Proyek
Luar Biasa
Akhirnya mereka
transit juga ke jalan warna merah. Saat itu juga, mereka masuk ke sebuah
distrik yang ada di kedua sisi kota yang terang. Orang berjalan dalam sebuah
rombongan. Karena jalannya cepat kayak orang Jepang, jadi nggak begitu jelas rupa
mereka. Saat itu, tiba-tiba Tousuke seperti teringat akan sesuatu.
“Profesor,
abis ini kita pergi kemana? Abis mengendarai jalan hidup ini, apa nanti kita
akan diusir keluar?”
“Nggak
usah khawatir. Jalan hidup ini akan berlanjut sampai ke mall Negeri Bawah Laut.
Sebentar lagi kita akan sampai di mall itu. Nanti kita akan transit ke jalan
yang bergerak lebih lambat!” Profesor Polder meraih tangan Tousuke dan Hitomi
lalu melompat dari satu jalan ke lima warna jalan lainnya. Mereka naik jalan
berwarna putih yang lambat dan setelah itu....sampai di sebuah kota yang indah
dan ramai.
“Wah!
Ada orang Jepang! Bukan! Kebanyakan memang orang Jepang! Apa ini tempat
imigrasi orang Jepang?” Tanya Tousuke dengan mata berbinar.
“Ini
adalah Negeri Bawah Laut yang dibuka oleh orang Jepang. Proporsi penduduk di
negara aslinya sudah kebanyakan, makanya hidup orang Jepang jadi susah. Lalu
mereka punya ide untuk menciptakan dunia bawah laut dan tinggal disana. Tidak!
Tidak hanya tinggal, mereka juga menggali tanah untuk mengambil hasil bumi
seperti tembaga, besi, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi di bawah
laut sana. Dengan modal kekuatan survey penelitian dan kepercayaan, sedikit
demi sedikit mereka membangun Negeri Bawah Laut ini.” Jelas Profesor Polder.
Oh, begitu yaa. Aku benar-benar tidak ingat
kalo di dasar laut ada tanah. Tousuke jadi malu sama otaknya sendiri.
“Nah,
mall nya mulai keliatan tuh! Yuk kita turun.” Profesor bersama mereka berdua
pindah dari jalan warna putih ke trotoar tidak bergerak.
“Waah,
indahnya! Mall nya bagus sekali!”
“Luasnyaa.
Aku nggak pernah liat mall seluas ini!”
Mall
tersebut berbentuk bulat dengan luas kira-kira dua puluh ribu tsubo[1]. Di sekelilingnya
berderet gedung-gedung pencakar langit yang pastinya ada berpuluh-puluh
tingkat. Masing-masing gedung mempunyai struktur dan warna yang berbeda-beda.
Benar-benar keserasian yang indah sekali! Di tengah-tengah mall tersebut,
terdapat menara air mancur. Tetesannya berjatuhan seperti butiran kristal, dan
berkumpul di sebuah kolam bunga. Langitnya biru bercahaya.
“Luar
biasa. Ini....di dasar laut, kan? Tapi...kenapa langitnya bisa berwarna biru
cerah seperti itu?”
“Pertanyaan
yang bagus. Tousuke, itu bukan langit beneran tapi atap kaca berwarna biru yang
terpasang di langit-langitnya. Lalu di atasnya, dipasang lampu dengan ukuran
cahaya yang sama dengan matahari. Walaupun mereka tinggal di Negeri Bawah Laut,
mereka tetap bisa melihat langit yang cerah banget ini dengan berkumpul di mall
ini. Perasaan kita jadi baik, kan?”
“Oh,
begitu. Tapi kalo bukan matahari beneran, nggak bagus juga ya. Soalnya kan
tidak mengandung sinar ultar-violet yang dibutuhkan tubuh.”
“Kalo
soal itu, Menteri Kesehatan sudah memikirkannya. Cahaya lampu itu mengandung
banyak sinar ultra-violet. Makanya karena orang-orang disini terpapar sinar
ultra violet lebih kuat daripada orang-orang yang tinggal di kota di atas sana,
jadi sedikit sekali orang yang sakit di Negeri Bawah Laut ini. Perbandingannya
3:1 untuk penduduk di atas bumi.” Semakin mendengar penjelasan dari Profesor
Polder, lama-lama Negeri Bawah Laut jadi negeri yang bagus juga.
“Profesor,
bagaimana kehidupan dan pekerjaan orang-orang di Negeri Bawah Laut ini?”
“Ada
macam-macam pekerjaan disini. Bisnis toko yang menjual barang dianggap sepele
disini. Pekerjaan yang paling utama disini adalah menggali dasar laut,
mengambil barang tambang berharga, mengambil ikan di berbagai macam kedalaman
laut, mengambil emas di laut, membuat obat penting, memanfaatkan panas bumi
untuk pembangkit listrik atau memanaskan barang. Ada juga yang menggali batu
air dan memotong batu untuk bahan bangunan. Nggak keitung deh pokoknya.”
“Waah,
ternyata ada banyak sekali pekerjaan yaa. Sepertinya lebih sibuk dibanding
penduduk di atas bumi.”
“Iya.
Pekerjaan mereka juga memberikan keuntungan. Nah, kita liat-liat lokasi
pertambangan laut yuk lalu abis itu, aku akan mengajak kalian ke tempat
pemancingan bawah laut.” Profesor menarik tangan mereka berdua, lalu
meninggalkan mall. Saat itu tiba-tiba Tousuke berteriak.
“Ah!
Disitu ada kereta yang sedang berhenti! Disitu tertulis kereta dengan tujuan
Tokyo!”
“Memang.
Kereta bawah laut itu terhubung dengan dunia luar sana. Pulangnya kita naik itu
aja, yuuk.”
Tak
lama kemudian, Hitomi seperti kaget.
“Lho?
Koran yang dijual ini kok bulan Mei 1969? Kenapa ya?”
Lalu
Profesor tersenyum menyeringai.
“Benar.
Sekarang tahun 1969. Karena disini sedang zamannya energi nuklir, jadi mereka
bisa menggunakan kekuatan nuklir yang besar. Proyek besar di Negeri Bawah Laut
seperti mesin waktu pun bisa mereka buat tanpa kesulitan. Hal seperti ini tidak
akan mungkin bisa dilakukan walau menceritakan Negeri Bawah Laut pada orang yang
cepat meninggal, kan?”
-BERSAMBUNG-