Friday, January 25, 2013

Yakuza van Java ( Act 8 )



THIRD LEVEL

            Shiratori san~! Motto hayaku shite kudasai~ mou chikoku desu kara~[1]” Shizuka terus-terusan melihat jam tangannya.
            Mou shiwake arimasen. Ima juutai desu node watashi ga...[2] Shiratori nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka menarik tangan Rita dan Nana  keluar dari mobil.
Shi..Shizuka sama...”
“Daijoubu, yo. Watashitachi oaruki shimasu. Jaa na, Shiratori san.[3]” Kata Shizuka seraya menutup pintu mobil dan berlari menyusuri trotoar. Rita yang masih planga-plongo nggak ngerti apa yang dibicarakan barusan hanya diam mengikuti Shizuka. Nana hanya tersenyum geli melihat Shizuka yang berlarian menggandeng Rita dan dirinya.
“Maaf, ya.” Ujar Shizuka tiba-tiba seraya setengah menengok  ke arah Rita.
“Ng..nggak papa kok. Wajar kan mobil emang susah kalo udah kena macet.”
“Bukan itu.” Rita terdiam menunggu lanjutan kata-kata Shizuka. Apaan ya? Kayaknya dia nggak pernah deh bikin salah sama aku. Ja..jangan-jangan..! Rita membayangkan Shizuka lupa ngerjain PR Matematikanya dan akan meminta paksa sampai menjotosnya. Nggak~ aku nggak mau mati dulu~ Rita geleng-geleng kepala dengan kuat.
“Gue...ngomong bahasa Jepang lagi di depan lo. Padahal kemarin gue udah janji nggak bakalan ngomong bahasa Jepang. Shiratori saa...dia nggak bisa bahasa Indonesia.” Rita melongo melihat Shizuka terus menggandeng tangannya berlari tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
“Wah, Shizuka cewek baik, ya. Padahal cuma janji yang nggak bisa ditepati tapi minta maaf.” Kata Nana di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
“Ah, Nana. Kalo di Jepang mengingkari janji itu buruk. Jadi harus minta maaf. Hahahaha.” Kata Shizuka seraya tersenyum manis. Hah?! Itu? Itu alasannya minta maaf? Yah, itu mah aku nggak mikir sama sekali. Yah...walaupun emang sih aku jadi pusing kalo denger Shizuka ngomong begitu.”
“Hahaha....aku pikir apaan. Nyantai, Shizuka. Nggak usah dipikirin. Aku aja...” Rita nggak menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba Shizuka berhenti berlari dan melepas tangan Rita dan Nana.
“Kenapa, Shizuka?”
Seorang bapak-bapak kurus dengan jalan terlunta-lunta mendatangi Shizuka. Shizuka awalnya merasa bingung kenapa tiba-tiba bapak itu mendatanginya. Rita dan Nana pun mulai ketakutan mengira bapak itu bakalan macam-macam sama Shizuka.
“Tolong...tolong anak saya...” Bapak itu menangis seraya menatap Shizuka dengan muka memelas. Eh?! Apa-apaan sih bapak ini? Kenapa datengin kita? Sana tuh ke kantor polisi. Jangan,  Shizuka! Indonesia emang banyak penipu! Jangan mau! Rita melirik ke arah Shizuka yang terdiam dengan mata seperti khawatir.
“Ma...maaf ya, Pak. Kita mau sekolah...” Nana membungkuk sedikit lalu menarik tangan Shizuka. Tapi....
“Anak bapak kenapa?” Tanya Shizuka membuat Rita dan Nana terkejut. Bodo! Kenapa malah nanya?! batin Rita gusar dan matanya melotot tajam ke arah Shizuka.
“A...anak saya mau bunuh diri. Sa...saya...saya nggak sanggup mencegahnya. Saya mohon...” Bapak tersebut bersujud di depan Shizuka sampai orang-orang di sekitarnya berbisik-bisik melihat bapak tersebut.
“Saya mohon, anak saya juga anak sekolahan. Mungkin kalo sama neng-neng ini hatinya bisa luluh.”
Rita sangat curiga dengan bapak tersebut. Bodo amat. Itu kan urusanmu. Jangan-jangan bapak ini mau niat nipu lalu duit kita diambil. Hmmm...sorry ya kita nggak bodo.
“Shizuka, ayo kita pergi. Udah terlambat, kan.” Kata Nana seraya menggandeng tangan Shizuka tapi ia tetap berdiri di tempatnya dan nggak bergerak.
“Shi...Shizuka...”
“Rita. Nana. Ayo kita tolong bapak ini.” Katanya dengan mata berbinar-binar. Telinga Rita seperti pecah mendengar pernyataan polos Shizuka. Hatinya pun semakin was-was. Wajah Nana pun terlihat sama terkejutnya dengan Rita. Dia ini bener-bener polos atau gimana sih? Bisa aja kan orang ini ngajak ke tempat macem-macem lalu kita diapa-apain. Di...diperkosa misalnya... Nana memegang kedua lengannya erat. Ia ketakutan mengingat kejadian saat ia disandera Izan kemarin. Lalu, ia juga sering lihat berita pemerkosaan di TV.
“Tunggu, Shizu. Jangan sembarangan. Ini Indonesia bukan Jepang. Nanti kalo ada apa-apa...”
“Ah, nggak mungkin. Aku baca di Internet. Katanya orang Indonesia itu ramah-ramah.”
“Shizuka. Lebih baik jangan deh. Aku mohon Shizuka.” Kata Nana seraya memegang tangan Shizuka kuat. Shizuka melihat wajah ketakutan yang teramat sangat di wajah Nana.
“Kalo terjadi apa-apa sama lo. Gue pasti bakalan tanggung jawab, deh.” Nana tersentak nggak bisa berkata-kata lagi. “Lo juga, Ta. Kalian...percaya sama gue, kan? Kita sahabat, kan? Kalian berdua orang yang gue sayang. Nggak akan gue biarin orang ngejahatin kalian. Terutama elo, Na.” Shizuka memaklumi keadaan Nana yang ketakutan karena kejadian kemarin.
“Gue janji kejadian kemarin nggak akan terulang lagi.” Kata-kata Shizuka yang serius menatap mereka membuat mereka berdua sedkit lebih tenang.
“Pak, kami akan bantu bapak. Dimana anak bapak?”
“Oh, makasih. Makasih, nak. Makasih. Ayo, ikut bapak.” Shizuka, Nana dan Rita yang saling mendekat karena ketakutan mengikuti bapak tersebut sampai ia tiba di gang kecil. Hmmm....rumahnya jauh juga. Wah, ini sih gue harus bolos sekolah. batin Shizuka. Mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah berwarna hitam yang terlihat menyeramkan dari luar. Nana dan Rita semakin bergidik ketakutan dan mempererat rangkulan mereka. Shizuka dengan santainya masuk mengikuti bapak itu dan saat Shizuka telah masuk ke dalam rumah, pintu rumah tersebut tertutup dan tiba-tiba bapak tersebut menjentikkan jarinya. Dari arah belakang, dua orang berbadan besar membawa palu hendak memukul kepala Shizuka. Tapi dengan mudahnya ia bisa menghindar. Kedua orang tersebut hanya planga-plongo bingung. Mereka berusaha memukulnya tapi selalu nggak kena. Gila nih cewek. Reflek dan intuisinya bagus banget, batin bapak itu yang ternyata Jack.
“SHIZUKA~! SHIZUKA!” Rita memukul-mukul pintu dengan berlinang air mata.
“Shizuka....” Nana pun menangis- kekhawatirannya terbukti.
“Sekarang gimana, nih.” Kata Rita yang masih menangis setelah ia lelah memukul-mukul pintu. Nana langsung beranjak pergi.
“TUNGGU~! KAMU MAU KEMANA?”
Nana berhenti melangkah sesaat. “Aku mau panggil bantuan. Tetangga kek atau apalah~!” Seru Nana seraya pergi meninggalkannya. Aduh, aku sendirian?! Tapi nggak papa. Demi Shizuka. Asal Shizuka cepat keluar dan selamat. Toh, palingan bentar lagi Nana juga balik. Aku yakin seratus persen. Bapak tadi pasti orang jahat, batin Rita seraya memandangi rumah bercat hitam pekat tersebut dengan tatapan takut. Tiba-tiba, ada seseorang berdiri di depannya. Begitu melihat siapa orang tersebut, Rita terkejut sampai nggak bisa mengeluarkan suara.

-BERSAMBUNG-


[1] Pak Shiratori! Bisa lebih cepat nggak? Udah terlambat nih
[2] Maafkan saya. Karena sedang terjebak macet saya...
[3] Nggak papa. Kita jalan aja. Sampai nanti, Pak Shiratori

No comments:

Post a Comment