Tuesday, February 21, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 6



Monster Hijau
            Apa dari kejauhan terlihat sesuatu? Awalnya terlihat seperti ombak yang sedang bergulung di laut berwarna hijau. Tapi setelah itu mereka sadar kalau itu salah. Ternyata itu adalah monster berwarna hijau yang sedang semangat menari. Saking banyaknya, sampai-sampai bikin mereka ketakutan.
            “A...a...apa itu....?!”
            “Mereka menuju kemari! Hii, sereem!”
            “Itu apa, Profesor hmm....Polder?” Tousuke yang berdiri di belakang Profesor, bertanya padanya.
            “Mereka akan datang kemari. Kalau mereka datang, nanti juga kalian akan tau.” Sebenarnya Profesor tidak bermaksud ngomong seperti ini. Makhluk apa yang disebut `mereka` oleh Profesor? Mata mereka berdua melotot. Mereka tau kalau kawanan monster itu akan semakin mendekat. Di atas kepala mereka, ada tangan panjang melambai-lambai menari. Badan mereka semua ramping berwarna hijau. Ada juga yang dihiasi semacam bunga-bunga di tubuh mereka.
            “Apa sih itu? Aku tidak pernah liat yang begitu.”
            “Kalau mereka tidak bergerak, jadi seperti hutan tropis. Tapi mereka bukan hutan. Hutan kan tenang. Sedangkan mereka menari-nari aneh begitu. Ah, tidak! Mereka semakin mendekat! Perasaanku jadi nggak enak.”
            Entah sejak kapan, Hitomi sudah mendekat ke Tousuke. Ia merangkul lengan Tousuke kuat-kuat. Saat para monster itu mendekat ke arah mereka berdua, mereka dikagetkan dengan kedahsyatan semangat mosnter-monster itu. Para monster itu mendekat seperti air bah saja. Di saat itu juga, Tousuke berusaha keras untuk menangkap badan monster itu.
            “Hitomi, ternyata mereka cuma pohon lho.Tumbuhan merambat gitu. Semuanya tumbuhan, lho. Tumbuhan ternyata bisa menari, ya. Eh, bukan! Mereka ingin menyerang kita! Ini bahaya!”
            “Aah, perasaanku nggak enak. Masa tumbuhan bisa bergerak? Itu pohon palem. Ah! Ada pohon Mangrove juga! Kalo tumbuhan yang seperti ular biru itu pasti tumbuhan merambat. Ih, menakutkan!”
            “Aneh! Benar-benar aneh! Baru sekarang ini aku lihat tumbuhan yang seperti itu! Aku juga tidak pernah dengar ada yang seperti ini. Tumbuhan yang aneh. Tumbuhan yang bisa bergerak!”
            Hitomi dan Tousuke menahan napas saking anehnya pemandangan yang mereka liat. Semakin lama mereka semakin mendekat, dan semakin jelas juga wujud aneh mereka. Buah pohon palem terlihat semakin membesar, menggantung di ujung dahannya dan menjulang cepat ke langit. Pohon Mangrove yang memanjangkan cabang seperti kaki dan tangannya, lalu mengarahkan cabang itu kemari. Bunga kembang sepatu menyemprotkan semacam asap. Kemudian bunga merah besar yang disangka akan mekar ternyata bunga-bunga yang mekar itu jadi menguncup. Mekar-kuncup-mekar-kuncup terus begitu. Rasanya bunga itu seperti bernapas saja.
            Entah sejak kapan, tumbuhan merambat itu tiba-tiba mendekat lalu menancap ke tanah. Saking kagetnya, Hitomi sampai teriak. Tapi terlambat! Tubuh Hitomi sudah terikat oleh si tanaman merambat! Lalu ujung dahan pohon merambat itu membentuk semacam ular lalu merayap di bahu Hitomi.
            “Mau apa tumbuhan sialan ini?” Tousuke bermaksud ingin melawan tumbuhan merambat itu untuk menyelamatkan Hitomi. Tapi Tousuke dikalahkan dengan mudah oleh tumbuhan merambat itu. Nggak sampai dua menit, tubuh Tousuke pun dililit oleh tumbuhan merambat. Hitomi dan Tousuke hanya bisa berteriak. Mereka berdua telah disudutkan oleh rerumputan dan pohon. Cahaya matahari pun sampai terhalangi karena mereka. Rasanya seperti berada di hutan lebat. Bukan! Hutan lebat itu adalah para monster hijau yang sedang berkumpul dan menari-nari mengelilingi mereka.
            “To...tolong, kami....”
            “Tolong kami, Profesor Polder.”
            “Hahahahaha....kalian benar-benar teriak minta tolong padaku, ya. Oke, aku akan menolong kalian. Tapi, kalian mengerti kan kalo tumbuhan pun bisa bergerak? Punya insting dan masuk ke dalam dunia makhluk hidup?”
            “Iyaa, tapi mereka semua tumbuhan ajaib. Monster tumbuhan!”
            “Bukan! Mereka tumbuhan biasa. Sekarang aku akan menyuntik kalian, nanti kalian juga akan mengerti.”
            Profesor menyuntik mereka berdua.
            Seketika itu, terjadi hal yang ajaib. Pohon-pohon yang tadinya sedang menari, sekarang menjadi tenang, benar-benar tenang. Dilihat darimana pun, benar-benar seperti hutan hujan tropis. Profesor memotong tumbuhan merambat di tubuh mereka berdua. Sambil tertawa, Profesor menjelaskan soal tadi.
            “Kalian merasa kalo kita sudah tiga puluh menit sejak datang kesini, kan? Sebenarnya kita sudah tiga tahun berada disini. Intinya karena suntikan yang aku berikan itu kalian bisa melihat tanaman yang tumbuh lebat itu dalam tiga puluh menit, yang seharusnya tiga tahun. Dengan membelokkan waktu seperti ini, kalian jadi mengerti kan kenapa tumbuhan ini terlihat seperti hidup? Bagaimana? Menarik kan?”
            Tousuke dan Hitomi menghela napas panjang. Mereka sudah tenang.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment