“A...ampun,
bos~ ampun~ AAAAAA~!” Salah satu preman kelas teri yang memohon tersebut
dihajar habis-habisan oleh Izan di markas mereka. Satu persatu, semua preman di
sana termasuk bos mereka yang memilih kelima belas orang tersebut tak luput
dari kemarahan Izan.
“SIAL!
KALIAN NGGAK BERGUNA~!” Seru Izan seraya menendang sebuah barel kosong sampai
jatuh. Izan duduk lemas seraya memegangi kepalanya stres.
“SIALAN!
CEWEK SIALAN! AH! GALAU GUE!” Seru Izan yang kali ini sambil mengacak-acak
rambutnya yang agak jabrik dan gondrong. Hati Izan saat ini sangat kacau balau.
Dia pikir dengan neraka level dua saja ia sudah bisa menghabisi Shizuka. Tapi
kenyataannya, malah sebaliknya. Tiba-tiba, Warso- bos geng preman kelas teri
tersebut tersadar dan merayap sekuat tenaga mendekati Izan. Ia memegangi kaki Izan
yang membuatnya terkaget-kaget.
“HEH!
GUE PIKIR LO UDAH MAMPUS! NGAPAIN LO?!”
“Tu...tunggu,
bos. Jangan tendang saya. Saya punya info gengster bagus.” Seketika itu yang
tadinya Izan ingin menenggelamkan wajah Warso dengan kakinya jadi menggeser kakinya
dan menjambak rambut Warso dan memperlihatkan wajahnya yang sudah sangat babak
belur itu.
“Cepat
bilang sebelum gue berubah pikiran.”
Warso
merogoh saku celananya dengan susah payah dan mengeluarkan secarik kertas dan
memberikannya pada Izan.
“I...ini
nomor ponsel Jack, ketua mereka. Dia bisa dibilang bukan preman tapi nyebut
diri mereka tukang pukul profesional.” Katanya dengan suara lemah menahan
sakit. Izan menerima kertas yang bertuliskan nama dan nomor ponsel.
“Emangnya
dia kuat?”
“Seratus
per...persen ku..kuat, bos...me...mereka nggak hanya ahli strategi tapi juga
bisa membunuh orang tanpa ninggalin bekas. Tapi... mereka jarang nerima anak
SMP kayak...”
DUAK!
Izan menendang wajah Warso hingga pingsan. Izan melihat kertas tersebut dengan
mata berbinar-binar.
“HA..HA...HAHAHAHAHAHAHA~!
Kali ini level lo naik jadi level tiga. Rasain~” Ujar Izan seraya berjalan
meninggalkan markas. Tiba-tiba, hp Izan berbunyi dan saat melihat siapa yang
meneleponnya ia tersenyum senang.
“Halo.
Gimana? Lo tau sesuatu tentang ‘boneka’ gue?” dan setelah itu terdengar suara
seorang cewek di seberang telepon.
“Oh,
begitu ya. Bagus. Lo emang tangan kanan gue yang nggak akan pernah ngecewain
gue.” Izan terdiam sesaat mendengar suara lawan bicaranya.
“Oh,
tenang aja. Gue bakal jawab surat cinta lo itu setelah gue bisa ngeliat boneka
gue nangis.” Kata Izan seraya mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum
penuh arti. Ia memencet nomor yang tertulis di kertas tersebut dan tak lama
kemudian terhubung.
“Halo..”
“Dimana
markas lo?”
“Siapa
lo?!” Seketika itu suara di seberang
jadi meninggi.
“Gue
mau ke tempat lo. Lo Jack, kan? Cepat bilang, dimana markas lo?”
“LO
MAU APA?! MAU NANTANGIN GUE?! HAH?!”
Tanpa
rasa takut dan sangat tenang ia tetap bicara pada Jack yang sudah habis
kesabaran.
“Gue
mau transaksi. Kalo lo mau duit gue bayar berapapun yang lo minta.” Katanya
seraya melihat langit sore berwarna oranye yang indah.
“Oh,
kenapa nggak bilang daritadi. Baik, tapi syaratnya bukan duit. Markas gue ada
di jalan mawar no 34. Rumah berwarna hitam. Nanti gue kasih tau syaratnya saat
lo datang.” Cowok bernama Jack
tersebut memutuskan sambungannya. Izan menaruh ponsel dalam saku celananya dan
berjalan pergi.
Izan telah tiba di depan rumah
berwarna hitam seperti yang dikatakan Jack yang jaraknya ternyata nggak begitu
jauh dari markas preman kelas teri tersebut. Dengan santai, ia masuk ke rumah
tersebut. Begitu ia masuk, ada sekitar dua puluh lima orang berbadan kekar dan
bertato banyak berwajah mengerikan disana yang langsung melihat Izan tajam.
Cowok separuh baya berpakaian jas rapi berjalan menghampiri Izan. Ia sangat
nggak percaya melihat yang mendatanginya hanya seorang anak kecil. Muka kedua
puluh lima orang tersebut memberi isyarat seperti ingin melumatkan Izan tapi
dengan hanya lirikan cowok berjas hitam tersebut mereka jadi menunduk. Ternyata om om berjas ini yang namanya Jack.
“Oh,
elo yang tadi nelpon gue?” Tanya Jack seraya melihat Izan dari atas ke bawah
dengan wajah mengejek.
“Kalo
emang gue kenapa? Lo nggak suka? Lo ngeremehin gue? Hhh...dasar om om payah.”
“BOCAH~”
Seru salah satu cowok kekar botak itu hendak berjalan ingin menghajar Izan tapi
Jack mengangkat tangan kanannya pertanda menyuruhnya diam.
“Hoo...lo
punya nyali juga ya datang kesini. Lo dari SMP Bakti Abdi 2 ya. Seragam lo ini
nggak asing.” Kata Jack seraya melihat kemeja putih, dasi berwarna hitam dan
celana panjang kotak-kotak senada dengan warna dasinya.
“Lo
nggak usah bahas sekolah gue. Seperti yang gue bilang tadi di telepon. Gue mau transaksi.
Gue pengen lo bantu gue ngabisin orang yang gue benci banget.”
"Oh..oh....santai.
Itu permintaan mudah sekali. Tapi...” Jack menjentikkan jarinya dan cowok
berotot besar, berkaos singlet berambut gondrong dan berwajah menyeramkan
berjalan menghampiri Jack.
“Lo
harus bisa ngalahin dia. Kalo mati gue nggak mau tanggung tapi kalo lo berhasil
gue turutin permintaan lo. Gimana?”
Izan
tersenyum seraya mengeluarkan tangannya yang sedari tadi berada di dalam
kantong celananya dan melemaskan otot-otot jarinya.
“Gue
suka cara lo. Ayo sini maju. Udah lama gue nggak berantem sama orang
profesional.” Izan tersenyum menyeringai dengan mata tajam menyeramkan. Tanpa
diperintah lagi, cowok berotot besar tersebut langsung melesat cepat seperti
binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
Pukul
setengah enam sore, Shizuka baru tiba di rumah. Begitu ia membuka gerbang ala
bangunan Jepang tersebut. Ia terkejut melihat semua bodyguard dan samurai-samurai nya kalang kabut ramai. Mereka
terlihat menelepon seraya berlarian sana sini. Ada juga yang mondar-mandir
seperti orang yang kebingungan mencari barang hilang. Suasana rumah Shizuka
sangat ramai.
“Doushitan no minna[1]?”
kata Shizuka dengan suara agak dikeraskan. Para bodyguard dan samurai yang tadi terlihat sibuk langsung menoleh ke
arah sumber suara dan kalang kabut langsung berbaris di sisi kanan kiri jalanan
memberi jalan untuk Shizuka.
“Shizuka
sama! Okaeri shimashita!” Seru cowok berpakaian
samurai yang menjadi pengurus pribadi Shizuka- Takada Shiratori. Sontak seluruh
bodyguard dan samurai-samurai lainnya
membungkuk saat Shizuka dan Takada Shiratori melewati mereka.
“Ya,
ampun Shizuka! Kenapa jam segini baru pulang!” Seorang wanita cantik nan anggun
yang daritadi telah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir langsung
memeluk Shizuka.
“Ma..maaf,
Mah. Tadi ada kegiatan klub. Ya! Ada acara klub.”
“Mama
kan udah kasih kamu hp. Padahal mama udah susah payah bujuk papamu supaya diizinin
sekolah di Indonesia. Ayo, temui papamu.”
Shizuka
menurut dan masuk ke dalam. Takada Shiratori yang tadi mengantarnya membungkuk
dalam setelah Ibu Shizuka menutup pintu. Shizuka berjalan menuju ruangan biasa
papanya yang asli orang Jepang tersebut berada. Shizuka membuka pintu geser dan
masuk ke dalam ruangan yang bergaya Jepang tersebut. Shizuka melihat Ayahnya
sedang menatap ke luar di pintu geser kaca.
“Otousama[2]...”
Shizuka duduk bersimpuh.
“Aa...mou ii zo[3].”
Potong ayahnya yang memakai baju khas Jepang tersebut tanpa berbalik melihat
Shizuka. Gawat ayah marah. Kalo udah
begini... batin Shizuka.
“Hiks...mou shiwake arimasen. Watashi wa mou sonna
koto wo shimasen[4].”
Ayahnya mendengar suara sesenggukan Shizuka dan langsung berbalik. Beliau
melihat Shizuka menundukkan kepalanya seraya duduk bersimpuh.
“I..iya..chigau...o..ore wa Shizuka no koto
shinpai dake zo. Gomen na. Gomen[5]”.
Kata Ayahnya seraya beranjak dari tempatnya dan memeluk puteri satu-satunya
itu. Yes! Padahal ini obat tetes mata. batin
Shizuka senang seraya mengantongi obat tetes mata yang tadi dengan cepat
dipakainya.
“Shizuka!
Ini sudah jam sembilan! Cepat tidur! Besok kamu masuk, kan?” Panggil Ibunya
dari luar pintu.
“Otousama, oyasumi nasai[6].”
Ucap Shizuka yang disambut dengan anggukan dan senyum Ayahnya yang wajahnya
tetap menyeramkan sekalipun tersenyum. Shizuka keluar dari ruangan tersebut
seraya menepuk dadanya. Fiuh...hampir
aja. Untung gue bawa jimat hehehehe... batin Shizuka seraya merogoh kantong
roknya.
“Shizuka!
Ya, ampun! Bajumu!” Seru Ibu Shizuka melihat kemejanya sangat kotor. Shizuka
melihat kemejanya dan ia sama terkejutnya dengan Ibunya. Oh, gawat!
“Ngngng...i...ini...”
“Shizuka...jangan
bilang kamu berantem lagi...”
“Nggak
kok Mah. Nggak! I...ini...karena ekskul yang aku ikutin.”
“Ekskul
apa sampai bikin baju kamu kotor banget gitu, hm?” Tanya Mama penuh selidik.
Matanya terus menatap seragam kotor Shizuka dengan tajam. Aduh...mama kok teliti banget sih. Dasar ibu-ibu. Padahal baru aja
sukses gue boongin Papa.
“Kenapa
diam? Ayo jawab. Kamu berantem lagi, ya?”
Shizuka
menunduk. Kali ini, ia nggak bisa menipu Mama karena buktinya udah melekat di
badannya. Ibu Shizuka hanya geleng-geleng kepala.
“Shizuka.
Kamu tau kan alasan kamu dipindah ke Indonesia. Kata Tante Haruka katanya kamu
banyak bikin masalah sampai Tante Haruka bilang ke papamu. Tadinya papamu...”
“Ya
ya ya. Kalo aku tiba di Indonesia, aku nggak bakal di sekolahin di tempat umum
dan datengin guru ke rumah aja. Gitu kan? Mah, aku masih SMP. Aku juga butuh
temen. Aku nggak mau terkunci di istana kayak gini.” Shizuka berlari
meninggalkan Ibunya. Ibu Shizuka hanya terdiam. Seandainya papamu nggak ngajarin kamu semua jenis bela diri. Kamu pasti
jadi gadis baik-baik. batinnya seraya menghela nafas.
Izan
menatap langit-langit kamarnya senang. Ia menatap tangan kanannya seraya
mengingat kejadian tadi dengan senyum puas.
“Wow!
Lo anak ajaib, ya. Bisa juga ngalahin dia.” Jack bertepuk tangan bangga.
“sekarang
tepatin janji lo.” Kata Izan seraya bernafas tersengal-sengal.
“Oh..tenang
tenang. Kamu pasti capek. Ayo duduk dulu.” Jack menepuk tangannya menyuruh anak
buahnya mengambil minuman.
“Maaf,
ya. Tapi kami Cuma punya bir hahahahaha...”
“Gue
nggak butuh. Sekarang tepatin janji lo.”
“Ya..ya...oke.
Lo anak kecil tapi hebat banget ya. Nama lo?”
“Izan.
Izantyo Fernandes.” Seketika itu Jack berhenti meminum birnya.
“Elo...orang
yang diomongin itu? Lo cowok yang dijuluki Raja Neraka, itu?”
“Yah~
gue nggak ngurus julukan itu. Udah, deh. Mau nggak mau lo harus tepatin janji
lo. Gue bisa aja bunuh kalian semua disini termasuk lo..”
“Hohoho...nyantai,
bro. Oke, Jack nggak akan mengingkari
janji apalagi untuk orang hebat kayak lo. Nah, siapa yang harus gue tebas?”
Izan
mengambil foto dari saku kemejanya yang pernah ia suruh Rizal untuk
memotretnya.
“Cewek
ini. Cewek berambut panjang ini.” Tunjuk Izan. Jack mengambil foto itu dan
memandanginya lekat-lekat lalu melirik Izan.
“Lo
nggak bercanda, kan? Lo nyuruh kita ngabisin cewek? Serius? Bukannya kalo cewek
lo sendiri juga bisa?”
Izan
tersenyum misterius. “Sayangnya dia bukan cewek biasa. Jadi kalo bisa lo jangan
remehin dia. Lo nggak perlu bunuh dia. Cukup buat dia takut aja. Karena, dia
boneka gue yang paling berharga.”
“Oh,
oke. Serahin ke gue. Kapan?”
“Besok.
Gue harap lo lo pada nggak ngecewain gue. Oh, iya. Kalo bisa lo jangan hanya
pake fisik aja tapi pake ini.” Ujar Izan seraya menunjuk-nunjuk kepalanya.
“Hahahaha...lo
pikir geng kami geng preman kacangan. Tenang aja. Gue dan bawahan gue bakal
ngelakuin sesuai keinginan lo.”
Izan senyum-senyum membayangkan ‘neraka
level tiga’ rancangannya besok. “Gue cuman pengen liat airmata lo doang, kok
Shizuka.” Gumam Izan seraya memejamkan matanya.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment