Tuesday, March 14, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 12



Kantin Luar Angkasa
            Gelap sekali seperti mati lampu. Entah darimana terdengar suara berisik mesin yang sedang bekerja. Kemudian lama-kelamaan menjadi terang.
            (Waah! Ruangannya bagus sekali walaupun tidak luas. Ini....dimana, yaa?) Tousuke memandang sekeliling ruangan. Ruangan tersebut seperti berada dalam sebuah bola yang besar. Temboknya tidak lurus melainkan bengkok. Di tengah-tengahnya ada meja panjang berikut kursinya. Tousuke duduk di kursi yang tepat menghadap ke arah meja. Di depannya ada sebuah tempat seperti loket yang dihiasi dengan tirai biru tua. Diantara tirai biru tua itu, muncul sebuah tangan putih. Kemudian muncul sekaleng manisan nanas dan segelas kokoa yang masih hangat. Tangan putih itu tenggelam di antara tirai. Setelah itu, pintu di sebelahnya terbuka. Ternyata seorang pelayan. Kalo diliat-liat, pelayan ini mirip Hitomi. Tapi pelayan itu terlihat dewasa dan lebih tua darinya. Tidak salah lagi! Dia Hitomi!
            “Saya telah menunggu Anda, tuan teknisi kelas tiga. Barang kami adalah barang kelas satu. Jangan sampai dagu Anda lepas, ya. Hohohoho....” Sambil berkata begitu, ia menaruh kokoa dan manisan nanas kalengan di depan Tousuke.
            (Ehehehe....aku dipanggil ‘teknisi kelas tiga’)
            “Hari ini kantinnya sepi, yaa.” Kata Tousuke dengan lembut. Cara bicaranya lancar sekali. Ajaib!
            “Lima menit lagi akan ada tukar shift, aku rasa mereka semua akan datang kemari.”
            “Oh, begitu. Karena aku memperbaiki sampai lembur, jadi bisa selesai cepat.”
            “Memperbaiki dimana?”
            “Mesin pemancar gelombang ultrasonik. Susah, lho. Kalau kali ini gagal, maka alat gravitasi buatannya tidak akan berfungsi dan itu akan menjadi masalah serius.”
            “Memangnya apa yang akan terjadi?”
            “Hmmm....pesawat Ginga go ini bisa terbang karena keseimbangan gravitasi yang sempurna antara gaya tarik bulan dan gaya tarik bumi. Tapi kalo alat gravitasi buatan nggak berfungsi, maka gravitasi di dalam pesawat akan hilang. Itu berarti piring-piring akan terbang, kaki kita akan menancap di langit-langit, pokoknya hal yang berbahaya deh.”
            “Waah, bahaya. Kalau sampai hal itu terjadi, susahjuga, ya. Kenapa pesawat ini tidak dibuat dengan bahan yang lebih aman saja, ya?”
            “Alat gravitasi buatan sudah dipastikan tidak akan gagal. Tapi kamu pasti tahu kan soal meteorit yang menabrak ruang mesin bagian luar kemarin? Sejak saat itu, keadaan mesinnya jadi kurang baik.”
            “Susah juga yaa. Gravitasi bisa saja menghilang tiba-tiba seperti mati listrik.”
            “Nggak gitu juga sih. Gravitasinya berkurang sedikit-sedikit. Tapi dalam tujuh-delapan menit saja, gravitasinya akan benar-benar menghilang.” Sambil ngomong pembicaraan berbobot begini, Tousuke membuka kaleng manisan nanas dengan pembuka kaleng.
            “Waah, wangi! Manisan nanas ini juga enak sekali! Lho?” Raut wajah Tousuke tiba-tiba berubah.
            “Kenapa, tuan teknisi kelas tiga?”
            “Tiba-tiba saja aku merasa badanku jadi ringan. Kamu bagaimana? Apa tidak merasakannya juga?”
            “Kok aneh, ya? Badanku juga jadi terasa ringan. Kenapa, yaa?”
            “Sebentar lagi akan dimulai, ya.”
            “Hah? Apanya yang akan dimulai?!”
            “Pasti alat gravitasi buatannya gagal, jadi gravitasinya akan menghilang. Ah! Tubuhku mulai melayang!”
            “Aduh, bagaimana ini?”
            “Nggak usah khawatir. Tidak apa-apa. Hanya saja....benda-benda akan bergerak. Ah, liat! Potongan nanas perlahan keluar dari dalam kaleng.” Memang benar. Potongan nanas berwarna kuning keluar dari kalengnya. Bergerak-gerak pelan seperti hidup!
            “Hah?! Hantu nanas!” sang pelayan seperti kaget. Lalu tubuh wanita itu naik sampai ke langit-langit. Karena tidak ada gravitasi, kakinya jadi tidak bisa menyentuh lantai dan dengan mudahnya tubuh mereka melayang-layang di udara.
            “HAH?! Kau mau kemana?!” Tousuke berniat meraih lengan sang pelayan tapi tubuhnya sedang melayang-layang tak terkendali.
            “Wah...wah...”
            “Terbuka!” Pelayan yang berwajah mirip Hitomi itu membenturkan kepalanya ke langit-langit. Akibatnya, tubuhnya mulai turun ke bawah. Tousuke yang berada di atas dan sang pelayan yang turun ke bawah pada akhirnya bertemu Kali ini mereka berdua melayang-layang pelan di udara karena mereka berdua saling berpelukan.
            Saat itu dari balik tirai biru tua....
            “Tolooong....”
Ada seseorang! Terdengar juga suara meja dan kursi yang saling beradu. Saat pintu terbuka, muncul seseorang berjenggot panjang yang sedang melayang.
“To....tolong akuuu! Kopinya mengejarku! Ah! Adududuh! Aku nggak sanggup lagi! Tolong!” Pria berjanggut panjang itu memang sedang berusaha kabur dari kopi. Tubuhnya melayang miring memanjang di udara seperti katak yang melompat-lompat di tanah. Setelah itu, semacam tongkat coklat yang beruap mengejar si janggut panjang seperti mengincar tengkuk lehernya.
“AA! Adududuh! Tolong aku! Singkirkan kopi itu! Nanti aku kena luka bakar dan mati!”
Tongkat cokelat itu ternyata kopi panas. Kopi itu keluar dari teko yang sedang memanaskan kopi diatas kompor di dapur. Sound system yang terpasang di sudut langit-langit berbunyi menandakan waktu shift telah dimulai. Lalu, pintu masuk di seberang terbuka. Banyak orang mulai masuk ke kantin ini. Badan mereka semua menyamping pas masuk ke dalam ruangan. Sosok mereka seperti sedang berenang di laut. Saat mereka menambah sedikit kekuatan, tubuh mereka malah berlari ke depan sampai tidak bisa berhenti. Mereka semua memegang pilar, tembok, kap lampu, meja dan kursi untuk menghentikan tarikan di tubuh mereka. Akhirnya tarikan di tubuh mereka berhenti.Tentu saja meja dan kursinya sudah terpaku kuat di lantai untuk keadaan darurat begini.
“Hei! Cepat berikan makanan enaknya!”     
“Wah! Pelayan Hitomi dan Si janggut panjang ada di tempat seperti ini? Aku jadi bingung. Aku pesan satu kaleng pai dan segelas besar susu. Cepat, ya.” Mereka semua memesan makanan sembari berenang-renang di udara.
“Baiklah, segera datang! Tapi untuk makanan dan minuman hangat sekarang tidak bisa. Karena saya dan kalian bisa terkena luka bakar nanti. Memang sulit sekali. Saya juga tidak bisa membetulkan alat gravitasi buatan. Ya! Segera datang!” Sambil berkata begitu, si janggut panjang mondar-mandir ke dapur seperti katak. Tepat pada saat itu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment