Thursday, February 2, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 1



PR Musim Panas
            Hitomi dan Tousuke menjelajah padang rumput yang menguning dengan keringat membanjiri badan mereka. Sore hari ini telah mendekati akhir musim panas. Langit juga mendung pertanda badai akan datang. Pergerakan awan pun semakin cepat. Tousuke menurunkan tas serangga dan botol racun yang diikat dengan tali di bahu. Jaring serangga yang dibawanya, ia pegang. Sedangkan Hitomi menenteng tas berisi kumpulan tumbuhan di pundaknya dengan tali. Dua anak ini teman sekelas. Karena mereka belum menemukan spesimen untuk PR musim panasnya, maka hari ini mereka pergi untuk tujuan itu. Hari ini bagaimanapun juga Tousuke ingin menangkap kupu-kupu Ageha, capung gede, capung laut, apa saja pokoknya serangga. Sedangkan Hitomi ingin mencari rumput Kaya atau bunga Aster. Tapi sayangnya apa yang mereka inginkan, tidak bisa mereka dapatkan.
           “Sudahlah, Tousuke. Mau dicari bagaimanapun juga nggak bakalan ketemu, deh. Kita nyerah aja terus pulang, yuuk.”
            “Nggak, aku nggak mau! Ayo dong lebih semangat lagi nyarinya! Karena rumputnya cuma tumbuh segini, pasti bakal ketemu di suatu tempat.”
            “Mungkin sih. Tapi kan kamu nggak dapet capungnya juga, Tousuke.”
            “Capungnya cuma ada sedikit. Lagipula pasti semuanya sudah pada terbang ke langit, jadi nggak mungkin turun ke bawah.”
            “Apa jangan-jangan karena kita nyari di padang rumput menguning itu ya?”
            “Habisnya apa boleh buat. Di sekitar sini nggak ada tempat lain selain padang rumput menguning itu.”
            “Iya juga sih.” Hitomi memandang sekeliling padang rumput yang tersinari cahaya matahari, lalu menghela napas. Tousuke lagi-lagi kehilangan capungnya.
            “Tugas penelitian Hitomi seperti apa?” tanya Tousuke.
            “Tugas penelitianku? Tentang geometri Euclidian.”
            “Geometri Euclidian, yaa. Pasti susah.”
            “Ah, nggak juga kok. Kalau kamu apa, Tousuke?”
            “Kalau aku sih tentang hubungan antara arwah dengan UFO.”
            “Hubungan arwah dan UFO? Waah, menarik ya!”
            “Menarik sih tapi aku belum pernah melihat keduanya. Jadi mana mungkin aku menulisnya?”
            “Kalo arwah aku pernah melihatnya sekali.”
            “Haah?! Yang bener?! Kamu beneran pernah liat arwah, Hitomi?! Bentuknya seperti apa? Terus warnanya apa?”
            “Kejadiannya malam Agustus sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu aku mau pergi mandi sama Ibu. Dan saat kami pulang lewat kuburan bambu, aku liat sesuatu yang aneh......e-eh, Tousuke! Kok disitu ada sesuatu yang terbang gitu. Ah! Dia menuju kemari!”Hitomi tiba-tiba menghentikan pembicaraannya soal arwah. Tangannya menunjuk ke arah langit dengan suara yang terdengar seperti ketakutan.
            “Eh? Apa?! Dimana?!”
            Tousuke yang sedang duduk di atas batu, langsung berdiri saking kagetnya. Matanya ikut melihat ke arah telunjuk Hitomi.
            “Disana, tau! Disanaa! Tuh!Kayak ada benda bulat gitu di langit, kan?Ada jejak asap juga di belakangnya.”
            “Ah, yang itu! Iya, benar terbang! Terbang! Itu bukan pesawat! Itu benda aneh! Benda aneh yang terbang di langit!” Tousuke merasa merinding saat melihat benda aneh itu. Benda itu bentuknya bulat dan hitam sekali. Mereka tidak tahu benda apa itu. Asap yang keluar di belakang benda itu cenderung berwarna cokelat. Cara terbangnya pun tidak lurus, melainkan belak-belok nggak jelas.
            “Tousuke, apa itu bukan UFO ya?!” Seru Hitomi.
            “Mungkin. Tadinya sih aku juga mikir begitu, tapi benda itu agak beda dengan UFO. Iya kan? Abisnya bentuknya nggak benar-benar bulat. Bentuknya lebih seperti bola rugby yang ada sudut di dua sisinya.”
            “Kalo dari buku dongeng Barat nih, ada juga lho yang pernah liat bentuknya seperti tong.”
            Di saat mereka berdua sedang asik berdebat, benda aneh itu semakin mendekat dengan suaranya yang menakutkan. Dan saat itu juga tiba-tiba benda tersebut jatuh dari langit. Benda itu jatuh menimpa tumpukan pecahan atap dan batu dari puing-puing rumah besar. Jaraknya dari tempat mereka berdiri sekitar lima puluh meter. Mereka memang melihat benda itu jatuh dan terdengar gema yang seperti mengguncang dunia. Mereka sadar bahwa kaki mereka sekarang ini jadi gemetaran. Saking takutnya wajah Tousuke dan Hitomi putih pucat seperti kertas, dan mereka saling berpelukan.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment