Kapal yang Bercahaya
Dengan mata membelalak, kapten Saeki memandang kapal
misterius yang bercahaya redup itu. Kapal itu serasa angker, bagaikan kapal
hantu yang sedang berlayar.
“Kapten, bagaimana kalo
kita coba tembak kapal itu untuk pemastian? Disini ada satu senapan.”
Mau coba menembak kapal
hantu dengan senapan? Bagus juga sih tapi kalo seandainya kapal itu bukan kapal
hantu melainkan kapal perang? Pihak kami lah yang akan menerima bahaya.
“Hei, tunggu! Jangan
tembak dulu!” kapten menahan tangan seorang awak kapal. Saat itu, sekoci nomer
dua mendekat ke sekoci satu tempat kapten berada, lalu memberikan kode padanya.
“Kapten, ada kode dari
sekoci nomer dua.”
“Oh, apa kodenya?”
“Laporan dari Maruo si
teknisi komunikasi. Katanya, saat memeriksa permukaan laut dari atas tiang
kapal dengan lampu pencari tadi, dia menemukan sebuah kapal kargo tanpa
penerangan yang berlayar di lautan. Kapal itu adalah kapal yang akan datang
dari arah kiri ini.”
“Oh, begitu. Bilang sama
dia aku sudah mengerti,” Kapten mengangguk kuat. Kapal yang mencurigakan. Entah
apa yang dipikirkannya, kapten terus saja mengawasi kapal redup dan samar-samar
yang akan melintas kemari itu.
“Hei, apa kamu yang
katanya punya senapan kecil itu?”
“Benar,” jawab Kaitani.
“Oke, Kaitani. Tanpa ragu
coba tembak satu kali ke arah kapal itu. Incar bagian agak ke atas lambung
kapal. Itu bagian muatan.”
“Baik, saya mengerti.”
Saat itu juga, suara
letusan senapan mengudara diantara angin laut yang berhembus dan gelapnya
malam. Karena jarak dari sekoci ke kapal itu sekitar seratus meter, pasti kena.
Kapten terus memandang ke arah kapal misterius itu, dan saat peluru tepat
mengenai lambung kapal tiba-tiba muncul kembang api dari arah kapal misterius
itu.
“Hoo, begitu ya. Saya kira
itu kapal hantu. Kalo memang pelurunya menancap dan muncul kembang api seperti
ini sih tidak salah lagi, itu kapal beneran. Nah, di kapal itu pasti sekarang
sedang terjadi keributan. Semuanya! Jangan lengah!” Suara kapten terdengar
bersemangat. Tapi ternyata kapal yang tertembak itu sepi sekali saat lewat di
depan mereka.
“Ini aneh.” Kapten
menggelengkan kepala. Di pikiran kapten tadi, walaupun ketiduran seharusnya
semua awak kapal akan menuju geladak karena kapalnya tertembak lalu segera
datang kemari. Tapi....ternyata tidak begitu. Ia harus berpikir keras untuk
keputusan selanjutnya.
“Hei, mana Kaitani?”
“Saya, Pak. Apa tembak
lagi ke kapal itu?”
“Iya, tembak saja. Sampai
ada aba-aba dariku, coba tembak satu kali. Targetnya sama seperti yang tadi. Oke!
Tembak sekarang!”
Terdengar suara letusan senapan
yang keras. Saat peluru menancap di lambung kapal, seketika itu muncul kembang
api. Tapi kapal misterius dan redup itu, masih saja sepi.
“Sekali lagi! Tembak!”
Setelah menghabiskan tiga
peluru, tetap saja tidak ada respon. Ini kapal hantu atau bukan, sih? Memang
kapal ini seperti terbuat dari baja, tapi yang menjadi pertanyaan : kenapa
tidak ada seorang pun yang keluar?
Tiba-tiba
kapal misterius itu mempercepat geraknya dan menghilang dari pandangan para
awak di sekoci. Rasanya seperti ditipu serigala licik. Kapten terdiam dalam
pikirannya. Angin semakin berhembus kencang di permukaan samudera. Bagaimana
nasib empat sekoci ini?-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment