Saturday, January 19, 2013

Yakuza van Java (Act 6)



Shizuka bicara dengan supirnya yang sudah menunggunya di tempat biasa. Rita tersenyum-senyum melihat Nana yang masih terbengong-bengong melihat betapa mewahnya mobil Shizuka. Kayak aku tadi. batin Rita. Saat mobil tersebut pergi, Shizuka kembali menghampiri Nana dan Rita.
“Yuk!” Seru Shizuka senang.
“Ka...kamu...i..itu tadi...hah...apa?”
“Hahahhaha...ekspresi Nana chan sama kayak Rita chan tadi deh. Hahahhaha....”
“Hei, Shizuka. Apa nggak lebih baik kamu minta dikawal aja hahahhaha...” Canda Rita.
“Hahahhha...bodyguard gue aja kalah sama gue kalo adu panco. Gimana mau ngelindungin  gue Hahahahhaha...” Ujar Shizuka polos. Pantes. batin Nana dan Rita seraya melirik ke arah Shizuka.
Langkah mereka terhalang oleh cowok yang nggak asing di mata mereka.
“Halo, boneka sayang.”
TEMEE[1]~! UDAH GUE BILANG...”
“Udah siap dengan neraka level dua?”
Rita dan Nana bergidik ketakutan melihat tatapan tajam Izan yang padahal hanya menatap Shizuka. Tapi aura dingin dan kejamnya berasa sampai ke pikiran Rita dan Nana. Tiba-tiba, dengan secepat kilat, Izan beranjak dari tempatnya berpijak dan melingkarkan tangannya yang kuat ke arah Nana. Shizuka dan Rita terkejut.
“ELO?! MAU LO APAIN NANA?! LEPASIN DIA!” Seru  Shizuka seraya hendak siap menghajar Izan.
“Eits! Tunggu dulu. Kalo lo macem-macem, leher cewek ini bakalan putus dan gue nggak bakalan main-main.”
Shizuka geram menahan amarahnya. Ya. Ia emang paling nggak suka cara licik seperti menyandera orang seperti itu. Karena menurutnya itu nggak jantan.
“Shi...Shizuka...”
“Cepat pergi.” Kata Shizuka tiba-tiba.
“Oh, nggak bisa. Cewek itu harus ikut juga.”Katanya dengan senyum jahatnya seraya menguatkan belitan tangannya hingga Nana sedikit kesakitan.
“Ng...Nggak papa, Shizuka....kamu...pergi aja...” Kata Nana tiba-tiba membuat Izan terkejut.
“HEH! ELO DIEM AJA!” Bentak Izan seraya hendak memukul Nana.
“HENTIKAN! JANGAN PUKUL NANA!” Seru Shizuka.
“Shizuka...aku nggak papa! CEPAT PERGI!” Seru Nana.
“KURANG AJAR!” Izan memukul keras pipi Nana hingga pingsan.
“NANA!” Seru Shizuka dan Rita bersamaan.
“Wah, sorry tangan gue licin. Gimana, lo nggak mau cewek ini mati, kan?” Ujar Izan dengan mata tajam dan senyum menyeringai senang menatap kecemasan Shizuka. Sialan! Gue nggak bisa minta tolong karena ini jalanan sepi. Mau nggak mau gue harus ikut cowok kurus nyebelin ini.
“Gimana? Ingat! Jangan coba-coba kabur. Termasuk cewek kuncir dua di sebelah lo itu.” Rita merinding ketakutan. Ia merasa sekujur tubuhnya nggak bisa bergerak walaupun ia nggak disandera Izan seperti Nana. Shizuka menepuk pundak Rita tanpa mengalihkan pandangannya pada Izan.
“Tenang aja. Gue janji lo nggak bakal terluka. Nana bakal gue selamatin.” Rita menoleh ke arah Shizuka yang kali ini wajahnya terlihat sangat serius. Rita mengangguk.
“Baiklah. Gue ikut lo. Tolong jangan sakiti Nana lagi.”
“Nah, gitu dong boneka sayang. Nah, ayo. Gue nggak sabar pengen ‘mainin’ elo.” Izan menyeringai jahat seraya berjalan membawa Nana yang pingsan. Shizuka mengikutinya dan Rita jalan di belakang Shizuka dengan takut-takut. Setelah lama berjalan, akhirnya mereka tiba di depan sebuah gudang nggak terpakai. Izan membuka gudang tersebut.
“Wah! Si bos datang.”
“Bos! Lama amat. Mana boneka lo, bos?”
Izan tidak menggubris pertanyaan anak-anak buahnya. Ia terus berjalan sampai ia duduk di tempat paling atas di bawah anak buahnya.
“Gue udah nggak butuh.” Izan melempar Nana.
“RITA~!” Seru Shizuka dan dengan reflek Rita berlari menangkap Nana.
“HAHAHAHHA....Gue baru tahu sekarang. Lo bakalan lemah kalo salah satu temen lo disandera, ya. HAHAHAHHAA...”
“CEREWET! SINI LO!” Seru Shizuka yang benar-benar marah.
Izan hanya geleng-geleng kepala dan menyilangkan sebelah kakinya.
“Sayang sekali di level ini gue sebagai raja. Raja Neraka. Yang harus lo lawan algojo-algojo neraka gue.” Izan menunjuk lima belas cowok-cowok berbadan besar dan membawa berbagai macam senjata. Shizuka melihat mereka dengan seulas senyum terukir di  bibir tipisnya.
“Bos, beneran lawan kita cewek itu bos?”
“Kayaknya nggak ada apa-apanya.”
“Kalian jangan ngeremehin dia. Dia bisa ngalahin gue cuman dengan satu pukulan.” Ujar Izan santai membuat anak-anak buahnya melongo kaget nggak percaya. Shizuka mengambil ikat rambut dari saku kemejanya dan mengikat rambutnya.
“Oke. Kalian nggak perlu berbelas kasihan sama gue! Maju semuanya!” Seru Shizuka setelah mengikat rambutnya.
“Maju.” Perintah Izan dan saat itu juga mereka semua langsung maju menyerang Shizuka. Dengan gerakan indah tapi pasti, Shizuka membereskan preman-preman kelas teri tersebut dengan mudah. Ternyata dia memang bukan cewek biasa. Benar kata Rizal, batin Izan seraya tersenyum melihat Shizuka berantem. Izan menjentikkan jarinya memberi isyarat pada satu orang bawahannya yang ternyata sembunyi di belakang ‘podium’ nya.
“Bunuh dua orang itu.” Izan menunjuk Rita yang sedang memeluk Nana yang masih tak sadarkan diri.
“HEI BONEKA GUE~!  TEMEN LO TERCINTA BAKAL GUE BUNUH! LIHATLAH!” Seru Izan. Di tengah sibuknya menghadapi banyaknya preman yang ternyata lebih kuat dari dugaannya Shizuka melihat seorang cowok berjalan mendekati Rita yang terlihat sangat ketakutan itu.
“JANGAN~!” DUAK! Satu pukulan mendarat di pipi Shizuka yang cukup membuatnya jatuh.
“HOY! KALO LAGI BERANTEM JANGAN LIAT KEMANA-MANA~!” Seru salah satu preman tersebut seraya menendang dan menginjak tubuh Shizuka. Sementara itu, cowok yang membawa pisau tersebut terus berjalan hendak mendekati Rita dan Nana.
“Jangan...gue mohon jangan...” Ujar Shizuka yang mulai melemah karena dipukul bertubi-tubi.
“HAHAHAHAHA.....GUE SENENG! GUE PUAS! BEGO! CEWEK ITU LEBIH LE...” Izan nggak bisa melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba seng yang menjadi tembok untuk gudang tersebut hancur. Lalu secepat kilat ia menjotos cowok berpisau tersebut hingga mental jauh. Izan terkejut begitu juga dengan Shizuka.
“Ri...Rido...”
“ELO! SIAPA SURUH LO DATANG KESINI?! HAH?!”
“SHIZUKA! GUE JAGA DUA TEMEN LO INI. NGGAK USAH KHAWATIR!” Teriak Rido seraya berdiri di depan Rita dan Nana. Shizuka terdiam seraya tersenyum bak setan.
“APA SENYUM-SENYUM! LO MAU MATI, YA?!” Shizuka memijakkan tangannya ke tanah dan membuat gerakan berputar dan menendang tulang kering kaki mereka semua. Bagaikan setan yang tak terkendali, Shizuka menghajar membabi buta lima belas preman tersebut sampai menumpuk pingsan di depannya. Shizuka berbalik memandang Izan yang masih duduk santai tanpa terlihat rasa takut. Ia bangkit dari kursinya dan turun dengan santainya. Rido merentangkan tangannya lebih lebar dan menatapnya tajam saat Izan melirik ke arahnya.
“Boneka, selamat. Selamat.” Izan bertepuk tangan. Shizuka mendatangi Izan dan mencengkeram kerahnya.
“APA-APAAN LO?! LO...LO....” Shizuka menatapnya dengan mata setan seperti yang ia lihat pertama kali saat perkenalan.
“Gue suka mata lo, boneka. Mata setan lo ini.”
“BERISIK!” Seru Shizuka seraya mengangkat tangannya hendak meninjunya sampai nggak berbentuk orang lagi.
“Lo mau hajar gue? Dengan tubuh penuh luka begitu? Hh....lucu.”
BUAAK!  Satu bogem mentah Shizuka mendarat di pelipis Izan membuatnya jatuh.
“Raja? Neraka? Ini yang lo sebut permainan? Main-main dengan nyawa orang tanpa merasa bersalah dan ketakutan. INI YANG LO SEBUT NERAKA?! HAH?! LO CUMA MANUSIA BODOH! PALING JELEK! PALING BEGO! PALING....PALING...” Shizuka nggak mampu melanjutkan bentakannya karena amarahnya sudah mencapai ubun-ubun dan rasanya ia ingin menonjok Izan berkali-kali sampe puas.
“Iya. Terus kenapa? Lo nggak suka? Okelah. Untuk hari ini cukup.” Kata Izan seraya berusaha bangkit dan mengambil tasnya.
“MAU KEMANA, LO! URUSAN KITA...” Shizuka hendak menghampiri Izan yang berjalan pelan tapi Rido mencegahnya.
“Sudahlah, Shizuka. Yang penting teman lo ini selamat.”
Shizuka terdiam dan hanya bisa melihat Izan perlahan menghilang dari pandangannya.
“Nana...Nana, bangun Nana...” Nana membuka matanya pelan dan langsung memeluk Shizuka.
“Aku takut, Shizu. Aku takut!” Nana menangis ketakutan. Shizuka membelai rambut Nana.
“Makasih, Rido.” Ucap Rita.
“Eh! Kenapa lo bisa tau kita ada disini?!”
“Gue udah bilang, kan? Gue bakal ngikutin lo sampai lo nerima undangan gue. Ada untungnya juga kan gue ngikutin lo?” Shizuka terdiam.
“Ah! Pipimu membiru, Shizu!” Seru Rita.
“Ah, nggak papa kok. Hahahahha...”
“Ya, sudah. Ayo pulang udah sore.”
“NGGAK USAH DIBILANG JUGA GUE UDAH TAU!” Seru Shizuka kasar seraya berjalan gontai menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Shizuka berhenti melangkah dan setengah menengok ke kanan.
“Makasih, ya. Tentang ajakan lo gue pertimbangin.” Kata Shizuka seraya berjalan pelan diikuti Nana dan Rita. Rido tersenyum. Shizuka, emang cewek menarik.

-BERSAMBUNG-


[1] ELO?!

No comments:

Post a Comment