Tuesday, February 28, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 8



Orang yang Tak Terlihat
            “Jangan berisik. Kalian tidak sopan dengan pemilik rumah.”Kata Profesor dengan nada dingin. Saat itu juga, lagi-lagi terdengar suara dehem parah. Suara langkah kaki orang yang sedang berjalan terdengar dari lorong sampai ke dalam. Tapi itu cuma suara langkah kaki, tidak ada wujud orangnya.
           “Dokter Camp memang selalu bermulut kasar, tapi kalian tidak perlu takut karena sebenarnya dia berhati baik. Kalian boleh bertanya apa saja.” Kata Profesor yang maksudnya sih menenangkan mereka.
            “Ah! Aku ingat!” Tiba-tiba saja Tousuke berteriak.
            “Dokter Camp tuh manusia transparan! Iya kan, Profesor Polder?”
            “Dokter Camp memang manusia transparan.”Wajah Profesor terkesan seperti cuek menanggapi pernyataan yang sudah pasti jawabannya itu.
            “Coba kalian tanya ilmu apa sih yang aku pakai sampe bisa menghilangkan wujud begini? Karena itu pertanyaan penting, coba tanya.”
            Pintu sebelah kiri di ujung lorong, terbuka sendiri ke dalam. Mereka berdua sudah tidak kaget lagi seperti sebelumnya. Sebagai gantinya, mereka berdua berdiri di depan Dokter Camp. Mereka ingin memastikan kalo wujud Dokter Camp benar-benar tembus pandang dan tak terlihat.
            “Dari pintu ini kalian lurus saja, nanti disana silahkan kalian duduk di tiga kursi yang kusediakan. Maaf yaa kalo saya jalan duluan sampai ke kamarku.” Terdengar suara Dokter dari dalam kamar, lalu ada sebuah kursi yang bergerak sendiri seperti diseret. Saat mereka masuk, kamar Dokter ternyata seperti sebuah laboratorium kimia. Langit-langitnya tinggi, tembok putih di sekitarnya sudah kotor terkena cipratan bahan kimia. Di sekitar tembok ada lemari bahan kimia, dan tumpukan majalah-majalah yang menggunung sampai tidak ada celah. Di tengah-tengahnya ada sebuah rak besar yang isinya berderet bagaikan hutan seperti: pipa tes, selang, gelas kimia, tabung kimia yang terbuat dari kaca, serta alat-alat lainnya untuk percobaan. Kursi mereka bertiga ada di depan rak tersebut.
            Hitomi dan Tousuke terkagum-kagum sampai membulatkan mata melihat laboratorium yang tidak biasa ini. Sebuah tabung kimia melayang-melayang seperti dipegang seseorang.
            “Hah!”
            Tabung kimia itu melayang horizontal lagi dan kembali ke tempat semula. Selanjutnya gelas kimia juga ikut melayang sendiri lalu setelah itu kembali ke tempat semula. Pipa tesnya berbunyi klotok-klotok lalu masuk ke rak yang berarah horizontal. Tiba-tiba saja terdengar suara seperti tumpahan air. Memang ada air yang keluar deras dari botol yang terbuka sumbatnya. Lalu sebuah gelas kimia besar bergerak untuk mengambil air. Tidak sampai delapan menit semua air masuk ke gelas itu. Sumbat botol itu bergerak sendiri menutup mulut botol, dan airnya berhenti. Kali ini, gelas kimia itu kembali ke rak penelitian. Kemudian, kap lampu alkohol itu terbang dan turun ke rak. Lalu korek yang ada di rak juga ikut terbang dan sebatang korek api seperti digosok ke bungkus korek apinya. Muncul api dari batang korek apinya. Api itu mendekat ke sumbu lampu alkohol. Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dan muncul cahaya biru yang menyala-nyala tinggi. Lalu spesimen dan saringan terbang bersamaan lalu melayang di lampu alkohol. Gelas kimia berisi air itu terbang dan mendarat di atas saringan dan spesimen. Api biru di bawah gelas kimia mulai menghangatkannya.
            Hitomi dan Tousuke menelan ludah dan nggak bergerak sedikit pun melihat peralatan yang menari-nari heboh di angkasa. Saat itu dari seberang rak yang tersinari lampu alkohol, terdengar suara dehem yang khas. Sepertinya Dokter Camp sedang duduk di seberang rak. Suara derit kursi terdengar dari atas lantai.
            “Camp, bagaimana caranya kamu bisa membuat badanmu jadi transparan begitu?” Profesor Polder ngomong ke arah seberang rak. Dokter yang tak berwujud itu berdiri sambil berdehem.
            “Bukan transparan tapi tak terlihat.” Kata Dokter dengan nada yang sepertinya marah.
            “Aku menghabiskan bertahun-tahun untuk penelitian ini. Aku juga sudah menghabiskan banyak uang. Aku sampai meminta uang ke Ayahku. Aku merasa penelitian ini akan memakan waktu tiga tahun, tapi ternyata tidak bisa. Lalu aku menjual rumah dan lima tahun kemudian aku mendapat upah hasil penelitianku. Aku butuh waktu lima tahun, perkiraanku soal penelitian yang akan berhasil ternyata meleset, berakhir dengan masalah besar, dan sekarang penelitianku gagal total. Saking kecewanya aku sampai tidur selama seminggu kayak orang mati. Lalu aku bangkit lagi danharus memulai dari awal lagi dengan kembali mengacu ke draf. Bagaimana dengan biaya penelitiannya? Aku lanjut melakukan penelitian tanpa makan. Aku menjual semua barang yang ada. Aah, sampai cincin peninggalan ibuku yang baik itu pun aku jual. Untuk bertahan dari dinginnya musim dingin, aku sampai menyerahkan mantelku pada orang lain. Sebagai seorang ilmuwan, aku harus menjual tiga ribu eksemplar buku penelitianku yang telah ku pertaruhkan dengan nyawaku. Aku juga melepas tempat tidurku. Rumah ini pun akan roboh. Yang tersisa hanya kamar yang hampir mau roboh ini. Semua peralatan penelitianku secara tidak langsung jadi alat rumah tangga. Tapi aku tetap semangat mempertaruhkan penelitianku yang terakhir ini. Saat itu saking parahnya sampai aku merasa kalo kesehatanku tidak akan membaik. Walaupun aku tenggelam dalam rasa galauku setiap hari, aku tetap melanjutkan penelitianku.Dan akhirnya tanggal sebelas Oktober....aku tidak mungkin lupa. Sebelas Oktober!Saat cahaya matahari fajar menembus jendela, penelitian yang kukerjakan begadang sampai tiga hari akhirnya mendapat pengakuan. Liat! Di atas telapak tanganku ada seutas benang kan. Aku memang menyentuhnya tapi wujudnya tak terlihat. Aku meminjam kekuatan dinamo lalu benang itu benar-benar tak terlihat.”

-BERSAMBUNG-

Thursday, February 23, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 7



Nama yang Sepertinya Pernah Didengar
           “Hei kalian! Bangun, dong!” suara Profesor Polder sukses membangunkan Hitomi dan Tousuke dari tidurnya. Profesor Polder melemaskan bahunya di kursi kokpit sambil mengoperasikan tombol-tombol mesin dan melihat meteran bahan bakar. Kemanakah roket tong ini akan terbang?
            “Profesor Polder, kita mau pergi ke negeri ajaib mana lagi, nih?” Tousuke yang duduk di belakang Profesor, mulai angkat bicara.
            “Tempat yang akan kita datangi kali ini....makhluknya agak aneh. Mungkin kalian akan merasa ketakutan dan minta pulang.”
            “Jangan khawatir. Aku selalu ingin melihat hal yang aneh dan terkadang mencarinya.”
            “Aku juga tidak takut, Profesor Polder. Apa makhluk aneh itu semacam hantu biksu mata satu? Atau hantu wanita leher panjang?”
            “Huwahahaha....kalian pemberani, ya. Bukan. Bukan hantu biksu mata satu atau pun hantu wanita leher panjang. Dan bukan hantu juga. Dia hidup, kok. Dia sarjana yang berotak sangat cerdas. Ilmu pengetahuan Profesor di universitas, tidak akan bisa menandingi ilmu pengetahuannya. Saking tak tertandinginya sampai-sampai tidak ada yang bisa mengalahkannya.
            “Profesor, memangnya apa yang dia pelajari?”
            “Optik. Dia mempelajari ilmu cahaya. Ilmu refleksi cahaya, ilmu pembelokan cahaya, ilmu penyerapan cahaya dan lain sebagainya. Pengetahuan seperti itulah yang paling berpengaruh disana.”
            “Oh, ternyata ilmu pasti ya. Itu sih biasa.”
            “Tidak juga. Perbedaannya jauh sekali. Nanti kalian akan bertemu dengan Camp, ah! Lebih tepatnya dokter Camp. Kalo kalian ketemu dengannya, kalian akan langsung tau. Kalian akan langsung tau dalam sekali liat.”
            “Dokter Camp, yaa. Yaah, memang rasanya aku pernah dengar nama itu, sih.” Tousuke mengingat-ingat tapi setelah itu tidak bisa mengingatnya.
            “Ooh! Di bawah sini! Pesawat ini akan menukik dan kalian akan merasa pusing.” Bersamaan dengan suara Profesor, pesawat mulai mendarat ke bawah. Kepala mereka memang terasa pening.
            “Sudah oke. Ayo kita keluar.” Suara Profesor menenangkan mereka berdua. Tenang. Rasanya perasaan mereka seperti terbang. Lalu Profesor membuka pintu yang terhubung dengan ruang non-Euclidian dan keluar. Di depan mereka, ada bangunan tua bergaya Barat. Catnya sudah terkelupas di sana-sini dan atapnya pun miring. Pada jendelanya terpasang hiasan jelek dan tidak ada jendela yang terbuka. Mungkin....ini rumah kosong. Tidak, ini bukan rumah kosong. Ada asap hitam yang keluar dari cerobongnya. Di dalam kompor, ada batu bara yang terbakar. Kalau begitu tidak salah lagi, pasti ada orang disini.
            Setelah menyembunyikan tong terbangnya diantara rerumputan, mereka menaiki tangga batu dan berdiri di depan teras. Di atasnya tergantung dua-tiga tali. Walaupun nggak ngerti apa yang dibicarakannya, tapi memang terdengar sayup-sayup suara dari dalam rumah. Setelah bel di sebelah pintu berbunyi, tiba-tiba pintunya terbuka ke dalam.
            “Seperti yang aku bilang sebelumnya. Mereka lah yang ingin bertemu dengan Anda.”Profesor mengenalkan Hitomi dan Tousuke kepada orang dalam rumah. Mereka berdua lalu membungkuk. Tapi....tidak ada seorang pun di dalam rumah.
            “Kalian, ayo masuk. Cepat!” Tiba-tiba saja muncul suara yang keras dan kasar dari dalam rumah.
            “Kalian berdua, ayo silahkan masuk.” Sambil merangkul Profesor, Tousuke dan Hitomi masuk ke dalam. Tapi anehnya tidak ada seorang pun di lorong setelah teras.
            “Profesor Polder, dimana dokter itu?” Saat Hitomi bertanya begitu, tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang berdehem parah di belakang mereka berdua. Mereka berdua sampai kaget lalu berbalik ke belakang. Tapi memang tidak ada apa-apa. Sebagai gantinya kejadian agak aneh seperti pintu teras yang menutup sendiri. Gerendel kunci juga tiba-tiba saja bergerak sendiri. Bunyinya terdengar jelas. Hitomi dan Tousuke sudah meluk lengan kiri-kanan Profesor, seperti orang yang sedang kedinginan.
            “Rumah hantu......”
            “Ada hantu yang nggak terlihat disini. Hantu apa sih?”

-BERSAMBUNG-

Tuesday, February 21, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 6



Monster Hijau
            Apa dari kejauhan terlihat sesuatu? Awalnya terlihat seperti ombak yang sedang bergulung di laut berwarna hijau. Tapi setelah itu mereka sadar kalau itu salah. Ternyata itu adalah monster berwarna hijau yang sedang semangat menari. Saking banyaknya, sampai-sampai bikin mereka ketakutan.
            “A...a...apa itu....?!”
            “Mereka menuju kemari! Hii, sereem!”
            “Itu apa, Profesor hmm....Polder?” Tousuke yang berdiri di belakang Profesor, bertanya padanya.
            “Mereka akan datang kemari. Kalau mereka datang, nanti juga kalian akan tau.” Sebenarnya Profesor tidak bermaksud ngomong seperti ini. Makhluk apa yang disebut `mereka` oleh Profesor? Mata mereka berdua melotot. Mereka tau kalau kawanan monster itu akan semakin mendekat. Di atas kepala mereka, ada tangan panjang melambai-lambai menari. Badan mereka semua ramping berwarna hijau. Ada juga yang dihiasi semacam bunga-bunga di tubuh mereka.
            “Apa sih itu? Aku tidak pernah liat yang begitu.”
            “Kalau mereka tidak bergerak, jadi seperti hutan tropis. Tapi mereka bukan hutan. Hutan kan tenang. Sedangkan mereka menari-nari aneh begitu. Ah, tidak! Mereka semakin mendekat! Perasaanku jadi nggak enak.”
            Entah sejak kapan, Hitomi sudah mendekat ke Tousuke. Ia merangkul lengan Tousuke kuat-kuat. Saat para monster itu mendekat ke arah mereka berdua, mereka dikagetkan dengan kedahsyatan semangat mosnter-monster itu. Para monster itu mendekat seperti air bah saja. Di saat itu juga, Tousuke berusaha keras untuk menangkap badan monster itu.
            “Hitomi, ternyata mereka cuma pohon lho.Tumbuhan merambat gitu. Semuanya tumbuhan, lho. Tumbuhan ternyata bisa menari, ya. Eh, bukan! Mereka ingin menyerang kita! Ini bahaya!”
            “Aah, perasaanku nggak enak. Masa tumbuhan bisa bergerak? Itu pohon palem. Ah! Ada pohon Mangrove juga! Kalo tumbuhan yang seperti ular biru itu pasti tumbuhan merambat. Ih, menakutkan!”
            “Aneh! Benar-benar aneh! Baru sekarang ini aku lihat tumbuhan yang seperti itu! Aku juga tidak pernah dengar ada yang seperti ini. Tumbuhan yang aneh. Tumbuhan yang bisa bergerak!”
            Hitomi dan Tousuke menahan napas saking anehnya pemandangan yang mereka liat. Semakin lama mereka semakin mendekat, dan semakin jelas juga wujud aneh mereka. Buah pohon palem terlihat semakin membesar, menggantung di ujung dahannya dan menjulang cepat ke langit. Pohon Mangrove yang memanjangkan cabang seperti kaki dan tangannya, lalu mengarahkan cabang itu kemari. Bunga kembang sepatu menyemprotkan semacam asap. Kemudian bunga merah besar yang disangka akan mekar ternyata bunga-bunga yang mekar itu jadi menguncup. Mekar-kuncup-mekar-kuncup terus begitu. Rasanya bunga itu seperti bernapas saja.
            Entah sejak kapan, tumbuhan merambat itu tiba-tiba mendekat lalu menancap ke tanah. Saking kagetnya, Hitomi sampai teriak. Tapi terlambat! Tubuh Hitomi sudah terikat oleh si tanaman merambat! Lalu ujung dahan pohon merambat itu membentuk semacam ular lalu merayap di bahu Hitomi.
            “Mau apa tumbuhan sialan ini?” Tousuke bermaksud ingin melawan tumbuhan merambat itu untuk menyelamatkan Hitomi. Tapi Tousuke dikalahkan dengan mudah oleh tumbuhan merambat itu. Nggak sampai dua menit, tubuh Tousuke pun dililit oleh tumbuhan merambat. Hitomi dan Tousuke hanya bisa berteriak. Mereka berdua telah disudutkan oleh rerumputan dan pohon. Cahaya matahari pun sampai terhalangi karena mereka. Rasanya seperti berada di hutan lebat. Bukan! Hutan lebat itu adalah para monster hijau yang sedang berkumpul dan menari-nari mengelilingi mereka.
            “To...tolong, kami....”
            “Tolong kami, Profesor Polder.”
            “Hahahahaha....kalian benar-benar teriak minta tolong padaku, ya. Oke, aku akan menolong kalian. Tapi, kalian mengerti kan kalo tumbuhan pun bisa bergerak? Punya insting dan masuk ke dalam dunia makhluk hidup?”
            “Iyaa, tapi mereka semua tumbuhan ajaib. Monster tumbuhan!”
            “Bukan! Mereka tumbuhan biasa. Sekarang aku akan menyuntik kalian, nanti kalian juga akan mengerti.”
            Profesor menyuntik mereka berdua.
            Seketika itu, terjadi hal yang ajaib. Pohon-pohon yang tadinya sedang menari, sekarang menjadi tenang, benar-benar tenang. Dilihat darimana pun, benar-benar seperti hutan hujan tropis. Profesor memotong tumbuhan merambat di tubuh mereka berdua. Sambil tertawa, Profesor menjelaskan soal tadi.
            “Kalian merasa kalo kita sudah tiga puluh menit sejak datang kesini, kan? Sebenarnya kita sudah tiga tahun berada disini. Intinya karena suntikan yang aku berikan itu kalian bisa melihat tanaman yang tumbuh lebat itu dalam tiga puluh menit, yang seharusnya tiga tahun. Dengan membelokkan waktu seperti ini, kalian jadi mengerti kan kenapa tumbuhan ini terlihat seperti hidup? Bagaimana? Menarik kan?”
            Tousuke dan Hitomi menghela napas panjang. Mereka sudah tenang.

-BERSAMBUNG-

Wednesday, February 15, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 5


Suntik apa?!

            Profesor tidak mengatakan apa-apa soal tempat tujuan tong ini. Dia hanya bilang nanti akan tau kalo liat sendiri. Tousuke dan Hitomi lebih penasaran dengan bagaimana keadaan negeri itu daripada melihat pemandangan di depan. Dan mereka terus merayu Profesor. Profesor terlihat cuek bukannya marah. Akhirnya Profesor bicara juga dari celah pipa walau cuma sebentar.

            “Apa saja yang hidup di dunia kalian?”

            “Dunia kami? Hmm....manusia.” Tousuke menjawab pertanyaan Profesor.

            “Cuma manusia? Ada semut dan pohon sakura juga kan?”

            “Oh, iya. Aku ralat jawabanku tadi. Di dunia kami banyak binatang. Dunia binatang juga dunia manusia.” Tousuke menoleh ke arah Hitomi untuk memastikan jawabannya. Hitomi pun mengangguk.

            “Oh, begitu ya.” Kata Profesor.

            “Aku mau tanya lagi. Apa yang bergerak di dunia kalian?”

            Rasanya jadi seperti seorang narasumber.

            “Yaa, makhluk hidup. Manusia, kuda, burung, ikan, lalu kumbang, kupu-kupu, ulat, semua makhluk hidup.” Ini jawaban Hitomi.

            “Apa ada lagi selain itu?”

            “Selain makhluk hidup, tidak ada yang bergerak. Karena makhluk hidup memakai kanji `bergerak`, jadi yang bisa bergerak yaa cuma makhluk hidup.” Hitomi merasa percaya diri menjawabnya.

            “Oh, begitu ya. Kalau begitu, aku mau tanya lagi. Apa yang mempunyai insting di dunia kalian? Misalnya ingin pergi ke suatu tempat, maka akan pergi. Kalo merasa dingin, maka akan berusaha melindungi diri dari rasa dingin. Menghirup udara segar, kalau ingin minum pasti akan minum. Apakah itu?”

            “Itulah makhluk hidup.”

            “Aku juga berpikir begitu. Itu makhluk hidup.”

            Mereka berdua menjawab begitu. Seperti memang begitulah kenyataannya.            “Oh, begitu ya.” Sahut Profesor seperti ragu.

            Kenapa Profesor seperti meragukan hal itu? Rasanya Hitomi dan Tousuke ingin bertanya begitu pada Profesor.

            “Berarti dunia kalian tuh dunia makhluk hidup. Sesuatu yang bergerak di muka bumi disebut makhluk hidup. Sesuatu yang punya insting atau keinginan untuk melakukan sesuatu pun makhluk hidup. Kalian bilang begitu, kan. Aku harap kalian mengingat kata-kataku ini. Setelah itu, aku akan bertanya hal yang sama lagi pada kalian.” Kata-kata Profesor terkesan misterius.

            “Selagi kita ngobrol, kita telah sampai. Kita akan mendarat di negeri ajaib itu. Mungkin nanti agak sedikit pusing tapi bertahanlah, ya.” Bersamaan setelah Profesor selesai ngomong, terdengar suara aneh. Lama-lama berubah menjadi nada aneh. Hati mereka berdua mendadak merasa nggak enak. Rasanya pengen muntah.

            Sebentar saja nada itu menghilang. Suara aneh itu pun menghilang. Getarannya pun menghilang. Dengan malas-malasan, Profesor berdiri dari ruang kokpit.

            “Kita sudah sampai di negeri itu. Kita akan turun, tapi sebelumnya kita harus disuntik khusus dulu. Soalnya kalo tidak disuntik, nanti kalian tidak bisa melihat sesuatu yang menarik. Ayo mana lengan kalian.” Entah sejak kapan, tangan Profesor sudah memegang suntikan saja.

            Karena sudah datang sampai sini, mau nggak mau Hitomi dan Tousuke hanya bisa nurut kata-kata Profesor. Mereka menutup mata dan Profesor menyuntik lengan mereka. Jangankan sakit, geli aja nggak! Perasaan mereka pun sama sekali nggak berubah. Hanya saja perasaan mereka jadi lebih baik dari sebelumnya.

            “Ayo kita keluar dari sini.”Profesor berdiri di depan mereka lalu membuka pintu. Pintu masuk besar dan bulat seperti berdiameter dua meter, terbuka. Diluar tidak terlihat apa-apa karena gelap. Hitomi dan Tousuke memegang tangan Profesor lalu menghitung one, two, three dan lompat! Suara seperti petir itu lagi-lagi terdengar bikin sesak napas. Sama seperti sebelumnya. Dan tiba-tiba saja cerah.

            Matahari bersinar terik di atas kepala. Angin pun bertiup sepoi-sepoi. Permukaannya ternyata padang pasir. Saat berbalik, tong kecil yang diliat mereka pas di ruang bawah tanah, tergeletak di atas pasir. Lalu mereka diselimuti kabut putih. Hitomi dan Tousuke mengira asap putih ini berasal dari tong itu. Makanya mereka tidak merasa aneh.

            “Ini dimana? Mana hal menariknya?”

            “Masih belum sadar juga? Coba liat kesana.” Profesor menunjuk ke arah horison. Hitomi dan Tousuke menengok ke arah yang ditunjuk Profesor. Wajah mereka berdua benar-benar keliatan sangat kaget.

-BERSAMBUNG-