Thursday, December 8, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Samudera yang Ganas



Samudera yang Ganas
          Para awak kapal bertarung habis-habisan sampai pagi. Mungkin karena melihat kegigihan para awak kapal, badai jadi melemah dan langit timur mulai cerah. Kemudian saat malam telah berganti, laut dan ombak menjadi tenang. Rasanya yang kemarin itu seperti bohong saja.
            “Hei! Kita selamat!”Para awak kapal berguling-guling sambil menunjukkan senyum lega, dan tiba-tiba saja mereka tertidur. Mereka benar-benar tertidur nyenyak seperti orang mati. Kapten pun entah sejak kapan jatuh tertidur. Tapi setelah sejam, beliau terbangun.
            “Hah?! Tanpa sadar aku tertidur! Gawat!” Sambil menggosok matanya, kapten memandang sekeliling sekoci. Semuanya berwajah seperti orang mati. Langit sedikit berawan. Cuaca masih belum berubah rupanya. Karena itu jangan sampai lengah.
            “Oh, iya! Sekoci yang lain?!” kapten mengerjap-ngerjap matanya lalu memandang ke sekeliling lautan. Tapi sosok sekoci yang dimaksud tidak ada dimana-mana.
            “Oi, Furuya! Bangun!” kapten mengguncang tubuh kepala komunikasi yang tertidur di sebelahnya. Saking kagetnya, Pak kepala sampai melompat.
            “Hei, kita terpisah dari sekoci lainnya! Kamu nggak liat tiga sekoci lainnya?”
            Pak kepala seperti terkejut. Saat Kapten menyerahkan teropong, ia melihat ke arah lautan. Terus melihat sampai ke ujung lautan.
            “Bagaimana? Terlihat?”
            Pak kepala menjauhkan teropong dari matanya sebagai ganti jawaban dari pertanyaannya. Ia menggelengkan kepala.
            “Kemana mereka pergi?” Kapten menghela napas.
            “Saya juga tidak tau. Mungkin...mereka hanyut terbawa arus. Entah selamat atau tidak.....” Kata Pak kepala. Tidak ada rasa percaya diri dalam perkataannya. Sekoci terus berlabuh ke barat dan ke barat. Sepertinya sekoci ini sedang berada di gelombang pasang.
            “Hei, Furuya. Kamu bawa ponsel?” tanya Kapten.
            “Saya memang membawanya, tapi percuma. Kemarin malam sekoci sempat kemasukan air, kan. Jadi ponselnya tidak bisa dipakai. Sayang sekali.”
            “Hmm...sayang sekali.”Mata kapten mengarah ke lautan. Ia berpikir mungkin saja akan ketemu kapal lain. Tapi itu tergantung nasib dan tidak mungkin bergantung pada hal semacam itu. Kapten harus memikirkan tujuan selanjutnya dengan pasti. Saat itu, para awak kapal satu persatu terbangun.
            “Aah, tadi itu mimpi ya. Rasanya aku seperti masih bertarung melawan badai,”
            Badai telah berlalu. Tapi akan terjadi sesuatu yang lebih buruk daripada badai atau ombak dan lain sebagainya, yaitu kelaparan dan kehausan. Tidak. Daripada kelaparan, bencana kehausan jauh lebih mengerikan. Awan semakin tipis dan cahaya matahari bersinar tepat di atas sekoci. Karena itulah, mereka harus mencari sumber mata air.
            “Kapten, tidak apa-apa nih tidak mendayung sekoci ini?”
            “Iya. Dalam dua-tiga hari ini, kita harus siap terkatung-katung begini. Disamping itu, mungkin saja kan kita bisa dapat hal baik?” Kata Kapten dengan nada yang kedengarannya santai sekali. Tapi sebenarnya, beliau memikirkan sampai hal terkecil. Dengan begini, tenaga bawahannya pun tidak akan terbuang percuma. Sebisa mungkin menyemangati para bawahan untuk berenang.
            “Hei, aku mau minum. Tenggorokanku kering.”Kata salah satu awak kapal dengan suara serak.
            “Kapten, boleh saya kasih dia minum?”
            “Iya. Air jadi yang terpenting bagi kita. Pokoknya pagi ini kita minum segelas air di gelas aluminium ini. Karena sore nanti, kita tidak akan bisa melakukannya lagi.”
            “Hah? Sore nanti tidak akan bisa minum lagi?”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment