Munculnya Kapal Hantu
Surat si teknisi Maruo saking singkatnya sampai tidak
sanggup menjelaskan bagaimana kondisi terakhir dua puluhan awak kapal di sekoci
dua. Tapi dengan adanya surat ini jauh lebih baik daripada tidak ada sama
sekali. Sejauh yang mereka tau, sepertinya sekoci dua telah diserang oleh kapal
hantu dan disana ada sosok yang lebih menakutkan dari manusia. Setelah membaca
surat dari Maruo, awak kapal sekoci satu membereskan bagian dalam sekoci nomer
dua yang sangat berantakan. Semua itu karena merasa mereka tidak berguna di
tengah keadaan tragis seperti ini.
“Aku harus membalaskan
dendam teman-temanku pada musuh disana!Kalo aku ketemu kapal hantu nanti, aku
akan melompat masuk ke kapal itu! Lalu, aku akan menghajar semua penghuni kapal
hantu!” Ada juga awak kapal yang marah sambil menggenggam pisau.
“Hei, hei! Liat itu!
Tangannya memang terpotong tapi...kok ada tiga-empat goresan begini, ya?”
“Iya, seperti digores dengan
semacam garpu.”
“Ah, bukankah ini seperti
dicakar binatang buas?” mendengar percakapan dua awak kapalnya, Kapten menahan
air matanya.
Sekoci nomer dua memang
tidak ada dayungnya, tapi karena banyak awak kapal di sekoci satu, jadi
diputuskan sebagian orang pindah ke sekoci dua. Kepala komunikasi Furuya, si
jago tembak Kaitani, dan enam awak lainnya pindah ke sekoci dua. Dengan begini
awak sekoci satu terbagi dua dan lanjut berlayar. Pak Furuya yang naik ke
sekoci dua memberi perintah kepada awak lain untuk membersihkan darah di lantai
sekoci dan membereskan jasad rekan-rekannya. Di saat itu juga matahari perlahan
turun ke barat mendekati horison laut. Hari telah menjelang sore rupanya.
“Aku sangat kepikiran awan
itu.” Saat Furuya bilang begitu, awan Cumolonimbus mulai berdatangan. Awan itu
besar dan berwarna kelabu pekat Rasanya seperti asap yang sedang menyembunyikan
segala yang ada di bawahnya.
“Hei! Hujan mulai turun! Langitnya
juga mulai bercahaya!”
“Oh, kilat bercahaya di
balik awan Cumolonimbus itu. Angin juga mulai berhembus. Apa kita akan diserang
badai lagi?”
Walaupun ingin meminta pertolongan, tapi tidak ada
satu kapal pun yang terlihat. Demi hidup mereka, tidak ada cara lain selain
mendayung sekuat tenaga daripada diombang-ambingkan badai dengan sukarela. Walaupun
badai ini cuma sementara, memaksa tubuh yang sudah kelelahan karena kelaparan
dan kehausan merupakan hal yang menyedihkan. Di saat mereka sedang berusaha,
gulungan ombak terus-menerus muncul. Benar-benar rintik hujan yang luar biasa!
Mendadak, sekitarnya menjadi gelap gulita. Hujan
turun semakin deras. Suara petir pun terus menggelegar menghantam bumi.
“Hei! Kita jangan terpisah!” para awak kapal
sekoci dua sekuat tenaga saling berteriak. Entah sekarang ini mereka berada di
langit mana dan laut mana. Saat itu tiba-tiba....
“Ah! Itu kapal hantu!”
“Hah?! Kapal hantu?!”
Di tengah derasnya hujan yang seperti tembok
kelabu, ada sebuah kapal besar yang berlayar tanpa suara. Jaraknya sekitar
dua-tiga ratus meter dari sekoci. Tidak salah lagi, itu kapal hantu!
-BERSAMBUNG-