High school damn
memory
SMP Bakti Abdi 2
“Ya, anak-anak. Kelas kita
kedatangan murid baru. Nah, ayo perkenalkan diri.” Ujar Ibu Wita wali kelas 2-4.
Cewek berambut hitam panjang sedikit bergelombang bermata sipit dan berkulit
putih kekuningan itu menatap tajam ke semua murid-murid kelas 2-4 di depannya.
“Nama gue
Shizuka Poinem. Senang berkenalan dengan kalian.” Kata cewek bernama Shizuka
itu lantang tapi dengan mata yang masih tajam dan tegas.
“Eh,
namanya kayak orang Jepang, ya. Shizuka.”
“Iya,
Shizuka, tapi belakangnya Poinem lucu banget ya hahhaha...” Seketika itu, kelas
menjadi sedikit ribut dengan bisikan-bisikan usil mereka.
“Nah,
semuanya berteman baiklah dengan Shizuka, ya.” Kata Ibu Wita.
“Woy!
Poinem! Nama depan bagus-bagus amat Shizuka. Benerin dulu dong tuh nama sok
Jepang bange...” BRUAAAAAAK~! Tiba-tiba secepat kilat Shizuka menendang keras
tubuh salah satu cowok bernama Izan sampai terjungkal mengenai teman di sebelahnya.
Seketika itu, kelas 2-4 menjadi heboh begitu juga dengan Ibu Wita yang terkejut
tiba-tiba Shizuka berjalan cepat menghampiri cowok itu.
“Heh~!
Apa-apaan lo! Cewek sialan! Mau gue hajar lo!” Seru cowok itu seraya
melayangkan tinjunya. Semua anak kelas 2-4 yang tahu kebengalan Izan menutup
mata ketakutan melihat adegan tersebut. Tapi tak disangka saat mereka semua
membuka matanya perlahan, Shizuka menghindarinya dan tanpa disangka-sangka
jadilah Izan terjatuh mengenai dua cewek di belakang Shizuka.
Shizuka
membalikkan badannya, melipat tangannya dan menatap Izan dengan mata tajam mengerikan.
“Jangan
pernah sebut nama ‘Poinem’ di depan gue.” Kata Shizuka tegas.
“Brengseeeek~!”
Izan yang nggak terima bangkit dan melayangkan kepalan tangannya sekali lagi.
Tapi, Shizuka dengan mudah menahannya dengan tangan kanannya.
“AAAAAAA~!ADUH!ADUH!ADUH!
SAKIIIIIT!” Teriak Izan kesakitan karena cengkeraman kuat tangan Shizuka.
“Shizuka!
Lepaskan tanganmu dari Izan!” Seru Ibu Wita seraya menghampiri Shizuka dengan
cemas. Shizuka menurut dan melepaskan tangan Izan dengan kasar.
“Ingat,
ya. Jangan pernah cari gara-gara sama gue.” Kata Shizuka seraya mengibaskan
rambut panjangnya dan berjalan menuju kursi kosong. Sialan
tuh cewek. Akan gue inget lo, batin Izan seraya mengibas-kibaskan tangannya
yang masih sakit seraya kembali ke kursinya. Semua murid kelas 2-4 masih
melihat Shizuka dengan tatapan bingung, keren, cool dan aneh. Shizuka yang risih dengan tatapan mereka memukul
mejanya. BRAK!
“APA
LIAT-LIAT? ANEH? HAH?!” Seru Shizuka lantang. Seketika itu semua murid langsung
kembali ke tempat duduknya masing-masing.
“Shizuka!
Kamu harus lebih sopan. Pelankan suaramu. Kamu murid baru disini. Jangan
membuat teman-temanmu takut.” Kata Ibu Wita. Seketika itu, nada bicara Shizuka
berubah.
“Maafkan
saya, bu. Saya akan lebih lembut lagi.” Kata Shizuka sopan. Hah?! Itu yang ada di kepala murid-murid sekelas seraya menengok ke arah Shizuka
dengan wajah bego. Shizuka tersenyum manis sekali beda dengan aura ‘setan’ yang
tadi keluar. Semua anak cowok kelas 2-4
serasa terbang melihat senyum Shizuka kecuali Izan. Cih! Dasar muka dua dia ternyata, batin Izan seraya menengok ke
arah Shizuka. Shizuka yang menyadari Izan melihatnya, menatap tajam bak setan
ke arah Izan. Izan langsung memalingkan mukanya. Awas, lo ya. Gue bakal bales yang tadi, batin Izan.
“Nah,
sekarang buka buku geografi kalian! Rita, tolong pinjamkan buku cetak
Geografinya ke Shizuka, ya.” Kata Ibu Wita. Cewek berambut pendek dikuncir dua
itu tersentak. Dengan takut-takut ia menggeser buku cetak Geografinya. Shizuka
yang melihat teman baru di sebelahnya seperti itu tertawa kecil.
“Lo
nggak usah takut. Maaf ya udah bikin lo takut.” Kata Shizuka masih tertawa. Cewek
itu mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk ketakutan. Shizuka mengulurkan
tangannya.
“Panggil
gue Shizuka, ya. Soalnya kalo lo manggil nama belakang gue. Nanti lo seperti
cowok tadi. Maaf, ya.” Kata Shizuka ramah seraya tersenyum manis.
“Ri...Rita...se...semoga
kita bisa jadi teman, ya Shizuka.” Kata Rita takut-takut. Shizuka tersenyum
seraya mengangguk.
“Nanti
pulang sekolah, ajak gue keliling kota Bandung ini ya.” Pinta Shizuka seraya
berbisik karena takut ketahuan Ibu Wita yang sedang mengajar.
“Eh?”
“Ayolah,
nanti gue traktir es krim deh sebagai tanda pertemanan kita. Gimana? Ya? Ya? Ya?”
Pinta Shizuka seraya menempelkan kedua telapak tangannya yang mulus itu seperti
memohon. Wah, kayaknya Shizuka orang yang
baik. Walaupun agak nakutin. batin
Rita. Ia tersenyum.
“Boleh
aja. Tapi jangan lupa janji es krim nya, ya.” Canda Rita yang sekarang bisa
lebih terbiasa seraya tersenyum. Mereka berdua tertawa cekikikan.
Tak
terasa bel tanda istirahat berbunyi. Sebelum bu Mirza—guru geografi yang ramah
itu keluar dari kelas, seperti biasa beliau mewanti-wanti murid-murid.
“Jangan lupa
kerjakan PR nya ya.” Pesan Ibu Wita dan keluar dari kelas. Shizuka
terkaget-kaget mendengar kata PR itu di telinganya. Tentu saja karena ia asik
ngobrol sama Rita di sampingnya.
“Hah? PR?! Aduh!
Eh, eh. PR nya Ibu Wita tadi...” GRATAAK! Dua cewek di depan Shizuka langsung
beranjak dari kursi dan berlari menjauhi Shizuka.
“Biar aku
tanyain, Shi.” Kata Rita seraya menghampiri salah satu temannya. Shizuka duduk
seraya membuka buku Geografi.
“HEH~! URUSAN
KITA BELUM SELESAI!” Seru Izan tiba-tiba seraya mencengkeram kerah kemeja
Shizuka. Shizuka menatap Izan tajam selama beberapa saat lalu menghela nafas
panjang .
“Ternyata masih
belum jera juga ya.” Kata Shizuka tenang.
“HEH! GUE PALING
BERKUASA DI SEKOLAH INI! GUE NGGAK MUNGKIN KA...” DUAAAK~! Tendangan kaki
Shizuka membuat Izan terhempas. Rita dan yang lain terkejut melihat Shizuka
dengan gampangnya menendang abis Izan.
“Shizuka!” Seru
Rita yang melihat Shizuka berantem dengan Izan.
“ADUH! ADUH!
AMPUN, SHIZUKA! AMPUN!” Teriak Izan saat tangannya di pelintir ke belakang oleh
Shizuka dengan mudahnya.
“Hah! Katanya
paling berkuasa! Mana? Tenaga cuma segini doang! Nggak puas gue!” Seru Shizuka
seraya melepaskan Izan. Izan jatuh tersungkur memegangi perutnya.
“Shi...Shizuka....dia
ini...” Rita menghampiri Shizuka seraya berbisik.
“Iya, dia ngaku
paling berkuasa di sekolah ini. Hah! Yang kayak gini sih sekali pukul udah out.” Seru Shizuka dengan nada kesal
seraya melipat tangannya. Murid-murid kelas 2-4 yang tadi mengerubunginya jadi
menjauh—sejauh mungkin.
“A...awas lo
ya...” Kata Izan seraya berusaha bangun dan memegangi pipinya.
“APA?!HAH! MAU
LAGI?” Seru Shizuka seraya menunjukkan tangannya yang memang sedikit berotot
untuk ukuran cewek. Izan berlari ketakutan diikuti empat orang temannya.
“Shi...Shizuka...”
Panggil Rita yang otak dan hatinya mulai merasa ketakutan lagi.
“Apa?” Sahut
Shizuka dengan senyum yang sangat berbeda dari yang tadi. Rita terkejut bukan
main.
“Hmmm...anu...itu...ngngng....yuk
kita...”
“Oh, iya! Gimana
kalo lo nemenin gue liat-liat klub yang ada disini?” Potong Shizuka dengan nada
ceria.
“Boleh aja.”
Kata Rita dengan senyum yang dipaksakan karena masih takut.
“Yosh! Ayo kita
pergi~!” Seru Shizuka senang seraya menggandeng tangan Rita.
Selama
melewati lorong-lorong kelas, banyak siswa-siswi yang berbisik-bisik dan
melihat ke arah Shizuka. Rita bisa merasakannya. Tentu saja bisikan-bisikan itu
mengganggu telinga Rita yang anehnya sama sekali nggak dirasakan Shizuka.
“Eh...eh...itu
tuh orang Jepang yang nyasar ke Indonesia.” Bisik salah satu siswi.
“Denger-denger
katanya dia bisa melempar cowok dengan mudah lho.”
“Katanya yang
dihajar habis-habisan sama cewek itu preman sekolah ini, lho.”
“Eh, dia murid
baru, ya. Wah, murid baru udah berlagak.”
“Tapi, dia itu
kuat banget lho sepertinya. Kayak bukan cewek.”
Rita sebenarnya sudah risih mendengar bisikan-bisikan yang terdengar
sangat jelas di telinganya. Tapi sepetinya, Shizuka tidak mendengarnya karena
ia terlihat senyam-senyum membayangkan klub yang ingin diikutinya.
“Ngngng...Shizuka.
Ka..kamu mau masuk klub apa emangnya?” Tanya Rita
“Klub minum teh.
Hehehhe...pasti asyik tuh kayak di sekolah gue yang dulu.” Kata Shizuka riang.
“Hah? Klu...klub
mi...minum teh...” Rita terbelalak mendengar kata-kata polos bin serius
darinya. Dia ini ngigau atau apa sih.
Mana ada klub kayak gitu. Kalau mau
minum teh kan tinggal beli. Kenapa harus ada klubnya segala.”
“Ngngng....Shizuka.
Klub seperti itu nggak ada di sekolah ini.” Kata Rita seraya tersenyum.
Shizuka
menghentikan langkah riangnya. Senyumnya yang dari tadi mengembang mendadak
hilang.
“HEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!
MA...MASA SIH?! SERIUS?! DI SEMUA SEKOLAH SEHARUSNYA ADA KAN? HEI, RITA! HEI!”
Seru Shizuka seraya mengguncang-guncang tubuh Rita dengan kuat. Kepala Rita
berputar-putar.
“I...i...iyaaaa...to...tolong
ja...jangan..gu...guncang ba...badanku.....” Kata Rita terputus-putus karena
guncangan hebat tubuhnya. Shizuka berhenti mengguncang tubuh Rita dan
melepaskan tangannya.
“Memangnya kamu
sekolah dimana dulu?” Tanya Rita.
“Di Nagoya. Dari
SD sampai SMP kelas satu aku sekolah di Nagoya.” Jawab Shizuka. Na…Nagoya? Sekolah mana tuh? Kok aku nggak
pernah denger ya. Pikiran Rita semakin berputar-putar
memikirkan kata ‘nagoya’ itu.
“Na..Nagoya
itu...sekolah yang ada di daerah mana, ya?” Tanya Rita.
“Oh, Nagoya itu
nama kota. Jepang Jepang.” Kata Shizuka santai. Hah?! Je..Jepang?! Ja...jadi dia
ini seriusan dari Jepang?! Ta...tapi kenapa bahasa Indonesianya...
Shizuka
melihat mata berputar-putar kebingungan Rita. Shizuka tersenyum. “Hahahha...walau
gue tinggal di Jepang selama hampir tujuh tahun, dari kecil Ibu ngajarin gue
bahasa Indonesia sampai bahasa gaulnya. Jadi yaaah bisa lancar kayak gini.”
Kata Shizuka. Rita melihat teman di sampingnya ini dengan mata kagum.
“A! Disana ruang
klub Karate. Kayaknya cocok deh sama kamu.” Kata Rita seraya menunjuk ruang
yang berisik karena suara gedebum gedebum orang yang jatuh.
“YAK!
BERIKUTNYA!” Seru seorang cowok bersabuk hitam. Rita melihat Shizuka menghela
nafas.
“Ke...kenapa?”
“Nggak menarik.”
Kata Shizuka santai. Rita cengok melihat Shizuka. A...apa?! apa sih yang dia pikirin? Bukannya dia suka ginian?
“Ngngng....coba
aja dulu. Nggak ngecewain kok.”
“Yah, okelah
kalo Rita yang minta.” Kata Shizuka santai seraya masuk ke ruangan itu.
“Hm? Lo siapa?
Yang bukan anggota dilarang...
“Ayo adu
kekuatan.” Tantang Shizuka pada cowok tinggi besar di depannya. Semua anggota
cewek dan cowok tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi, suara bisikan-bisikan itu
terdengar di telinga Rita.
“Hahhaha....cewek
putih pucat itu mau nantangin kapten kita hahhahaha.”
“Iya, kita aja
yang kakak kelas susah ngalahin dia.”
“Udah, deh nggak
bakalan bisa.”
Rita
ketakutan dan lama-lama ia merasa khawatir juga sama teman baru yang aneh itu. Iya ya. Dia kan Rido. Cowok yang menang
kejuaraan karate sepuluh kali berturut-turut. Aduh....Shizuka bisa babak belur
nih...Apa ku cegah aja ya...batin Rita seraya menggigit jarinya.
“Hei, nak. Elo
nggak tau siapa gue, hah? Elo tuh cewek. Gue nggak bisa lawan....”
“Jangan remehin
gue hanya karena gue cewek. Kalo dicoba kita nggak bakal tahu hasilnya, kan. Atau....elo
nggak berani lawan...”
“SIALAN~! AYO
SINI!” Seru Rido. Shizuka tersenyum menang. Saat Rido maju hendak menyerang
Shizuka, tiba-tiba Shizuka mencengkeram tangan Rido dan membantingnya dengan
mudah. BRAK!
“Hhh....udah gue
duga.” Ujar Shizuka seraya menepuk-nepuk tangannya.
“HYAAAAT~!”
“Hoo...masih bisa
nyerang rupanya. Bagus. Bagus.” Kata Shizuka seraya membalikkan badannya dan
melempar Rido dengan hanya satu cengkeraman tangan kanannya. BRAK! BRUK! Rido
meringis kesakitan. Anggota-anggota klub karate yang tadi berbisik-bisik
meremehkan Shizuka melihat ke arah Shizuka dengan pandangan terkejut.
“Woy! Rita! Bener
kan dugaanku! Cetek cetek.” Seru Shizuka riang seraya berkacak pinggang dan
membentuk ‘peace’ di tangan kirinya.
Rita yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua tangannya perlahan melepaskan
tangannya. Rita sangat terkejut. Ia melihat Rido yang masih tak sadarkan diri
di pojokan ruangan. I...ini...Shizuka
yang ngelakuin? batin Rita nggak percaya. Saat itu juga terdengar tepuk
tangan dari anggota-anggota klub tersebut.
“Udah, yuk. Kita
pergi.” Ajak Shizuka seraya menggandeng tangan Rita.
“Tu..tunggu...”
Kata seorang cowok seraya menyentuh pundak Shizuka.
“KYAAAAAA~!
JANGAN SENTUH GUE~!” Shizuka melayangkan tendangannya. BRAAAAK! ZRUAK!ZRUAK!
BRUKK! Seketika itu, cowok tersebut jatuh bertubi-tubi. Semua anggota klub
Karate ketakutan dan menjauh dari Shizuka sejauh-jauhnya.
“Shizuka. Dia
kan...” Bisik Rita. Shizuka menoleh.
“HA! Maaf! Maaf!
Gue reflek! Maaf!” Seru Shizuka seraya membungkuk beberapa kali. Rita bingung
melihatnya. Ngapain dia membungkuk-bungkuk
kayak gitu? batin Rita.
“Yuk, Rita kita
pergi.” Ajak Shizuka ceria.
“WOY~! KAMU
HARUS TOLONG MEREKA DULU~! WOY! JANGAN PERGI!” Seru keenam anggota klub karate
tersebut.
“Hahahha....kayak
gitu mau bikin klub. Ah, ancur aja sekalian. Hahahha...” Ujar Shizuka senang.
“Shi...Shizuka....mereka
bukannya lemah. Kamu yang terlalu kuat. Aku...nggak abis pikir cewek kayak kamu
punya kekuatan hebat seperti ini....”Kata Rita seraya tersenyum. Shizuka
berhenti berjalan di depannya. Waduh~! Apa
aku salah ngomong, ya? Aduh! Aku bakal kena pukul nih. Jangan...jangan... batin
Rita ketakutan.
“Eh, Rita. Ini
ruang apa, ya. Hmmm....K.I.R...” Kata Shizuka polos seraya menunjuk papan nama
ruang tersebut. DOEEENG~ Itu yang ada di pikiran Rita.
“O...Ooh~
ternyata...”
“Hah? Apanya?
Kenapa?”
“Nggak. Nggak
papa hahhahahha....” Kata Rita seraya tersenyum memaksa. Fiuh! Syukurlah. Aku pikir aku bakal mati. Ternyata dia cuman bingung
liat nama ruangan, toh. Huh! Ngagetin aja.
“K.I.R itu
maksudnya apa sih?”
“Karya Ilmiah
Remaja. Klub sains gitu. Yaa...berhubungan dengan karya ilmiah lah.”
“Wah!” Seru
Shizuka senang seraya masuk ke ruangan itu.
“He...hei~ kamu
nggak boleh masuk semba...” Rita nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena
ternyata ruangan itu kosong.
“Dari dulu gue pingin
coba-coba alat-alat sains kayak gini deh. Hmmm...coba gue masukin ini...”
“Shi...Shizuka!
Jang....” DUAR~! Seketika itu botol yang dipegang Shizuka meledak.
“Shizuka! Kamu
nggak apa-apa? Kamu luka nggak?” Tanya Rita cemas diantara asap yang mengepul
di sekitar Shizuka.
“Hahahahha....menarik!
menarik!” Ujar Shizuka riang dengan muka cemongan.
Hah?! Aku yakin tadi meledak! Kenapa dia
nggak luka sama sekali? Siapa sih cewek ini sebenarnya? Rita terpaku sesaat
melihat Shizuka yang malah tertawa-tawa itu. Tak lama, Rita segera menarik tangan Shizuka untuk
keluar dari ruangan tersebut.
“Kenapa kita
keluar? Padahal kan aku mau coba-coba yang lain.”
“Ssst! Liat itu.”
Kata Rita seraya sembunyi di belakang ruang tersebut. Terlihat beberapa siswi
cewek berkacamata dan berjas lab memasuki ruangan.
“YA AMPUN!
KENAPA RUANGAN JADI BERASAP BEGINI SIH?!” Teriak salah satu siswi. Siswi yang
lain segera keluar seraya terbatuk-batuk.
Rita dan Shizuka sudah lama
berputar-putar dan mengunjungi semua klub yang ada tapi nggak ada yang cocok
dan berkenan di hati Shizuka.
“Shizuka, capek~”
“Lho? kok udah
capek? Gue masih mau keliling.”
“Sudah nggak ada
lagi klub yang harus ku tunjukkin. Gimana? Masa nggak ada yang suka?”
Shizuka terdiam
beberapa saat. “HEEEEE?! CUMA SEGINI KLUBNYA?” Seru Shizuka.
“Yah, mungkin di
sekolah Jepang sana klub nya banyak ya. Di sekolah ini cuma ada sepuluh klub
dan itu pun yang paling aktif cuma klub olahraga. Sisanya cuma karena hobi
belaka.” Jelas Rita. Rita melihat Shizuka jadi kehilangan semangat dan seperti
ada bayang-bayang tidak semangat di punggungnya. Kasian juga. Klub olahraga emang udah biasa bagi dia kali, ya.
“Hei, Rita...”
“Hm?”
“Ayo kita bikin
klub sendiri!” Seru Shizuka antusias.
“HAH?!
Shi...Shizuka...nggak sembarangan bisa...”
“Ayo, Rita! Aku
namain klub kita klub Kitty Women! Hahahahhaha...” Seru Shizuka berbinar-binar.
Ini orang udah bahasa Indonesianya agak
berantakan. Pake mau buat klub baru lagi. Nggak waras. Namanya Kitty Women lagi
apaan tuh. Huh, pasti ini hari sialku.
“Kenapa, Rita
kok diem?”
“Shizuka...bikin
klub itu syaratnya susah, lho.”
“Ah~ sesusah
apapun akan ku lakukan! Memang apa syaratnya?”
TEEEEET~! Bel
tanda masuk kelas berbunyi sebelum Rita hendak menjawab. Dalam hati, Rita
merasa tenang karena nggak perlu meladeni ide gila Shizuka buat bikin klub.
Apalgi nama klub yang aneh itu. Hiii~ udah nggak mau deh mikirin.
“Ayo, Shizuka
kita harus masuk. Pak Budi itu killer lho.”
Kata Rita panik seraya menarik tangan Shizuka.
“Killer? Hah?! Pak Budi itu mantan
pembunuh gitu maksudnya?” Seru Shizuka polos. Duh! Bego nya nanti aja deh. Aku lebih takut terlambat datang pelajaran
pak Budi daripada tinju Shizuka.
“Hoi, Rita.
Jawab dong. Apa perlu gue hajar dia?”
Rita nggak
menjawab karena yang ada di otaknya hanya nggak boleh telat.
-BERSAMBUNG-
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment