Kantin
Luar Angkasa
Gelap sekali
seperti mati lampu. Entah darimana terdengar suara berisik mesin yang sedang
bekerja. Kemudian lama-kelamaan menjadi terang.
(Waah!
Ruangannya bagus sekali walaupun tidak luas. Ini....dimana, yaa?) Tousuke memandang
sekeliling ruangan. Ruangan tersebut seperti berada dalam sebuah bola yang
besar. Temboknya tidak lurus melainkan bengkok. Di tengah-tengahnya ada meja
panjang berikut kursinya. Tousuke duduk di kursi yang tepat menghadap ke arah
meja. Di depannya ada sebuah tempat seperti loket yang dihiasi dengan tirai
biru tua. Diantara tirai biru tua itu, muncul sebuah tangan putih. Kemudian
muncul sekaleng manisan nanas dan segelas kokoa yang masih hangat. Tangan putih
itu tenggelam di antara tirai. Setelah itu, pintu di sebelahnya terbuka. Ternyata
seorang pelayan. Kalo diliat-liat, pelayan ini mirip Hitomi. Tapi pelayan itu
terlihat dewasa dan lebih tua darinya. Tidak salah lagi! Dia Hitomi!
“Saya
telah menunggu Anda, tuan teknisi kelas tiga. Barang kami adalah barang kelas
satu. Jangan sampai dagu Anda lepas, ya. Hohohoho....” Sambil berkata begitu,
ia menaruh kokoa dan manisan nanas kalengan di depan Tousuke.
(Ehehehe....aku
dipanggil ‘teknisi kelas tiga’)
“Hari
ini kantinnya sepi, yaa.” Kata Tousuke dengan lembut. Cara bicaranya lancar
sekali. Ajaib!
“Lima
menit lagi akan ada tukar shift, aku rasa mereka semua akan datang kemari.”
“Oh,
begitu. Karena aku memperbaiki sampai lembur, jadi bisa selesai cepat.”
“Memperbaiki
dimana?”
“Mesin
pemancar gelombang ultrasonik. Susah, lho. Kalau kali ini gagal, maka alat
gravitasi buatannya tidak akan berfungsi dan itu akan menjadi masalah serius.”
“Memangnya
apa yang akan terjadi?”
“Hmmm....pesawat
Ginga go ini bisa terbang karena keseimbangan gravitasi yang sempurna antara
gaya tarik bulan dan gaya tarik bumi. Tapi kalo alat gravitasi buatan nggak
berfungsi, maka gravitasi di dalam pesawat akan hilang. Itu berarti
piring-piring akan terbang, kaki kita akan menancap di langit-langit, pokoknya
hal yang berbahaya deh.”
“Waah,
bahaya. Kalau sampai hal itu terjadi, susahjuga, ya. Kenapa pesawat ini tidak
dibuat dengan bahan yang lebih aman saja, ya?”
“Alat
gravitasi buatan sudah dipastikan tidak akan gagal. Tapi kamu pasti tahu kan
soal meteorit yang menabrak ruang mesin bagian luar kemarin? Sejak saat itu,
keadaan mesinnya jadi kurang baik.”
“Susah
juga yaa. Gravitasi bisa saja menghilang tiba-tiba seperti mati listrik.”
“Nggak
gitu juga sih. Gravitasinya berkurang sedikit-sedikit. Tapi dalam tujuh-delapan
menit saja, gravitasinya akan benar-benar menghilang.” Sambil ngomong
pembicaraan berbobot begini, Tousuke membuka kaleng manisan nanas dengan
pembuka kaleng.
“Waah,
wangi! Manisan nanas ini juga enak sekali! Lho?” Raut wajah Tousuke tiba-tiba
berubah.
“Kenapa,
tuan teknisi kelas tiga?”
“Tiba-tiba
saja aku merasa badanku jadi ringan. Kamu bagaimana? Apa tidak merasakannya
juga?”
“Kok
aneh, ya? Badanku juga jadi terasa ringan. Kenapa, yaa?”
“Sebentar
lagi akan dimulai, ya.”
“Hah?
Apanya yang akan dimulai?!”
“Pasti
alat gravitasi buatannya gagal, jadi gravitasinya akan menghilang. Ah! Tubuhku
mulai melayang!”
“Aduh,
bagaimana ini?”
“Nggak
usah khawatir. Tidak apa-apa. Hanya saja....benda-benda akan bergerak. Ah,
liat! Potongan nanas perlahan keluar dari dalam kaleng.” Memang benar. Potongan
nanas berwarna kuning keluar dari kalengnya. Bergerak-gerak pelan seperti
hidup!
“Hah?!
Hantu nanas!” sang pelayan seperti kaget. Lalu tubuh wanita itu naik sampai ke
langit-langit. Karena tidak ada gravitasi, kakinya jadi tidak bisa menyentuh
lantai dan dengan mudahnya tubuh mereka melayang-layang di udara.
“HAH?!
Kau mau kemana?!” Tousuke berniat meraih lengan sang pelayan tapi tubuhnya
sedang melayang-layang tak terkendali.
“Wah...wah...”
“Terbuka!”
Pelayan yang berwajah mirip Hitomi itu membenturkan kepalanya ke langit-langit.
Akibatnya, tubuhnya mulai turun ke bawah. Tousuke yang berada di atas dan sang
pelayan yang turun ke bawah pada akhirnya bertemu Kali ini mereka berdua
melayang-layang pelan di udara karena mereka berdua saling berpelukan.
Saat
itu dari balik tirai biru tua....
“Tolooong....”
Ada
seseorang! Terdengar juga suara meja dan kursi yang saling beradu. Saat pintu
terbuka, muncul seseorang berjenggot panjang yang sedang melayang.
“To....tolong
akuuu! Kopinya mengejarku! Ah! Adududuh! Aku nggak sanggup lagi! Tolong!” Pria
berjanggut panjang itu memang sedang berusaha kabur dari kopi. Tubuhnya
melayang miring memanjang di udara seperti katak yang melompat-lompat di tanah.
Setelah itu, semacam tongkat coklat yang beruap mengejar si janggut panjang
seperti mengincar tengkuk lehernya.
“AA!
Adududuh! Tolong aku! Singkirkan kopi itu! Nanti aku kena luka bakar dan mati!”
Tongkat
cokelat itu ternyata kopi panas. Kopi itu keluar dari teko yang sedang
memanaskan kopi diatas kompor di dapur. Sound
system yang terpasang di sudut langit-langit berbunyi menandakan waktu
shift telah dimulai. Lalu, pintu masuk di seberang terbuka. Banyak orang mulai
masuk ke kantin ini. Badan mereka semua menyamping pas masuk ke dalam ruangan.
Sosok mereka seperti sedang berenang di laut. Saat mereka menambah sedikit kekuatan,
tubuh mereka malah berlari ke depan sampai tidak bisa berhenti. Mereka semua
memegang pilar, tembok, kap lampu, meja dan kursi untuk menghentikan tarikan di
tubuh mereka. Akhirnya tarikan di tubuh mereka berhenti.Tentu saja meja dan
kursinya sudah terpaku kuat di lantai untuk keadaan darurat begini.
“Hei!
Cepat berikan makanan enaknya!”
“Wah!
Pelayan Hitomi dan Si janggut panjang ada di tempat seperti ini? Aku jadi
bingung. Aku pesan satu kaleng pai dan segelas besar susu. Cepat, ya.” Mereka
semua memesan makanan sembari berenang-renang di udara.
“Baiklah,
segera datang! Tapi untuk makanan dan minuman hangat sekarang tidak bisa.
Karena saya dan kalian bisa terkena luka bakar nanti. Memang sulit sekali. Saya
juga tidak bisa membetulkan alat gravitasi buatan. Ya! Segera datang!” Sambil
berkata begitu, si janggut panjang mondar-mandir ke dapur seperti katak. Tepat
pada saat itu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment