Menuju
Dunia Bawah Laut
Langit
sangat cerah. Koinobori[1] bulan Mei
berkibar-kibar bebas di atas atap rumah. Mereka berdua pergi ke tanah kosong dengan
rumput yang sudah meninggi di tengah-tengah. Perasaan mereka sekarang ini
sedang fresh. Kalian pasti sudah tau kan kalo mereka berdua adalah Tousuke dan
Hitomi.
“Ah! Profesor Polder muncul disana!” Hitomi cepat tanggap
juga.
“Wah? Tumben banget Profesor menunggu kita di luar
roketnya.” Tousuke dan Hitomi mempercepat langkah untuk mendekati Profesor.
Ternyata Profesor sedang berusaha mengecat bagian luar roket dengan semacam
cat.
“Profesor, selamat siang.”
“Wah wah, kalian sudah datang ya. Fiuuh! Akhirnya
kerjaanku selesai tepat waktu!”
“Abis mengecat roket tong ini, kita mau kemana?”
“Hari ini aku bermaksud mengajak kalian ke dunia bawah
laut. Hari ini roketku akan menyelam ke dasar laut. Aku mengecat roketku demi
keamanan, supaya tidak kemasukan air laut. Sudah jelas, kan. Nah ayo cepat
masuk.”
Pertama Tousuke, lalu Hitomi dan terakhir Profesor terhisap
masuk ke dalam roket tong yang kecil itu. Mereka bertiga memang tidak
memikirkannya, tapi kalo seandainya dilihat orang lain pasti mereka akan merasa
aneh. Soalnya mana mungkin tiga tubuh manusia bisa masuk ke dalam tong yang
saking kecilnya bisa ditendang ini?!
Tapi di dalam roket, luas dan terang seperti biasanya.
Permen dan buah kesukaan Hitomi dan Tousuke juga tersedia di sebuah kotak di
atas meja.
“Silahkan dimakan.”
“Makasih, Profesor. Ngomong-ngomong hari ini kita akan
menyelam ke dasar laut, ya. Memangnya apa yang bisa kita liat?”
“Menurut kalian apa yang ada di dasar laut?”
“Hmm...hutan konbu
yang berayun-ayun dan ada ikan-ikan besar yang berenang.”
“Kalau turun lebih ke dalam lagi, apa yang akan terjadi?
Kali ini....Hitomi. Coba jawab.”
“Lama-lama sekitarnya akan menjadi gelap. Lalu sebagai
ganti ikan-ikan biasa, akan ada ikan penghuni laut dalam. Wujud ikan-ikan laut
dalam serem-serem lho. Salah satunya ada juga ikan yang bisa menghasilkan
cahaya biru dari tubuhnya.”
“Kamu ternyata tau banyak, ya. Tapi kalo turun lebih ke
bawah lagi, ada apaan?”
“Masih turun juga? Hmmm...kalo begitu nggak akan ada ikan
lagi. Mungkin...hanya ada lumpur yang menggenang.”
“Apa yang terjadi kalo turun lebih ke dasar lagi?”
“Yaa buntu dong, Profesor.”
“Tidak. Lebih turun lagi. Apa yang akan terjadi?”
“Susah juga, yaa. Kalo menyibak lumpurnya dan masuk ke
dalam, akan ada batu. Dan kalo mau turun ke bawah batu, kita akan menabrak lava
panas yang membara di bawah bumi. Terus, kita mati deh.”
“Oke oke. Kalo memikirkan sampai sejauh itu, tidak akan
menarik lagi ya. Daripada berpikir ada batu besar yang bertebaran di bawah
laut, mungkin lebih baik kalo berpikir bakal ada sebuah negeri di bawah laut.
Lalu, apa di sekitar sana cuma ada batu?”
“Hmmm...iya yaa.”
“Apa ada makhluk hidup?”
“Hmm, gimana yaa. Aku rasa tidak ada. Soalnya disana
tidak ada udara.”
“Wah, kita lagi bahas hal yang bagus ya.”
“Selain itu, karena semakin ke bawah akan panas jadi tidak
mungkin ada makhluk hidup. Lagipula roket ini akan kemasukan air laut dari
atas. Benar-benar tidak mungkin.”
“Aku mengerti sekali. Pengetahuan kalian memang benar、tapi kalo aku
ajak kalian kesana, kalian pasti kaget. Nah, ayo kita berangkat! Pasang wajah
kalian di depan jendela, dan kalian akan bisa melihat pemandangan laut seperti
yang kalian katakan tadi.” Profesor menyalakan mesin lalu menjalankan roket
tongnya. Seperti yang dikatakan Profesor, pemandangan bawah laut yang indah
terhampar di depan mata mereka. Mereka merasa seperti Urashima Tarou yang akan mengunjungi
istana naga.
No comments:
Post a Comment