“Hmmm...masih jam tujuh kurang
seperempat, Shi. Kamu kepagian jemputnya.” Kata Rita dengan nada bercanda.
Shizuka malah tertawa.
“Hahahhahha....kalo
sekolah gue dulu masuknya jam setengah sembilan lho. Makanya jam
segini...huaahhhmmm...gue masih ngantuk.” Kata Shizuka seraya menguap lebar.
“Shizuka!
Kamu cewek jangan nguap lebar-lebar, dong. Malu.” Kata Rita seraya menepuk
pundak Shizuka. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
“OI!
GUE BILANG SERAHIN DUIT LO YA SERAHIN!”
“To....tolong...”
“HAH?
APA? KALO MINTA TOLONG YANG KERAS DONG SUARANYA!”
Shizuka menoleh
dan terkejut melihat ada empat cowok berseragam sama dengannya sedang menindas
seorang cowok. Rita pun terkejut melihatnya. Jangan, Shizuka. Jangan. batin Rita seraya menarik lengan baju
Shizuka dan menatapnya. Shizuka nggak tahan melihat pemandangan itu. Ia
membalikkan badannya menghadap Rita.
“Rita, lo cepat lari.” Rita terkejut.
“Ja...jangan
bilang kamu....” Shizuka mengangguk seperti mengerti perkataan Rita.
“Gue
udah janji, kan. Gue nggak bakal kenapa-napa. Mereka cuma anak badung aja kok.
Cepat lari!” Seru Shizuka. Mau nggak mau Rita berlari meninggalkan Shizuka.
Setelah memastikan Rita telah pergi dari pandangannya, ia melangkah pasti ke
arah semak-semak yang nggak begitu tinggi itu.
“Berhenti!”
Seru Shizuka membuat keempat cowok bertampang sangar tersebut menoleh ke
arahnya.
“HAHAHHAHA....WONDER
WOMEN DATANG~!”
“CEWEK
BISA APA? HAH? HAHAHHA....”
DUAAAAG~!
Tiba-tiba tendangan Shizuka mendarat di perut cowok yang ngomong barusan. Cowok
tersebut langsung tersungkur pingsan.
“LO!
CEPAT LARI!” Seru Shizuka. Cowok tersebut langsung mengambil kacamata yang
terjatuh di tanah dan berlari secepat mungkin.
“BOS~!
BONEKA LO UDAH DATENG~!” Seru Rizal. Shizuka terkejut. Keempat cowok tersebut
tertawa-tawa menyeringai jahat. Dari arah samping, Izan muncul dan melangkah
mendekati Shizuka. Dua orang cowok tersebut tiba-tiba menahan kedua tangan
Shizuka. Shizuka tersenyum.
“Oh,
ternyata elo....gue emang udah ada niat duel sama lo. Tapi ternyata beraninya
main keroyokan. Hhh...jadi ilang selera gue...” Kata Shizuka.
“HEH!
BERANINYA...” Rizal nggak jadi memukul Shizuka karena Izan memberi isyarat
dengan tangannya untuk diam.
“Rizal,
lo nggak gue perintahin untuk ‘nikmatin’ dia, kan. Lo tau kan dia boneka gue?”
“Ma...maafkan
saya, bos.” Kata Rizal seraya mundur ke belakang memberi jalan untuk Izan.
“Lo
masih inget gue ternyata.”
“Tentu.
Tapi sekarang gue kecewa. Karena lo pake cara ginian. Jijik gue.”
“SIALAN!
MASIH BERANI LO NGATAIN GUE? HEH! TANGAN LO TERTAHAN! LO BISA....” Izan nggak
bisa melanjutkan kata-katanya melihat Shizuka melompat dengan indah dan
menendang dua orang yang menahannya dengan kedua kakinya. Kedua orang tersebut
langsung jatuh pingsan karena dada mereka terkena tendangan keras Shizuka. Izan
melongo melihatnya lalu tersenyum.
“Hhh...neraka
level satu ternyata emang nggak se level sama lo, ya.” Kata Izan santai.
“Neraka?
Lo nyebut beginian neraka? Hah! Bagi gue....Ini mainan anak SD. Gue bisa
beresin kalian bertiga sebelum bel masuk berbunyi.”
