Tuesday, April 4, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 18



Misteri Dunia Empat Dimensi
            Mereka bertiga tersedot ke dalam tong. Tau-tau saja mereka sudah terjatuh dan berputar-putar. Asap yang keluar dari cerobong membuat ekor di langit seiring naiknya pesawat tong itu ke angkasa. Lalu tong itu menghilang diantara awan putih.
            Ruangan di dalam roket tong tidak berubah. Profesor mengubah mesin terbangnya menjadi mode otomatis, lalu bangkit dari kursi kokpit. Profesor duduk menghadap Tousuke dan Hitomi.
            “Apa kalian tau bagaimana ruang empat dimensi yang akan kita kunjungi sekarang? Menurut kalian, dunia empat dimensi itu seperti apa?” Profesor mengajukan pertanyaan.
            “Yang aku tahu, dunia yang terdiri dari panjang, lebar dan tinggi adalah dunia tiga dimensi. Aku sama sekali nggak tahu satu unsur lainnya. Ada juga yang bilang kalau satu unsur itu adalah waktu. Intinya, sebuah objek akan berubah seiring berjalannya waktu. Misalnya saja sebuah batu karang yang besar, puluhan ribu tahun kemudian akan menjadi kerikil. Jadi hal seperti itu katanya termasuk ke dalam unsur empat dimensi. Tapi kalau begitu, dunia yang kita tinggali sekarang ini bisa disebut dunia tiga dimensi dan empat dimensi dong, ya. Tapi aku rasa teori ini sama sekali nggak bisa menjelaskan tentang dunia empat dimensi. Pasti ada satuan ukuran yang lebih jelas untuk dunia empat dimensi. Iya kan?”
            “Wah, Tousuke ngomongin hal sulit nih. Kamu belajar dari siapa?”
            “Sebenarnya pada teori itu pun ada berbagai macam dasar, tapi mengenai ruang empat dimensi ada baiknya kalo unsur waktu tidak kita pikirkan. Coba kita pikirkan dunia empat dimensi itu dengan pola pikir yang lebih mudah dimengerti.”
            “Aku tau!” Kata Tousuke. “Objek tiga dimensi terdiri atas tiga unsur, yaitu panjang, lebar dan tinggi. Sebagian besar, inilah hal yang kita sadari. Batu, buku, meja, semuanya adalah contoh objek tiga dimensi.”
            “Lalu?”
            “Ada sebuah benda yang hanya terdiri dari panjang dan lebar tanpa ada tinggi. Inilah yang disebut benda dua dimensi, dan dunianya disebut dunia dua dimensi. Misalnya, kertas tipis. Bisa kan dikategorikan sebagai benda dua dimensi. Aku rasa minyak yang mengambang di atas air pun, mendekati sifat benda dua dimensi. Sebenarnya kalo lebih teliti lagi, baik kertas maupun minyak yang mengambang juga mempunyai tinggi dan bisa dikategorikan sebagai objek tiga dimensi. Yaah, tapi aku rasa lebih cocok disebut objek dua dimensi. Profesor, pasti masih banyak kan objek dua dimensi selain yang aku sebut?”
            “Ya, ada. Gambar yang dilukis diatas kertas, bisa juga kok dikategorikan sebagai objek dua dimensi. Selain itu, film yang kalian suka dan sering ditonton pun juga termasuk. Intinya, gambar yang terpantulkan di layar hanya mempunyai unsur panjang dan lebar tanpa tinggi. Makanya disebut objek dua dimensi. Nah, kalo objek satu dimensi apa saja?”
            “Satu dimensi....berarti cumaada satuan ukuran panjang, tanpa ada lebar dan tinggi, ya. Bisa jadi garis yang digambar di atas kertas. Apa lagi, ya?”
            “Banyak, kok. Kotak mempunyai enam sisi. Garis-garis yang saling berhubungan membentuk suatu sisi, bisa juga kan?”
            “Ah, benar! Itu disebut sudut. Ah, bukan! Garis tepi! Berarti sudut pada sebuah kotak masuk kategori objek satu dimensi.”
            “Benar. Semangka yang dibelah dua. Permukaannya bulat, kan. Permukaannya itu yang masuk kategori satu dimensi.”
            “Gampang, ya. Tapi, aku masih nggak ngerti soal objek empat dimensi. Unsur apa yaa yang ada selain panjang, lebar dan tinggi? Aku rasa tidak ada hal lain, deh...”
            “Aku mengerti kalo kalian serius memikirkan satu unsur dalam dunia empat dimensi itu. Mau ada tiga atau empat, yaa tidak masalah. Mudah sih tapi semakin dipikir semakin nggak ngerti, kan.”
            “Bukan bayangan, bukan juga aroma...”
           “Sudah pasti kalian tidak mengerti. Karena kalian adalah objek tiga dimensi dan penghuni dunia tiga dimensi. Walaupun kalian mengerti sampai dunia satu, dua atau tiga dimensi, kalian pasti nggak akan tau dunia empat dimensi yang membingungkan itu.”
            “Jadi memang sudah pasti nggak akan mengerti, ya. Tapi aku ingin coba melihat dunia empat dimensi.”
            “Mari kita pikir bahwa ada manusia yang tinggal di atas permukaan. Artinya, ada manusia yang tinggal di atas kertas. Nah, orang tersebut pasti tidak akan mengerti arti ‘tinggi’. Benar, kan. Karena di dunia sana sama sekali tidak mengenal yang namanya ‘tinggi’. Kalian mengerti dunia tiga dimensi, karena kalian tinggal satu tingkat diatas dua dimensi. Makanya, kalian tidak akan bisa melihat struktur dunia empat dimensi. Tapi kalo kalian menjadi penghuni dunia empat dimensi, mungkin kalian akan mengerti.”
            “Profesor. Kalo tidak terlihat, seandainya aku terbang ke dunia empat dimensi itu sekarang pun, yaa percuma saja dong.” Hitomi yang daritadi diam, jadi buka suara.
            “Tidak, bukan percuma. Memang, kita tidak bisa melihat dunia empat dimensi itu tapi kita bisa lihat celah dunia itu. Tuh, mulai terlihat! Hitomi, coba kau lihat di belakangmu. Ada semacam bentuk aneh yang sedang berdiri. Tapi kalian tidak perlu kaget. Lihat dengan tenang, yaa.”
            Hitomi dan Tousuke melihat ke arah yang ditunjukkan Profesor Polder.
            “Hah...?”
            “Ah! Monster.....”
            Mereka berdua berteriak.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment