Begitu tiba di rumah sakit, mereka terutama Rido langsung
mendatangi dokter yang kebetulan lewat di depannya.
“Dokter! Tolong cewek ini, dok! Dia hampir sekarat!” Seru
Rido. Dokter melihat tangan Shizuka yang sudah penuh dengan darah.
“Suster! Tolong bawakan ranjang berjalan!” Seru dokter
tersebut yang dengan sigap dua suster tersebut segera datang dengan ranjang
berjalan. Rido membaringkan Shizuka disitu dan mengikuti dokter dan suster yang
membawa Shizuka diikuti Rita dan Nana.
“Tolong tunggu disini.” Kata dokter seraya menutup ruang ICU
tersebut. Rido, Rita, dan Nana berdiri di depan ruang ICU. Sudah lima belas
menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda dokter keluar. Rita udah bolak-balik
nggak jelas. Rido duduk santai seraya baca koran.
“Hei! Kok kamu malah baca koran disaat begini. Bodoh!” Ujar
Nana seraya merebut koran tersebut dari tangan Rido.
“Lho, kenapa? Kalian tuh yang lebay. Nyantai aja sih. Nggak usah dibawa tegang.” Kata Rido santai
seraya menutup koran yang tadi ia buka dan menaruhnya di atas meja. Emang sih. Tadi luka di tangan kanan Shizuka
itu dalem banget. Yang bikin gue bingung, orang biasa bahkan cowok sekalipun
seharusnya udah pingsan. Tapi, cewek itu
bahkan bisa berdiri dan lari-lari. Terus ditambah beban Nana tadi memapahnya
sambil lari-lari. Shizuka emang bukan cewek biasa.
“Oi! Oi, Rido. Kamu ngelamun, ya?” Tanya Rita yang wajahnya
dekat sekali dengan Rido yang membuatnya reflek hendak menjauh dari Rita tapi
yang ada kepalanya malah membentur tembok. Rido meringis memegangi kepalanya.
“Lo mau ngapain sih?”
“Ya, kamu...hahahhahha...ternyata kamu punya sisi lucu juga
ya. Hahaha...” Seketika itu muka Rido memerah dan langsung merebut koran yang
ada di tangan Nana seraya menutup mukanya.
“Cieee...salting.” Sindir Nana.
“Berisik!”
Tiba-tiba, dokter keluar dari ruangan dan seketika itu
langsung disambut oleh Rita dan Nana diikuti Rido.
“Gimana, Dok?” Tanya Rita. Dokter tersebut malah tersenyum
dan berbalik menyuruh mereka melihat sendiri keadaannya. Mata Rita dan Nana
langsung bersinar cerah dan mendatangi Shizuka yang udah duduk di sisi ranjang.
“Hei, apa-apaan kalian. Ini kan cuma luka kecil. Hhh...perban
ini nyusahin aja...” Kata Shizuka seraya hendak melepas perban yang melekat di
tangannya tapi dicegah oleh Rido.
“Jangan. Itu bukan sekedar perban. Kan ada obatnya. Biarin aja obatnya kerja. Lo nggak mau kan tangan putih mulus lo itu jadi keliatan
jelek karena luka? Mending perban deh.” Rita dan Nana mengangguk mengiyakan.
Shizuka menghela nafas.
“Ya, udah deh. Kalo gitu yang di dahi aja.” Kata Shizuka
seraya hendak melepas tapi dicegah oleh tangan mereka bertiga. Shizuka hanya
melongo polos.
“Kalian kenapa, sih. Gue nggak papa kok, cuma luka kecil ini,
sih.” Tiba-tiba, Nana ketawa kecil. Tadinya Rita juga bingung sama seperti
Shizuka dan Rido. Tapi, saat gerak matanya melirik ke arah Rido dan Shizuka ia
ikut tertawa juga.
“Ka...kalian kenapa, sih. Ngelirik orang terus ketawa. Nggak
sopan tau.” Shizuka mulai kesal.
“Hahaha...nggak...eh,
Shizuka..kamu tau nggak tadi...” Rido yang mulai sadar arah pembicaraan Rita
mulai mengibas-kibaskan tangannya dan menggeleng kuat.
“Tadi itu..ya...”
“Waaa!waaa! jangan! Jangan!” Rido teriak-teriak dan membuat
Nana dan Shizuka membuat suara mendesis pertanda jangan berisik.
“Heh! Lo bodoh ya! Ini rumah sakit! Jangan teriak-teriak.”
Ujar Shizuka pelan tapi dengan nada kesal.
“Tadi tuh ya Rido...” Nana nggak bisa melanjutkan
kata-katanya melihat Rido yang mukanya udah berubah menjadi muka menyeramkan
siap membunuh. Rasanya kata-kata ‘jangan bilang’ itu tersampaikan ke hati Nana.
Shizuka hanya melihat mereka bingung.
“Oi! Kalian mau ngomong apa sih sebenarnya? Gue paling nggak
suka ngomong putus-putus kayak gini. Ayo cepet lanjutin.”
Rita dan Nana melirik ke arah Rido dengan wajah ketakutan.
“Oh, jadi si cabe besar ini yang ngalangin kalian buat
ngomong. Tenang, kalo kalian diapa-apain gue yang hajar nih cabe.”
“Heh! Sembarangan ngatain gue cabe.” Tapi sayangnya, Shizuka
nggak menggubrisnya.
“Ayo, lanjutin.”
Nana dan Rita kembali senyum-senyum.
“Tadi, Rido keren banget, lho.” Kata Nana mulai pembicaraan.
Shizuka hanya terdiam polos. Rido menunduk menahan malu.
“Keren gimana? Hah? Dia yang ngabisin penjahat-penjahat tadi?
Yah, itu sih gue juga tau. Mana mungkin Rita yang melakukannya. Hahahhaha...”
“Ih, dengerin dulu, Shizu. Tadi, kamu pingsan kan. Nah, yang
paling khawatir melebihi kita itu Rido, lho. Bahkan dia gendong kamu kayak tuan
puteri, lho! Wah...” Sambung Rita. Seketika itu, Shizuka terdiam melongo
melihat Rido yang semakin menunduk. Muka Shizuka seketika itu memerah.
“Koraa~! Baka yaro[1]! Apa-apaan
lo?! Hah?! Pas gue pingsan lo apain gue? Lo nggak sekuhara[2]
kan? Baka yaro, chikan[3]!”
Shizuka teriak-teriak yang hanya direspon dengan wajah bingung dan suara
mendesis pertanda jangan berisik dari mereka bertiga. Shizuka langsung menutup
mulutnya dan mengangguk.
“Tenang aja, gue nggak ngapa-ngapain lo kok. Yah, gue cuma
ngerti lo ngomong ‘apa-apaan lo? Hah? Pas gue pingsan lo apain gue? Lo nggak
blablabla....gitu deh. Ngomong-ngomong lo suka ngomong bahasa aneh itu deh.”
Shizuka terdiam lalu turun dari ranjangnya dengan gontai.
Rita, Nana, dan Rido hanya mengikutinya sampai menuju tempat pembayaran. Nana
dan Rido yang baru kenal Shizuka terkejut melihat dompet Shizuka berisi uang
merah banyak sekali- alias uang seratus ribuan. Gila nih cewek. Bank berjalan, batin Rido.
“Kalian harus ikut ke rumah gue. Gue nggak bisa jelasin ini
dan ini sendirian.” Kata Shizuka selesai membayar seraya menunjuk perban di
kening dan tangannya.
“EEHHHH?!” Seru mereka bertiga serempak. Begitu keluar dari
rumah sakit, hari telah berubah sore. Shizuka mengeluarkan hp dari tasnya dan
memencet nomor-nomor. Dengan menggunakan bahasa yang lagi-lagi membuat Rido,
Rita, dan Nana bengong, Shizuka berbicara di telepon.
“Yah. Tunggu bentar, ya. Dua puluh menit lagi supir gue
datang kok. Kalo mau izin, nih gue pinjemin hp.” Katanya seraya mengulurkan hp
nya.
“Nggak. Gue udah biasa pulang malam.” Ujar Rido seraya
memalingkan mukanya. Rita menerima hp Shizuka dan setelah selesai ia
mengembalikannya pada Shizuka. Ia pun mengulurkannya pada Nana dan langsung
disambut Nana dengan muka cerah.
“Makasih, Shizuka.” Ucap Nana setelah selesai nelpon.
“Hei!” Shizuka menoleh saat Rido memang bermaksud
memanggilnya.
“Tadi pas marah-marah pake bahasa aneh itu...lo...lo ngomong
apa sih.”
Shizuka terdiam lalu mengangkat kepalanya memandang langit
sore.
“Sekuhara.” Kata
Shizuka singkat yang membuat ketiga temannya itu terdiam bengong.
“Iya..iya...gue jelasin. Yaa...bahasa Indonesia gue nggak
begitu bagus. Bahasa Inggrisnya sih sexual
harrassment. Kata Ibu sih artinya pe...pe...apaa gitu..”
Mereka bertiga mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Terus, kenapa?” Tanya Nana yang membuat Shizuka terdiam
lagi.
“Ayah...percaya atau nggak Ayah gue mantan yakuza Jepang. Kalian tahu kan Yakuza?” Muka Shizuka berubah aneh
melihat mereka dengan polosnya geleng-geleng kepala. Shizuka menghela nafas
panjang lalu mulai bicara lagi.
“Yakuza itu sebutan
mafia di Jepang. Disana, mafia sangat kuat posisinya. Mereka semua jago bela
diri apapun. Ayah gue tipe orang yang posesif. Dari umur lima tahun, gue sudah
diajari bermacam-macam latihan beladiri yang keras. Kata Ayah, itu untuk ngelindungin
gue dari chikan. Hmmm...chikan itu...apa, ya Indonesianya...hmm...sebentar.”
Shizuka mengeluarkan kamus elektronik yang selalu dia bawa kemana-mana. Ia
terlihat serius mencari.
“Ah! Orang mesum! Ya, itu
maksudnya. Makanya kalo ada lawan jenis yang tiba-tiba nyentuh gue,
reflek bakal langsung gue hajar. Siapapun orangnya.” Lanjut Shizuka. Mereka
bertiga manggut-manggut entah ngerti atau nggak. Wah ayah Shizuka pasti keren tuh. Rido membayangkan Ayah Shizuka
seperti di film-filmnya Jackie Chan. Hmm...pasti Ayahnya Shizuka tampangnya
seperti preman. Terus berambut gondrong. Hiii... Dengan polosnya, Nana
membayangkan bagaimana rupa ayah Shizuka. Rita pun ikut membayangkan wajah Ayah
Shizuka. Ayah Shizuka pasti orang baik
dan gagah kayak raja-raja di Eropa sana. Rita membayangkan Ayah Shizuka
memakai baju ala raja-raja Eropa. Shizuka melihat Rita dan Rido senyam senyum
sibuk menerawang sementara Nana dengan muka pucat ikut-ikutan berkhayal.
“Hei! Kenapa kalian senyum-senyum begitu. Ayo cepat, supir gue
udah dateng.” Shizuka menyembunyikan kekesalannya merasa ceritanya tadi nggak
didengar. Mereka bertiga langsung tersadar dari lamunannya dan berjalan
mengikuti Shizuka.
-BERSAMBUNG-