“BANYAK
OMONG LO!” Seru cowok yang bernama Aden yang udah nggak tahan ingin
menghajarnya tapi kakinya disandung oleh Izan.
“Bo...bos...”
“Udah
gue bilang, kan. Dia boneka gue. Nggak boleh ada satu orang pun yang ‘mainin’
dia.”
Shizuka
tersenyum menahan tawa melihat tingkah Izan. Cih, banyak gaya. Sialan ngatain gue boneka! Gue orang, bodoh. batin
Shizuka.
“Kalo
gitu, sesuai permintaan lo. Cuma gue yang bakal ngelawan lo.”
“Hmmm...bagus.
Kalo lo menang. Gue bakal....”
“Lo
bakal jadi boneka gue seumur hidup.” Potong Izan.
“A...apa?!”
“Gimana?
Lo takut? Hahahha...Emang sih cewek nggak bakal menang lawan co...”
TAP! TAP!
TAP!TAP!TAP! Langkah lari Shizuka yang cepat untuk mengambil ancang-ancang
menendang Izan terlambat disadari Rizal yang berdiri di sebelahnya. Dan dengan
pasti, tendangan kuat Shizuka mendarat di rahang Izan membuat ia jatuh
terjerembab. Shizuka mendarat dengan sempurna dan bersiap memukulnya dengan
jurus Karatenya. Izan tersenyum seraya susah payah berdiri.
“Wah...wah...cewek
manis nggak boleh memotong pembicaraan orang kan.” Kata Izan seraya memegang
pipinya yang masih nyut-nyutan.
“Bos,
apa nggak lebih baik saya...”
BUGH! Tiba-tiba
tangan kiri Izan menghantam cowok tersebut hingga pingsan.
“Udah
gue bilang berapa kali, kan. Cewek ini boneka gue.” Kata nya dengan suara
pelan.
“Ayo,
kita selesaikan sebelum bel.”
“GUE
NGGAK BAKAL KALAH DARI LO!” Seru Izan seraya mendatangi Shizuka dengan cepat
dan kepalan tangan kanan yang siap menghantam wajah Shizuka. Shizuka hanya diam
tenang dan saat Izan semakin mendekat dengan kecepatan bagai waktu, Shizuka
menghindar dan membuat Izan terkejut.
“Cih!
Bisanya hanya menghindar! Tunjukkin kekuatan lo! HAH?!” Tiba-tiba, Shizuka
menghilang dari hadapannya dan tau-tau ia udah menendang punggung Izan sampai
jatuh tengkurap. Tek...teknik apa tadi? Menghilang
kayak setan. Lompat tinggi kayak burung. Sebenarnya siapa cewek ini? batin
Izan seraya berusaha bangkit.
“Hoo~
elo hebat juga ya. Orang biasa terkena tendanganku tadi langsung pingsan dan
patah tulang, lho.” Kata Shizuka polos seraya tepuk tangan.
“SIALAAAAAN~!”
Seru Izan seraya meluncurkan bogemnya tapi lagi-lagi tanpa berkeringat, ia
menahan bogem Izan.
“Cara
seperti ini nggak akan bisa ngalahin gue.” Kata Shizuka seraya memelintir
tangan Izan ke belakang dan menjejakkan kakinya di punggung Izan. Izan
berteriak kesakitan. Kenapa? Kenapa gue
nggak pernah bisa menang dari dia? batin Izan. TEEEEEEEEEEEETTTT~!
Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Shizuka melepaskan Izan dan langsung jatuh
tersungkur. Izan memegangi tangannya yang mulai kebiruan. Shizuka berjalan
mendekatinya.
“Kenapa...lo
mau...habisin gue? Habisin aja...Itu hak lo...” Ujar Izan yang udah terluka
disana-sini. Shizuka membuka tas nya dan mengeluarkan semacam tepak besar. Izan
yang matanya udah mulai kabur karena sakit yang teramat sangat menatap Shizuka
bingung.
“E...elo
ma...mau apa...” Saat Izan sudah nggak sanggup membuka mata tiba-tiba ia merasa
ada sesuatu yang lembut dan dingin
menyentuh wajahnya lalu ada yang tertempel di wajahnya juga. Cewek itu.... batin Izan. Shizuka segera
pergi setelah mengobati mereka yang terluka. Ia nggak tahu ada seorang cewek
yang memperhatikan kejadian itu.
“Shizuka
Poinem, ya. Anak baru kelas 2-4. Cewek sialan yang ngerebut Izan dari gue.”
Ujarnya seraya beranjak dari tempatnya bersembunyi.
Shizuka berlarian nggak tentu arah.
Ia baru inget tanpa Rita ia nggak tahu dimana letak kelasnya. Hyaaa~ mayochatta!mayochatta[2]!
batin Shizuka galau.
“Aduh, sekolah
luas amat sih. Mana kelas gue, ya?” Gumam nya seraya menggaruk-garuk kepalanya
yang nggak gatal.
“Ah!” Mata
Shizuka langsung berbinar-binar saat melihat seorang bapak tua sedang
membersihkan pekarangan sekolah. Tanpa pikir lagi, ia menghampiri bapak itu.
“Pak, kalo kelas
2-4 dimana, ya?”
Bapak itu
bukannya menjawab malah berdiri marah-marah.
“Heh! Anak jaman
sekarang emang nggak sopan, ya! Bilang punten
dong.”
Pu..pu...nani?
nanda sore? Sore de...nandaa kono oyaji.[3]
“Pu...punten
(baca: puntun), Pak...”
“Aduh, kan Bapak
bilang punten...bukan puntun...”
“I...iya...punten
(baca: puntun)...”
"Punten, neng
geulis...punten...bukan puntun...”
Duh!
!@##$$%^&**) Pusing~!!!! Shizuka buru-buru
membungkuk, mengucapkan teimakasih dan berlari.
“Ah! Itu dia!
Ternyata dekat dengan tempat bapak tua itu.” Gumamnya. Saat Shizuka muncul di
mulut pintu, Ibu Diana guru bahasa Inggris berhenti bicara dan menoleh ke arah
Shizuka diikuti hampir semua temannya tak terkecuali Rita. Ibu Diana melangkah
anggun mendekati Shizuka dan mendekatinya. Guru muda tersebut melihatnya dari
atas sampai bawah. Kok dia lebih cantik
dari gue. batin Ibu Diana—guru baru yang masih berumur 25 tahun.
“Ma...maaf bu
saya terlam...” Kata Shizuka seraya buru-buru membungkuk.
“What’s your name?”
Shizuka
mendongak melihat ke arah Ibu Diana.
“Iya?”
“I said what’s your name?”
“Shi...Shizuka...”
Ibu Diana lantas
mengambil buku absen dan mencari-cari nama Shizuka tapi ia nggak menemukannya.
“Are you sure your class is in here?”
“Aduh
yabai[4]!
Gue nggak ngerti bahasa Inggris.” Shizuka hanya melongo
diam. Anak-anak lain tertawa melihat tingkah polos Shizuka. Shizuka hanya
nyengir.
“Hahahahha....sok
atuh duduk.” Perintah Ibu Diana iseng dan Shizuka dengan wajah polos langsung
menuju ke tempatnya.
“Shizu, kenapa
baru dateng? Gimana mereka? Ya, ampun seragammu...” Bisik Rita
“Nanti pas
istirahat gue ceritain deh. Panjang ceritanya.” Rita terdiam dan hanya mengangguk
melihat Shizuka yang tersenyum.
Ibu Diana
mengabsen murid-murid. Saat tiba nama Izan tak ada sahutan.
“Hhh...lagi-lagi
anak ini nggak masuk. Oh, no~!”
Rita melihat
wajah bingung dan kesal di wajah Shizuka karena ternyata ada anak yang suka
bolos di kelasnya.
“Dia emang
begitu, Shizu.” Bisik Rita seperti tahu apa yang dipikirkan Shizuka
“Ke...kenapa lo...” Rita tersenyum.
“Raut wajahmu
tuh gampang ditebak.”
“Kenapa...”
“Miss Rita Miss Shizuka. Please dont chatting
in my class.” Kata Ibu Diana seraya melihat ke arah mereka. Mereka berdua
terdiam lalu tertawa kecil seraya menunduk.
“Bos...bos...bangun...bos...”
Panggil Rizal yang telah sadar duluan seraya mengguncang pelan tubuh Izan. Mata
Izan mengerjap-kerjap lalu mendadak bangkit dan menendang Rizal.
“Berisik tau.”
“Ma...maaf
bos...” Katanya seraya bangkit berdiri lagi.
“Mana dia?”
“Nggak tau bos.
Kayaknya udah kabur. Bos....kalah...”
“BERISIK! JANGAN
BAHAS ITU!” Bogem mentah Izan pun melayang ke pelipis Rizal membuat ia jatuh
tersungkur lagi.
“SIAL! YANG LAIN
UDAH PADA KABUR LAGI!” Ia menendang pohon yang ada di depannya tapi ia segera
mengangkat kakinya dan mengaduh kesakitan karena badannya belum sembuh benar setelah
terkena pukulan sana-sini Shizuka. Hmmm....level
satu belum cukup buat numbangin boneka rupanya. Hmmm...kuat juga tuh cewek.
Kalo begitu naik tingkat jadi neraka level dua. Awas lo ya. Walaupun lo udah
baik hati ngobatin gue dan temen-temen gue lo nggak bakal pernah bisa keluar
dari neraka gue. batin Izan seraya melepas perekat luka yang tertempel di
wajahnya dan membuangnya. TEEEEEEEEETTT~ TEEEEEET~!”
“Hmmm...bel
istirahat, ya. Awas, lo ya.” Gumam Izan seraya hendak pergi.
“Tu...tunggu...bos...”
“Hah? Lo masih
idup rupanya?”
“Tolong...beri
sa...saya...kesempatan....satu...kali...lagi... Izan menghampiri Rizal dan
mengangkat wajah Rizal dengan ujung sepatunya.
“Apa? Lo mau
ngomong apa~ Gue....nggak butuh anak buah kayak lo. LEMAH!” Kata Izan dengan nada
ditekan seraya menenggelamkan wajah Rizal ke tanah dengan kakinya dan pergi.
Tapi, dengan
gigih Rizal menahan langkah Izan dengan memegang kakinya.
“Sa...saya
mohon...kali ini...saya nggak akan ngecewain bos. Janji. Sumpah.” Izan mematung
lalu berbalik dan mencengkeram kerah baju Rizal sampai ia berdiri dan
menghempaskannya sampai membentur pohon.
“Oke. Gue kasih
kesempatan. Sekarang gue mau lo panggil semua preman kelas teri aja dan suruh
mereka pilih lima belas orang untuk ngehadap gue! Cepat!” Rizal langsung lari
tunggang langgang keluar.
Plok! Tiba-tiba
ada yang menyentuh pundak nya membuat Izan sontak berbalik. Ia terkejut melihat
siapa yang menepuk pundaknya.
“E...ELO?!”
“Heh! Napa lo
nggak masuk pelajaran bahasa Inggris? Masih pingsan, lo?”
“Shi...Shizuka...udahlah...jangan...”
“HEH! JANGAN
JADI SOK MALAIKAT DEH DISINI! BUKAN BERARTI LO UDAH NGOBATIN GUE TERUS LO
BEBAS. NGGAK YA.”
Shizuka terdiam.
Matanya lurus menatap tajam tapi bukan seperti setan yang terlihat di mata Izan
tapi mata hangat dan bersahabat.
“Oke. Tapi gue
nggak pernah bisa maafin orang yang bolos sekolah karena nggak ada alasan
jelas.”
“Shi...Shizuka...hentikan...”
“OH~ BERANI LO
YA NGATUR GUE.”
“Iya. Karena lo
temen gue.”
“HAH? APA?
HAHAHAHHAHAHAHHAHHAHAHAHHAA....” Izan tertawa lebar mendengar jawaban polos
Shizuka.
“Terserah lo mau
ngakak atau apalah....tapi...gue nggak biarin lo bolos sekolah lagi...”
“Hei, boneka.
Asal lo tau aja ya. Disini. Di sekolah ini gue paling berkuasa. Guru, Kepala
sekolah, temen-temen takut sama gue! Nggak ada yang berani ngatur gue. Termasuk
lo!” Izan melirik ke arah cewek disamping Shizuka. “Oh, atau cewek ini yang
ngasih tau ke elo.” Sambungnya seraya menghampirinya. Tapi, Shizuka buru-buru
melindungi Rita dan memukul tangan Izan yang hendak menyentuh Rita dan siap
menghajar Izan dengan jurus karatenya lagi kalo-kalo ia macem-macem.
“Oh, tenang
tenang. Gue nggak akan macem-macem kok sekarang. Tapi, level lo naik. Selamat.”
“TEMEE! NANI WO KOTO KA YO?! AHO KA YO TEMEE
WA[5]!
WOY!WOY!”
Rita hanya
melihat Shizuka marah-marah pake bahasa yang sangat asing di telinganya. Izan
pergi meninggalkan mereka dengan melambaikan tangannya. Shizuka mencopot
sebelah sepatunya dan melemparnya tepat mengenai punggung Izan. Rita terkejut
begitu juga dengan Izan. Ia berhenti melangkah. Rita melihat sangat jelas noda
kotor di belakang kemeja Izan.
“Shi...Shizuka...kamu
mau ngapain sih...”
“Udah diem aja.
Ini urusan gue. Gue mau nyelesein masalah ini.”
“Hei, boneka.”
“NAMA GUE BUKAN
BONEKA. NAMA GUE...”
“Poinem.” Potong
Izan yang langsung membuat Shizuka berang dan menghampirinya tanpa bisa dicegah
oleh Rita. Shizuka mengepalkan tangannya kuat dan mengangkat tangannya ke atas.
“Aa~ ternyata
nama itu yang bikin lo jadi berang gini, ya. Oke, gue bakal panggil lo Poinem
terus.”
TUK. Tiba-tiba,
Shizuka menyentil dahi Izan.
“Hahahahhaha....lo
pikir gue anak TK disentil langsung nangis? Hahahaha....” Tawa Izan mendadak
melemah saat melihat darah mengalir dari dahinya. Izan terkejut bukan main
begitu juga dengan Rita. Hanya dengan
sentilan bisa bikin dahi gue berdarah? Siapa dia sebenarnya? Siapa? Izan
masih melongo dan memegangi dahinya yang masih terus mengeluarkan darah.
Shizuka merogoh kantong roknya dan mendapati satu perekat luka.
“Tolong, jangan
panggil gue dengan nama itu lagi. Gue mohon.” Kata Shizuka seraya menempelkan
perekat luka di dahi yang tadi disentilnya.
Kali ini Izan
melihat tatapan sedih sangat sedih terpancar di wajahnya.
“Sebenernya elo
ini siapa?”
“Eh?”
“Maksud
gue...kenapa...nama Po...ah! bukan! Nama itu ngebikin lo jadi berang kayak
tadi?” Shizuka nggak nyangka Izan menanyakan hal itu. Ia lalu tersenyum.
“Ada deh. Asal
lo nggak nyebut nama Poinem itu di depan gue. Gue bakal jalanin semua siksa
neraka lo itu.” Kata Shizuka santai tapi tajam seraya melihat Izan yang masih
bingung nggak percaya dengan kata-kata barusan. “Mau jalanin semua siksa neraka gue? Dia GILA apa?orang paling kuat
yang sanggup ngadepin gue aja cuma tahan di level tiga. Dia...emang bukan cewek
sembarangan. Izan menatap tajam Shizuka.
“Oke. Gue mau
liat seberapa tahan lo bisa ngadepin neraka gue. Gue kasih tau ya. Neraka gue
ada tujuh level. Kalo lo berhasil, gue bakal turutin satu permintaan lo. Tapi
kalo gagal.....lo dan teman lo itu bakalan..” Izan menirukan tangannya seperti
mengiris leher seraya tersenyum jahat dan pergi meninggalkan mereka.
“Woy! Bentar
lagi masuk! Lo harus ikut pelajaran!” Seru Shizuka yang hanya disahut oleh
tangan Izan yang mengangkat ke atas yang telah pergi jauh meninggalkannya.
“Shizuka.
Beneran nih...” Tanya Rita khawatir saat menghampirinya. Ia tersenyum.
“Tenang.
Aku percaya dia sebenernya orang yang baik.” Kata Shizuka mantap.-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment