Tuesday, April 11, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 20


Dunia yang Paling Kecil

            “Wah, Profesor Polder! Kau datang lagi, ya.”

            “Halo, Tousuke dan Hitomi. Hari begitu cepat berlalu yaa.” Walau Tousuke dan Hitomi tidak meminjam kekuatan Profesor Polder, mereka bisa masuk ke roket tong dengan mudahnya.

            “Aku selalu tidak sabar menunggu hari berpetualang ke negeri ajaib setiap bulan.”

            “Oh, begitu ya. Padahal aku hanya menunjukkan tempat-tempat aneh. Memangnya kalian tidak merasa enggan?”

            “Nggak. Aku memang pengen liat negeri ajaib.”

            “Aku juga. Negeri-negeri ajaib yang Profesor tunjukkan ke kita, belum pernah ku dengar ceritanya sampai sekarang. Aku juga tidak pernah membacanya di buku manapun. Benar-benar negeri yang ajaib! Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari ini akan diajak kemana.”

            “Hoho, begitu ya. Sebenarnya....aku ragu apakah destinasi kita kali ini akan terlalu sulit buat kalian. Tapi, aku ingin sekali menunjukkannya pada anak-anak Jepang baru.”

            “Profesor Polder, tolong ajak kami ke negeri paling aneh yang bikin kita merinding, doong.”

            “Hari ini...kita kemana?”

            “Hohoho, kalian berdua. Hari ini kita akan terburu-buru. Nah, ayo kita lekas pergi. Hari ini aku akan membuka jendela pengintip, jadi kalian liat keluar dari jendela itu, yaa.” Profesor membuka satu persatu jendela bulat di depan mereka berdua. Tentu saja kacanya ikut dibuka. Saat melihat keluar dari jendela, terlihat padang bunga dandelion yang mekar sempurna serta hamparan rumput lotus yang mengelilingi roket tong.

            “Nah, kita akan keluar. Soal kemana kita akan pergi, kalo kalian liat baik-baik dari jendela, pasti menarik.” Profesor duduk di ruang kokpit dan mulai menjalankan roketnya dengan tenang. Terjadilah hal yang ajaib. Bunga yang terlihat dari jendela perlahan makin membesar. Memang sih, roket ini sedang mendekati bunga itu, tapi bukan hanya itu saja. Setangkai bunga dandelion hampir memenuhi seluruh sisi jendela.

            “Wah...wah! Rasanya seperti melihat dari mikroskop ya?” Tousuke merasa antusias.

            Bunganya memang membesar. Kelopak bunganya memenuhi seluruh jendela. Saat diperbesar lagi, kali ini semacam polkadot yang ada di dahan bunga yang memenuhi jendela.

            “Waah, indahnya. Kita akan masuk ke dunia yang dilihat dengan mikroskop kan ya?”

            “Benar. Kita akan masuk ke dalam sebuah zat. Yang terlihat sekarang adalah molekul, lalu setelah itu atom, abis itu inti atom dan nanti akan terlihat kumpulan elektron bebas yang mengelilinginya. Sekarang kita berada di dunia itu, dunia yang paling kecil.” Baru kali ini Profesor mengajak mereka sambil menjelaskan tentang dunia itu. Sudah terlihat semacam sel kelopak bunga dandelion. Lama kelamaan semakin membesar dan mulai terlihat banyak sekali bola-bola yang beraneka ukuran. Penglihatan di jendela terus saja semakin membesar dan ukuran bola-bola juga ikut membesar, kemudian jumlahnya berkurang. Tak lama kemudian, muncul sebuah bongkahan kecil yang tidak bergerak. Ada sebuah bulatan kecil yang berputar-putar mengelilinginya.

            “Lho? Ini apaan ya?”

            “Itu atom hidrogen, dan yang di tengah-tengah itu adalah inti atom dari hidrogen atau disebut juga dengan proton. Dan yang mengelilingi proton adalah elektron. Dalam dunia sel, elektron adalah sesuatu yang paling ringan.”

            “Kita datang ke dunia yang sangat kecil, yaa.”

            “Di sebelahnya ada atom yang agak berbeda. Sepertinya yang ini.” Roket tong Profesor bergerak ke arah sebelah. Kali ini di tengah-tengahnya ada satu bongkahan yang nggak bergerak (lebih besar sepuluh kali lipat dari hidrogen). Di sekelilingnya ada delapan bola kecil (elektron) yang berputar-putar. Elektron itu berputar membentuk tiga cincin. Rasanya mirip seperti bumi atau Mars yang berputar mengelilingi matahari.

            “Elektron ini disebut apa?”

            “Oksigen.”

            “Wah wah! Ini oksigen ya?”

            “Apa tidak terlihat seperti atom Uranium?”

            “Uranium tidak ada disini, makanya tidak terlihat. Uranium dikelilingi oleh sembilan puluh dua elektron dan terbagi dalam tujuh belas orbit. Sudah pasti inti atom pada Uranium selalu berat. Sekitar dua ratus kali inti atom hidrogen.”

            “Profesor Polder, apa ada dunia yang lebih kecil dari ini?”

            “Tidak ada. Ini dunia mikro.”

            “Aku ingin lihat berbagai macam atom, deh.”

            “Ooh, abis ini yaa. Sebenarnya sekarang kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Kalo tidak segera pergi, nanti nggak keburu.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment