THIRD LEVEL
“Shiratori
san~! Motto hayaku shite kudasai~ mou chikoku desu kara~[1]”
Shizuka terus-terusan melihat jam tangannya.
“Mou
shiwake arimasen. Ima juutai desu node watashi ga...[2]”
Shiratori nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka menarik
tangan Rita dan Nana keluar dari mobil.
“Shi..Shizuka sama...”
“Daijoubu, yo. Watashitachi
oaruki shimasu. Jaa na, Shiratori san.[3]” Kata
Shizuka seraya menutup pintu mobil dan berlari menyusuri trotoar. Rita yang
masih planga-plongo nggak ngerti apa yang dibicarakan barusan hanya diam
mengikuti Shizuka. Nana hanya tersenyum geli melihat Shizuka yang berlarian
menggandeng Rita dan dirinya.
“Maaf,
ya.” Ujar Shizuka tiba-tiba seraya setengah menengok ke arah Rita.
“Ng..nggak
papa kok. Wajar kan mobil emang susah kalo udah kena macet.”
“Bukan
itu.” Rita terdiam menunggu lanjutan kata-kata Shizuka. Apaan ya? Kayaknya dia nggak pernah deh bikin salah sama aku. Ja..jangan-jangan..!
Rita membayangkan Shizuka lupa ngerjain PR Matematikanya dan akan meminta paksa
sampai menjotosnya. Nggak~ aku nggak mau
mati dulu~ Rita geleng-geleng kepala dengan kuat.
“Gue...ngomong
bahasa Jepang lagi di depan lo. Padahal kemarin gue udah janji nggak bakalan
ngomong bahasa Jepang. Shiratori saa...dia
nggak bisa bahasa Indonesia.” Rita melongo melihat Shizuka terus menggandeng
tangannya berlari tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
“Wah,
Shizuka cewek baik, ya. Padahal cuma janji yang nggak bisa ditepati tapi minta
maaf.” Kata Nana di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
“Ah,
Nana. Kalo di Jepang mengingkari janji itu buruk. Jadi harus minta maaf.
Hahahaha.” Kata Shizuka seraya tersenyum manis. Hah?! Itu? Itu alasannya minta maaf? Yah, itu mah aku nggak mikir sama
sekali. Yah...walaupun emang sih aku jadi pusing kalo denger Shizuka ngomong
begitu.”
“Hahaha....aku
pikir apaan. Nyantai, Shizuka. Nggak usah dipikirin. Aku aja...” Rita nggak
menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka berhenti berlari dan melepas
tangan Rita dan Nana.
“Kenapa,
Shizuka?”
Seorang
bapak-bapak kurus dengan jalan terlunta-lunta mendatangi Shizuka. Shizuka
awalnya merasa bingung kenapa tiba-tiba bapak itu mendatanginya. Rita dan Nana
pun mulai ketakutan mengira bapak itu bakalan macam-macam sama Shizuka.
“Tolong...tolong
anak saya...” Bapak itu menangis seraya menatap Shizuka dengan muka memelas. Eh?! Apa-apaan sih bapak ini? Kenapa
datengin kita? Sana tuh ke kantor polisi. Jangan, Shizuka! Indonesia emang banyak penipu! Jangan
mau! Rita melirik ke arah Shizuka yang terdiam dengan mata seperti
khawatir.
“Ma...maaf
ya, Pak. Kita mau sekolah...” Nana membungkuk sedikit lalu menarik tangan
Shizuka. Tapi....
“Anak
bapak kenapa?” Tanya Shizuka membuat Rita dan Nana terkejut. Bodo! Kenapa malah nanya?! batin Rita
gusar dan matanya melotot tajam ke arah Shizuka.
“A...anak
saya mau bunuh diri. Sa...saya...saya nggak sanggup mencegahnya. Saya mohon...”
Bapak tersebut bersujud di depan Shizuka sampai orang-orang di sekitarnya
berbisik-bisik melihat bapak tersebut.
“Saya
mohon, anak saya juga anak sekolahan. Mungkin kalo sama neng-neng ini hatinya
bisa luluh.”
Rita
sangat curiga dengan bapak tersebut. Bodo
amat. Itu kan urusanmu. Jangan-jangan bapak ini mau niat nipu lalu duit kita
diambil. Hmmm...sorry ya kita nggak bodo.
“Shizuka,
ayo kita pergi. Udah terlambat, kan.” Kata Nana seraya menggandeng tangan
Shizuka tapi ia tetap berdiri di tempatnya dan nggak bergerak.
“Shi...Shizuka...”
“Rita.
Nana. Ayo kita tolong bapak ini.” Katanya dengan mata berbinar-binar. Telinga
Rita seperti pecah mendengar pernyataan polos Shizuka. Hatinya pun semakin
was-was. Wajah Nana pun terlihat sama terkejutnya dengan Rita. Dia ini bener-bener polos atau gimana sih?
Bisa aja kan orang ini ngajak ke tempat macem-macem lalu kita diapa-apain.
Di...diperkosa misalnya... Nana memegang kedua lengannya erat. Ia ketakutan
mengingat kejadian saat ia disandera Izan kemarin. Lalu, ia juga sering lihat
berita pemerkosaan di TV.
“Tunggu,
Shizu. Jangan sembarangan. Ini Indonesia bukan Jepang. Nanti kalo ada
apa-apa...”
“Ah,
nggak mungkin. Aku baca di Internet. Katanya orang Indonesia itu ramah-ramah.”
“Shizuka.
Lebih baik jangan deh. Aku mohon Shizuka.” Kata Nana seraya memegang tangan
Shizuka kuat. Shizuka melihat wajah ketakutan yang teramat sangat di wajah
Nana.
“Kalo
terjadi apa-apa sama lo. Gue pasti bakalan tanggung jawab, deh.” Nana tersentak
nggak bisa berkata-kata lagi. “Lo juga, Ta. Kalian...percaya sama gue, kan?
Kita sahabat, kan? Kalian berdua orang yang gue sayang. Nggak akan gue biarin
orang ngejahatin kalian. Terutama elo, Na.” Shizuka memaklumi keadaan Nana yang
ketakutan karena kejadian kemarin.
“Gue
janji kejadian kemarin nggak akan terulang lagi.” Kata-kata Shizuka yang serius
menatap mereka membuat mereka berdua sedkit lebih tenang.
“Pak,
kami akan bantu bapak. Dimana anak bapak?”
“Oh,
makasih. Makasih, nak. Makasih. Ayo, ikut bapak.” Shizuka, Nana dan Rita yang
saling mendekat karena ketakutan mengikuti bapak tersebut sampai ia tiba di
gang kecil. Hmmm....rumahnya jauh juga.
Wah, ini sih gue harus bolos sekolah. batin Shizuka. Mereka akhirnya tiba
di depan sebuah rumah berwarna hitam yang terlihat menyeramkan dari luar. Nana
dan Rita semakin bergidik ketakutan dan mempererat rangkulan mereka. Shizuka
dengan santainya masuk mengikuti bapak itu dan saat Shizuka telah masuk ke
dalam rumah, pintu rumah tersebut tertutup dan tiba-tiba bapak tersebut
menjentikkan jarinya. Dari arah belakang, dua orang berbadan besar membawa palu
hendak memukul kepala Shizuka. Tapi dengan mudahnya ia bisa menghindar. Kedua
orang tersebut hanya planga-plongo bingung. Mereka berusaha memukulnya tapi
selalu nggak kena. Gila nih cewek. Reflek
dan intuisinya bagus banget, batin bapak itu yang ternyata Jack.
“SHIZUKA~!
SHIZUKA!” Rita memukul-mukul pintu dengan berlinang air mata.
“Shizuka....”
Nana pun menangis- kekhawatirannya terbukti.
“Sekarang
gimana, nih.” Kata Rita yang masih menangis setelah ia lelah memukul-mukul
pintu. Nana langsung beranjak pergi.
“TUNGGU~!
KAMU MAU KEMANA?”
Nana
berhenti melangkah sesaat. “Aku mau panggil bantuan. Tetangga kek atau apalah~!”
Seru Nana seraya pergi meninggalkannya. Aduh, aku sendirian?! Tapi nggak papa. Demi Shizuka. Asal Shizuka cepat keluar dan
selamat. Toh, palingan bentar lagi Nana juga balik. Aku yakin seratus persen.
Bapak tadi pasti orang jahat, batin Rita seraya memandangi rumah bercat
hitam pekat tersebut dengan tatapan takut. Tiba-tiba, ada seseorang berdiri di
depannya. Begitu melihat siapa orang tersebut, Rita terkejut sampai nggak bisa
mengeluarkan suara.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment