Saturday, February 2, 2013

Yakuza van Java (Act 10)



Begitu tiba di rumah sakit, mereka terutama Rido langsung mendatangi dokter yang kebetulan lewat di depannya.
“Dokter! Tolong cewek ini, dok! Dia hampir sekarat!” Seru Rido. Dokter melihat tangan Shizuka yang sudah penuh dengan darah.
“Suster! Tolong bawakan ranjang berjalan!” Seru dokter tersebut yang dengan sigap dua suster tersebut segera datang dengan ranjang berjalan. Rido membaringkan Shizuka disitu dan mengikuti dokter dan suster yang membawa Shizuka diikuti Rita dan Nana.
“Tolong tunggu disini.” Kata dokter seraya menutup ruang ICU tersebut. Rido, Rita, dan Nana berdiri di depan ruang ICU. Sudah lima belas menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda dokter keluar. Rita udah bolak-balik nggak jelas. Rido duduk santai seraya baca koran.
“Hei! Kok kamu malah baca koran disaat begini. Bodoh!” Ujar Nana seraya merebut koran tersebut dari tangan Rido.
“Lho, kenapa? Kalian tuh yang lebay. Nyantai aja sih. Nggak usah dibawa tegang.” Kata Rido santai seraya menutup koran yang tadi ia buka dan menaruhnya di atas meja. Emang sih. Tadi luka di tangan kanan Shizuka itu dalem banget. Yang bikin gue bingung, orang biasa bahkan cowok sekalipun seharusnya udah pingsan. Tapi, cewek  itu bahkan bisa berdiri dan lari-lari. Terus ditambah beban Nana tadi memapahnya sambil lari-lari. Shizuka emang bukan cewek biasa.
“Oi! Oi, Rido. Kamu ngelamun, ya?” Tanya Rita yang wajahnya dekat sekali dengan Rido yang membuatnya reflek hendak menjauh dari Rita tapi yang ada kepalanya malah membentur tembok. Rido meringis memegangi kepalanya.
“Lo mau ngapain sih?”
“Ya, kamu...hahahhahha...ternyata kamu punya sisi lucu juga ya. Hahaha...” Seketika itu muka Rido memerah dan langsung merebut koran yang ada di tangan Nana seraya menutup mukanya.
“Cieee...salting.” Sindir Nana.
“Berisik!”
Tiba-tiba, dokter keluar dari ruangan dan seketika itu langsung disambut oleh Rita dan Nana diikuti Rido.
“Gimana, Dok?” Tanya Rita. Dokter tersebut malah tersenyum dan berbalik menyuruh mereka melihat sendiri keadaannya. Mata Rita dan Nana langsung bersinar cerah dan mendatangi Shizuka yang udah duduk di sisi ranjang.
“Hei, apa-apaan kalian. Ini kan cuma luka kecil. Hhh...perban ini nyusahin aja...” Kata Shizuka seraya hendak melepas perban yang melekat di tangannya tapi dicegah oleh Rido.
“Jangan. Itu bukan sekedar perban. Kan ada obatnya. Biarin aja obatnya kerja. Lo nggak mau kan tangan putih mulus lo itu jadi keliatan jelek karena luka? Mending perban deh.” Rita dan Nana mengangguk mengiyakan. Shizuka menghela nafas.
“Ya, udah deh. Kalo gitu yang di dahi aja.” Kata Shizuka seraya hendak melepas tapi dicegah oleh tangan mereka bertiga. Shizuka hanya melongo polos.
“Kalian kenapa, sih. Gue nggak papa kok, cuma luka kecil ini, sih.” Tiba-tiba, Nana ketawa kecil. Tadinya Rita juga bingung sama seperti Shizuka dan Rido. Tapi, saat gerak matanya melirik ke arah Rido dan Shizuka ia ikut tertawa juga.
“Ka...kalian kenapa, sih. Ngelirik orang terus ketawa. Nggak sopan tau.” Shizuka mulai kesal.
 “Hahaha...nggak...eh, Shizuka..kamu tau nggak tadi...” Rido yang mulai sadar arah pembicaraan Rita mulai mengibas-kibaskan tangannya dan menggeleng kuat.
“Tadi itu..ya...”
“Waaa!waaa! jangan! Jangan!” Rido teriak-teriak dan membuat Nana dan Shizuka membuat suara mendesis pertanda jangan berisik.
“Heh! Lo bodoh ya! Ini rumah sakit! Jangan teriak-teriak.” Ujar Shizuka pelan tapi dengan nada kesal.
“Tadi tuh ya Rido...” Nana nggak bisa melanjutkan kata-katanya melihat Rido yang mukanya udah berubah menjadi muka menyeramkan siap membunuh. Rasanya kata-kata ‘jangan bilang’ itu tersampaikan ke hati Nana. Shizuka hanya melihat mereka bingung.
“Oi! Kalian mau ngomong apa sih sebenarnya? Gue paling nggak suka ngomong putus-putus kayak gini. Ayo cepet lanjutin.”
Rita dan Nana melirik ke arah Rido dengan wajah ketakutan.
“Oh, jadi si cabe besar ini yang ngalangin kalian buat ngomong. Tenang, kalo kalian diapa-apain gue yang hajar nih cabe.”
“Heh! Sembarangan ngatain gue cabe.” Tapi sayangnya, Shizuka nggak menggubrisnya.
“Ayo, lanjutin.”
Nana dan Rita kembali senyum-senyum.
“Tadi, Rido keren banget, lho.” Kata Nana mulai pembicaraan. Shizuka hanya terdiam polos. Rido menunduk menahan malu.
“Keren gimana? Hah? Dia yang ngabisin penjahat-penjahat tadi? Yah, itu sih  gue juga tau. Mana mungkin Rita yang melakukannya. Hahahhaha...”
“Ih, dengerin dulu, Shizu. Tadi, kamu pingsan kan. Nah, yang paling khawatir melebihi kita itu Rido, lho. Bahkan dia gendong kamu kayak tuan puteri, lho! Wah...” Sambung Rita. Seketika itu, Shizuka terdiam melongo melihat Rido yang semakin menunduk. Muka Shizuka seketika itu memerah.
Koraa~! Baka yaro[1]! Apa-apaan lo?! Hah?! Pas gue pingsan lo apain gue? Lo nggak sekuhara[2] kan? Baka yaro, chikan[3]!” Shizuka teriak-teriak yang hanya direspon dengan wajah bingung dan suara mendesis pertanda jangan berisik dari mereka bertiga. Shizuka langsung menutup mulutnya dan mengangguk.
“Tenang aja, gue nggak ngapa-ngapain lo kok. Yah, gue cuma ngerti lo ngomong ‘apa-apaan lo? Hah? Pas gue pingsan lo apain gue? Lo nggak blablabla....gitu deh. Ngomong-ngomong lo suka ngomong bahasa aneh itu deh.”
Shizuka terdiam lalu turun dari ranjangnya dengan gontai. Rita, Nana, dan Rido hanya mengikutinya sampai menuju tempat pembayaran. Nana dan Rido yang baru kenal Shizuka terkejut melihat dompet Shizuka berisi uang merah banyak sekali- alias uang seratus ribuan. Gila nih cewek. Bank berjalan, batin Rido.
“Kalian harus ikut ke rumah gue. Gue nggak bisa jelasin ini dan ini sendirian.” Kata Shizuka selesai membayar seraya menunjuk perban di kening dan tangannya.
“EEHHHH?!” Seru mereka bertiga serempak. Begitu keluar dari rumah sakit, hari telah berubah sore. Shizuka mengeluarkan hp dari tasnya dan memencet nomor-nomor. Dengan menggunakan bahasa yang lagi-lagi membuat Rido, Rita, dan Nana bengong, Shizuka berbicara di telepon.
“Yah. Tunggu bentar, ya. Dua puluh menit lagi supir gue datang kok. Kalo mau izin, nih gue pinjemin hp.” Katanya seraya mengulurkan hp nya.
“Nggak. Gue udah biasa pulang malam.” Ujar Rido seraya memalingkan mukanya. Rita menerima hp Shizuka dan setelah selesai ia mengembalikannya pada Shizuka. Ia pun mengulurkannya pada Nana dan langsung disambut Nana dengan muka cerah.
“Makasih, Shizuka.” Ucap Nana setelah selesai nelpon.
“Hei!” Shizuka menoleh saat Rido memang bermaksud memanggilnya.
“Tadi pas marah-marah pake bahasa aneh itu...lo...lo ngomong apa sih.”
Shizuka terdiam lalu mengangkat kepalanya memandang langit sore.
Sekuhara.” Kata Shizuka singkat yang membuat ketiga temannya itu terdiam bengong.
“Iya..iya...gue jelasin. Yaa...bahasa Indonesia gue nggak begitu bagus. Bahasa Inggrisnya sih sexual harrassment. Kata Ibu sih artinya pe...pe...apaa gitu..”
Mereka bertiga mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Terus, kenapa?” Tanya Nana yang membuat Shizuka terdiam lagi.
“Ayah...percaya atau nggak Ayah gue mantan yakuza Jepang. Kalian tahu kan Yakuza?” Muka Shizuka berubah aneh melihat mereka dengan polosnya geleng-geleng kepala. Shizuka menghela nafas panjang lalu mulai bicara lagi.
Yakuza itu sebutan mafia di Jepang. Disana, mafia sangat kuat posisinya. Mereka semua jago bela diri apapun. Ayah gue tipe orang yang posesif. Dari umur lima tahun, gue sudah diajari bermacam-macam latihan beladiri yang keras. Kata Ayah, itu untuk ngelindungin gue dari chikan. Hmmm...chikan itu...apa, ya Indonesianya...hmm...sebentar.” Shizuka mengeluarkan kamus elektronik yang selalu dia bawa kemana-mana. Ia terlihat serius mencari.
“Ah! Orang mesum! Ya, itu  maksudnya. Makanya kalo ada lawan jenis yang tiba-tiba nyentuh gue, reflek bakal langsung gue hajar. Siapapun orangnya.” Lanjut Shizuka. Mereka bertiga manggut-manggut entah ngerti atau nggak. Wah ayah Shizuka pasti keren tuh. Rido membayangkan Ayah Shizuka seperti di film-filmnya Jackie Chan. Hmm...pasti Ayahnya Shizuka tampangnya seperti preman. Terus berambut gondrong. Hiii... Dengan polosnya, Nana membayangkan bagaimana rupa ayah Shizuka. Rita pun ikut membayangkan wajah Ayah Shizuka. Ayah Shizuka pasti orang baik dan gagah kayak raja-raja di Eropa sana. Rita membayangkan Ayah Shizuka memakai baju ala raja-raja Eropa. Shizuka melihat Rita dan Rido senyam senyum sibuk menerawang sementara Nana dengan muka pucat ikut-ikutan berkhayal.
“Hei! Kenapa kalian senyum-senyum begitu. Ayo cepat, supir gue udah dateng.” Shizuka menyembunyikan kekesalannya merasa ceritanya tadi nggak didengar. Mereka bertiga langsung tersadar dari lamunannya dan berjalan mengikuti Shizuka.

-BERSAMBUNG-


[1] Heei~! Dasar bodoh!
[2] Pelecehan seksual
[3] Dasar bodoh, mesum!

Yakuza van Java (Act 9)



Pak, mana anaknya? Kok daritadi kita muter-muter aja, sih.” Ujar Shizuka dengan nada sopan. Hmm...nih cewek ternyata polos juga. Yah, apa boleh buat.
“Ya...naik ke atas sini.  Disana ada kamar anak saya.” Shizuka mengangguk dan menaiki tangga tersebut sampai tiba di depan sebuah kamar.
“Buka aja, neng. Saya udah nyerah ngadepin dia.”  Kata Jack saat Shizuka memandang ke arahnya. Tangan Shizuka perlahan bergerak hendak membuka handel pintu. Hahahahha....rasain lo bocah. Gue emang selalu bersih ngelaksanain tugas. Ini mah gampang. Jack yang ternyata sedang menyamar itu tertawa dalam hati. Tapi, tiba-tiba Shizuka menghentikan gerak tangannya.
“Oh, iya! Daritadi Nana dan Rita kok nggak ada, ya? Bapak tau nggak dua cewek yang tadi bersama saya kemana?” Tanya Shizuka dengan wajah khawatir. Sial! Nih cewek berisik amat sih! Tinggal buka pintunya aja padahal. Huh! Apa boleh buat harus akting dikit lagi. Ternyata Izan nggak bohong. Cewek ini bukan cewek sembarangan.
“Kalo gitu, tunggu bentar ya. Saya mau cari temen saya dulu.” Kata Shizuka sopan seraya hendak beranjak pergi. Tapi, Jack menahan tangan Shizuka.
“KYAAAAAAA~!” Sontak Shizuka langsung melayangkan tendangan kaki kanannya hingga Jack terpental jauh.
“A! Maaf! Maaf! Maafkan saya. Saya reflek. Maaf.” Shizuka membungkuk beberapa kali saat mendekatinya dan mengulurkan tangannya. GILA! BENERAN GILA! CEWEK INI KUAT BANGET! GUE...GUE BISA TERPENTAL JAUH KAYAK GINI?! DAN DIA BILANG ITU CUMA REFLEK?! GUE HARUS WASPADA SAMA NIH CEWEK. Jack sebenarnya sudah habis kesabaran karena tadi ia kena pukul tapi ia teringat tugasnya harus ‘bersih’ sempurna. Jack langsung menggenggam kedua tangan Shizuka seraya menangis.
“Saya mohon, neng. Kasihanilah anak saya. Dia nggak mau sekolah dan sekarang dia pengen mati. Saya mohon.”
Shizuka iba melihat Jack yang tidak sadar kalo sebenarnya ia tertipu. “Baiklah. Saya buka, ya pak.” Kata Shizuka seraya berjalan mendekati pintu tersebut tanpa ragu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, Shizuka sangat terkejut. Ia melihat Izan pingsan dengan tangan terlihat seperti terikat ke belakang. Walaupun ia tahu Izan sangat bengis, tapi sisi kemanusiaan Shizuka tetap peduli dan kasihan melihatnya.
“IZAN~!” Shizuka segera mendatangi Izan dan melihat keadaannya. Jack menyeringai jahat. Ia mengeluarkan pisau dari saku jasnya lalu dengan gerakan cepat ia berlari menghunuskan pisau ke arah Shizuka yang membelakanginya. Tapi, sangat tidak disangka-sangka Jack, Shizuka menahan pisau yang akan menusuk dirinya itu dengan tangan kanannya tanpa membalikkan badannya. Jack menarik-narik pisau yang digenggam Shizuka dengan kuat tapi tidak bisa.
Temee nani wo shita no ka shitteru no[1]...” Shizuka berkata pelan menahan tangannya yang sudah berdarah-darah menahan pisau. Bo...bocah ini...ngomong apa dia? Gue..nggak ngerti...
“Apa yang anda lakukan pada temen gue?” Shizuka menoleh ke arah Jack yang ada di belakangnya dan berdiri seraya masih menahan pisau Jack. Jack berusaha menghindar tapi ia hanya bisa menjauhinya beberapa inchi karena entah kenapa saat melihat Shizuka, seperti ada lem yang membuatnya nggak bisa melepaskan pegangan pisaunya. Ma...mata itu...mata setan?! Ba..baru pertama kali ini gue menjabat jadi bos tukang pukul profesional ngerasa ketakutan begini.
SHINEE YOO USOTSUKEEE[2]~!” Shizuka dengan wajah berapi-api dan membabi buta membanting Jack berkali-kali. Saat tubuh Jack membentur pintu, ia menendang wajah Jack sampai ia terlempar ke samping dan pingsan. Shizuka bernafas terengah-engah seraya menahan tangan kanannya yang masih nggak berhenti mengeluarkan darah. Dengan mata sedikit berkunang-kunang ia menghampiri Izan yang masih tak sadarkan diri itu.
“Izan...Izan...lo nggak papa kan. Izan...”

DUAK! Tiba-tiba Izan membenturkan keningnya ke kening Shizuka dan membuatnya jatuh terduduk pingsan. Izan mengeluarkan tangannya yang ternyata selama ini nggak terikat sama sekali dan mengangkat dagu Shizuka yang tak sadarkan diri itu.
“HA..HAHA....HAHA...Gue..bisa...gue...ngalahin boneka bodoh ini? HA..HAHA...HAHAHAHHAHHA...” Izan tertawa puas seraya melihat wajah Shizuka.
“Hmmm...ternyata ide gue hebat juga. Gue emang sengaja nggak ngasih tau detail tentang Shizuka ke Jack biar dia yang jadi korban amukan si boneka payah ini.” Katanya seraya duduk santai. Ia menyibak rambut panjang Shizuka yang menghalangi wajahnya.
“Hmmm... ternyata kalo lagi pingsan gini cantik juga. Coba dia bukan cewek bengal udah gue pacarin.” Gumam Izan seraya mengangkat wajah Shizuka yang tertunduk pingsan.
“Kesempatan ‘mainin’ boneka gue akhirnya dateng juga. Hmmm...pertama...” Ia berpikir dan melihat bibir Shizuka yang tipis dan berwarna pink tersebut. Izan tersenyum jahat dan mendekatkan wajahnya.
“Lo pikir gue mau jadi pacar lo sekalipun gue nggak bengal.” Dengan mata masih tertutup Shizuka berkata pelan dan membuat Izan melompat menjauhi Shizuka. Nggak mungkin! Nggak mungkin! Seharusnya dia belum bisa siuman! Shizuka berdiri dan melemaskan lehernya. Ia mengambil sapu tangan dari kantongnya lalu melilit tangan kanannya yang berdarah itu.
“Kenapa...kenapa...lo...”
“Kenapa? Lo pikir benturan kepala lo tadi bikin gue pingsan? Hhh...jangan bikin gue ketawa. Bagi gue, yang kayak gitu kayak digigit nyamuk aja nggak.” Shizuka telah berdiri tegak seraya melipat tangannya di depan dada. Izan masih nggak percaya. Siapa....siapa cewek ini? Gue yakin banget benturan tadi cukup bikin satu cowok kekar sekalipun pingsan.
“Kalo gitu pas gue lengah deketin lo tadi, kenapa lo nggak nyerang gue? HAH?! JAWAB!”
Shizuka tersenyum seraya berjalan hendak mendekati Izan. Tanpa disadari, Izan berjalan mundur perlahan. Tubuhnya pun reflek bergetar sekalipun dalam hatinya Izan menyuruh tubuhnya jangan bergetar.
“Gue cuman pengen tahu lo masih punya harga diri sebagai cowok atau nggak. Hhh...ternyata...” Langkah Shizuka terhenti saat ia tiba lima senti di depan Izan.
DUG! Shizuka memukul perut Izan dengan cepat sekali sampai Izan nggak sempat menghindar. Izan jatuh terduduk di depan Shizuka. Ia masih nggak percaya dirinya bisa dikalahkan dengan mudah oleh cewek. Ya. SEORANG CEWEK.
“Hei, Izan.” Shizuka menunduk menatap Izan di bawahnya. Entah kenapa, Izan mendongakkan kepalanya dan menatap Shizuka yang matanya bukan lagi terlihat seperti mata setan, tapi mata kecewa.
“Tadinya, gue bener-bener kagum dengan kegigihan lo buat ngejatuhin gue. Tapi....” Shizuka berhenti bicara. Matanya terus menatap Izan seraya berdiri dan melipat tangannya di depan dada. Kenapa...kenapa mata gue...mata gue nggak bisa berhenti natap dia?
“Izan....gue...bener-bener kecewa dengan cara lo ini. Di mata gue, lo sama sekali bukan cowok. Bahkan....bukan manusia.” Kata Shizuka tajam seraya mengibaskan rambut panjangnya dan pergi meninggalkan Izan. Baru pertama kali ini, hati Izan bergejolak. Stress, marah, sedih, kesal bercampur jadi satu di otak dan hati Izan. Kata-kata Shizuka tadi entah kenapa sangat sangat membekas di hati dan pikirannya.
“Nggak...jangan...jangan ganggu pikiran gue...JANGAAAAAAAAAANNN~!” Izan memegangi kepalanya stres saat Shizuka hendak membuka gagang pintu. Ia berhenti sesaat dan mendelik dengan pandangan tajam ke arahnya dan keluar.
           
            Shizuka menuruni tangga dan saat tiba di bawah, ia melihat semua orang-orang berbadan kekar terkapar tak sadarkan diri. Mata Shizuka berbinar-binar melihat siapa yang berdiri disana.
“RITA?!” seru Shizuka seraya berlari memeluk Rita.
“Oh, syukurlah kamu...HUWAAA~! SHIZUKA! KAMU KENAPA? Keningmu? Terus...Hyaaa~! Tanganmu berdarah begini~!” Seru Rita saat meraih tangan Shizuka yang terbelit sapu tangan yang telah penuh darah itu.
“Hei, kenapa gue nggak disapa? Gue kan juga ada.” Ujar Rido nggak terima. Shizuka melihat ke arah Rido dengan muka bingung.
“Tadi, pas aku nangis ketakutan karena bapak tadi tiba-tiba menutup pintu masuk, terus Rido muncul di depanku.” Jelas Rita seraya tersenyum.
“Iya, liat. Semua orang ini gue lho yang ngalahin. Gimana?Gimana? Gue kuat, kan?” Kata Rido antusias seraya nunjukkin otot-ototnya yang emang gede. Shizuka terdiam.
“Heh, bodoh! Lo pikir dengan lo terus ngikutin gue dan nyelamatin gue dan temen gue. Gue bakalan luluh dan masuk ke klub lo?”
“Iya. Nah, bayarannya lo harus masuk klub gue.”
“Kan gue nggak minta! Huh! Lagian, kenapa lo ngikutin gue dan malah ngehajar nih preman-preman?”
“Udah gue bilang, kan. Apapun yang terjadi kalo lo belum bilang ‘iya’ untuk masuk ke klub Karate gue, gue bakalan terus ngikutin lo sekalipun gue harus bolos sekolah.”
“Alasan bodoh.” Ujar Shizuka seraya berjalan keluar. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik. Ia hanya melihat dua orang di belakangnya.
“Rido...Rita...hmmm...kayaknya ada yang kurang...Oh! Nana mana? Nana?” Pertanyaan Shizuka membuat Rido dan Rita saling pandang.
“Tadi, dia bilang mau cari bantuan tapi daritadi dia belum datang....He..HEI! Kamu mau kemana?!” Seru Rita melihat Shizuka tiba-tiba beranjak keluar dari rumah tersebut dan menengok ke kiri dan kanan dengan tergesa-gesa. Mata Shizuka tertuju pada cewek berambut sebahu di bawahnya yang sedang berjongkok menelungkupkan wajahnya. Shizuka segera berjongkok dan memeluk Nana.
“Gue tahu lo pasti ketakutan. Kata Rita lo lari cari bantuan.”
“HUWAAAA...MAAF...MAAFIN NANA. SAKING TAKUTNYA NANA NGGAK BERANI MINTA TOLONG...MAAFIN...”Teriak Nana. Kemeja Shizuka jadi basah oleh air mata Nana.
“Oh, ya ampun ternyata daritadi kamu disini. Eh, Rido. Kenapa kamu nggak sadar ada Nana sih pas kamu datang?” Ujar Rita yang sekarang sudah mulai berani bicara dengan Rido.
“Gue emang beneran nggak nyadar. Lo nggak papa, kan? Nggak luka?” Rido ikut berjongkok dan Nana menggeleng. Tak lama kemudian, terdengar sirine dan dari jauh terlihat mobil polisi yang arahnya hendak mendatangi rumah itu.
“Itu...aku yang panggil saking takutnya.” Kata Rita. Shizuka dan Rido menganga terkejut.
“AYO LARIIII~!” Seru Shizuka seraya memapah Nana yang kakinya masih terasa lemas diikuti Rita dan Rido yang berlari menjauhi rumah tersebut. Setelah dirasa jauh dari tempat itu, mereka berhenti berlari untuk mengatur nafas mereka.
“Gila, lo Rit. Kenapa pake lapor polisi sih?” Ujar Rido seraya menepuk-nepuk dadanya.
“Lho? mereka emang orang jahat, kan. Ya, harus dilaporin polisi dong. Coba pikir deh. Mana ada coba yang minta bantuan cewek-cewek kayak kita buat ngebantuin anaknya supaya nggak jadi bunuh diri? Ini nih, si Shizu yang bikin gara-gara. Coba dia...” Rita nggak bisa melanjutkan kata-katanya melihat Shizuka menunduk.
“Hhh...Rita payah...” Gumam Rido seraya menepuk wajahnya.
“A!...aaaa...ngomong-ngomong, Shizu. Sebaiknya kamu ke rumah sakit aja, deh. Lihat tuh tanganmu masih...” Rita berhenti bicara. Aduh! Gawat! aku dijotos nih. Kena jotos nih. Aduh dasar mulutku ini banyak maunya! Huh, pulang-pulang aku pukulin deh nih mulut. Tiba-tiba, Shizuka mengangkat tangan kirinya ke atas dan mengayunkannya.
“KYAAAAAAA~! EH?”  Rita berhenti berteriak saat tangan Shizuka menyentuh pundaknya pelan.
“Maaf, ya. Lagi-lagi, gue ngebuat lo khawatir dan yang lebih parahnya lagi gue..gue udah ngelibatin  lo sampai begini. Maaf, ya.”
Rita nggak bisa berkata-kata saat Shizuka mengangkat wajahnya ternyata wajahnya sudah penuh dengan air mata. Hmm...ternyata...Shizuka emang cewek. Bisa nangis juga dia, batin Rido. Tiba-tiba, Shizuka menginjak kaki Rido yang membuat ia langsung mengangkat-angkat kakinya.
“Kenapa sih?”
“Apa-apaan lo ketawa-ketiwi sambil liat wajah orang?! Aneh, hah? Gue nangis aneh? Ha?!”
“Gue nggak ketawa-ketiwi kok. Cuma senyum-senyum aja.”
“Ya, sama aja! Huh! Padahal sih tadinya gue punya minat mau masuk ke klub lo.”
“A! Seriusan?! Ma...maaf deh. Tadi gue agak kaget aja ternyata seorang Shizuka bisa nangis juga.”
“Apa maksud kata-kata lo barusan, hah?! Gue ya...”
“Nana...lo udah nggak papa, kan.” Potong Rido. Nana mengangguk lalu melangkah mundur menjauhi Shizuka.
“Makasih, ya Shizu.” Shizuka mengangguk dengan muka polos.
“Nah, sekarang...” Rido melepaskan handuk kecil yang selama ini menggantung di lehernya dan mengikatnya di tangan Shizuka yang sudah berlumuran darah itu.
“Nah, beres. Abis ini kita ke klinik ato puskesmas yang deket ya. Biar luka lo nggak infeksi.”
Shizuka terdiam dan menatap handuk kecil yang kini membalut tangannya itu. Tiba-tiba, mata Shizuka terasa berkunang-kunang.
“Bodoh...gue...nggak..” Tiba-tiba, Shizuka sempoyongan dan hampir saja jatuh ke aspal kalo saja nggak ditahan Rido.
“Shizu!” Seru Rita dan Nana bersamaan.
“Udah gue duga.”
“Shizu kenapa, Rido?” Tanya Rita cemas diikuti anggukan Nana.
“Coba liat tangannya.” Rido mengangkat tangan Shizuka dan melihat darah masih tetap merembes menembus handuk kecilnya. Rita dan Nana menutup mulutnya terkejut.
“Yosh. Lo lo pada tau nggak klinik, puskesmas, rumah sakit ato apalah yang deket sini? Dukun juga boleh deh.” Ujar Rido seraya menggendong Shizuka.
“Iya, aku tahu. Dari sini ada rumah sakit deket kok.” Kata Nana seraya berlari di depan sebagai penunjuk jalan diikuti Rido dan Rita. Rita melirik ke arah Shizuka yang pingsan. Sabar, ya Shizu. Kamu...hebat. Bagi aku kamu sahabat yang hebat.

-BERSAMBUNG-


[1] Kau...kau tau apa yang telah kau lakukan...
[2] Mati kau! Pembohong!

Friday, January 25, 2013

Yakuza van Java ( Act 8 )



THIRD LEVEL

            Shiratori san~! Motto hayaku shite kudasai~ mou chikoku desu kara~[1]” Shizuka terus-terusan melihat jam tangannya.
            Mou shiwake arimasen. Ima juutai desu node watashi ga...[2] Shiratori nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka menarik tangan Rita dan Nana  keluar dari mobil.
Shi..Shizuka sama...”
“Daijoubu, yo. Watashitachi oaruki shimasu. Jaa na, Shiratori san.[3]” Kata Shizuka seraya menutup pintu mobil dan berlari menyusuri trotoar. Rita yang masih planga-plongo nggak ngerti apa yang dibicarakan barusan hanya diam mengikuti Shizuka. Nana hanya tersenyum geli melihat Shizuka yang berlarian menggandeng Rita dan dirinya.
“Maaf, ya.” Ujar Shizuka tiba-tiba seraya setengah menengok  ke arah Rita.
“Ng..nggak papa kok. Wajar kan mobil emang susah kalo udah kena macet.”
“Bukan itu.” Rita terdiam menunggu lanjutan kata-kata Shizuka. Apaan ya? Kayaknya dia nggak pernah deh bikin salah sama aku. Ja..jangan-jangan..! Rita membayangkan Shizuka lupa ngerjain PR Matematikanya dan akan meminta paksa sampai menjotosnya. Nggak~ aku nggak mau mati dulu~ Rita geleng-geleng kepala dengan kuat.
“Gue...ngomong bahasa Jepang lagi di depan lo. Padahal kemarin gue udah janji nggak bakalan ngomong bahasa Jepang. Shiratori saa...dia nggak bisa bahasa Indonesia.” Rita melongo melihat Shizuka terus menggandeng tangannya berlari tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
“Wah, Shizuka cewek baik, ya. Padahal cuma janji yang nggak bisa ditepati tapi minta maaf.” Kata Nana di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
“Ah, Nana. Kalo di Jepang mengingkari janji itu buruk. Jadi harus minta maaf. Hahahaha.” Kata Shizuka seraya tersenyum manis. Hah?! Itu? Itu alasannya minta maaf? Yah, itu mah aku nggak mikir sama sekali. Yah...walaupun emang sih aku jadi pusing kalo denger Shizuka ngomong begitu.”
“Hahaha....aku pikir apaan. Nyantai, Shizuka. Nggak usah dipikirin. Aku aja...” Rita nggak menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka berhenti berlari dan melepas tangan Rita dan Nana.
“Kenapa, Shizuka?”
Seorang bapak-bapak kurus dengan jalan terlunta-lunta mendatangi Shizuka. Shizuka awalnya merasa bingung kenapa tiba-tiba bapak itu mendatanginya. Rita dan Nana pun mulai ketakutan mengira bapak itu bakalan macam-macam sama Shizuka.
“Tolong...tolong anak saya...” Bapak itu menangis seraya menatap Shizuka dengan muka memelas. Eh?! Apa-apaan sih bapak ini? Kenapa datengin kita? Sana tuh ke kantor polisi. Jangan,  Shizuka! Indonesia emang banyak penipu! Jangan mau! Rita melirik ke arah Shizuka yang terdiam dengan mata seperti khawatir.
“Ma...maaf ya, Pak. Kita mau sekolah...” Nana membungkuk sedikit lalu menarik tangan Shizuka. Tapi....
“Anak bapak kenapa?” Tanya Shizuka membuat Rita dan Nana terkejut. Bodo! Kenapa malah nanya?! batin Rita gusar dan matanya melotot tajam ke arah Shizuka.
“A...anak saya mau bunuh diri. Sa...saya...saya nggak sanggup mencegahnya. Saya mohon...” Bapak tersebut bersujud di depan Shizuka sampai orang-orang di sekitarnya berbisik-bisik melihat bapak tersebut.
“Saya mohon, anak saya juga anak sekolahan. Mungkin kalo sama neng-neng ini hatinya bisa luluh.”
Rita sangat curiga dengan bapak tersebut. Bodo amat. Itu kan urusanmu. Jangan-jangan bapak ini mau niat nipu lalu duit kita diambil. Hmmm...sorry ya kita nggak bodo.
“Shizuka, ayo kita pergi. Udah terlambat, kan.” Kata Nana seraya menggandeng tangan Shizuka tapi ia tetap berdiri di tempatnya dan nggak bergerak.
“Shi...Shizuka...”
“Rita. Nana. Ayo kita tolong bapak ini.” Katanya dengan mata berbinar-binar. Telinga Rita seperti pecah mendengar pernyataan polos Shizuka. Hatinya pun semakin was-was. Wajah Nana pun terlihat sama terkejutnya dengan Rita. Dia ini bener-bener polos atau gimana sih? Bisa aja kan orang ini ngajak ke tempat macem-macem lalu kita diapa-apain. Di...diperkosa misalnya... Nana memegang kedua lengannya erat. Ia ketakutan mengingat kejadian saat ia disandera Izan kemarin. Lalu, ia juga sering lihat berita pemerkosaan di TV.
“Tunggu, Shizu. Jangan sembarangan. Ini Indonesia bukan Jepang. Nanti kalo ada apa-apa...”
“Ah, nggak mungkin. Aku baca di Internet. Katanya orang Indonesia itu ramah-ramah.”
“Shizuka. Lebih baik jangan deh. Aku mohon Shizuka.” Kata Nana seraya memegang tangan Shizuka kuat. Shizuka melihat wajah ketakutan yang teramat sangat di wajah Nana.
“Kalo terjadi apa-apa sama lo. Gue pasti bakalan tanggung jawab, deh.” Nana tersentak nggak bisa berkata-kata lagi. “Lo juga, Ta. Kalian...percaya sama gue, kan? Kita sahabat, kan? Kalian berdua orang yang gue sayang. Nggak akan gue biarin orang ngejahatin kalian. Terutama elo, Na.” Shizuka memaklumi keadaan Nana yang ketakutan karena kejadian kemarin.
“Gue janji kejadian kemarin nggak akan terulang lagi.” Kata-kata Shizuka yang serius menatap mereka membuat mereka berdua sedkit lebih tenang.
“Pak, kami akan bantu bapak. Dimana anak bapak?”
“Oh, makasih. Makasih, nak. Makasih. Ayo, ikut bapak.” Shizuka, Nana dan Rita yang saling mendekat karena ketakutan mengikuti bapak tersebut sampai ia tiba di gang kecil. Hmmm....rumahnya jauh juga. Wah, ini sih gue harus bolos sekolah. batin Shizuka. Mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah berwarna hitam yang terlihat menyeramkan dari luar. Nana dan Rita semakin bergidik ketakutan dan mempererat rangkulan mereka. Shizuka dengan santainya masuk mengikuti bapak itu dan saat Shizuka telah masuk ke dalam rumah, pintu rumah tersebut tertutup dan tiba-tiba bapak tersebut menjentikkan jarinya. Dari arah belakang, dua orang berbadan besar membawa palu hendak memukul kepala Shizuka. Tapi dengan mudahnya ia bisa menghindar. Kedua orang tersebut hanya planga-plongo bingung. Mereka berusaha memukulnya tapi selalu nggak kena. Gila nih cewek. Reflek dan intuisinya bagus banget, batin bapak itu yang ternyata Jack.
“SHIZUKA~! SHIZUKA!” Rita memukul-mukul pintu dengan berlinang air mata.
“Shizuka....” Nana pun menangis- kekhawatirannya terbukti.
“Sekarang gimana, nih.” Kata Rita yang masih menangis setelah ia lelah memukul-mukul pintu. Nana langsung beranjak pergi.
“TUNGGU~! KAMU MAU KEMANA?”
Nana berhenti melangkah sesaat. “Aku mau panggil bantuan. Tetangga kek atau apalah~!” Seru Nana seraya pergi meninggalkannya. Aduh, aku sendirian?! Tapi nggak papa. Demi Shizuka. Asal Shizuka cepat keluar dan selamat. Toh, palingan bentar lagi Nana juga balik. Aku yakin seratus persen. Bapak tadi pasti orang jahat, batin Rita seraya memandangi rumah bercat hitam pekat tersebut dengan tatapan takut. Tiba-tiba, ada seseorang berdiri di depannya. Begitu melihat siapa orang tersebut, Rita terkejut sampai nggak bisa mengeluarkan suara.

-BERSAMBUNG-


[1] Pak Shiratori! Bisa lebih cepat nggak? Udah terlambat nih
[2] Maafkan saya. Karena sedang terjebak macet saya...
[3] Nggak papa. Kita jalan aja. Sampai nanti, Pak Shiratori