Dunia
yang Paling Kecil
“Wah,
Profesor Polder! Kau datang lagi, ya.”
“Halo, Tousuke dan Hitomi. Hari begitu cepat berlalu yaa.”
Walau Tousuke dan Hitomi tidak meminjam kekuatan Profesor Polder, mereka bisa
masuk ke roket tong dengan mudahnya.
“Aku selalu tidak sabar menunggu hari berpetualang ke
negeri ajaib setiap bulan.”
“Oh, begitu ya. Padahal aku hanya menunjukkan tempat-tempat
aneh. Memangnya kalian tidak merasa enggan?”
“Nggak. Aku memang pengen liat negeri ajaib.”
“Aku juga. Negeri-negeri ajaib yang Profesor tunjukkan ke
kita, belum pernah ku dengar ceritanya sampai sekarang. Aku juga tidak pernah
membacanya di buku manapun. Benar-benar negeri yang ajaib! Aku benar-benar
tidak sabar menunggu hari ini akan diajak kemana.”
“Hoho, begitu ya. Sebenarnya....aku ragu apakah destinasi
kita kali ini akan terlalu sulit buat kalian. Tapi, aku ingin sekali
menunjukkannya pada anak-anak Jepang baru.”
“Profesor Polder, tolong ajak kami ke negeri paling aneh
yang bikin kita merinding, doong.”
“Hari ini...kita kemana?”
“Hohoho, kalian berdua. Hari ini kita akan terburu-buru.
Nah, ayo kita lekas pergi. Hari ini aku akan membuka jendela pengintip, jadi
kalian liat keluar dari jendela itu, yaa.” Profesor membuka satu persatu
jendela bulat di depan mereka berdua. Tentu saja kacanya ikut dibuka. Saat
melihat keluar dari jendela, terlihat padang bunga dandelion yang mekar
sempurna serta hamparan rumput lotus yang mengelilingi roket tong.
“Nah, kita akan keluar. Soal kemana kita akan pergi, kalo
kalian liat baik-baik dari jendela, pasti menarik.” Profesor duduk di ruang
kokpit dan mulai menjalankan roketnya dengan tenang. Terjadilah hal yang ajaib.
Bunga yang terlihat dari jendela perlahan makin membesar. Memang sih, roket ini
sedang mendekati bunga itu, tapi bukan hanya itu saja. Setangkai bunga dandelion
hampir memenuhi seluruh sisi jendela.
“Wah...wah! Rasanya seperti melihat dari mikroskop ya?”
Tousuke merasa antusias.
Bunganya memang membesar. Kelopak bunganya memenuhi
seluruh jendela. Saat diperbesar lagi, kali ini semacam polkadot yang ada di
dahan bunga yang memenuhi jendela.
“Waah, indahnya. Kita akan masuk ke dunia yang dilihat
dengan mikroskop kan ya?”
“Benar. Kita akan masuk ke dalam sebuah zat. Yang
terlihat sekarang adalah molekul, lalu setelah itu atom, abis itu inti atom dan
nanti akan terlihat kumpulan elektron bebas yang mengelilinginya. Sekarang kita
berada di dunia itu, dunia yang paling kecil.” Baru kali ini Profesor mengajak
mereka sambil menjelaskan tentang dunia itu. Sudah terlihat semacam sel kelopak
bunga dandelion. Lama kelamaan semakin membesar dan mulai terlihat banyak
sekali bola-bola yang beraneka ukuran. Penglihatan di jendela terus saja semakin
membesar dan ukuran bola-bola
juga ikut membesar, kemudian jumlahnya berkurang. Tak lama kemudian, muncul
sebuah bongkahan kecil yang tidak bergerak. Ada sebuah bulatan kecil yang
berputar-putar mengelilinginya.
“Lho? Ini apaan ya?”
“Itu atom hidrogen, dan yang di tengah-tengah itu adalah
inti atom dari hidrogen atau disebut juga dengan proton. Dan yang mengelilingi
proton adalah elektron. Dalam dunia sel, elektron adalah sesuatu yang paling
ringan.”
“Kita datang ke dunia yang sangat kecil, yaa.”
“Di sebelahnya ada atom yang agak berbeda. Sepertinya
yang ini.” Roket tong Profesor bergerak ke arah sebelah. Kali ini di
tengah-tengahnya ada satu bongkahan yang nggak bergerak (lebih besar sepuluh
kali lipat dari hidrogen). Di sekelilingnya ada delapan bola kecil (elektron)
yang berputar-putar. Elektron itu berputar membentuk tiga cincin. Rasanya mirip
seperti bumi atau Mars yang berputar mengelilingi matahari.
“Elektron ini disebut apa?”
“Oksigen.”
“Wah wah! Ini oksigen ya?”
“Apa tidak terlihat seperti atom Uranium?”
“Uranium tidak ada disini, makanya tidak terlihat.
Uranium dikelilingi oleh sembilan puluh dua elektron dan terbagi dalam tujuh
belas orbit. Sudah pasti inti atom pada Uranium selalu berat. Sekitar dua ratus
kali inti atom hidrogen.”
“Profesor Polder, apa ada dunia yang lebih kecil dari
ini?”
“Tidak ada. Ini dunia mikro.”
“Aku ingin lihat berbagai macam atom, deh.”
“Ooh, abis ini yaa. Sebenarnya sekarang kita akan pergi
ke tempat yang sangat jauh. Kalo tidak segera pergi, nanti nggak keburu.”
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment