Thursday, December 22, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Munculnya Kapal Hantu



Munculnya Kapal Hantu
          Surat si teknisi Maruo saking singkatnya sampai tidak sanggup menjelaskan bagaimana kondisi terakhir dua puluhan awak kapal di sekoci dua. Tapi dengan adanya surat ini jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Sejauh yang mereka tau, sepertinya sekoci dua telah diserang oleh kapal hantu dan disana ada sosok yang lebih menakutkan dari manusia. Setelah membaca surat dari Maruo, awak kapal sekoci satu membereskan bagian dalam sekoci nomer dua yang sangat berantakan. Semua itu karena merasa mereka tidak berguna di tengah keadaan tragis seperti ini.
            “Aku harus membalaskan dendam teman-temanku pada musuh disana!Kalo aku ketemu kapal hantu nanti, aku akan melompat masuk ke kapal itu! Lalu, aku akan menghajar semua penghuni kapal hantu!” Ada juga awak kapal yang marah sambil menggenggam pisau.
            “Hei, hei! Liat itu! Tangannya memang terpotong tapi...kok ada tiga-empat goresan begini, ya?”
            “Iya, seperti digores dengan semacam garpu.”
            “Ah, bukankah ini seperti dicakar binatang buas?” mendengar percakapan dua awak kapalnya, Kapten menahan air matanya.
            Sekoci nomer dua memang tidak ada dayungnya, tapi karena banyak awak kapal di sekoci satu, jadi diputuskan sebagian orang pindah ke sekoci dua. Kepala komunikasi Furuya, si jago tembak Kaitani, dan enam awak lainnya pindah ke sekoci dua. Dengan begini awak sekoci satu terbagi dua dan lanjut berlayar. Pak Furuya yang naik ke sekoci dua memberi perintah kepada awak lain untuk membersihkan darah di lantai sekoci dan membereskan jasad rekan-rekannya. Di saat itu juga matahari perlahan turun ke barat mendekati horison laut. Hari telah menjelang sore rupanya.
            “Aku sangat kepikiran awan itu.” Saat Furuya bilang begitu, awan Cumolonimbus mulai berdatangan. Awan itu besar dan berwarna kelabu pekat Rasanya seperti asap yang sedang menyembunyikan segala yang ada di bawahnya.
            “Hei! Hujan mulai turun! Langitnya juga mulai bercahaya!”
            “Oh, kilat bercahaya di balik awan Cumolonimbus itu. Angin juga mulai berhembus. Apa kita akan diserang badai lagi?”
Walaupun ingin meminta pertolongan, tapi tidak ada satu kapal pun yang terlihat. Demi hidup mereka, tidak ada cara lain selain mendayung sekuat tenaga daripada diombang-ambingkan badai dengan sukarela. Walaupun badai ini cuma sementara, memaksa tubuh yang sudah kelelahan karena kelaparan dan kehausan merupakan hal yang menyedihkan. Di saat mereka sedang berusaha, gulungan ombak terus-menerus muncul. Benar-benar rintik hujan yang luar biasa!
Mendadak, sekitarnya menjadi gelap gulita. Hujan turun semakin deras. Suara petir pun terus menggelegar menghantam bumi.
“Hei! Kita jangan terpisah!” para awak kapal sekoci dua sekuat tenaga saling berteriak. Entah sekarang ini mereka berada di langit mana dan laut mana. Saat itu tiba-tiba....
“Ah! Itu kapal hantu!”
“Hah?! Kapal hantu?!”
Di tengah derasnya hujan yang seperti tembok kelabu, ada sebuah kapal besar yang berlayar tanpa suara. Jaraknya sekitar dua-tiga ratus meter dari sekoci. Tidak salah lagi, itu kapal hantu!

 -BERSAMBUNG-

Tuesday, December 20, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Goresan Misterius



Goresan Misterius
          “Apa jangan-jangan mereka saling bertikai di saat kapal sedang berlabuh karena tertimpa musibah, lalu saling bunuh seperti ini?” salah seorang awak kapal mencoba menjelaskan logika kejadian ini. Memang alasan yang masuk akal, sih. Tapi Kapten segera membantahnya.
            “Bukan. Mungkin bukan begitu.”
            “Tapi hanya itu alasan yang masuk akal mengenai kejadian ini, kan?”
            “Tidak mungkin begitu. Pertama, aku yakin rekan kita tidak akan mungkin saling bunuh sekejam ini. Kedua, kalo memang mereka berbuat begitu, tidak mungkin kan mereka membunuh sampai hanya menyisakan tulang-tulang seperti ini? Ditambah lagi kejadian ini entah kemarin atau hari ini.” Mata Kapten fokus menatap keadaan sekoci. Bagaimana pun kerasnya mereka bertikai, tidak mungkin hanya dalam waktu semalam awak kapal berjumlah sekitar dua puluhan di sekoci nomer dua ini tidak tersisa satu pun. Parahnya lagi, yang tersisa hanyalah tulang belulang tangan dan kaki yang berserakan!
            Perasaan Kapten sekarang ini, dadanya seperti ditusuk pedang yang dingin. Para awak kapal pun mendadak terdiam. Semakin dilihat semakin mengerikan sampai rasanya ingin memalingkan muka. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada rekan-rekan sejawatannya ini?! Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka juga tidak tahu apakah kejadian tewasnya para awak kapal sekoci nomer dua ini, akan terjadi juga di sekoci nomer satu?
            Kepala komunikasi Furuya daritadi terdiam menatap kondisi mengenaskan sekoci nomer dua. Ia sedang memikirkan macam-macam—terutama keadaan teknisi bawahannya Maruo yang ikut di sekoci dua itu. Apa mungkin pemuda cerdas itu juga telah tewas seperti yang lain? Apa jangan-jangan pergelangan tangan buntung yang tergeletak disana, punya Maruo yang tidak sempat mengirim kode morse?
            Mata Furuya tidak bisa lepas dari sepotong pergelangan tangan yang membuat hatinya miris saking kepikiran hal tadi. Pak Furuya memanggil seseorang saat melihat pergelangan tangan itu ternyata seperti menggenggam sesuatu.
            “Hei!” Pak Furuya meminjam sebuah dayung lalu pelan-pelan mengambil potongan pergelangan tangan yang membuatnya kepikiran itu diantara lautan darah di sekoci dua. Ia mengambil pergelangan tangan dari dayung.
            “Sudah kuduga!” seru Pak Furuya dengan mata berbinar ke arah Kapten Saeki.
            “Kapten! Coba liat ini! Tangan ini menggenggam semacam surat.”
            “Oh, ya? Berikan padaku!”
            Furuya bersama dua orang awak kapal menyerahkan surat yang digenggam tangan buntung itu ke Kapten. Sudah pasti itu surat. Surat itu pasti ditulis buru-buru diatas kertas sobekan dari notes. Sebenarnya apa sih yang tertulis di surat sampai tangan itu menggenggam kuat suratnya?
            “Oh! Ini tulisan tangan Maruo!” kata Kapten dengan nada terkejut.
            “Hmm...disini tertulis sesuatu yang gawat. Begini tulisannya : Jangan dekati kapal hantu. Kami.... ah! Sayang sekali! Suratnya tersobek sebagian! Tapi, masih ada lanjutannya. Seperti ini : dia lebih menakutkan daripada manusia. Ah, sial! Lagi-lagi terpotong!”
            Jangan dekati kapal hantu, kami.....? dia lebih menakutkan daripada manusia....? Beginilah kira-kira isi surat teknisi Maruo.
            “Aku sama sekali nggak ngerti apa maksudnya, tapi yang ku tangkap dari surat itu, kita jangan dekati kapal hantu. Mungkin disana ada makhluk yang lebih mengerikan dari pada manusia. Pasti, Maruo bermaksud menyelamatkan kita sampai harus jadi seperti ini. Dia benar-benar pria sejati.” Kapten menunjukkan rasa kagumnya untuk Maruo. Beliau juga kagum pada dua puluh tiga awak kapalnya. Namun hal ini membuat dua puluh empat orang yang tersisa ini menyisakan rasa takut yang sangat dalam. Sebenarnya apa maksud dari kata-kata “dia lebih menakutkan dari manusia” itu? Apa mungkin maksudnya hantu karena tadi disebutkan soal kapal hantu? Tidak tidak! Tidak ada yang namanya hantu di dunia ini. Lagipula, mana mungkin hantu bisa menggunakan alat komunikasi?
            Tapi....kalo melihat pemandangan super mistis ini....cuma hantu hebat saja lah yang paling bisa melakukan ini semua.

-BERSAMBUNG-

Thursday, December 15, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Surat Wasiat yang Menyedihkan



Surat Wasiat yang Menyedihkan
          Sekoci nomer dua terkatung-katung dibawa ombak. Sepertinya tidak ada seorang pun disana. Bahkan dayungnya pun sepertinya tidak ada. Kondisi sekoci yang ditemukan ini membuat raut dua puluh tiga bawahan yang mendapat perintah dari Kapten Saeki, jadi cemas.
            “Ayo dayung! Sedikit lagi! Satu! Dua!” kapten Saeki memberi semangat ke para awak kapal. Bagaikan anak panah, sekoci nomer satu melesat cepat. Mata kapten pun nggak terlepas dari teropongnya. Pak Furuya yang berdiri di sebelah beliau melirik ke tangan kapten yang memegang teropong. Baru sadar kenapa tangan beliau gemetaran?
            “Kapten, apa ada sesuatu yang Anda liat?”
            “Hmm...” Kapten Saeki menurunkan tangan yang memegang teropong. Beliau menghela napas panjang. Raut wajahnya seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Sepertinya Kapten menemukan sesuatu yang tak disangka beliau.
           “Kapten, apa yang Anda liat?” Todong Pak Furuya. Kapten seperti menyerah pada rasa penasaran Furuya.
             “Semuanya, dengarkan aku. Aku melihat kondisi sekoci nomer dua yang terapung disana dengan teropong ini. Aku mengira di sekoci itu orang bahkan dayung saja tidak ada. Tapi....setelah ku lihat baik-baik....di sekoci itu....ada sesuatu.”Cara bicara Kapten terkesan berbelit-belit.
             “Terus apa yang Anda lihat di sekoci nomer dua itu? Kapten, tolong cepat katakan pada kami.”
             “DARAH! DARAH! Di sekoci nomer dua itu, banyak darah berceceran!”
             “HAH?!” saking kagetnya, tangan para awak kapal yang memegang dayung sampai melemas. Akibatnya, sekoci jadi miring dan akan terguling jatuh.
            “Hei! Terus mendayung! Bagaimana nasib para pelaut Jepang kalo mendengar hal ini saja sudah ketakutan?! Ayo cepat! Kita datangi sekoci nomer dua itu!” Kapten marah-marah kepada awak kapal sambil mengetuk keras bibir sekoci. Dan akhirnya sekoci nomer satu kembali berlayar cepat seperti anak panah. Para pendayung menahan rasa terkejut mereka dan mendayung sekuat tenaga.
             “Cukup mendayungnya!” Perintah Kapten. Para pendayung mulai menengok ke kiri dan kanan. Ternyata sekoci mereka sudah dekat dengan sekoci nomer dua. Mata mereka semua berkilat-kilat tajam saat melihat sekoci nomer dua.
            “Ah, sepertinya telah terjadi sesuatu yang mengerikan!”
            “Apa yang sebenarnya telah terjadi disini?!”
            “Di...di tempat seperti itu....ada ada...lengan buntung?”
            Aku tidak tahu bagaimana sebaiknya menulis kondisi di sekoci nomer dua itu. Saking mengerikannya, aku sampai tidak tahu apa yang harus kutulis. Intinya kondisinya saaangat mengerikan, sampai rasanya ingin membasuh wajah dengan darah. Tidak ada satu jasad pun yang masih utuh di sekoci ini. Banyak lengan, kaki dan tulang-tulang manusia berlumuran darah yang berserakan di sekitar sekoci.
            “Apa-apaan ini?!” Kapten Saeki yang terkenal akan ketenangannya, seketika itu jadi berwajah pucat melihat kondisi mengerikan di sekoci ini.

-BERSAMBUNG-

Tuesday, December 13, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Sekoci yang Terkatung-katung



Sekoci yang Terkatung-katung
          Entah bagaimana bisa hanya dengan segelas air,membuat para awak kapal baik-baik saja. Selanjutnya, kapten membagikan satu onigiri basah karena terkena air laut itu ke para awak kapal. Karena cuma ada sedikit, sebisa mungkin harus kebagian semua.
            “Hei, bukankah disana ada makanan kaleng, ya?”
            “Oh, benar. Ternyata aku membungkus makanan kaleng itu dengan taplak meja, ya. Aku sampe lupa hal sepenting ini.”
            Memang jumlahnya kurang dari sepuluh, tapi bagi mereka itu sudah lebih dari syukur.
            “Oi, cepat bagikan. Tiga saja.”
            “Sebentar, aku tanya dulu ke kapten.”
            Daritadi kapten terdiam memandang mereka. Sebelum dibicarakan oleh bawahannya, beliau sudah angkat bicara.
            “Hanya satu saja yang boleh dibuka. Kita belum tahu butuh berapa hari sampai pertolongan datang. Karena itu sebisa mungkin kita harus menghemat bahan makanan. Lebih baik buka satu saja dan bagikan ke semuanya.”
            “Cuma satu?! Kalo begitu kan satu suap aja nggak ada kalo dibagikan ke semuanya.”Kata salah satu awak kapal seperti nggak terima lalu menelan ludah.
            Tapi bagaimana pun juga sang kapten hanya mengizinkan membuka satu kaleng saja. Ada kemungkinan akan terus terkatung-katung di Samudera Pasifik selama setengah tahun dengan kapal yang sudah bobrok. Pahit-pahitnya pun kalo harus terkatung selama satu-dua bulan, ada kemungkinan perhitungannya nanti jadi salah. Soalnya di atas sekoci ini, ada sekitar dua puluh empat orang.
            “Air. Aku butuh air daripada makanan. Kapten, izinkan saya minum satu gelas lagi.”
            “Ya, boleh saja. Tapi sabar, ya.”Kata Kapten seperti bicara ke anak kecil. Tapi kenyataannya, cahaya matahari memang semakin menyengat. Siapa saja pasti jadi merasa kehausan. Sudah pasti minum berapa banyak pun, tidak akan pernah cukup.
            “Hei, semuanya. Tolong buat pelindung matahari di atas sekoci ini. Kumpulkan baju atau celana panjang kalian untuk dijahit jadi satu. Dengan begitu, kalian tidak akan kehausan lagi.”Perintah Kapten.


            Mendengar perintah Kapten, wajah para bawahan yang tadinya terlihat bosen dan kecewa seketika itu jadi bersemangat. Soalnya Kapten memberikan pekerjaan untuk mereka. Baju kerja mereka yang telah terkumpul, dijahit menjadi satu dan menjadi semacam taplak besar. Akhirnya, di atas sekoci terpasang juga taplak putih ini. Walaupun seadanya, setidaknya bisa melindungi tubuh para awak kapal dari terik matahari.
            “Seandainya saja ada sedikit baju lagi, kita bisa buat layar deh.”
            “Jangan. Kita kan tidak tahu kemana kita harus pergi, buat apa kita bikin layar, kan?”
            Walaupun beradu mulut begitu, berkat adanya taplak putih ini keadaan para awak kapal jadi lebih baik. Hari sudah mendekati siang. Kaitani—pria paling bersemangat diantara yang lain, tiba-tiba saja berteriak.
            “Hei! Ada sekoci! Ada sekoci yang berlayar!”
            “Hah?! Sekoci?!”
            “Apa jangan-jangan sekoci dari Wajima Maru? Dimana? Ada dimana?”
            Kaitani menunjuk ke arah timur dengan memegang lengan bawahnya. Entah kenapa baru menyadari soal itu sekarang. Karena memang ada sebuah sekoci yang sedang terkatung-katung di dekat mereka.
            “Oi! Itu sekoci Wajima Maru!”
            “Heei! Kami sekoci nomer satu ada disiniiii!”
            Para awak kapal di sekoci nomer satu berteriak-teriak keras, sampai-sampai mereka menurunkan taplak putih lalu mengibar-ngibarkannya.
            “Aneh....kok nggak ada respon, ya. Apa mereka tidak menyadari panggilan kita?” Kata Kapten Saeki. Lalu, ia melihat ke arah sana dengan teropong.
            “Memang benar, ini aneh. Tidak ada dayung di atas sekoci. Jangankan dayung, orangnya saja sepertinya tidak ada. Tapi aku yakin itu sekoci nomer dua.”
             “Hah?! Sekoci nomer dua?! Apa benar-benar tidak ada orang? Kenapa bisa begitu, ya?”
             “Aneh juga, ya.”Kata Kapten sambil menggelengkan kepala. Beliau menjauhkan teropong dari matanya lalu memandang sekeliling lautan.
            “Hei, ambil dayung! Kita akan mendatangi sekoci nomer dua itu!”
            Apa mungkin memang tidak ada orang di sekoci nomer dua itu? Tanpa tahu akan ada kasus misterius yang tidak disangka-sangka oleh bawahan Kapten Saeki, sekoci nomer satu bergerak cepat di permukaan laut dengan didayung semangat oleh para awak kapal.

- BERSAMBUNG-