Pulang
sekolah....
Rita berjalan gontai. Tadi ia dan
Shizuka benar-benar dimarahi oleh Pak Budi.
“Hoy, Rita hari
ini kita jalan-jalan yuk.” Ajak Shizuka riang. Rita menghentikan langkahnya. Ia
menengok ke arah Shizuka yang riang gembira berjalan di belakangnya dengan muka
sangat kusut dan lemes.
“Kamu ini nggak
kesel sama sekali, ya?”
“Nggak.
Hahhahahha...gue nggak gitu ngerti sih. Hahahahhha...gue pikir pas lo bilang killer dia mau bunuh kita karena telat
ternyata nggak, kan. Berarti dia kan bukan mantan pembunuh, Rita.” Kata Shizuka
santai seraya berjalan mendahului Rita yang masih terbengong-bengong dengan
jawaban Shizuka yang sangat polos itu. Ya,
Tuhan. Aku bener-bener ketemu orang bego kayak dia. Dia pikir killer itu dari
bahasa inggris yang artinya pembunuh? Ya, ampun....dasar orang asing. batin
Rita seraya menghela nafas dan berlari menyusul Shizuka yang sudah jalan jauh
di depannya.
“Aa~ Shizu~
tung..” Bruk!
“A! Maaf.” Kata
Rita saat badannya menabrak seseorang. Namun, ternyata orang tersebut menggaet
tangan Rita.
“Halo, nona
manis~ Wah, kayaknya orang kaya, nih. Bagi duit dong.” Kata seorang cowok
berbadan cukup besar. Rita sangat ketakutan.
“A...aku...le...lepas...”
“Hah? Apa? Suaranya
kecil amat. Nggak usah takut sama kita, dek. Yuk main sama kita.” Kata salah
satu cowok berambut gondrong dan bertato banyak. Gawat!
“LEPASIN! TOLONG~!”
Teriak Rita tiba-tiba seraya berusaha melepaskan tangannya dari cowok berbadan
besar tersebut.
“HAHAHAHA....’tolong’
katanya? Hahahahhaha....” Tawa orang yang memegang tangan Rita diikuti tawa
ketiga temennya.
“Dek...percuma
minta tolong. Orang-orang takut sama gue dan nggak bakalan....”
DUAK! Tiba-tiba
dari arah belakang ada yang memukul jatuh cowok besar yang memegang tangan
Rita. Seketika itu cowok besar tersebut jatuh bertubi-tubi dan tersungkur
mencium aspal dan mendarat di tumpukan tong sampah.
“Shizuka~!” Seru
Rita senang seraya menghampirinya.
“Hei, cewek.
Jangan main-main, ya sama kami. Gue nggak bakalan...” DUAK! DHUG!
PLAK!PLAK!PLAK! BUAK! Dengan lincah dan gesit, Shizuka ‘membereskan’
preman-preman yang tersisa disana. Rita melihat pemandangan itu dengan tatapan
kagum. Padahal seharusnya dia nggak
denger teriakanku tadi tapi...
“Lo nggak papa?”
Tanya Shizuka setelah mengalahkan keempat preman yang menjahati Rita tadi. Rita
menggeleng.
“Nggak papa,
kok. Shizu. Makasih, ya.” Kata Rita seraya tersenyum.
“Ayo.” Ajak
Shizuka.
“GUE BUNUH LOOOO~!”
Seru salah seorang preman yang telah sadar seraya melesat ke arah Shizuka
dengan menghunuskan pisau. Tapi dengan mudah ia menendang tangan si preman yang memegang pisau.
“HUH! MASIH BELUM
JERA JUGA YA?! RASAKAN INI~!” Seru Shizuka seraya menendang muka preman
tersebut bertubi-tubi. Muka preman tersebut sampai seperti nggak berbentuk
begitu tersungkur pingsan di jalan.
Shizuka berjalan dengan baju seragam yang udah berantakan. Wajah
mulusnya bersimbah keringat. Ia mengambil sapu tangan dari tas nya dan mengelap
keringat yang membasahi wajahnya. Rita melihat adegan itu dengan tatapan yang
lagi-lagi kagum. Cantiknya...begini ya
muka orang Jepang. batin Rita.
“Eh, Rita.
Indonesia sepanas ini, ya? Panas amat~” Celetuk Shizuka seraya menghalangi
wajah dengan tangan kanannya. Rita langsung tersadar dari dunianya.
“A! Aaa...i..iya~
iya.”
“Lo kenapa? Ada
yang luka, ya?” Kata Shizuka seraya mendekati Rita dan berjongkok melihat kaki
Rita.
“HYAAA~!
MA...MAU APA...”
“Hahahhaha....Rita...nggak
usah teriak gitu dong. Tuh, lutut lo berdarah. Dikit doang sih. Bentar.” Kata
Shizuka seraya mengambil perekat luka dari tas nya dan menempelkannya ke
lutut Rita.
“Nah, udah
beres.” Kata Shizuka senang.
“Ma...makasih,
ya.” Kata Rita. Shizuka tersenyum.
“Wah!” Tiba-tiba
Shizuka berseru senang melihat di depannya ada toko es krim.
“Rita, lihat! Ada
toko es krim! Gue paling suka es krim! Yuk, kita kesana!” Ajak Shizuka seraya
menggandeng tangan Rita dan berlari. Setelah menyebrang, mereka tiba di sebuah
toko es krim yang lumayan kecil untuk ukuran sebuah toko.
“Wah! Kawaii mise[1]!”
Seru Shizuka senang begitu masuk ke dalam toko dan membuat orang-orang yang
sedang makan di sana kebingungan nggak ngerti apa yang dibilang nya tadi
termasuk Rita.
“Ssstt! Shizuka!
Jangan keras-keras!” Bisik Rita seraya menarik duduk Shizuka yang masih
terbengong-bengong bego melihat toko yang memang di set ala cewek itu.
“Mau pesan apa?”
Tanya pelayan ramah seraya menyerahkan daftar menu.
“Pesan Ogura Ice Cream[2]
satu, ya.” Kata Shizuka ceria seraya tesenyum senang. Pelayan wanita itu
terlihat bingung garuk-garuk kepala.
“A! Aaa~
ahahhahaha....pesan banana split aja
dua, ya, Teh. Hahahhaha...” Kata Rita cepat nggak mau membuat pelayan itu
berpikir. Pelayan tersebut mengangguk dan pergi dengan tampang masih
kebingungan dan melihat wajah Shizuka yang senyam-senyum seperti anak kecil.
“Hore~ udah lama gue nggak makan Ogura Ice Cream.” Kata Shizuka senang. Aduh~ gimana bilangnya, ya. Aku aja nggak tahu o...o...apalah ice cream
gitu...mana ada disini? batin Rita seraya melirik takut ke arah Shizuka.
Saat pelayan tersebut datang membawa pesanannya, Shizuka hanya melongo melihat
gelas besar yang tersaji di depannya.
“A! Hei~
Pelayan~!” Panggil Shizuka yang segera direspon Rita dengan gelengan kuat dan
kibasan tangan ke arah pelayan yang hendak mendatangi mereka.
“Kenapa, Rita? Ogura Ice Cream bukan begini.”
“Iya, aku yang
pesenin itu. Sorry Shizu. Tapi,
blablabla....ice cream itu...
“Ogura.”
“Iyalah itu.
Nggak ada disini.”
Shizuka hanya
melongo. Dengan muka kecewa berat dan terlihat seperti batu, ia makan dengan
nggak semangat.
“Hmm...enak.
enak. enak.” Shizuka terus mengulang-ulang kata ‘enak’ setiap dia menyendokkan
es krim ke mulutnya dengan wajah shok. Waduh,
kayaknya Shizuka shok. Wajar sih ini pertama kalinya mungkin ya dia tinggal di
Indonesia. Jadi nggak tau apa-apa.
“Shizu kenapa
mukanya kusut gitu? Nggak suka, ya?” Tanya Rita memancing Shizuka yang memang
terlihat nggak bersemangat itu seraya memasang tampang kecewa. Berhasil! Shizuka
melihat wajah ‘kecewa’ Rita yang sangat bagus itu.
“Wah! Enak! enak
banget! Hmmm! Jadi mau lagi mau lagi!” Seru Shizuka yang nggak ingin melihat
wajah kecewa Rita seraya mengangkat gelasnya dan makan cepat-cepat sampai
habis. Rita tersenyum. Hihihi....Shizu
emang polos banget. Tiba-tiba, Rita teringat sesuatu yang ingin
dikatakannya dan menaruh sendok es krimnya seraya terdiam.
“Lo kenapa, sih?
Daritadi diem aja. Ka...kalo es krim udah abis kok. Nih liat.” Kata Shizuka
seraya menunjukkan gelasnya yang kosong. Rita melihat wajah cewek manis di
depannya dengan ragu. Cerita nggak, ya.
“Oh, kalo gitu gue pesen lagi deh.” Kata Shizuka seraya hendak memanggil pelayan tapi dicegah
oleh Rita.
“Bukan itu.”
“Terus?”
Rita terdiam
sesaat. Matanya terus memandang Shizuka yang menatapnya dengan penuh penasaran.
“Kamu...tau kan
Izan temen sekelas kita.” Kata Rita memulai pembicaraan setelah suasana hening
sesaat. Wajah Shizuka terlihat seperti berpikir keras. Rita menghela nafas.
“Itu, lho cowok
yang kamu pukul tadi pas perkenalan.” Seketika itu muka Shizuka yang tadi
serius berpikir berubah cuek.
“Oh, si cowok kurus
itu, ya.” Kata Shizuka seraya membuang muka.
“Dia nggak
lemah, Shizu. Kamu....kamu...harus hati-hati sama dia. Kalo bisa sih....jangan
cari gara-gara sama dia.” Kata Rita takut. Shizuka melongo mendengar kata-kata
Rita yang emang terlihat ketakutan itu.
“Hahahahahahhaha....”
Rita melongo melihat Shizuka yang tertawa terbahak-bahak.
“Shizuka! Aku
serius!” Seru Rita yang emang nggak suka diketawain kalo ia lagi bicara serius.
“Hahahaha...maaf...hahaha...cowok...hahha...lemah
kayak gitu...ahhahah...”
“Terserah kamu
deh percaya atau nggak. Mungkin di mata kamu dia emang lemah. Tapi....” Shizuka
berhenti tertawa ingin tahu kelanjutannya.
“Tapi...dia tipe
cowok yang nggak akan ngelepasin orang yang berani menentangnya sekalipun
lawannya cewek. Nggak ada satu pun yang berani menentangnya termasuk guru-guru.
Karena orang tuanya orang berpengaruh di sekolah kita. Dan yang ku dengar dari
gosip-gosip temen-temenku katanya di luar dia punya banyak kenalan gengster dan
preman-preman, lho.” Ujar Rita panjang lebar. Shizuka menundukkan wajahnya. Hmmm...syukurlah. Sepertinya dia ngerti. Setidaknya
aku udah nyelamatin dia. batin Rita tersenyum.
“Menarik.” Kata
Shizuka pelan dengan kepala masih menunduk. Rita berusaha nggak mempercayai pendengarannya.
“A...apa...”
“Menarik.
Ternyata si cowok kurus itu menarik juga!” Seru Shizuka senang seraya berdiri
dan menatap Rita dengan mata berbinar-binar. Pengunjung yang duduk di sebelah
mereka menengok ke arah mereka mendengar keributan Shizuka.
“Shizuka! Duduk!”
Perintah Rita seraya tersenyum ke arah seorang Ibu dan anak yang melihat mereka
dengan tampang bingung dan aneh. Shizuka menoleh ke arah Ibu dan anak tersebut
dan tersenyum manis sekali dan membuat mereka serasa terbang melayang dan ikut
senyum. Shizuka perlahan duduk kembali.
“Shizuka. Aku
nggak abis pikir sebenarnya apa yang...”
“Besok, gue mau
ketemu dia ah. Mau nantangin. Udah pasti menang gue dong ahahhahahha...”
“Shizuka...dengerin...”
“Eh, Rita. Besok
kita berangkat bareng, yuk. Nanti gue jemput kamu ya. Rumah lo di...”
BRAAAK!
Tiba-tiba Rita memukul meja. Sekarang nggak hanya Ibu dan anak itu yang memandangi
mereka berdua tapi orang-orang sekeliling mereka. Rita sadar tapi ia memilih
masa bodo.
“Ri...Rita...ke...kenapa...”
“Dengerin dong kalo
orang lagi ngomong. Nggak sopan tau!” Ujar Rita dengan nada setengah naik
seraya menundukkan kepala. Ia takut kalo-kalo Shizuka akan menghajarnya nggak
peduli seberapa banyak orang di tempat itu. Tapi, ia sudah siap fisik dan
mental. Shizuka membelai rambut Rita dan membuat Rita mendongakkan kepalanya
sedikit menatap Shizuka. Cewek di depannya itu bukannya marah atau bermuka
setan seperti yang ia lihat saat menatap Izan. Tapi malah tersenyum cerah bak
malaikat.
“Gue tahu kok. Lo
khawatir sama gue, kan?”
“Shizu! Dia itu
bengis! Dia itu nggak ada belas kasihan kalo udah benci orang! Dia itu...dia
itu...” Suara Rita tercekat nggak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata tentang
kejahatan Izan.
“Rita...lo nggak
usah khawatir. Gue bakalan baik-baik aja. Gue janji sama lo.” Kata Shizuka
serius. Rita melihat bola mata Shizuka berwarna kecoklatan indah itu seperti
tajam menusuk hatinya. Dia serius.
“Yok, kita
pulang.” Ajak Shizuka seraya tersenyum. Seketika itu, hati Rita meleleh.
Ketakutan yang tadi dirasakannya saat mengingat Izan mendadak hilang. Serasa
ada pelangi musim semi menghiasi hatinya yang tadinya di penuhi badai salju
yang dingin. Rita mengangguk mantap dan beranjak dari duduknya menuju kasir dan
keluar. Aku percaya Shizu. batin Rita
walau hatinya masih sedikit mencemaskannya.
“Izan, dari mana aja kamu? Baru
pulang jam segini.” Kata mamanya dengan nada serius seraya menutup majalah yang
tadi dibacanya saat melihat Izan yang seragamnya sudah nggak rapi itu. Izan
menengok sekilas dengan muka cuek ke arah Ibunya.
“Mau tau banget,
ya?”
“IZAN!”
“Mah! Izan bukan
anak kecil lagi, ma.”
“Lagakmu bicara
begitu! Baru kelas dua SMP aja udah belagu! Mama tanya sekali lagi....” Ibu
Izan nggak bisa melanjutkan kata-katanya saat beranjak dari sofa mewahnya dan
menghampiri Izan, ia melihat bercak-bercak merah di kemejanya. Ibu Izan menutup
mulutnya terkejut.
“Apa? Mama kaget
liat darah? Nih! Liat sampe puas!” Kata Izan seraya mendekatkan kemejanya yang
bau anyir darah plus keringat itu. Ibu Izan menjauh ngeri.
“Izan. Mama
sudah bilang berkali-kali jangan berantem lagi.” Kata Mama pelan.
“Aah~ Izan kan
cowok, Mah. Kalo nggak berantem nggak gaul.” Kata Izan sekenanya seraya hendak
pergi.
“Tunggu, Izan!
Mama belum selesai ngomong!”
“Apa lagi,
sih... Izan capek. Urus aja pekerjaan Mama dan pasien-pasien lemah dan bodoh
itu.”
“IZAN!”
“Apa? Mama mau
mukul Izan? Sok pukul. Ayo, pukul.” Tantang Izan seraya menunjukkan pipinya
yang putih itu. Mama mengendurkan kepalan tangannya. Sudah pasti, seorang Ibu
nggak mungkin memukul anaknya. Itu yang ada di pikiran Ibu Izan.
“Atau....Mama
mau Izan keluar dari sekolah yang diurus Mama itu? Hah?” Ibu Izan tersentak
mendengar perkataan buah hati satu-satunya itu.
“Jangan Izan.
Mama mohon. Jangan. Mama nggak mau liat kamu menderita pas dewasa nanti.”
“Makanya. Nggak
usah ikut campur urusan Izan. Mau Izan pulang jam satu malem kek nggak pulang
sekalian kek. Itu bukan urusan Mama.” Kata Izan seraya pergi meninggalkan
Ibunya.
Izan melempar tasnya sembarangan
begitu tiba di kamarnya dan langsung menjatuhkan badannya di ranjang. ‘jangan pernah sebut nama Poinem di depan gue.’
Kata-kata dan tatapan tajam bagai setan Shizuka masih terngiang di telinga dan
matanya. Tidak hanya itu, tendangan keras dan bogem Shizuka pun masih kerasa di
perut dan kakinya. “Sial!” Seru Izan pelan seraya meninju tembok di sampingnya.
“Sial! Sial! Sial! SIAAAAAAL! Gue? Gue cowok berkuasa di sekolah dan di luar
kalah sama cewek kasar kayak dia?! Kenapa? KENAPA!” Izan menatap langit-langit
kamarnya. Hatinya terasa kacau. Selama ini, baik di sekolah maupun di luar
sekolah nggak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya dalam hal berantem. Tapi
kini, disaksikan empat puluh tiga lebih temen-temennya di kelas ia dikalahkan
dengan mudah oleh Shizuka. Dan disaksikan oleh temen-temen sekelasnya juga ia
memohon-mohon ampun kayak orang bodoh. Izan mengacak-acak rambutnya stres.
“Shizuka
Poinem....hhh! Liat aja besok. Lo nggak akan bisa lagi menatap gue dengan
tatapan setan lo itu. Gue bikin hidup lo menderita! Lo nggak akan pernah gue
lepasin sampai gue lihat lo babak belur mohon ampun sama gue. Gue nggak akan
berbelas kasihan sekalipun lo cewek. Awas lo.” Janji Izan seraya tersenyum
jahat membayangkan rencana yang sudah terpikir di otaknya itu untuk
dilaksanakan besok di sekolah. Ia mengambil hp nya dan memencet angka-angka di
hp itu.
“Halo, Zal. Ini
gue Izan. Besok berangkat pagi, ya.” Izan terdiam sesaat mendengar suara di
seberang sana yang terdengar seperti terkejut. “Ah, bukan. Gue nggak kesurupan
setan apa-apa, kok. Gue...mau bikin perhitungan sama cewek kasar itu.” Kata
Izan seraya tersenyum penuh arti.
-BERSAMBUNG-
mantap...
ReplyDeleteterimakasih~ saya akan terus berjuang! Ganbarima~su! ^0^p
ReplyDeleteSekedar info: Yakuza van Java bakal aktif update di wattpad
ReplyDeletesilahkan kunjungi situsnya yaa : https://www.wattpad.com/myworks/124346029/write/476513303