Gravitasinya Menghilang
Profesor
Polder udah duduk di kursi kokpit roket tongnya.
“Profesor, kita akan berangkat?” Tanya Tousuke.
“Benar. Kita akan pergi ke tempat baru.”
“Kali ini negeri ajaib seperti apa yang akan kita
kunjungi?” Tanya Hitomi pada Profesor.
“Kali ini aku akan mengajak kalian ke pesawat luar
angkasa.”
“Pesawat luar angkasa?”
“Iya. Setelah tadi ke bumi, aku akan mengajak kalian
masuk ke dalam pesawat luar angkasa yang akan pergi ke bulan. Kalo pesawat luar
angkasa semakin menuju angkasa, gravitasinya akan berkurang. Kalian pasti tau
kan arti gravitasi. Bagaimana, Hitomi?”
“Gravitasi tuh saat Newton melihat sebuah apel jatuh dari
atas ke tanah. Mungkin itulah yang disebut gravitasi.”
“Memang benar. Tapi
apa maksud dari pernyataan tadi? Bagaimana hukumnya?”
“Biar aku aja yang jawab! Gravitasi adalah gaya tarik
menarik antar benda. Semakin besar gaya tarik-menarik antar berat suatu benda,
semakin besar juga gravitasinya. Lalu, semakin dekat jarak dari dua benda yang
terpisah itu, semakin besar juga gravitasinya. Lebih jelasnya, perbandingan
terbalik yang disebut dengan distance
squaring.”
“Benar! Benar! Waah, Tousuke tau banyak yaa.
Ngomong-ngomong soal pesawat luar angkasa yang tadi kita bicarakan, ya. Karena
dekat dengan bumi, pesawat luar angkasa tertarik oleh gravitasi bumi tapi
setelah mendekati permukaan bulan, gravitasi bulan yang akan semakin besar. Di
sekitar sana nanti ada tempat yang dimana gravitasi bumi dan gravitasi bulan muncul
bersamaan. Naah, kalau memang seperti itu bakal terjadi hal yang aneh, ya.”
“Hal aneh seperti apa? Cerita menakutkan lagi, nih?”
“Bukan, bukan cerita yang menakutkan sih tapi lebih ke
aneh. Intinya, gravitasi bulan dan gravitasi bumi menyatu di tempat itu. Dua
gravitasi itu saling berlawanan satu sama lain. Gravitasi bumi menarik ke
bawah, sebaliknya gravitasi bulan menarik ke atas. Jika dua-duanya saling tarik-menarik
ke atas dan bawah dalam waktu yang bersamaan, apa yang terjadi?” Profesor
Polder memandang ke arah Hitomi dan Tousuke sambil tersenyum menyeringai.
“Yaa, jika kekuatan yang sama saling tarik-menarik, maka
tidak akan terjadi apa-apa. Karena jika menambahkan dua kekuatan, maka hasilnya
nol.” Jawab Tousuke.
“Benar. Intinya, sama saja artinya dengan tidak ada
gravitasi. Nah, kalo tidak ada gravitasi apa yang akan terjadi?”
“Apa yang akan terjadi?”
“Benda-benda jadi tidak punya berat, kan. Nah, kalau
tidak punya berat apa artinya?”
“Kita jadi bisa mengangkat batu besar atau brankas besi
hanya dengan satu jari!” Kata Tousuke.
“Benar. Ada lagi?”
“Ada. Jika duduk di sebuah brankas besi, dengan kekuatan
bokong saja sudah bisa menghancurkan brankas tersebut dengan mudah! Seperti
kotak yang terbuat dari kertas.”
“Tidak, Hitomi. Salah. Walaupun tidak ada gravitasi, hal
seperti itu tidak akan mungkin terjadi. Karena gravitasi tidak berpengaruh pada
lunaknya kertas dan kerasnya besi. Besi sifatnya keras, dan kertas sifatnya
lunak.”
“Jadi cuma tidak ada gaya tarik-menarik bulan dan bumi,
ya.”
“Yaa, begitulah. Tadi aku bilang benda-benda yang ada
disana tidak akan terkena gravitasi. Tapi sebenarnya gaya gravitasi bumi lebih
kecil dibandingkan gravitasi bulan, jadi bisa dibilang gravitasinya hampir nol.
Misalnya, kita ambil contoh gedung dan kapal pesiar. Dua-duanya benda yang
sangat besar sampai tidak bisa dibandingkan. Karena itu gravitasi yang
dihasilkan pun besar. Nah, sekarang aku akan mengajak kalian masuk ke dalam
pesawat luar angkasa bernama Ginga Go.”
“Profesor Polder bagaimana?”
“Aku juga akan ikut.”
“Maksudnya...?”
“Kalian coba saja cari aku yaa, karena aku akan menyamar
menjadi salah satu staf di pesawat luar angkasa Ginga Go itu.” Saat Profesor
ingin menyambung kata-katanya, tiba-tiba sekitarnya jadi gelap gulita.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment