Thursday, February 23, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 7



Nama yang Sepertinya Pernah Didengar
           “Hei kalian! Bangun, dong!” suara Profesor Polder sukses membangunkan Hitomi dan Tousuke dari tidurnya. Profesor Polder melemaskan bahunya di kursi kokpit sambil mengoperasikan tombol-tombol mesin dan melihat meteran bahan bakar. Kemanakah roket tong ini akan terbang?
            “Profesor Polder, kita mau pergi ke negeri ajaib mana lagi, nih?” Tousuke yang duduk di belakang Profesor, mulai angkat bicara.
            “Tempat yang akan kita datangi kali ini....makhluknya agak aneh. Mungkin kalian akan merasa ketakutan dan minta pulang.”
            “Jangan khawatir. Aku selalu ingin melihat hal yang aneh dan terkadang mencarinya.”
            “Aku juga tidak takut, Profesor Polder. Apa makhluk aneh itu semacam hantu biksu mata satu? Atau hantu wanita leher panjang?”
            “Huwahahaha....kalian pemberani, ya. Bukan. Bukan hantu biksu mata satu atau pun hantu wanita leher panjang. Dan bukan hantu juga. Dia hidup, kok. Dia sarjana yang berotak sangat cerdas. Ilmu pengetahuan Profesor di universitas, tidak akan bisa menandingi ilmu pengetahuannya. Saking tak tertandinginya sampai-sampai tidak ada yang bisa mengalahkannya.
            “Profesor, memangnya apa yang dia pelajari?”
            “Optik. Dia mempelajari ilmu cahaya. Ilmu refleksi cahaya, ilmu pembelokan cahaya, ilmu penyerapan cahaya dan lain sebagainya. Pengetahuan seperti itulah yang paling berpengaruh disana.”
            “Oh, ternyata ilmu pasti ya. Itu sih biasa.”
            “Tidak juga. Perbedaannya jauh sekali. Nanti kalian akan bertemu dengan Camp, ah! Lebih tepatnya dokter Camp. Kalo kalian ketemu dengannya, kalian akan langsung tau. Kalian akan langsung tau dalam sekali liat.”
            “Dokter Camp, yaa. Yaah, memang rasanya aku pernah dengar nama itu, sih.” Tousuke mengingat-ingat tapi setelah itu tidak bisa mengingatnya.
            “Ooh! Di bawah sini! Pesawat ini akan menukik dan kalian akan merasa pusing.” Bersamaan dengan suara Profesor, pesawat mulai mendarat ke bawah. Kepala mereka memang terasa pening.
            “Sudah oke. Ayo kita keluar.” Suara Profesor menenangkan mereka berdua. Tenang. Rasanya perasaan mereka seperti terbang. Lalu Profesor membuka pintu yang terhubung dengan ruang non-Euclidian dan keluar. Di depan mereka, ada bangunan tua bergaya Barat. Catnya sudah terkelupas di sana-sini dan atapnya pun miring. Pada jendelanya terpasang hiasan jelek dan tidak ada jendela yang terbuka. Mungkin....ini rumah kosong. Tidak, ini bukan rumah kosong. Ada asap hitam yang keluar dari cerobongnya. Di dalam kompor, ada batu bara yang terbakar. Kalau begitu tidak salah lagi, pasti ada orang disini.
            Setelah menyembunyikan tong terbangnya diantara rerumputan, mereka menaiki tangga batu dan berdiri di depan teras. Di atasnya tergantung dua-tiga tali. Walaupun nggak ngerti apa yang dibicarakannya, tapi memang terdengar sayup-sayup suara dari dalam rumah. Setelah bel di sebelah pintu berbunyi, tiba-tiba pintunya terbuka ke dalam.
            “Seperti yang aku bilang sebelumnya. Mereka lah yang ingin bertemu dengan Anda.”Profesor mengenalkan Hitomi dan Tousuke kepada orang dalam rumah. Mereka berdua lalu membungkuk. Tapi....tidak ada seorang pun di dalam rumah.
            “Kalian, ayo masuk. Cepat!” Tiba-tiba saja muncul suara yang keras dan kasar dari dalam rumah.
            “Kalian berdua, ayo silahkan masuk.” Sambil merangkul Profesor, Tousuke dan Hitomi masuk ke dalam. Tapi anehnya tidak ada seorang pun di lorong setelah teras.
            “Profesor Polder, dimana dokter itu?” Saat Hitomi bertanya begitu, tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang berdehem parah di belakang mereka berdua. Mereka berdua sampai kaget lalu berbalik ke belakang. Tapi memang tidak ada apa-apa. Sebagai gantinya kejadian agak aneh seperti pintu teras yang menutup sendiri. Gerendel kunci juga tiba-tiba saja bergerak sendiri. Bunyinya terdengar jelas. Hitomi dan Tousuke sudah meluk lengan kiri-kanan Profesor, seperti orang yang sedang kedinginan.
            “Rumah hantu......”
            “Ada hantu yang nggak terlihat disini. Hantu apa sih?”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment