Thursday, April 27, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 25



Proyek Luar Biasa
            Akhirnya mereka transit juga ke jalan warna merah. Saat itu juga, mereka masuk ke sebuah distrik yang ada di kedua sisi kota yang terang. Orang berjalan dalam sebuah rombongan. Karena jalannya cepat kayak orang Jepang, jadi nggak begitu jelas rupa mereka. Saat itu, tiba-tiba Tousuke seperti teringat akan sesuatu.
            “Profesor, abis ini kita pergi kemana? Abis mengendarai jalan hidup ini, apa nanti kita akan diusir keluar?”
            “Nggak usah khawatir. Jalan hidup ini akan berlanjut sampai ke mall Negeri Bawah Laut. Sebentar lagi kita akan sampai di mall itu. Nanti kita akan transit ke jalan yang bergerak lebih lambat!” Profesor Polder meraih tangan Tousuke dan Hitomi lalu melompat dari satu jalan ke lima warna jalan lainnya. Mereka naik jalan berwarna putih yang lambat dan setelah itu....sampai di sebuah kota yang indah dan ramai.
            “Wah! Ada orang Jepang! Bukan! Kebanyakan memang orang Jepang! Apa ini tempat imigrasi orang Jepang?” Tanya Tousuke dengan mata berbinar.
            “Ini adalah Negeri Bawah Laut yang dibuka oleh orang Jepang. Proporsi penduduk di negara aslinya sudah kebanyakan, makanya hidup orang Jepang jadi susah. Lalu mereka punya ide untuk menciptakan dunia bawah laut dan tinggal disana. Tidak! Tidak hanya tinggal, mereka juga menggali tanah untuk mengambil hasil bumi seperti tembaga, besi, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi di bawah laut sana. Dengan modal kekuatan survey penelitian dan kepercayaan, sedikit demi sedikit mereka membangun Negeri Bawah Laut ini.” Jelas Profesor Polder.
            Oh, begitu yaa. Aku benar-benar tidak ingat kalo di dasar laut ada tanah. Tousuke jadi malu sama otaknya sendiri.
            “Nah, mall nya mulai keliatan tuh! Yuk kita turun.” Profesor bersama mereka berdua pindah dari jalan warna putih ke trotoar tidak bergerak.
            “Waah, indahnya! Mall nya bagus sekali!”
            “Luasnyaa. Aku nggak pernah liat mall seluas ini!”
            Mall tersebut berbentuk bulat dengan luas kira-kira dua puluh ribu tsubo[1]. Di sekelilingnya berderet gedung-gedung pencakar langit yang pastinya ada berpuluh-puluh tingkat. Masing-masing gedung mempunyai struktur dan warna yang berbeda-beda. Benar-benar keserasian yang indah sekali! Di tengah-tengah mall tersebut, terdapat menara air mancur. Tetesannya berjatuhan seperti butiran kristal, dan berkumpul di sebuah kolam bunga. Langitnya biru bercahaya.
            “Luar biasa. Ini....di dasar laut, kan? Tapi...kenapa langitnya bisa berwarna biru cerah seperti itu?”
            “Pertanyaan yang bagus. Tousuke, itu bukan langit beneran tapi atap kaca berwarna biru yang terpasang di langit-langitnya. Lalu di atasnya, dipasang lampu dengan ukuran cahaya yang sama dengan matahari. Walaupun mereka tinggal di Negeri Bawah Laut, mereka tetap bisa melihat langit yang cerah banget ini dengan berkumpul di mall ini. Perasaan kita jadi baik, kan?”
            “Oh, begitu. Tapi kalo bukan matahari beneran, nggak bagus juga ya. Soalnya kan tidak mengandung sinar ultar-violet yang dibutuhkan tubuh.”
            “Kalo soal itu, Menteri Kesehatan sudah memikirkannya. Cahaya lampu itu mengandung banyak sinar ultra-violet. Makanya karena orang-orang disini terpapar sinar ultra violet lebih kuat daripada orang-orang yang tinggal di kota di atas sana, jadi sedikit sekali orang yang sakit di Negeri Bawah Laut ini. Perbandingannya 3:1 untuk penduduk di atas bumi.” Semakin mendengar penjelasan dari Profesor Polder, lama-lama Negeri Bawah Laut jadi negeri yang bagus juga.
            “Profesor, bagaimana kehidupan dan pekerjaan orang-orang di Negeri Bawah Laut ini?”
            “Ada macam-macam pekerjaan disini. Bisnis toko yang menjual barang dianggap sepele disini. Pekerjaan yang paling utama disini adalah menggali dasar laut, mengambil barang tambang berharga, mengambil ikan di berbagai macam kedalaman laut, mengambil emas di laut, membuat obat penting, memanfaatkan panas bumi untuk pembangkit listrik atau memanaskan barang. Ada juga yang menggali batu air dan memotong batu untuk bahan bangunan. Nggak keitung deh pokoknya.”
            “Waah, ternyata ada banyak sekali pekerjaan yaa. Sepertinya lebih sibuk dibanding penduduk di atas bumi.”
            “Iya. Pekerjaan mereka juga memberikan keuntungan. Nah, kita liat-liat lokasi pertambangan laut yuk lalu abis itu, aku akan mengajak kalian ke tempat pemancingan bawah laut.” Profesor menarik tangan mereka berdua, lalu meninggalkan mall. Saat itu tiba-tiba Tousuke berteriak.
            “Ah! Disitu ada kereta yang sedang berhenti! Disitu tertulis kereta dengan tujuan Tokyo!”
            “Memang. Kereta bawah laut itu terhubung dengan dunia luar sana. Pulangnya kita naik itu aja, yuuk.”
            Tak lama kemudian, Hitomi seperti kaget.
            “Lho? Koran yang dijual ini kok bulan Mei 1969? Kenapa ya?”
            Lalu Profesor tersenyum menyeringai.
            “Benar. Sekarang tahun 1969. Karena disini sedang zamannya energi nuklir, jadi mereka bisa menggunakan kekuatan nuklir yang besar. Proyek besar di Negeri Bawah Laut seperti mesin waktu pun bisa mereka buat tanpa kesulitan. Hal seperti ini tidak akan mungkin bisa dilakukan walau menceritakan Negeri Bawah Laut pada orang yang cepat meninggal, kan?”

-BERSAMBUNG-


[1]1 tsubo = 3,31 m2

Tuesday, April 25, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps 24



Gerbang Negeri Bawah Laut
            Roket tong yang mereka bertiga naiki telah masuk ke bawah laut. Rimbunan rumput laut dan ikan-ikan tujuh warna berlarian di belakangnya, lalu sekitarnya tiba-tiba menjadi suram. Sebagai latar belakangnya, tulang belulang manusia yang terselimuti lumpur, berserakan dimana-mana. Ikan laut dalam yang bercahaya fosfor, berlalu-lalang bikin perasaan jadi nggak enak. Roket terus saja turun sampai ke dalam permukaan batu. Entah istana naga atau neraka setan bawah laut yang ada di sana. Tiba-tiba Profesor menyalakan lampu roket tong yang super terang. Pemandangan di depan jadi lebih terang.
            “Waah, indahnya!” Teriak Hitomi.
            “Lho? Apa itu?” Mata Tousuke membulat.
            Lihatlah! Ratusan, ribuan....buanyak sekali asap putih yang membumbung tinggi dari bawah laut—bukan! Itu bukan asap putih! Melainkan pilar! Wajarlah tadi dikira asap, karena pilar-pilar itu agak miring seperti mau jatuh. Pada bagian ujung pilar putih yang banyak itu, masing-masing terdapat tabung gas yang berwarna sama. Saat mendekat kesana, ternyata tabung gas nya super besar! Pilar itu lebih lebar daripada cerobong asap yang ada di kapal pesiar. Pilar-pilar itu berjajar rapi seperti hutan dan menjulang ke atas. Bagian ujungnya tak terlihat karena terhalang keruhnya air laut. Sebenarnya...ini apaan sih?
            Saat itu, roket tong sedang berjalan melewati rimbunan pilar di tengah lautan dan tiba-tiba saja Profesor menurunkan roketnya untuk mendekat ke arah pilar. Ternyata banyak sekali barisan tabung gas tergantung di atasnya. Atap tabungnya rata. Lalu di bagian garis hitamnya banyak lingkaran, dan pada lingkarannya tertulis angka. Saat itu, roket tong mengunjungi tabung bertuliskan angka 8 di bagian dalam lingkarannya. Tiba-tiba saja lingkaran angka 8 itu melekuk. Bukan melekuk, melainkan bergerak turun.
            “Kenapa, Profesor Polder?”
            Profesor bangkit dari kursi kokpit, lalu mendatangi mereka berdua.
            “Kita sudah sampai. Kita sudah sampai di Negeri Bawah Laut. Nanti roket ini akan masuk ke dalam.”
            “Negeri Bawah Laut?”
            “Iya. Kita sekarang berada di pintu masuk menuju Negeri Bawah Laut. Nanti ada lima pintu dan masing-masing akan terbuka dan tertutup satu per satu. Kalo kita masuk, pintunya akan terbuka.”
            “Lima pintu? Kenapa harus begitu?”
            “Dibikin lima pintu supaya tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Kemudian, pintu itu akan menurunkan tekanan air yang dahsyat sampe tekanan udara di Negeri Bawah Laut satu per satu. Karena kalo tidak, manusia dan kendaraan akan rusak terkena perubahan tekanan yang dahsyat, tubuh pun hancur, dan kita akan mengalami pendarahan dalam tubuh.”
            Mata Tousuke dan Hitomi membelalak baru mengerti maksudnya. Cakram yang tertulis angka itu ternyata semacam lift yang bergerak naik-turun. Roket tong masuk ke dalam dan turun menuju pintu kedua. Di pintu pertama, roket meluncur turun lalu terhalang oleh sebuah lubang. Lalu tekanan udara dan air laut yang sama-sama masuk, dibuang keluar. Selanjutnya roket tong masuk ke pintu kedua menuju pintu ke tiga. Saat pintu kedua tertutup selanjutnya buka-tutup buka-tutup begitu seterusnya. Setelah melewati ruang di pintu kelima, Roket tong sampai di sebuah ruangan besar.
            “Nah, ayo kita keluar.” Entah sejak kapan penampilan Profesor Polder udah kayak mau jalan-jalan aja, lalu mendesak Hitomi dan Tousuke.
            “Jalan-jalan ke Negeri Bawah Laut!”
            “Seperti apa yaa Negeri Bawah Laut itu? Penghuninya seperti apa, yaa?”
            “Sabar sabar. Nanti juga kalian akan mengerti.”Kata Profesor.
            Saat mereka bertiga keluar dari roket, terdapat sebuah pintu di salah satu sisi ruang besar ini. Begitu mereka melewati pintu, ada ruang semacam jembatan yang luas sekali. Ada sungai yang mengalir diantara jembatan satu ke jembatan lain.
            “Ternyata di tempat seperti ini ada aliran sungai juga yaa.”
            “Bukan, itu bukan sungai. Itu disebut ‘jalan hidup’.”
            “Jalan hidup?”
            “Maksudnya jalannya bergerak. Ada sembilan jalan disini. Kedua sisi dan luarnya berwarna putih. Lalu ada biru, oranye, nila, merah sampai merah tua. Warna putih tuh jalan yang bergerak paling lambat. Kalo ingin lebih cepat, pergi ke jalan di sebelahnya. Nanti bakal ada jalan warna merah tua yang merupakan jalan paling cepat. Kecepatan jalan itu bergerak sekitar ratusan kilometer per jam.”
Oh, begitu ya. Jadi ini bukanlah sungai. Awalnya karena bergerak jadi dikiranya sungai yang mengalir. Ternyata ini bukan sungai melainkan jalan yang bergerak seperti yang Profesor bilang tadi.
“Jadi jalan yang bergerak tuh bukan jalan yang terbuat dari tanah atau aspal seperti biasanya ya.”
“Benar. Jalan ini terbuat dari sejenis karet. Gaya geseknya dan elastisitasnya pas. Soal kekokohannya nggak usah khawatir. Raksasa atau buldozer pun bisa berdiri di jalan ini. Jalan ini bergerak dengan kecepatan yang telah ditentukan. Nah, kita juga naik itu yuk. Pertama kita coba naik jalan yang warna putih, jalan yang paling lambat dulu aja. Saat lompat ke jalan itu, kalian harus mendaratkan kedua kaki kalian seperti kelinci. Tidak boleh mengangkang.” Profesor mendorong bahu mereka berdua yang lagi ketakutan.
“Satu! Dua! Tiga!” Mereka bertiga lompat. Saat melompat, tidak terjadi apa-apa. Melihat-lihat sekeliling pun tidak.
“Kecepatan jalan ini hanya lima kilometer per jam. Nah selanjutnya, kita pindah ke jalan warna biru, yuk. Kita akan berpindah ke jalan yang semakin cepat.”
Begitulah, setelah dicoba ternyata nggak kenapa-napa. Di negeri ini, tidak ada yang namanya kereta atau mobil. Semuanya menggunakan ‘jalan hidup’ sebagai alat transportasi.

-BERSAMBUNG-

Thursday, April 20, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 23



Menuju Dunia Bawah Laut
            Langit sangat cerah. Koinobori[1] bulan Mei berkibar-kibar bebas di atas atap rumah. Mereka berdua pergi ke tanah kosong dengan rumput yang sudah meninggi di tengah-tengah. Perasaan mereka sekarang ini sedang fresh. Kalian pasti sudah tau kan kalo mereka berdua adalah Tousuke dan Hitomi.
            “Ah! Profesor Polder muncul disana!” Hitomi cepat tanggap juga.
            “Wah? Tumben banget Profesor menunggu kita di luar roketnya.” Tousuke dan Hitomi mempercepat langkah untuk mendekati Profesor. Ternyata Profesor sedang berusaha mengecat bagian luar roket dengan semacam cat.
            “Profesor, selamat siang.”
            “Wah wah, kalian sudah datang ya. Fiuuh! Akhirnya kerjaanku selesai tepat waktu!”
            “Abis mengecat roket tong ini, kita mau kemana?”
            “Hari ini aku bermaksud mengajak kalian ke dunia bawah laut. Hari ini roketku akan menyelam ke dasar laut. Aku mengecat roketku demi keamanan, supaya tidak kemasukan air laut. Sudah jelas, kan. Nah ayo cepat masuk.”
            Pertama Tousuke, lalu Hitomi dan terakhir Profesor terhisap masuk ke dalam roket tong yang kecil itu. Mereka bertiga memang tidak memikirkannya, tapi kalo seandainya dilihat orang lain pasti mereka akan merasa aneh. Soalnya mana mungkin tiga tubuh manusia bisa masuk ke dalam tong yang saking kecilnya bisa ditendang ini?!
            Tapi di dalam roket, luas dan terang seperti biasanya. Permen dan buah kesukaan Hitomi dan Tousuke juga tersedia di sebuah kotak di atas meja.
            “Silahkan dimakan.”
            “Makasih, Profesor. Ngomong-ngomong hari ini kita akan menyelam ke dasar laut, ya. Memangnya apa yang bisa kita liat?”
            “Menurut kalian apa yang ada di dasar laut?”
            “Hmm...hutan konbu yang berayun-ayun dan ada ikan-ikan besar yang berenang.”
            “Kalau turun lebih ke dalam lagi, apa yang akan terjadi? Kali ini....Hitomi. Coba jawab.”
            “Lama-lama sekitarnya akan menjadi gelap. Lalu sebagai ganti ikan-ikan biasa, akan ada ikan penghuni laut dalam. Wujud ikan-ikan laut dalam serem-serem lho. Salah satunya ada juga ikan yang bisa menghasilkan cahaya biru dari tubuhnya.”
            “Kamu ternyata tau banyak, ya. Tapi kalo turun lebih ke bawah lagi, ada apaan?”
            “Masih turun juga? Hmmm...kalo begitu nggak akan ada ikan lagi. Mungkin...hanya ada lumpur yang menggenang.”
            “Apa yang terjadi kalo turun lebih ke dasar lagi?”
            “Yaa buntu dong, Profesor.”
            “Tidak. Lebih turun lagi. Apa yang akan terjadi?”
            “Susah juga, yaa. Kalo menyibak lumpurnya dan masuk ke dalam, akan ada batu. Dan kalo mau turun ke bawah batu, kita akan menabrak lava panas yang membara di bawah bumi. Terus, kita mati deh.”
            “Oke oke. Kalo memikirkan sampai sejauh itu, tidak akan menarik lagi ya. Daripada berpikir ada batu besar yang bertebaran di bawah laut, mungkin lebih baik kalo berpikir bakal ada sebuah negeri di bawah laut. Lalu, apa di sekitar sana cuma ada batu?”
            “Hmmm...iya yaa.”
            “Apa ada makhluk hidup?”
            “Hmm, gimana yaa. Aku rasa tidak ada. Soalnya disana tidak ada udara.”
            “Wah, kita lagi bahas hal yang bagus ya.”
            “Selain itu, karena semakin ke bawah akan panas jadi tidak mungkin ada makhluk hidup. Lagipula roket ini akan kemasukan air laut dari atas. Benar-benar tidak mungkin.”
           “Aku mengerti sekali. Pengetahuan kalian memang benartapi kalo aku ajak kalian kesana, kalian pasti kaget. Nah, ayo kita berangkat! Pasang wajah kalian di depan jendela, dan kalian akan bisa melihat pemandangan laut seperti yang kalian katakan tadi.” Profesor menyalakan mesin lalu menjalankan roket tongnya. Seperti yang dikatakan Profesor, pemandangan bawah laut yang indah terhampar di depan mata mereka. Mereka merasa seperti Urashima Tarou yang akan mengunjungi istana naga.

-BERSAMBUNG-

[1] Semacam layang-layang berbentuk ikan untuk merayakan hari Anak di Jepang (5 Mei)