Shizuka
bicara dengan supirnya yang sudah menunggunya di tempat biasa. Rita
tersenyum-senyum melihat Nana yang masih terbengong-bengong melihat betapa
mewahnya mobil Shizuka. Kayak aku tadi. batin
Rita. Saat mobil tersebut pergi, Shizuka kembali menghampiri Nana dan Rita.
“Yuk!”
Seru Shizuka senang.
“Ka...kamu...i..itu
tadi...hah...apa?”
“Hahahhaha...ekspresi
Nana chan sama kayak Rita chan tadi deh. Hahahhaha....”
“Hei,
Shizuka. Apa nggak lebih baik kamu minta dikawal aja hahahhaha...” Canda Rita.
“Hahahhha...bodyguard gue aja kalah sama gue kalo adu
panco. Gimana mau ngelindungin gue Hahahahhaha...” Ujar Shizuka polos. Pantes. batin Nana dan Rita seraya
melirik ke arah Shizuka.
Langkah
mereka terhalang oleh cowok yang nggak asing di mata mereka.
“Halo,
boneka sayang.”
“TEMEE[1]~!
UDAH GUE BILANG...”
“Udah
siap dengan neraka level dua?”
Rita
dan Nana bergidik ketakutan melihat tatapan tajam Izan yang padahal hanya
menatap Shizuka. Tapi aura dingin dan kejamnya berasa sampai ke pikiran Rita
dan Nana. Tiba-tiba, dengan secepat kilat, Izan beranjak dari tempatnya
berpijak dan melingkarkan tangannya yang kuat ke arah Nana. Shizuka dan Rita
terkejut.
“ELO?! MAU LO APAIN NANA?!
LEPASIN DIA!” Seru Shizuka seraya hendak
siap menghajar Izan.
“Eits!
Tunggu dulu. Kalo lo macem-macem, leher cewek ini bakalan putus dan gue nggak
bakalan main-main.”
Shizuka
geram menahan amarahnya. Ya. Ia emang paling nggak suka cara licik seperti
menyandera orang seperti itu. Karena menurutnya itu nggak jantan.
“Shi...Shizuka...”
“Cepat
pergi.” Kata Shizuka tiba-tiba.
“Oh,
nggak bisa. Cewek itu harus ikut juga.”Katanya dengan senyum jahatnya seraya
menguatkan belitan tangannya hingga Nana sedikit kesakitan.
“Ng...Nggak
papa, Shizuka....kamu...pergi aja...” Kata Nana tiba-tiba membuat Izan
terkejut.
“HEH!
ELO DIEM AJA!” Bentak Izan seraya hendak memukul Nana.
“HENTIKAN!
JANGAN PUKUL NANA!” Seru Shizuka.
“Shizuka...aku
nggak papa! CEPAT PERGI!” Seru Nana.
“KURANG
AJAR!” Izan memukul keras pipi Nana hingga pingsan.
“NANA!”
Seru Shizuka dan Rita bersamaan.
“Wah,
sorry tangan gue licin. Gimana, lo
nggak mau cewek ini mati, kan?” Ujar Izan dengan mata tajam dan senyum
menyeringai senang menatap kecemasan Shizuka. Sialan! Gue nggak bisa minta tolong karena ini jalanan sepi. Mau nggak
mau gue harus ikut cowok kurus nyebelin ini.
“Gimana?
Ingat! Jangan coba-coba kabur. Termasuk cewek kuncir dua di sebelah lo itu.”
Rita merinding ketakutan. Ia merasa sekujur tubuhnya nggak bisa bergerak
walaupun ia nggak disandera Izan seperti Nana. Shizuka menepuk pundak Rita
tanpa mengalihkan pandangannya pada Izan.
“Tenang
aja. Gue janji lo nggak bakal terluka. Nana bakal gue selamatin.” Rita menoleh
ke arah Shizuka yang kali ini wajahnya terlihat sangat serius. Rita mengangguk.
“Baiklah.
Gue ikut lo. Tolong jangan sakiti Nana lagi.”
