Monster
Hijau
Apa
dari kejauhan terlihat sesuatu? Awalnya terlihat seperti ombak yang sedang
bergulung di laut berwarna hijau. Tapi setelah itu mereka sadar kalau itu
salah. Ternyata itu adalah monster berwarna hijau yang sedang semangat menari.
Saking banyaknya, sampai-sampai bikin mereka ketakutan.
“A...a...apa
itu....?!”
“Mereka
menuju kemari! Hii, sereem!”
“Itu
apa, Profesor hmm....Polder?” Tousuke yang berdiri di belakang Profesor,
bertanya padanya.
“Mereka
akan datang kemari. Kalau mereka datang, nanti juga kalian akan tau.”
Sebenarnya Profesor tidak bermaksud ngomong seperti ini. Makhluk apa yang
disebut `mereka` oleh Profesor? Mata mereka berdua melotot. Mereka tau kalau
kawanan monster itu akan semakin mendekat. Di atas kepala mereka, ada tangan
panjang melambai-lambai menari. Badan mereka semua ramping berwarna hijau. Ada
juga yang dihiasi semacam bunga-bunga di tubuh mereka.
“Apa
sih itu? Aku tidak pernah liat yang begitu.”
“Kalau
mereka tidak bergerak, jadi seperti hutan tropis. Tapi mereka bukan hutan.
Hutan kan tenang. Sedangkan mereka menari-nari aneh begitu. Ah, tidak! Mereka
semakin mendekat! Perasaanku jadi nggak enak.”
Entah
sejak kapan, Hitomi sudah mendekat ke Tousuke. Ia merangkul lengan Tousuke
kuat-kuat. Saat para monster itu mendekat ke arah mereka berdua, mereka
dikagetkan dengan kedahsyatan semangat mosnter-monster itu. Para monster itu mendekat
seperti air bah saja. Di saat itu juga, Tousuke berusaha keras untuk menangkap
badan monster itu.
“Hitomi,
ternyata mereka cuma pohon lho.Tumbuhan merambat gitu. Semuanya tumbuhan, lho.
Tumbuhan ternyata bisa menari, ya. Eh, bukan! Mereka ingin menyerang kita! Ini
bahaya!”
“Aah,
perasaanku nggak enak. Masa tumbuhan bisa bergerak? Itu pohon palem. Ah! Ada
pohon Mangrove juga! Kalo tumbuhan yang seperti ular biru itu pasti tumbuhan
merambat. Ih, menakutkan!”
“Aneh!
Benar-benar aneh! Baru sekarang ini aku lihat tumbuhan yang seperti itu! Aku
juga tidak pernah dengar ada yang seperti ini. Tumbuhan yang aneh. Tumbuhan
yang bisa bergerak!”
Hitomi
dan Tousuke menahan napas saking anehnya pemandangan yang mereka liat. Semakin
lama mereka semakin mendekat, dan semakin jelas juga wujud aneh mereka. Buah
pohon palem terlihat semakin membesar, menggantung di ujung dahannya dan
menjulang cepat ke langit. Pohon Mangrove yang memanjangkan cabang seperti kaki
dan tangannya, lalu mengarahkan cabang itu kemari. Bunga kembang sepatu
menyemprotkan semacam asap. Kemudian bunga merah besar yang disangka akan mekar
ternyata bunga-bunga yang mekar itu jadi menguncup. Mekar-kuncup-mekar-kuncup
terus begitu. Rasanya bunga itu seperti bernapas saja.
Entah
sejak kapan, tumbuhan merambat itu tiba-tiba mendekat lalu menancap ke tanah.
Saking kagetnya, Hitomi sampai teriak. Tapi terlambat! Tubuh Hitomi sudah
terikat oleh si tanaman merambat! Lalu ujung dahan pohon merambat itu membentuk
semacam ular lalu merayap di bahu Hitomi.
“Mau
apa tumbuhan sialan ini?” Tousuke bermaksud ingin melawan tumbuhan merambat itu
untuk menyelamatkan Hitomi. Tapi Tousuke dikalahkan dengan mudah oleh tumbuhan
merambat itu. Nggak sampai dua menit, tubuh Tousuke pun dililit oleh tumbuhan
merambat. Hitomi dan Tousuke hanya bisa berteriak. Mereka berdua telah
disudutkan oleh rerumputan dan pohon. Cahaya matahari pun sampai terhalangi
karena mereka. Rasanya seperti berada di hutan lebat. Bukan! Hutan lebat itu
adalah para monster hijau yang sedang berkumpul dan menari-nari mengelilingi
mereka.
“To...tolong,
kami....”
“Tolong
kami, Profesor Polder.”
“Hahahahaha....kalian
benar-benar teriak minta tolong padaku, ya. Oke, aku akan menolong kalian.
Tapi, kalian mengerti kan kalo tumbuhan pun bisa bergerak? Punya insting dan
masuk ke dalam dunia makhluk hidup?”
“Iyaa,
tapi mereka semua tumbuhan ajaib. Monster tumbuhan!”
“Bukan!
Mereka tumbuhan biasa. Sekarang aku akan menyuntik kalian, nanti kalian juga
akan mengerti.”
Profesor
menyuntik mereka berdua.
Seketika
itu, terjadi hal yang ajaib. Pohon-pohon yang tadinya sedang menari, sekarang
menjadi tenang, benar-benar tenang. Dilihat darimana pun, benar-benar seperti
hutan hujan tropis. Profesor memotong tumbuhan merambat di tubuh mereka berdua.
Sambil tertawa, Profesor menjelaskan soal tadi.
“Kalian
merasa kalo kita sudah tiga puluh menit sejak datang kesini, kan? Sebenarnya
kita sudah tiga tahun berada disini. Intinya karena suntikan yang aku berikan
itu kalian bisa melihat tanaman yang tumbuh lebat itu dalam tiga puluh menit,
yang seharusnya tiga tahun. Dengan membelokkan waktu seperti ini, kalian jadi
mengerti kan kenapa tumbuhan ini terlihat seperti hidup? Bagaimana? Menarik
kan?”
Tousuke dan Hitomi
menghela napas panjang. Mereka sudah tenang.-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment