Saturday, January 12, 2013

Yakuza van Java (Act 4)



           “Hmmm...masih jam tujuh kurang seperempat, Shi. Kamu kepagian jemputnya.” Kata Rita dengan nada bercanda. Shizuka malah tertawa.
“Hahahhahha....kalo sekolah gue dulu masuknya jam setengah sembilan lho. Makanya jam segini...huaahhhmmm...gue masih ngantuk.” Kata Shizuka seraya menguap lebar.
“Shizuka! Kamu cewek jangan nguap lebar-lebar, dong. Malu.” Kata Rita seraya menepuk pundak Shizuka. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
“OI! GUE BILANG SERAHIN DUIT LO YA SERAHIN!”
“To....tolong...”
“HAH? APA? KALO MINTA TOLONG YANG KERAS DONG SUARANYA!”
Shizuka menoleh dan terkejut melihat ada empat cowok berseragam sama dengannya sedang menindas seorang cowok. Rita pun terkejut melihatnya. Jangan, Shizuka. Jangan. batin Rita seraya menarik lengan baju Shizuka dan menatapnya. Shizuka nggak tahan melihat pemandangan itu. Ia membalikkan badannya menghadap Rita.
“Rita, lo cepat lari.” Rita terkejut.
“Ja...jangan bilang kamu....” Shizuka mengangguk seperti mengerti perkataan Rita.
“Gue udah janji, kan. Gue nggak bakal kenapa-napa. Mereka cuma anak badung aja kok. Cepat lari!” Seru Shizuka. Mau nggak mau Rita berlari meninggalkan Shizuka. Setelah memastikan Rita telah pergi dari pandangannya, ia melangkah pasti ke arah semak-semak yang nggak begitu tinggi itu.
“Berhenti!” Seru Shizuka membuat keempat cowok bertampang sangar tersebut menoleh ke arahnya.
“HAHAHHAHA....WONDER WOMEN DATANG~!”
“CEWEK BISA APA? HAH? HAHAHHA....”
DUAAAAG~! Tiba-tiba tendangan Shizuka mendarat di perut cowok yang ngomong barusan. Cowok tersebut langsung tersungkur pingsan.
“LO! CEPAT LARI!” Seru Shizuka. Cowok tersebut langsung mengambil kacamata yang terjatuh di tanah dan berlari secepat mungkin.
“BOS~! BONEKA LO UDAH DATENG~!” Seru Rizal. Shizuka terkejut. Keempat cowok tersebut tertawa-tawa menyeringai jahat. Dari arah samping, Izan muncul dan melangkah mendekati Shizuka. Dua orang cowok tersebut tiba-tiba menahan kedua tangan Shizuka. Shizuka tersenyum.
“Oh, ternyata elo....gue emang udah ada niat duel sama lo. Tapi ternyata beraninya main keroyokan. Hhh...jadi ilang selera gue...” Kata Shizuka.
“HEH! BERANINYA...” Rizal nggak jadi memukul Shizuka karena Izan memberi isyarat dengan tangannya untuk diam.
“Rizal, lo nggak gue perintahin untuk ‘nikmatin’ dia, kan. Lo tau kan dia boneka gue?”
“Ma...maafkan saya, bos.” Kata Rizal seraya mundur ke belakang memberi jalan untuk Izan.
“Lo masih inget gue ternyata.”
“Tentu. Tapi sekarang gue kecewa. Karena lo pake cara ginian. Jijik gue.”
“SIALAN! MASIH BERANI LO NGATAIN GUE? HEH! TANGAN LO TERTAHAN! LO BISA....” Izan nggak bisa melanjutkan kata-katanya melihat Shizuka melompat dengan indah dan menendang dua orang yang menahannya dengan kedua kakinya. Kedua orang tersebut langsung jatuh pingsan karena dada mereka terkena tendangan keras Shizuka. Izan melongo melihatnya lalu tersenyum.
“Hhh...neraka level satu ternyata emang nggak se level sama lo, ya.” Kata Izan santai.
“Neraka? Lo nyebut beginian neraka? Hah! Bagi gue....Ini mainan anak SD. Gue bisa beresin kalian bertiga sebelum bel masuk berbunyi.”
“BANYAK OMONG LO!” Seru cowok yang bernama Aden yang udah nggak tahan ingin menghajarnya tapi kakinya disandung oleh Izan.
“Bo...bos...”
“Udah gue bilang, kan. Dia boneka gue. Nggak boleh ada satu orang pun yang ‘mainin’ dia.”
Shizuka tersenyum menahan tawa melihat tingkah Izan. Cih, banyak gaya. Sialan ngatain gue boneka! Gue orang, bodoh. batin Shizuka.
“Kalo gitu, sesuai permintaan lo. Cuma gue yang bakal ngelawan lo.”
“Hmmm...bagus. Kalo lo menang. Gue bakal....”
“Lo bakal jadi boneka gue seumur hidup.” Potong Izan.
“A...apa?!”
“Gimana? Lo takut? Hahahha...Emang sih cewek nggak bakal menang lawan co...”
TAP! TAP! TAP!TAP!TAP! Langkah lari Shizuka yang cepat untuk mengambil ancang-ancang menendang Izan terlambat disadari Rizal yang berdiri di sebelahnya. Dan dengan pasti, tendangan kuat Shizuka mendarat di rahang Izan membuat ia jatuh terjerembab. Shizuka mendarat dengan sempurna dan bersiap memukulnya dengan jurus Karatenya. Izan tersenyum seraya susah payah berdiri.
“Wah...wah...cewek manis nggak boleh memotong pembicaraan orang kan.” Kata Izan seraya memegang pipinya yang masih nyut-nyutan.
“Bos, apa nggak lebih baik saya...”
BUGH! Tiba-tiba tangan kiri Izan menghantam cowok tersebut hingga pingsan.
“Udah gue bilang berapa kali, kan. Cewek ini boneka gue.” Kata nya dengan suara pelan.
“Ayo, kita selesaikan sebelum bel.”
“GUE NGGAK BAKAL KALAH DARI LO!” Seru Izan seraya mendatangi Shizuka dengan cepat dan kepalan tangan kanan yang siap menghantam wajah Shizuka. Shizuka hanya diam tenang dan saat Izan semakin mendekat dengan kecepatan bagai waktu, Shizuka menghindar dan membuat Izan terkejut.
“Cih! Bisanya hanya menghindar! Tunjukkin kekuatan lo! HAH?!” Tiba-tiba, Shizuka menghilang dari hadapannya dan tau-tau ia udah menendang punggung Izan sampai jatuh tengkurap. Tek...teknik apa tadi? Menghilang kayak setan. Lompat tinggi kayak burung. Sebenarnya siapa cewek ini? batin Izan seraya berusaha bangkit.
“Hoo~ elo hebat juga ya. Orang biasa terkena tendanganku tadi langsung pingsan dan patah tulang, lho.” Kata Shizuka polos seraya tepuk tangan.
“SIALAAAAAN~!” Seru Izan seraya meluncurkan bogemnya tapi lagi-lagi tanpa berkeringat, ia menahan bogem Izan.
“Cara seperti ini nggak akan bisa ngalahin gue.” Kata Shizuka seraya memelintir tangan Izan ke belakang dan menjejakkan kakinya di punggung Izan. Izan berteriak kesakitan. Kenapa? Kenapa gue nggak pernah bisa menang dari dia? batin Izan. TEEEEEEEEEEEETTTT~! Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Shizuka melepaskan Izan dan langsung jatuh tersungkur. Izan memegangi tangannya yang mulai kebiruan. Shizuka berjalan mendekatinya.
“Kenapa...lo mau...habisin gue? Habisin aja...Itu hak lo...” Ujar Izan yang udah terluka disana-sini. Shizuka membuka tas nya dan mengeluarkan semacam tepak besar. Izan yang matanya udah mulai kabur karena sakit yang teramat sangat menatap Shizuka bingung.
“E...elo ma...mau apa...” Saat Izan sudah nggak sanggup membuka mata tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang lembut dan dingin  menyentuh wajahnya lalu ada yang tertempel di wajahnya juga. Cewek itu.... batin Izan. Shizuka segera pergi setelah mengobati mereka yang terluka. Ia nggak tahu ada seorang cewek yang memperhatikan kejadian itu.
“Shizuka Poinem, ya. Anak baru kelas 2-4. Cewek sialan yang ngerebut Izan dari gue.” Ujarnya seraya beranjak dari tempatnya bersembunyi.

            Shizuka berlarian nggak tentu arah. Ia baru inget tanpa Rita ia nggak tahu dimana letak kelasnya. Hyaaa~ mayochatta!mayochatta[2]! batin Shizuka galau.
“Aduh, sekolah luas amat sih. Mana kelas gue, ya?” Gumam nya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
“Ah!” Mata Shizuka langsung berbinar-binar saat melihat seorang bapak tua sedang membersihkan pekarangan sekolah. Tanpa pikir lagi, ia menghampiri bapak itu.
“Pak, kalo kelas 2-4 dimana, ya?”
Bapak itu bukannya menjawab malah berdiri marah-marah.
“Heh! Anak jaman sekarang emang nggak sopan, ya! Bilang punten dong.”
Pu..pu...nani? nanda sore? Sore de...nandaa kono oyaji.[3]
“Pu...punten (baca: puntun), Pak...”
“Aduh, kan Bapak bilang punten...bukan puntun...”
“I...iya...punten (baca: puntun)...”
"Punten, neng geulis...punten...bukan puntun...”
Duh! !@##$$%^&**) Pusing~!!!! Shizuka buru-buru membungkuk, mengucapkan teimakasih dan berlari.
“Ah! Itu dia! Ternyata dekat dengan tempat bapak tua itu.” Gumamnya. Saat Shizuka muncul di mulut pintu, Ibu Diana guru bahasa Inggris berhenti bicara dan menoleh ke arah Shizuka diikuti hampir semua temannya tak terkecuali Rita. Ibu Diana melangkah anggun mendekati Shizuka dan mendekatinya. Guru muda tersebut melihatnya dari atas sampai bawah. Kok dia lebih cantik dari gue. batin Ibu Diana—guru baru yang masih berumur 25 tahun.
“Ma...maaf bu saya terlam...” Kata Shizuka seraya buru-buru membungkuk.
What’s your name?”
Shizuka mendongak melihat ke arah Ibu Diana.
“Iya?”
I said what’s your name?”
“Shi...Shizuka...”
Ibu Diana lantas mengambil buku absen dan mencari-cari nama Shizuka tapi ia nggak menemukannya.
Are you sure your class is in here?”
“Aduh yabai[4]! Gue nggak ngerti bahasa Inggris.” Shizuka hanya melongo diam. Anak-anak lain tertawa melihat tingkah polos Shizuka. Shizuka hanya nyengir.
“Hahahahha....sok atuh duduk.” Perintah Ibu Diana iseng dan Shizuka dengan wajah polos langsung menuju ke tempatnya.
“Shizu, kenapa baru dateng? Gimana mereka? Ya, ampun seragammu...” Bisik Rita
“Nanti pas istirahat gue ceritain deh. Panjang ceritanya.” Rita terdiam dan hanya mengangguk melihat Shizuka yang tersenyum.
Ibu Diana mengabsen murid-murid. Saat tiba nama Izan tak ada sahutan.
“Hhh...lagi-lagi anak ini nggak masuk. Oh, no~!”
Rita melihat wajah bingung dan kesal di wajah Shizuka karena ternyata ada anak yang suka bolos di kelasnya.
“Dia emang begitu, Shizu.” Bisik Rita seperti tahu apa yang dipikirkan Shizuka
“Ke...kenapa lo...” Rita tersenyum.
“Raut wajahmu tuh gampang ditebak.”
“Kenapa...”
Miss Rita Miss Shizuka. Please dont chatting in my class.” Kata Ibu Diana seraya melihat ke arah mereka. Mereka berdua terdiam lalu tertawa kecil seraya menunduk.


           


            “Bos...bos...bangun...bos...” Panggil Rizal yang telah sadar duluan seraya mengguncang pelan tubuh Izan. Mata Izan mengerjap-kerjap lalu mendadak bangkit dan menendang Rizal.
“Berisik tau.”
“Ma...maaf bos...” Katanya seraya bangkit berdiri lagi.
“Mana dia?”
“Nggak tau bos. Kayaknya udah kabur. Bos....kalah...”
“BERISIK! JANGAN BAHAS ITU!” Bogem mentah Izan pun melayang ke pelipis Rizal membuat ia jatuh tersungkur lagi.
“SIAL! YANG LAIN UDAH PADA KABUR LAGI!” Ia menendang pohon yang ada di depannya tapi ia segera mengangkat kakinya dan mengaduh kesakitan karena badannya belum sembuh benar setelah terkena pukulan sana-sini Shizuka. Hmmm....level satu belum cukup buat numbangin boneka rupanya. Hmmm...kuat juga tuh cewek. Kalo begitu naik tingkat jadi neraka level dua. Awas lo ya. Walaupun lo udah baik hati ngobatin gue dan temen-temen gue lo nggak bakal pernah bisa keluar dari neraka gue. batin Izan seraya melepas perekat luka yang tertempel di wajahnya dan membuangnya. TEEEEEEEEETTT~ TEEEEEET~!”
“Hmmm...bel istirahat, ya. Awas, lo ya.” Gumam Izan seraya hendak pergi.
“Tu...tunggu...bos...”
“Hah? Lo masih idup rupanya?”
“Tolong...beri sa...saya...kesempatan....satu...kali...lagi... Izan menghampiri Rizal dan mengangkat wajah Rizal dengan ujung sepatunya.
“Apa? Lo mau ngomong apa~ Gue....nggak butuh anak buah kayak lo. LEMAH!” Kata Izan dengan nada ditekan seraya menenggelamkan wajah Rizal ke tanah dengan kakinya dan pergi.
Tapi, dengan gigih Rizal menahan langkah Izan dengan memegang kakinya.
“Sa...saya mohon...kali ini...saya nggak akan ngecewain bos. Janji. Sumpah.” Izan mematung lalu berbalik dan mencengkeram kerah baju Rizal sampai ia berdiri dan menghempaskannya sampai membentur pohon.
“Oke. Gue kasih kesempatan. Sekarang gue mau lo panggil semua preman kelas teri aja dan suruh mereka pilih lima belas orang untuk ngehadap gue! Cepat!” Rizal langsung lari tunggang langgang keluar.
Plok! Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak nya membuat Izan sontak berbalik. Ia terkejut melihat siapa yang menepuk pundaknya.
“E...ELO?!”
“Heh! Napa lo nggak masuk pelajaran bahasa Inggris? Masih pingsan, lo?”
“Shi...Shizuka...udahlah...jangan...”
“HEH! JANGAN JADI SOK MALAIKAT DEH DISINI! BUKAN BERARTI LO UDAH NGOBATIN GUE TERUS LO BEBAS. NGGAK YA.”
Shizuka terdiam. Matanya lurus menatap tajam tapi bukan seperti setan yang terlihat di mata Izan tapi mata hangat dan bersahabat.
“Oke. Tapi gue nggak pernah bisa maafin orang yang bolos sekolah karena nggak ada alasan jelas.”
“Shi...Shizuka...hentikan...”
“OH~ BERANI LO YA NGATUR GUE.”
“Iya. Karena lo temen gue.”
“HAH? APA? HAHAHAHHAHAHAHHAHHAHAHAHHAA....” Izan tertawa lebar mendengar jawaban polos Shizuka.
“Terserah lo mau ngakak atau apalah....tapi...gue nggak biarin lo bolos sekolah lagi...”
“Hei, boneka. Asal lo tau aja ya. Disini. Di sekolah ini gue paling berkuasa. Guru, Kepala sekolah, temen-temen takut sama gue! Nggak ada yang berani ngatur gue. Termasuk lo!” Izan melirik ke arah cewek disamping Shizuka. “Oh, atau cewek ini yang ngasih tau ke elo.” Sambungnya seraya menghampirinya. Tapi, Shizuka buru-buru melindungi Rita dan memukul tangan Izan yang hendak menyentuh Rita dan siap menghajar Izan dengan jurus karatenya lagi kalo-kalo ia macem-macem.
“Oh, tenang tenang. Gue nggak akan macem-macem kok sekarang. Tapi, level lo naik. Selamat.”
TEMEE! NANI WO KOTO KA YO?! AHO KA YO TEMEE WA[5]! WOY!WOY!”
Rita hanya melihat Shizuka marah-marah pake bahasa yang sangat asing di telinganya. Izan pergi meninggalkan mereka dengan melambaikan tangannya. Shizuka mencopot sebelah sepatunya dan melemparnya tepat mengenai punggung Izan. Rita terkejut begitu juga dengan Izan. Ia berhenti melangkah. Rita melihat sangat jelas noda kotor di belakang kemeja Izan.
“Shi...Shizuka...kamu mau ngapain sih...”
“Udah diem aja. Ini urusan gue. Gue mau nyelesein masalah ini.”
“Hei, boneka.”
“NAMA GUE BUKAN BONEKA. NAMA GUE...”
“Poinem.” Potong Izan yang langsung membuat Shizuka berang dan menghampirinya tanpa bisa dicegah oleh Rita. Shizuka mengepalkan tangannya kuat dan mengangkat tangannya ke atas.
“Aa~ ternyata nama itu yang bikin lo jadi berang gini, ya. Oke, gue bakal panggil lo Poinem terus.”
TUK. Tiba-tiba, Shizuka menyentil dahi Izan.
“Hahahahhaha....lo pikir gue anak TK disentil langsung nangis? Hahahaha....” Tawa Izan mendadak melemah saat melihat darah mengalir dari dahinya. Izan terkejut bukan main begitu juga dengan Rita. Hanya dengan sentilan bisa bikin dahi gue berdarah? Siapa dia sebenarnya? Siapa? Izan masih melongo dan memegangi dahinya yang masih terus mengeluarkan darah. Shizuka merogoh kantong roknya dan mendapati satu perekat luka.
“Tolong, jangan panggil gue dengan nama itu lagi. Gue mohon.” Kata Shizuka seraya menempelkan perekat luka di dahi yang tadi disentilnya.
Kali ini Izan melihat tatapan sedih sangat sedih terpancar di wajahnya.
“Sebenernya elo ini siapa?”
“Eh?”
“Maksud gue...kenapa...nama Po...ah! bukan! Nama itu ngebikin lo jadi berang kayak tadi?” Shizuka nggak nyangka Izan menanyakan hal itu. Ia lalu tersenyum.
“Ada deh. Asal lo nggak nyebut nama Poinem itu di depan gue. Gue bakal jalanin semua siksa neraka lo itu.” Kata Shizuka santai tapi tajam seraya melihat Izan yang masih bingung nggak percaya dengan kata-kata barusan. “Mau jalanin semua siksa neraka gue? Dia GILA apa?orang paling kuat yang sanggup ngadepin gue aja cuma tahan di level tiga. Dia...emang bukan cewek sembarangan. Izan menatap tajam Shizuka.
“Oke. Gue mau liat seberapa tahan lo bisa ngadepin neraka gue. Gue kasih tau ya. Neraka gue ada tujuh level. Kalo lo berhasil, gue bakal turutin satu permintaan lo. Tapi kalo gagal.....lo dan teman lo itu bakalan..” Izan menirukan tangannya seperti mengiris leher seraya tersenyum jahat dan pergi meninggalkan mereka.
“Woy! Bentar lagi masuk! Lo harus ikut pelajaran!” Seru Shizuka yang hanya disahut oleh tangan Izan yang mengangkat ke atas yang telah pergi jauh meninggalkannya.
“Shizuka. Beneran nih...” Tanya Rita khawatir saat menghampirinya. Ia tersenyum.
“Tenang. Aku percaya dia sebenernya orang yang baik.” Kata Shizuka mantap.

-BERSAMBUNG- 


[1] Panggilan akrab untuk cewek
[2] Aku tersesat! Aku tersesat!
[3] Pu..pu..apa? apa itu? Lalu...apa-apaan sih orang tua ini...
[4] gawat
[5] ELO! APA MAKSUD LO?! LO BODOH, YA?!

No comments:

Post a Comment