“Nah,
gitu dong boneka sayang. Nah, ayo. Gue nggak sabar pengen ‘mainin’ elo.” Izan
menyeringai jahat seraya berjalan membawa Nana yang pingsan. Shizuka
mengikutinya dan Rita jalan di belakang Shizuka dengan takut-takut. Setelah lama
berjalan, akhirnya mereka tiba di depan sebuah gudang nggak terpakai. Izan
membuka gudang tersebut.
“Wah!
Si bos datang.”
“Bos!
Lama amat. Mana boneka lo, bos?”
Izan
tidak menggubris pertanyaan anak-anak buahnya. Ia terus berjalan sampai ia
duduk di tempat paling atas di bawah anak buahnya.
“Gue
udah nggak butuh.” Izan melempar Nana.
“RITA~!”
Seru Shizuka dan dengan reflek Rita berlari menangkap Nana.
“HAHAHAHHA....Gue
baru tahu sekarang. Lo bakalan lemah kalo salah satu temen lo disandera, ya.
HAHAHAHHAA...”
“CEREWET!
SINI LO!” Seru Shizuka yang benar-benar marah.
Izan
hanya geleng-geleng kepala dan menyilangkan sebelah kakinya.
“Sayang
sekali di level ini gue sebagai raja. Raja Neraka. Yang harus lo lawan
algojo-algojo neraka gue.” Izan menunjuk lima belas cowok-cowok berbadan besar
dan membawa berbagai macam senjata. Shizuka melihat mereka dengan seulas senyum
terukir di bibir tipisnya.
“Bos,
beneran lawan kita cewek itu bos?”
“Kayaknya
nggak ada apa-apanya.”
“Kalian
jangan ngeremehin dia. Dia bisa ngalahin gue cuman dengan satu pukulan.” Ujar
Izan santai membuat anak-anak buahnya melongo kaget nggak percaya. Shizuka
mengambil ikat rambut dari saku kemejanya dan mengikat rambutnya.
“Oke.
Kalian nggak perlu berbelas kasihan sama gue! Maju semuanya!” Seru Shizuka
setelah mengikat rambutnya.
“Maju.”
Perintah Izan dan saat itu juga mereka semua langsung maju menyerang Shizuka.
Dengan gerakan indah tapi pasti, Shizuka membereskan preman-preman kelas teri
tersebut dengan mudah. Ternyata dia
memang bukan cewek biasa. Benar kata Rizal, batin Izan seraya tersenyum
melihat Shizuka berantem. Izan menjentikkan jarinya memberi isyarat pada satu
orang bawahannya yang ternyata sembunyi di belakang ‘podium’ nya.
“Bunuh
dua orang itu.” Izan menunjuk Rita yang sedang memeluk Nana yang masih tak
sadarkan diri.
“HEI
BONEKA GUE~! TEMEN LO TERCINTA BAKAL GUE
BUNUH! LIHATLAH!” Seru Izan. Di tengah sibuknya menghadapi banyaknya preman
yang ternyata lebih kuat dari dugaannya Shizuka melihat seorang cowok berjalan
mendekati Rita yang terlihat sangat ketakutan itu.
“JANGAN~!”
DUAK! Satu pukulan mendarat di pipi Shizuka yang cukup membuatnya jatuh.
“HOY!
KALO LAGI BERANTEM JANGAN LIAT KEMANA-MANA~!” Seru salah satu preman tersebut
seraya menendang dan menginjak tubuh Shizuka. Sementara itu, cowok yang membawa
pisau tersebut terus berjalan hendak mendekati Rita dan Nana.
“Jangan...gue
mohon jangan...” Ujar Shizuka yang mulai melemah karena dipukul bertubi-tubi.
“HAHAHAHAHA.....GUE
SENENG! GUE PUAS! BEGO! CEWEK ITU LEBIH LE...” Izan nggak bisa melanjutkan
kata-katanya karena tiba-tiba seng yang menjadi tembok untuk gudang tersebut
hancur. Lalu secepat kilat ia menjotos cowok berpisau tersebut hingga mental
jauh. Izan terkejut begitu juga dengan Shizuka.
“Ri...Rido...”
“ELO!
SIAPA SURUH LO DATANG KESINI?! HAH?!”
“SHIZUKA!
GUE JAGA DUA TEMEN LO INI. NGGAK USAH KHAWATIR!” Teriak Rido seraya berdiri di
depan Rita dan Nana. Shizuka terdiam seraya tersenyum bak setan.
“APA
SENYUM-SENYUM! LO MAU MATI, YA?!” Shizuka memijakkan tangannya ke tanah dan
membuat gerakan berputar dan menendang tulang kering kaki mereka semua.
Bagaikan setan yang tak terkendali, Shizuka menghajar membabi buta lima belas
preman tersebut sampai menumpuk pingsan di depannya. Shizuka berbalik memandang
Izan yang masih duduk santai tanpa terlihat rasa takut. Ia bangkit dari
kursinya dan turun dengan santainya. Rido merentangkan tangannya lebih lebar
dan menatapnya tajam saat Izan melirik ke arahnya.
“Boneka,
selamat. Selamat.” Izan bertepuk tangan. Shizuka mendatangi Izan dan
mencengkeram kerahnya.
“APA-APAAN
LO?! LO...LO....” Shizuka menatapnya dengan mata setan seperti yang ia lihat
pertama kali saat perkenalan.
“Gue
suka mata lo, boneka. Mata setan lo ini.”
“BERISIK!”
Seru Shizuka seraya mengangkat tangannya hendak meninjunya sampai nggak
berbentuk orang lagi.
“Lo
mau hajar gue? Dengan tubuh penuh luka begitu? Hh....lucu.”
BUAAK!
Satu bogem mentah Shizuka mendarat di
pelipis Izan membuatnya jatuh.
“Raja?
Neraka? Ini yang lo sebut permainan? Main-main dengan nyawa orang tanpa merasa
bersalah dan ketakutan. INI YANG LO SEBUT NERAKA?! HAH?! LO CUMA MANUSIA BODOH!
PALING JELEK! PALING BEGO! PALING....PALING...” Shizuka nggak mampu melanjutkan
bentakannya karena amarahnya sudah mencapai ubun-ubun dan rasanya ia ingin menonjok
Izan berkali-kali sampe puas.
“Iya.
Terus kenapa? Lo nggak suka? Okelah. Untuk hari ini cukup.” Kata Izan seraya
berusaha bangkit dan mengambil tasnya.
“MAU
KEMANA, LO! URUSAN KITA...” Shizuka hendak menghampiri Izan yang berjalan pelan
tapi Rido mencegahnya.
“Sudahlah,
Shizuka. Yang penting teman lo ini selamat.”
Shizuka
terdiam dan hanya bisa melihat Izan perlahan menghilang dari pandangannya.
“Nana...Nana,
bangun Nana...” Nana membuka matanya pelan dan langsung memeluk Shizuka.
“Aku
takut, Shizu. Aku takut!” Nana menangis ketakutan. Shizuka membelai rambut Nana.
“Makasih,
Rido.” Ucap Rita.
“Eh!
Kenapa lo bisa tau kita ada disini?!”
“Gue
udah bilang, kan? Gue bakal ngikutin lo sampai lo nerima undangan gue. Ada
untungnya juga kan gue ngikutin lo?” Shizuka terdiam.
“Ah!
Pipimu membiru, Shizu!” Seru Rita.
“Ah,
nggak papa kok. Hahahahha...”
“Ya,
sudah. Ayo pulang udah sore.”
“NGGAK
USAH DIBILANG JUGA GUE UDAH TAU!” Seru Shizuka kasar seraya berjalan gontai
menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Shizuka
berhenti melangkah dan setengah menengok ke kanan.
“Makasih,
ya. Tentang ajakan lo gue pertimbangin.” Kata Shizuka seraya berjalan pelan
diikuti Nana dan Rita. Rido tersenyum. Shizuka,
emang cewek menarik.
-BERSAMBUNG-
[1] ELO?!
No comments:
Post a Comment