan menyerang
negara musuh.”
Tiba-tiba
terdengar suara dering telepon.
“Ah, halo.”
“Halo. Oh, kamu ya. Ada kejadian
luar biasa, lho. Tadi kota besar disini telah hancur oleh bom nuklir. Lalu
sepuluh tempat yang menjadi area pabrik bom nuklir hancur tanpa tersisa satu
pun. Mesinnya, teknisinya, semuanya musnah jadi asap. Tamat sudah negara ini.
Hanya manusia tidak berintelijensi saja yang masih hidup.
“Oh, begitu ya. Sudah ku duga.”
“Maksudnya?”
“Negara disini pun begitu. Sekarang
informasi terus datang silih berganti. Seluruh penjuru kota dan distrik sedang
diserang bom nuklir dari pesawat tak berawak. Semua manusia yang menguasai ilmu
pengetahuan, musnah. Semua manusia yang berilmu tewas. Runtuhnya bangsa manusia
telah dimulai. Keruntuhan bangsa manusia. Lihatlah!”
“Ooh, bangsa manusia. Lihatlah! Kami
bangsa binatang akan bernegosiasi dengan kalian bangsa manusia.”
“Benar! Saat itu juga,kami ingin
kalian memusnahkan semua alat pemukul lalat dan kertas lalat. Musnahkan juga
pestisida dan pabrik pembuat Day Day Day. Itulah yang kami minta dari bangsa
manusia!”
“Hilangkan kasa dari jendela! Karena
sangat mengganggu kita untuk keluar-masuk.”
“Sekarang, ayo kita hukum setimpal
manusia-manusia yang tewas itu!”
“Hukum setimpal aja tidak cukup.
Kita bangsa lalat akan memakan habis jasad mereka! Ayo kita lakukan!”
Lagu yang bikin
kaget tiba-tiba berbunyi. Lalu....
“Anda telah melewati seribu tahun.”
“Hahahaahha!”
“Uwahahahaha!”
“Hohohohoho!”
“Bahagia! Aku bahagia! Bangsa
manusia telah musnah. Singa, macan, sapi, kuda, domba, anjing, semuanya
berakhir dengan kematian. Semua itu berkat bom nuklir! Cuma kami, bangsa lalat
yang tersisa. Dan sekarang dunia ini akan menjadi tempat tinggal yang aman
untuk kita. Lalalala.....lalalala...”
“Yeeeei!
Lalalalala....lalala....yuhuuu!”
“Dunia ini jadi milik bangsa lalat.
Dunia ini! Hahahaahha....sudah tidak ada lagi manusia di muka bumi ini.” Musik
telah berakhir.
“Saya penyiar. Sekian drama tv
berjudul ‘Akhir dari Perang Bom Nuklir’.
*******
“Bagaimana,
Tousuke? Hitomi? Drama tv lalat menarik, kan?” Tanya Profesor Polder.
Tousuke
dan Hitomi nggak bisa segera menjawab. Mata mereka berdua sudah penuh dengan
air mata.
“Lho?
Emangnya menyedihkan, ya? Apa yang kalian tangisi?” Profesor membelai lembut
kepala mereka berdua.
“Habisnya,
Profesor.” Tousuke mulai buka suara. “Drama lalat tadi keterlaluan! Manusia
saling menghancurkan dengan bom nuklir, kami bukan makhluk seperti itu!”
“Tapi...kekuatan
bom nuklir benar-benar dahsyat, ya. Bisa menghancurkan manusia dan makhluk
hidup lainnya. Mungkin saja bumi bisa terbelah karena bom nuklir. Jadi tidak
aman, yaa.”
“Tapi
karena sekarang pun sedang diteliti cara mencegah kekuatan bom nuklir, aku rasa
manusia tidak akan punah.” Hitomi pun memberikan pemikirannya.
“Tapi,
Hitomi. Kalo dunia hancur, manusia dan yang lainnya akan musnah tak berbekas.
Manusia tidak tahu bahwa kekuatan bom nuklir dan perkembangannya sangat
berbahaya.”
“Iya,
benar. Drama tv lalat tadi ya. Aku ingin memperlihatkannya pada semua manusia.
Lalu kami para manusia akan menertawakan lalat-lalat yang bilang ‘lihat, mereka
semua!’ Kami tidak mau dibilang begitu. Sehingga perang saudara yang bodoh itu
tidak akan terjadi.”
“Benar.
Manusia harus saling tolong-menolong. Semua masalah diselesaikan dengan penuh
cinta yang dalam, dan menyelamatkannya. Manusia harus satukan kekuatan untuk
maju ke jalan yang benar dan baik. Tanggung jawab dan tugas manusia memang
berat.”
“Karena
perkataan Profesor, kami jadi semangat lagi.”
“Iya,
aku juga! Dunia ini tidak akan mungkin ditinggali hanya oleh lalat! Aku akan
cerita ke teman-temanku tentang drama lalat tadi.”
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment