Orang yang Tak Terlihat
“Jangan berisik.
Kalian tidak sopan dengan pemilik rumah.”Kata Profesor dengan nada dingin. Saat
itu juga, lagi-lagi terdengar suara dehem parah. Suara langkah kaki orang yang
sedang berjalan terdengar dari lorong sampai ke dalam. Tapi itu cuma suara
langkah kaki, tidak ada wujud orangnya.
“Dokter
Camp memang selalu bermulut kasar, tapi kalian tidak perlu takut karena
sebenarnya dia berhati baik. Kalian boleh bertanya apa saja.” Kata Profesor
yang maksudnya sih menenangkan mereka.
“Ah!
Aku ingat!” Tiba-tiba saja Tousuke berteriak.
“Dokter
Camp tuh manusia transparan! Iya kan, Profesor Polder?”
“Dokter
Camp memang manusia transparan.”Wajah Profesor terkesan seperti cuek menanggapi
pernyataan yang sudah pasti jawabannya itu.
“Coba
kalian tanya ilmu apa sih yang aku pakai sampe bisa menghilangkan wujud begini?
Karena itu pertanyaan penting, coba tanya.”
Pintu
sebelah kiri di ujung lorong, terbuka sendiri ke dalam. Mereka berdua sudah
tidak kaget lagi seperti sebelumnya. Sebagai gantinya, mereka berdua berdiri di
depan Dokter Camp. Mereka ingin memastikan kalo wujud Dokter Camp benar-benar
tembus pandang dan tak terlihat.
“Dari
pintu ini kalian lurus saja, nanti disana silahkan kalian duduk di tiga kursi
yang kusediakan. Maaf yaa kalo saya jalan duluan sampai ke kamarku.” Terdengar
suara Dokter dari dalam kamar, lalu ada sebuah kursi yang bergerak sendiri
seperti diseret. Saat mereka masuk, kamar Dokter ternyata seperti sebuah
laboratorium kimia. Langit-langitnya tinggi, tembok putih di sekitarnya sudah kotor
terkena cipratan bahan kimia. Di sekitar tembok ada lemari bahan kimia, dan tumpukan majalah-majalah yang
menggunung sampai tidak ada celah. Di tengah-tengahnya ada sebuah rak besar
yang isinya berderet bagaikan hutan seperti: pipa tes, selang, gelas kimia,
tabung kimia yang terbuat dari kaca, serta alat-alat lainnya untuk percobaan.
Kursi mereka bertiga ada di depan rak tersebut.
Hitomi
dan Tousuke terkagum-kagum sampai membulatkan mata melihat laboratorium yang
tidak biasa ini. Sebuah tabung kimia melayang-melayang seperti dipegang
seseorang.
“Hah!”
Tabung
kimia itu melayang horizontal lagi dan kembali ke tempat semula. Selanjutnya
gelas kimia juga ikut melayang sendiri lalu setelah itu kembali ke tempat
semula. Pipa tesnya berbunyi klotok-klotok lalu masuk ke rak yang berarah
horizontal. Tiba-tiba saja terdengar suara seperti tumpahan air. Memang ada air
yang keluar deras dari botol yang terbuka sumbatnya. Lalu sebuah gelas kimia
besar bergerak untuk mengambil air. Tidak sampai delapan menit semua air masuk
ke gelas itu. Sumbat botol itu bergerak sendiri menutup mulut botol, dan airnya
berhenti. Kali ini, gelas kimia itu kembali ke rak penelitian. Kemudian, kap
lampu alkohol itu terbang dan turun ke rak. Lalu korek yang ada di rak juga
ikut terbang dan sebatang korek api seperti digosok ke bungkus korek apinya.
Muncul api dari batang korek apinya. Api itu mendekat ke sumbu lampu alkohol.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dan muncul cahaya biru yang menyala-nyala
tinggi. Lalu spesimen dan saringan terbang bersamaan lalu melayang di lampu
alkohol. Gelas kimia berisi air itu terbang dan mendarat di atas saringan dan
spesimen. Api biru di bawah gelas kimia mulai menghangatkannya.
Hitomi
dan Tousuke menelan ludah dan nggak bergerak sedikit pun melihat peralatan yang
menari-nari heboh di angkasa. Saat itu dari seberang rak yang tersinari lampu
alkohol, terdengar suara dehem yang khas. Sepertinya Dokter Camp sedang duduk
di seberang rak. Suara derit kursi terdengar dari atas lantai.
“Camp,
bagaimana caranya kamu bisa membuat badanmu jadi transparan begitu?” Profesor
Polder ngomong ke arah seberang rak. Dokter yang tak berwujud itu berdiri
sambil berdehem.
“Bukan
transparan tapi tak terlihat.” Kata Dokter dengan nada yang sepertinya marah.
“Aku menghabiskan
bertahun-tahun untuk penelitian ini. Aku juga sudah menghabiskan banyak uang.
Aku sampai meminta uang ke Ayahku. Aku merasa penelitian ini akan memakan waktu
tiga tahun, tapi ternyata tidak bisa. Lalu aku menjual rumah dan lima tahun
kemudian aku mendapat upah hasil penelitianku. Aku butuh waktu lima tahun,
perkiraanku soal penelitian yang akan berhasil ternyata meleset, berakhir
dengan masalah besar, dan sekarang penelitianku gagal total. Saking kecewanya
aku sampai tidur selama seminggu kayak orang mati. Lalu aku bangkit lagi danharus
memulai dari awal lagi dengan kembali mengacu ke draf. Bagaimana dengan biaya
penelitiannya? Aku lanjut melakukan penelitian tanpa makan. Aku menjual semua
barang yang ada. Aah, sampai cincin peninggalan ibuku yang baik itu pun aku
jual. Untuk bertahan dari dinginnya musim dingin, aku sampai menyerahkan
mantelku pada orang lain. Sebagai seorang ilmuwan, aku harus menjual tiga ribu
eksemplar buku penelitianku yang telah ku pertaruhkan dengan nyawaku. Aku juga
melepas tempat tidurku. Rumah ini pun akan roboh. Yang tersisa hanya kamar yang
hampir mau roboh ini. Semua peralatan penelitianku secara tidak langsung jadi
alat rumah tangga. Tapi aku tetap semangat mempertaruhkan penelitianku yang
terakhir ini. Saat itu saking parahnya sampai aku merasa kalo kesehatanku tidak
akan membaik. Walaupun aku tenggelam dalam rasa galauku setiap hari, aku tetap
melanjutkan penelitianku.Dan akhirnya tanggal sebelas Oktober....aku tidak
mungkin lupa. Sebelas Oktober!Saat cahaya matahari fajar menembus jendela,
penelitian yang kukerjakan begadang sampai tiga hari akhirnya mendapat
pengakuan. Liat! Di atas telapak tanganku ada seutas benang kan. Aku memang
menyentuhnya tapi wujudnya tak terlihat. Aku meminjam kekuatan dinamo lalu
benang itu benar-benar tak terlihat.”-BERSAMBUNG-