Nama
yang Sepertinya Pernah Didengar
“Hei kalian!
Bangun, dong!” suara Profesor Polder sukses membangunkan Hitomi dan Tousuke
dari tidurnya. Profesor Polder melemaskan bahunya di kursi kokpit sambil
mengoperasikan tombol-tombol mesin dan melihat meteran bahan bakar. Kemanakah
roket tong ini akan terbang?
“Profesor
Polder, kita mau pergi ke negeri ajaib mana lagi, nih?” Tousuke yang duduk di
belakang Profesor, mulai angkat bicara.
“Tempat
yang akan kita datangi kali ini....makhluknya agak aneh. Mungkin kalian akan
merasa ketakutan dan minta pulang.”
“Jangan
khawatir. Aku selalu ingin melihat hal yang aneh dan terkadang mencarinya.”
“Aku
juga tidak takut, Profesor Polder. Apa makhluk aneh itu semacam hantu biksu
mata satu? Atau hantu wanita leher panjang?”
“Huwahahaha....kalian
pemberani, ya. Bukan. Bukan hantu biksu mata satu atau pun hantu wanita leher
panjang. Dan bukan hantu juga. Dia hidup, kok. Dia sarjana yang berotak sangat
cerdas. Ilmu pengetahuan Profesor di universitas, tidak akan bisa menandingi
ilmu pengetahuannya. Saking tak tertandinginya sampai-sampai tidak ada yang
bisa mengalahkannya.
“Profesor,
memangnya apa yang dia pelajari?”
“Optik.
Dia mempelajari ilmu cahaya. Ilmu refleksi cahaya, ilmu pembelokan cahaya, ilmu
penyerapan cahaya dan lain sebagainya. Pengetahuan seperti itulah yang paling
berpengaruh disana.”
“Oh,
ternyata ilmu pasti ya. Itu sih biasa.”
“Tidak
juga. Perbedaannya jauh sekali. Nanti kalian akan bertemu dengan Camp, ah!
Lebih tepatnya dokter Camp. Kalo kalian ketemu dengannya, kalian akan langsung
tau. Kalian akan langsung tau dalam sekali liat.”
“Dokter
Camp, yaa. Yaah, memang rasanya aku pernah dengar nama itu, sih.” Tousuke
mengingat-ingat tapi setelah itu tidak bisa mengingatnya.
“Ooh!
Di bawah sini! Pesawat ini akan menukik dan kalian akan merasa pusing.”
Bersamaan dengan suara Profesor, pesawat mulai mendarat ke bawah. Kepala mereka
memang terasa pening.
“Sudah
oke. Ayo kita keluar.” Suara Profesor menenangkan mereka berdua. Tenang. Rasanya
perasaan mereka seperti terbang. Lalu Profesor membuka pintu yang terhubung
dengan ruang non-Euclidian dan
keluar. Di depan mereka, ada bangunan tua bergaya Barat. Catnya sudah
terkelupas di sana-sini dan atapnya pun miring. Pada jendelanya terpasang
hiasan jelek dan tidak ada jendela yang terbuka. Mungkin....ini rumah kosong.
Tidak, ini bukan rumah kosong. Ada asap hitam yang keluar dari cerobongnya. Di
dalam kompor, ada batu bara yang terbakar. Kalau begitu tidak salah lagi, pasti
ada orang disini.
Setelah
menyembunyikan tong terbangnya diantara rerumputan, mereka menaiki tangga batu
dan berdiri di depan teras. Di atasnya tergantung dua-tiga tali. Walaupun nggak
ngerti apa yang dibicarakannya, tapi memang terdengar sayup-sayup suara dari
dalam rumah. Setelah bel di sebelah pintu berbunyi, tiba-tiba pintunya terbuka
ke dalam.
“Seperti
yang aku bilang sebelumnya. Mereka lah yang ingin bertemu dengan Anda.”Profesor
mengenalkan Hitomi dan Tousuke kepada orang dalam rumah. Mereka berdua lalu
membungkuk. Tapi....tidak ada seorang pun di dalam rumah.
“Kalian,
ayo masuk. Cepat!” Tiba-tiba saja muncul suara yang keras dan kasar dari dalam
rumah.
“Kalian
berdua, ayo silahkan masuk.” Sambil merangkul Profesor, Tousuke dan Hitomi
masuk ke dalam. Tapi anehnya tidak ada seorang pun di lorong setelah teras.
“Profesor
Polder, dimana dokter itu?” Saat Hitomi bertanya begitu, tiba-tiba terdengar suara
orang yang sedang berdehem parah di belakang mereka berdua. Mereka berdua
sampai kaget lalu berbalik ke belakang. Tapi memang tidak ada apa-apa. Sebagai
gantinya kejadian agak aneh seperti pintu teras yang menutup sendiri. Gerendel
kunci juga tiba-tiba saja bergerak sendiri. Bunyinya terdengar jelas. Hitomi
dan Tousuke sudah meluk lengan kiri-kanan Profesor, seperti orang yang sedang
kedinginan.
“Rumah
hantu......”
“Ada
hantu yang nggak terlihat disini. Hantu apa sih?”
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment