Thursday, April 20, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 23



Menuju Dunia Bawah Laut
            Langit sangat cerah. Koinobori[1] bulan Mei berkibar-kibar bebas di atas atap rumah. Mereka berdua pergi ke tanah kosong dengan rumput yang sudah meninggi di tengah-tengah. Perasaan mereka sekarang ini sedang fresh. Kalian pasti sudah tau kan kalo mereka berdua adalah Tousuke dan Hitomi.
            “Ah! Profesor Polder muncul disana!” Hitomi cepat tanggap juga.
            “Wah? Tumben banget Profesor menunggu kita di luar roketnya.” Tousuke dan Hitomi mempercepat langkah untuk mendekati Profesor. Ternyata Profesor sedang berusaha mengecat bagian luar roket dengan semacam cat.
            “Profesor, selamat siang.”
            “Wah wah, kalian sudah datang ya. Fiuuh! Akhirnya kerjaanku selesai tepat waktu!”
            “Abis mengecat roket tong ini, kita mau kemana?”
            “Hari ini aku bermaksud mengajak kalian ke dunia bawah laut. Hari ini roketku akan menyelam ke dasar laut. Aku mengecat roketku demi keamanan, supaya tidak kemasukan air laut. Sudah jelas, kan. Nah ayo cepat masuk.”
            Pertama Tousuke, lalu Hitomi dan terakhir Profesor terhisap masuk ke dalam roket tong yang kecil itu. Mereka bertiga memang tidak memikirkannya, tapi kalo seandainya dilihat orang lain pasti mereka akan merasa aneh. Soalnya mana mungkin tiga tubuh manusia bisa masuk ke dalam tong yang saking kecilnya bisa ditendang ini?!
            Tapi di dalam roket, luas dan terang seperti biasanya. Permen dan buah kesukaan Hitomi dan Tousuke juga tersedia di sebuah kotak di atas meja.
            “Silahkan dimakan.”
            “Makasih, Profesor. Ngomong-ngomong hari ini kita akan menyelam ke dasar laut, ya. Memangnya apa yang bisa kita liat?”
            “Menurut kalian apa yang ada di dasar laut?”
            “Hmm...hutan konbu yang berayun-ayun dan ada ikan-ikan besar yang berenang.”
            “Kalau turun lebih ke dalam lagi, apa yang akan terjadi? Kali ini....Hitomi. Coba jawab.”
            “Lama-lama sekitarnya akan menjadi gelap. Lalu sebagai ganti ikan-ikan biasa, akan ada ikan penghuni laut dalam. Wujud ikan-ikan laut dalam serem-serem lho. Salah satunya ada juga ikan yang bisa menghasilkan cahaya biru dari tubuhnya.”
            “Kamu ternyata tau banyak, ya. Tapi kalo turun lebih ke bawah lagi, ada apaan?”
            “Masih turun juga? Hmmm...kalo begitu nggak akan ada ikan lagi. Mungkin...hanya ada lumpur yang menggenang.”
            “Apa yang terjadi kalo turun lebih ke dasar lagi?”
            “Yaa buntu dong, Profesor.”
            “Tidak. Lebih turun lagi. Apa yang akan terjadi?”
            “Susah juga, yaa. Kalo menyibak lumpurnya dan masuk ke dalam, akan ada batu. Dan kalo mau turun ke bawah batu, kita akan menabrak lava panas yang membara di bawah bumi. Terus, kita mati deh.”
            “Oke oke. Kalo memikirkan sampai sejauh itu, tidak akan menarik lagi ya. Daripada berpikir ada batu besar yang bertebaran di bawah laut, mungkin lebih baik kalo berpikir bakal ada sebuah negeri di bawah laut. Lalu, apa di sekitar sana cuma ada batu?”
            “Hmmm...iya yaa.”
            “Apa ada makhluk hidup?”
            “Hmm, gimana yaa. Aku rasa tidak ada. Soalnya disana tidak ada udara.”
            “Wah, kita lagi bahas hal yang bagus ya.”
            “Selain itu, karena semakin ke bawah akan panas jadi tidak mungkin ada makhluk hidup. Lagipula roket ini akan kemasukan air laut dari atas. Benar-benar tidak mungkin.”
           “Aku mengerti sekali. Pengetahuan kalian memang benartapi kalo aku ajak kalian kesana, kalian pasti kaget. Nah, ayo kita berangkat! Pasang wajah kalian di depan jendela, dan kalian akan bisa melihat pemandangan laut seperti yang kalian katakan tadi.” Profesor menyalakan mesin lalu menjalankan roket tongnya. Seperti yang dikatakan Profesor, pemandangan bawah laut yang indah terhampar di depan mata mereka. Mereka merasa seperti Urashima Tarou yang akan mengunjungi istana naga.

-BERSAMBUNG-

[1] Semacam layang-layang berbentuk ikan untuk merayakan hari Anak di Jepang (5 Mei)

No comments:

Post a Comment