Friday, January 4, 2013

Yakuza Van Java (Act 1)




High school damn memory

           
SMP Bakti Abdi 2
           
            “Ya, anak-anak. Kelas kita kedatangan murid baru. Nah, ayo perkenalkan diri.” Ujar Ibu Wita wali kelas 2-4. Cewek berambut hitam panjang sedikit bergelombang bermata sipit dan berkulit putih kekuningan itu menatap tajam ke semua murid-murid kelas 2-4 di depannya.
“Nama gue Shizuka Poinem. Senang berkenalan dengan kalian.” Kata cewek bernama Shizuka itu lantang tapi dengan mata yang masih tajam dan tegas.
“Eh, namanya kayak orang Jepang, ya. Shizuka.”
“Iya, Shizuka, tapi belakangnya Poinem lucu banget ya hahhaha...” Seketika itu, kelas menjadi sedikit ribut dengan bisikan-bisikan usil mereka.
“Nah, semuanya berteman baiklah dengan Shizuka, ya.” Kata Ibu Wita.
“Woy! Poinem! Nama depan bagus-bagus amat Shizuka. Benerin dulu dong tuh nama sok Jepang bange...” BRUAAAAAAK~! Tiba-tiba secepat kilat Shizuka menendang keras tubuh salah satu cowok bernama Izan sampai terjungkal mengenai teman di sebelahnya. Seketika itu, kelas 2-4 menjadi heboh begitu juga dengan Ibu Wita yang terkejut tiba-tiba Shizuka berjalan cepat menghampiri cowok itu.
“Heh~! Apa-apaan lo! Cewek sialan! Mau gue hajar lo!” Seru cowok itu seraya melayangkan tinjunya. Semua anak kelas 2-4 yang tahu kebengalan Izan menutup mata ketakutan melihat adegan tersebut. Tapi tak disangka saat mereka semua membuka matanya perlahan, Shizuka menghindarinya dan tanpa disangka-sangka jadilah Izan terjatuh mengenai dua cewek di belakang Shizuka.
Shizuka membalikkan badannya, melipat tangannya dan menatap Izan dengan mata tajam mengerikan.
“Jangan pernah sebut nama ‘Poinem’ di depan gue.” Kata Shizuka tegas.
“Brengseeeek~!” Izan yang nggak terima bangkit dan melayangkan kepalan tangannya sekali lagi. Tapi, Shizuka dengan mudah menahannya dengan tangan kanannya.
“AAAAAAA~!ADUH!ADUH!ADUH! SAKIIIIIT!” Teriak Izan kesakitan karena cengkeraman kuat tangan Shizuka.
“Shizuka! Lepaskan tanganmu dari Izan!” Seru Ibu Wita seraya menghampiri Shizuka dengan cemas. Shizuka menurut dan melepaskan tangan Izan dengan kasar.
“Ingat, ya. Jangan pernah cari gara-gara sama gue.” Kata Shizuka seraya mengibaskan rambut panjangnya dan berjalan menuju kursi kosong. Sialan tuh cewek. Akan gue inget lo, batin Izan seraya mengibas-kibaskan tangannya yang masih sakit seraya kembali ke kursinya. Semua murid kelas 2-4 masih melihat Shizuka dengan tatapan bingung, keren, cool dan aneh. Shizuka yang risih dengan tatapan mereka memukul mejanya. BRAK!
“APA LIAT-LIAT? ANEH? HAH?!” Seru Shizuka lantang. Seketika itu semua murid langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing.
“Shizuka! Kamu harus lebih sopan. Pelankan suaramu. Kamu murid baru disini. Jangan membuat teman-temanmu takut.” Kata Ibu Wita. Seketika itu, nada bicara Shizuka berubah.
“Maafkan saya, bu. Saya akan lebih lembut lagi.” Kata Shizuka sopan. Hah?! Itu yang ada di kepala murid-murid sekelas seraya menengok ke arah Shizuka dengan wajah bego. Shizuka tersenyum manis sekali beda dengan aura ‘setan’ yang tadi keluar. Semua anak cowok  kelas 2-4 serasa terbang melihat senyum Shizuka kecuali Izan. Cih! Dasar muka dua dia ternyata, batin Izan seraya menengok ke arah Shizuka. Shizuka yang menyadari Izan melihatnya, menatap tajam bak setan ke arah Izan. Izan langsung memalingkan mukanya. Awas, lo ya. Gue bakal bales yang tadi, batin Izan.
“Nah, sekarang buka buku geografi kalian! Rita, tolong pinjamkan buku cetak Geografinya ke Shizuka, ya.” Kata Ibu Wita. Cewek berambut pendek dikuncir dua itu tersentak. Dengan takut-takut ia menggeser buku cetak Geografinya. Shizuka yang melihat teman baru di sebelahnya seperti itu tertawa kecil.
“Lo nggak usah takut. Maaf ya udah bikin lo takut.” Kata Shizuka masih tertawa. Cewek itu mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk ketakutan. Shizuka mengulurkan tangannya.
“Panggil gue Shizuka, ya. Soalnya kalo lo manggil nama belakang gue. Nanti lo seperti cowok tadi. Maaf, ya.” Kata Shizuka ramah seraya tersenyum manis.
“Ri...Rita...se...semoga kita bisa jadi teman, ya Shizuka.” Kata Rita takut-takut. Shizuka tersenyum seraya mengangguk.
“Nanti pulang sekolah, ajak gue keliling kota Bandung ini ya.” Pinta Shizuka seraya berbisik karena takut ketahuan Ibu Wita yang sedang mengajar.
“Eh?”
“Ayolah, nanti gue traktir es krim deh sebagai tanda pertemanan kita. Gimana? Ya? Ya? Ya?” Pinta Shizuka seraya menempelkan kedua telapak tangannya yang mulus itu seperti memohon. Wah, kayaknya Shizuka orang yang baik. Walaupun agak nakutin. batin Rita. Ia tersenyum.
“Boleh aja. Tapi jangan lupa janji es krim nya, ya.” Canda Rita yang sekarang bisa lebih terbiasa seraya tersenyum. Mereka berdua tertawa cekikikan.

Tak terasa bel tanda istirahat berbunyi. Sebelum bu Mirza—guru geografi yang ramah itu keluar dari kelas, seperti biasa beliau mewanti-wanti murid-murid.
“Jangan lupa kerjakan PR nya ya.” Pesan Ibu Wita dan keluar dari kelas. Shizuka terkaget-kaget mendengar kata PR itu di telinganya. Tentu saja karena ia asik ngobrol sama Rita di sampingnya.
“Hah? PR?! Aduh! Eh, eh. PR nya Ibu Wita tadi...” GRATAAK! Dua cewek di depan Shizuka langsung beranjak dari kursi dan berlari menjauhi Shizuka.
“Biar aku tanyain, Shi.” Kata Rita seraya menghampiri salah satu temannya. Shizuka duduk seraya membuka buku Geografi.
“HEH~! URUSAN KITA BELUM SELESAI!” Seru Izan tiba-tiba seraya mencengkeram kerah kemeja Shizuka. Shizuka menatap Izan tajam selama beberapa saat lalu menghela nafas panjang .
“Ternyata masih belum jera juga ya.” Kata Shizuka tenang.
“HEH! GUE PALING BERKUASA DI SEKOLAH INI! GUE NGGAK MUNGKIN KA...” DUAAAK~! Tendangan kaki Shizuka membuat Izan terhempas. Rita dan yang lain terkejut melihat Shizuka dengan gampangnya menendang abis Izan.
“Shizuka!” Seru Rita yang melihat Shizuka berantem dengan Izan.
“ADUH! ADUH! AMPUN, SHIZUKA! AMPUN!” Teriak Izan saat tangannya di pelintir ke belakang oleh Shizuka dengan mudahnya.
“Hah! Katanya paling berkuasa! Mana? Tenaga cuma segini doang! Nggak puas gue!” Seru Shizuka seraya melepaskan Izan. Izan jatuh tersungkur memegangi perutnya.
“Shi...Shizuka....dia ini...” Rita menghampiri Shizuka seraya berbisik.
“Iya, dia ngaku paling berkuasa di sekolah ini. Hah! Yang kayak gini sih sekali pukul udah out.” Seru Shizuka dengan nada kesal seraya melipat tangannya. Murid-murid kelas 2-4 yang tadi mengerubunginya jadi menjauh—sejauh mungkin.
“A...awas lo ya...” Kata Izan seraya berusaha bangun dan memegangi pipinya.
“APA?!HAH! MAU LAGI?” Seru Shizuka seraya menunjukkan tangannya yang memang sedikit berotot untuk ukuran cewek. Izan berlari ketakutan diikuti empat orang temannya.
“Shi...Shizuka...” Panggil Rita yang otak dan hatinya mulai merasa ketakutan lagi.
“Apa?” Sahut Shizuka dengan senyum yang sangat berbeda dari yang tadi. Rita terkejut bukan main.
“Hmmm...anu...itu...ngngng....yuk kita...”
“Oh, iya! Gimana kalo lo nemenin gue liat-liat klub yang ada disini?” Potong Shizuka dengan nada ceria.
“Boleh aja.” Kata Rita dengan senyum yang dipaksakan karena masih takut.
“Yosh! Ayo kita pergi~!” Seru Shizuka senang seraya menggandeng tangan Rita.

Selama melewati lorong-lorong kelas, banyak siswa-siswi yang berbisik-bisik dan melihat ke arah Shizuka. Rita bisa merasakannya. Tentu saja bisikan-bisikan itu mengganggu telinga Rita yang anehnya sama sekali nggak dirasakan Shizuka.
“Eh...eh...itu tuh orang Jepang yang nyasar ke Indonesia.” Bisik salah satu siswi.
“Denger-denger katanya dia bisa melempar cowok dengan mudah lho.”
“Katanya yang dihajar habis-habisan sama cewek itu preman sekolah ini, lho.”
“Eh, dia murid baru, ya. Wah, murid baru udah berlagak.”
“Tapi, dia itu kuat banget lho sepertinya. Kayak bukan cewek.”  Rita sebenarnya sudah risih mendengar bisikan-bisikan yang terdengar sangat jelas di telinganya. Tapi sepetinya, Shizuka tidak mendengarnya karena ia terlihat senyam-senyum membayangkan klub yang ingin diikutinya.
“Ngngng...Shizuka. Ka..kamu mau masuk klub apa emangnya?” Tanya Rita
“Klub minum teh. Hehehhe...pasti asyik tuh kayak di sekolah gue yang dulu.” Kata Shizuka riang.
“Hah? Klu...klub mi...minum teh...” Rita terbelalak mendengar kata-kata polos bin serius darinya. Dia ini ngigau atau apa sih. Mana ada klub kayak  gitu. Kalau mau minum teh kan tinggal beli. Kenapa harus ada klubnya segala.”
“Ngngng....Shizuka. Klub seperti itu nggak ada di sekolah ini.” Kata Rita seraya tersenyum.
Shizuka menghentikan langkah riangnya. Senyumnya yang dari tadi mengembang mendadak hilang.
“HEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?! MA...MASA SIH?! SERIUS?! DI SEMUA SEKOLAH SEHARUSNYA ADA KAN? HEI, RITA! HEI!” Seru Shizuka seraya mengguncang-guncang tubuh Rita dengan kuat. Kepala Rita berputar-putar.
“I...i...iyaaaa...to...tolong ja...jangan..gu...guncang ba...badanku.....” Kata Rita terputus-putus karena guncangan hebat tubuhnya. Shizuka berhenti mengguncang tubuh Rita dan melepaskan tangannya.
“Memangnya kamu sekolah dimana dulu?” Tanya Rita.
“Di Nagoya. Dari SD sampai SMP kelas satu aku sekolah di Nagoya.” Jawab Shizuka. Na…Nagoya? Sekolah mana tuh? Kok aku nggak pernah denger ya. Pikiran Rita semakin berputar-putar memikirkan kata ‘nagoya’ itu.
“Na..Nagoya itu...sekolah yang ada di daerah mana, ya?” Tanya Rita.
“Oh, Nagoya itu nama kota. Jepang Jepang.” Kata Shizuka santai. Hah?!  Je..Jepang?! Ja...jadi dia ini seriusan dari Jepang?! Ta...tapi kenapa bahasa Indonesianya...
Shizuka melihat mata berputar-putar kebingungan Rita. Shizuka tersenyum. “Hahahha...walau gue tinggal di Jepang selama hampir tujuh tahun, dari kecil Ibu ngajarin gue bahasa Indonesia sampai bahasa gaulnya. Jadi yaaah bisa lancar kayak gini.” Kata Shizuka. Rita melihat teman di sampingnya ini dengan mata kagum.
“A! Disana ruang klub Karate. Kayaknya cocok deh sama kamu.” Kata Rita seraya menunjuk ruang yang berisik karena suara gedebum gedebum orang yang jatuh.
“YAK! BERIKUTNYA!” Seru seorang cowok bersabuk hitam. Rita melihat Shizuka menghela nafas.
“Ke...kenapa?”
“Nggak menarik.” Kata Shizuka santai. Rita cengok melihat Shizuka. A...apa?! apa sih yang dia pikirin? Bukannya dia suka ginian?
“Ngngng....coba aja dulu. Nggak ngecewain kok.”
“Yah, okelah kalo Rita yang minta.” Kata Shizuka santai seraya masuk ke ruangan itu.
“Hm? Lo siapa? Yang bukan anggota dilarang...
“Ayo adu kekuatan.” Tantang Shizuka pada cowok tinggi besar di depannya. Semua anggota cewek dan cowok tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi, suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Rita.
“Hahhaha....cewek putih pucat itu mau nantangin kapten kita hahhahaha.”
“Iya, kita aja yang kakak kelas susah ngalahin dia.”
“Udah, deh nggak bakalan bisa.”
Rita ketakutan dan lama-lama ia merasa khawatir juga sama teman baru yang aneh itu. Iya ya. Dia kan Rido. Cowok yang menang kejuaraan karate sepuluh kali berturut-turut. Aduh....Shizuka bisa babak belur nih...Apa ku cegah aja ya...batin Rita seraya menggigit jarinya.
“Hei, nak. Elo nggak tau siapa gue, hah? Elo tuh cewek. Gue nggak bisa lawan....”
“Jangan remehin gue hanya karena gue cewek. Kalo dicoba kita nggak bakal tahu hasilnya, kan. Atau....elo nggak berani lawan...”
“SIALAN~! AYO SINI!” Seru Rido. Shizuka tersenyum menang. Saat Rido maju hendak menyerang Shizuka, tiba-tiba Shizuka mencengkeram tangan Rido dan membantingnya dengan mudah. BRAK!
“Hhh....udah gue duga.” Ujar Shizuka seraya menepuk-nepuk tangannya.
“HYAAAAT~!”
“Hoo...masih bisa nyerang rupanya. Bagus. Bagus.” Kata Shizuka seraya membalikkan badannya dan melempar Rido dengan hanya satu cengkeraman tangan kanannya. BRAK! BRUK! Rido meringis kesakitan. Anggota-anggota klub karate yang tadi berbisik-bisik meremehkan Shizuka melihat ke arah Shizuka dengan pandangan terkejut.
“Woy! Rita! Bener kan dugaanku! Cetek cetek.” Seru Shizuka riang seraya berkacak pinggang dan membentuk ‘peace’ di tangan kirinya. Rita yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua tangannya perlahan melepaskan tangannya. Rita sangat terkejut. Ia melihat Rido yang masih tak sadarkan diri di pojokan ruangan. I...ini...Shizuka yang ngelakuin? batin Rita nggak percaya. Saat itu juga terdengar tepuk tangan dari anggota-anggota klub tersebut.
“Udah, yuk. Kita pergi.” Ajak Shizuka seraya menggandeng tangan Rita.
“Tu..tunggu...” Kata seorang cowok seraya menyentuh pundak Shizuka.
“KYAAAAAA~! JANGAN SENTUH GUE~!” Shizuka melayangkan tendangannya. BRAAAAK! ZRUAK!ZRUAK! BRUKK! Seketika itu, cowok tersebut jatuh bertubi-tubi. Semua anggota klub Karate ketakutan dan menjauh dari Shizuka sejauh-jauhnya.
“Shizuka. Dia kan...” Bisik Rita. Shizuka menoleh.
“HA! Maaf! Maaf! Gue reflek! Maaf!” Seru Shizuka seraya membungkuk beberapa kali. Rita bingung melihatnya. Ngapain dia membungkuk-bungkuk kayak gitu? batin Rita.
“Yuk, Rita kita pergi.” Ajak Shizuka ceria.
“WOY~! KAMU HARUS TOLONG MEREKA DULU~! WOY! JANGAN PERGI!” Seru keenam anggota klub karate tersebut.
“Hahahha....kayak gitu mau bikin klub. Ah, ancur aja sekalian. Hahahha...” Ujar Shizuka senang.
“Shi...Shizuka....mereka bukannya lemah. Kamu yang terlalu kuat. Aku...nggak abis pikir cewek kayak kamu punya kekuatan hebat seperti ini....”Kata Rita seraya tersenyum. Shizuka berhenti berjalan di depannya. Waduh~! Apa aku salah ngomong, ya? Aduh! Aku bakal kena pukul nih. Jangan...jangan... batin Rita ketakutan.
“Eh, Rita. Ini ruang apa, ya. Hmmm....K.I.R...” Kata Shizuka polos seraya menunjuk papan nama ruang tersebut. DOEEENG~ Itu yang ada di pikiran Rita.
“O...Ooh~ ternyata...”
“Hah? Apanya? Kenapa?”
“Nggak. Nggak papa hahhahahha....” Kata Rita seraya tersenyum memaksa. Fiuh! Syukurlah. Aku pikir aku bakal mati. Ternyata dia cuman bingung liat nama ruangan, toh. Huh! Ngagetin aja.
“K.I.R itu maksudnya apa sih?”
“Karya Ilmiah Remaja. Klub sains gitu. Yaa...berhubungan dengan karya ilmiah lah.”
“Wah!” Seru Shizuka senang seraya masuk ke ruangan itu.
“He...hei~ kamu nggak boleh masuk semba...” Rita nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena ternyata ruangan itu kosong.
“Dari dulu gue pingin coba-coba alat-alat sains kayak gini deh. Hmmm...coba gue masukin ini...”
“Shi...Shizuka! Jang....” DUAR~! Seketika itu botol yang dipegang Shizuka meledak.
“Shizuka! Kamu nggak apa-apa? Kamu luka nggak?” Tanya Rita cemas diantara asap yang mengepul di sekitar Shizuka.
“Hahahahha....menarik! menarik!” Ujar Shizuka riang dengan muka cemongan. Hah?! Aku yakin tadi meledak! Kenapa dia nggak luka sama sekali? Siapa sih cewek ini sebenarnya? Rita terpaku sesaat melihat Shizuka yang malah tertawa-tawa itu. Tak lama,  Rita segera menarik tangan Shizuka untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Kenapa kita keluar? Padahal kan aku mau coba-coba yang lain.”
“Ssst! Liat itu.” Kata Rita seraya sembunyi di belakang ruang tersebut. Terlihat beberapa siswi cewek berkacamata dan berjas lab memasuki ruangan.
“YA AMPUN! KENAPA RUANGAN JADI BERASAP BEGINI SIH?!” Teriak salah satu siswi. Siswi yang lain segera keluar seraya terbatuk-batuk.

            Rita dan Shizuka sudah lama berputar-putar dan mengunjungi semua klub yang ada tapi nggak ada yang cocok dan berkenan di hati Shizuka.
“Shizuka, capek~”
“Lho? kok udah capek? Gue masih mau keliling.”
“Sudah nggak ada lagi klub yang harus ku tunjukkin. Gimana? Masa nggak ada yang suka?”
Shizuka terdiam beberapa saat. “HEEEEE?! CUMA SEGINI KLUBNYA?” Seru Shizuka.
“Yah, mungkin di sekolah Jepang sana klub nya banyak ya. Di sekolah ini cuma ada sepuluh klub dan itu pun yang paling aktif cuma klub olahraga. Sisanya cuma karena hobi belaka.” Jelas Rita. Rita melihat Shizuka jadi kehilangan semangat dan seperti ada bayang-bayang tidak semangat di punggungnya. Kasian juga. Klub olahraga emang udah biasa bagi dia kali, ya.
“Hei, Rita...”
“Hm?”
“Ayo kita bikin klub sendiri!” Seru Shizuka antusias.
“HAH?! Shi...Shizuka...nggak sembarangan bisa...”
“Ayo, Rita! Aku namain klub kita klub Kitty Women! Hahahahhaha...” Seru Shizuka berbinar-binar. Ini orang udah bahasa Indonesianya agak berantakan. Pake mau buat klub baru lagi. Nggak waras. Namanya Kitty Women lagi apaan tuh. Huh, pasti ini hari sialku.
“Kenapa, Rita kok diem?”
“Shizuka...bikin klub itu syaratnya susah, lho.”
“Ah~ sesusah apapun akan ku lakukan! Memang apa syaratnya?”
TEEEEET~! Bel tanda masuk kelas berbunyi sebelum Rita hendak menjawab. Dalam hati, Rita merasa tenang karena nggak perlu meladeni ide gila Shizuka buat bikin klub. Apalgi nama klub yang aneh itu. Hiii~ udah nggak mau deh mikirin.
“Ayo, Shizuka kita harus masuk. Pak Budi itu killer lho.” Kata Rita panik seraya menarik tangan Shizuka.
Killer? Hah?! Pak Budi itu mantan pembunuh gitu maksudnya?” Seru Shizuka polos. Duh! Bego nya nanti aja deh. Aku lebih takut terlambat datang pelajaran pak Budi daripada tinju Shizuka.
“Hoi, Rita. Jawab dong. Apa perlu gue hajar dia?”
Rita nggak menjawab karena yang ada di otaknya hanya nggak boleh telat.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment