Goresan Misterius
“Apa jangan-jangan mereka saling bertikai di saat kapal
sedang berlabuh karena tertimpa musibah, lalu saling bunuh seperti ini?” salah
seorang awak kapal mencoba menjelaskan logika kejadian ini. Memang alasan yang
masuk akal, sih. Tapi Kapten segera membantahnya.
“Bukan. Mungkin bukan
begitu.”
“Tapi hanya itu alasan
yang masuk akal mengenai kejadian ini, kan?”
“Tidak mungkin begitu.
Pertama, aku yakin rekan kita tidak akan mungkin saling bunuh sekejam ini.
Kedua, kalo memang mereka berbuat begitu, tidak mungkin kan mereka membunuh
sampai hanya menyisakan tulang-tulang seperti ini? Ditambah lagi kejadian ini
entah kemarin atau hari ini.” Mata Kapten fokus menatap keadaan sekoci.
Bagaimana pun kerasnya mereka bertikai, tidak mungkin hanya dalam waktu semalam
awak kapal berjumlah sekitar dua puluhan di sekoci nomer dua ini tidak tersisa
satu pun. Parahnya lagi, yang tersisa hanyalah tulang belulang tangan dan kaki
yang berserakan!
Perasaan Kapten sekarang
ini, dadanya seperti ditusuk pedang yang dingin. Para awak kapal pun mendadak
terdiam. Semakin dilihat semakin mengerikan sampai rasanya ingin memalingkan
muka. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada rekan-rekan sejawatannya ini?!
Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka juga tidak tahu apakah
kejadian tewasnya para awak kapal sekoci nomer dua ini, akan terjadi juga di
sekoci nomer satu?
Kepala komunikasi Furuya
daritadi terdiam menatap kondisi mengenaskan sekoci nomer dua. Ia sedang
memikirkan macam-macam—terutama keadaan teknisi bawahannya Maruo yang ikut di
sekoci dua itu. Apa mungkin pemuda cerdas itu juga telah tewas seperti yang
lain? Apa jangan-jangan pergelangan tangan buntung yang tergeletak disana,
punya Maruo yang tidak sempat mengirim kode morse?
Mata Furuya tidak bisa
lepas dari sepotong pergelangan tangan yang membuat hatinya miris saking
kepikiran hal tadi. Pak Furuya memanggil seseorang saat melihat pergelangan
tangan itu ternyata seperti menggenggam sesuatu.
“Hei!” Pak Furuya meminjam
sebuah dayung lalu pelan-pelan mengambil potongan pergelangan tangan yang
membuatnya kepikiran itu diantara lautan darah di sekoci dua. Ia mengambil
pergelangan tangan dari dayung.
“Sudah kuduga!” seru Pak
Furuya dengan mata berbinar ke arah Kapten Saeki.
“Kapten! Coba liat ini!
Tangan ini menggenggam semacam surat.”
“Oh, ya? Berikan padaku!”
Furuya bersama dua orang
awak kapal menyerahkan surat yang digenggam tangan buntung itu ke Kapten. Sudah
pasti itu surat. Surat itu pasti ditulis buru-buru diatas kertas sobekan dari
notes. Sebenarnya apa sih yang tertulis di surat sampai tangan itu menggenggam
kuat suratnya?
“Oh! Ini tulisan tangan
Maruo!” kata Kapten dengan nada terkejut.
“Hmm...disini tertulis
sesuatu yang gawat. Begini tulisannya : Jangan
dekati kapal hantu. Kami.... ah! Sayang sekali! Suratnya tersobek sebagian!
Tapi, masih ada lanjutannya. Seperti ini : dia
lebih menakutkan daripada manusia. Ah, sial! Lagi-lagi terpotong!”
Jangan dekati kapal hantu, kami.....? dia lebih menakutkan daripada
manusia....? Beginilah kira-kira isi surat teknisi Maruo.
“Aku sama sekali nggak
ngerti apa maksudnya, tapi yang ku tangkap dari surat itu, kita jangan dekati
kapal hantu. Mungkin disana ada makhluk yang lebih mengerikan dari pada
manusia. Pasti, Maruo bermaksud menyelamatkan kita sampai harus jadi seperti
ini. Dia benar-benar pria sejati.” Kapten menunjukkan rasa kagumnya untuk
Maruo. Beliau juga kagum pada dua puluh tiga awak kapalnya. Namun hal ini
membuat dua puluh empat orang yang tersisa ini menyisakan rasa takut yang
sangat dalam. Sebenarnya apa maksud dari kata-kata “dia lebih menakutkan dari
manusia” itu? Apa mungkin maksudnya hantu karena tadi disebutkan soal kapal
hantu? Tidak tidak! Tidak ada yang namanya hantu di dunia ini. Lagipula, mana
mungkin hantu bisa menggunakan alat komunikasi?
Tapi....kalo
melihat pemandangan super mistis ini....cuma hantu hebat saja lah yang paling
bisa melakukan ini semua.-BERSAMBUNG-
Bagus yaaa :)
ReplyDeleteSupplier Tas Terbesar
Karyanya Unno Juusa emg keren bgt!! Ikutin trus ya critanya. 😊
Delete