Thursday, December 15, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Surat Wasiat yang Menyedihkan



Surat Wasiat yang Menyedihkan
          Sekoci nomer dua terkatung-katung dibawa ombak. Sepertinya tidak ada seorang pun disana. Bahkan dayungnya pun sepertinya tidak ada. Kondisi sekoci yang ditemukan ini membuat raut dua puluh tiga bawahan yang mendapat perintah dari Kapten Saeki, jadi cemas.
            “Ayo dayung! Sedikit lagi! Satu! Dua!” kapten Saeki memberi semangat ke para awak kapal. Bagaikan anak panah, sekoci nomer satu melesat cepat. Mata kapten pun nggak terlepas dari teropongnya. Pak Furuya yang berdiri di sebelah beliau melirik ke tangan kapten yang memegang teropong. Baru sadar kenapa tangan beliau gemetaran?
            “Kapten, apa ada sesuatu yang Anda liat?”
            “Hmm...” Kapten Saeki menurunkan tangan yang memegang teropong. Beliau menghela napas panjang. Raut wajahnya seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Sepertinya Kapten menemukan sesuatu yang tak disangka beliau.
           “Kapten, apa yang Anda liat?” Todong Pak Furuya. Kapten seperti menyerah pada rasa penasaran Furuya.
             “Semuanya, dengarkan aku. Aku melihat kondisi sekoci nomer dua yang terapung disana dengan teropong ini. Aku mengira di sekoci itu orang bahkan dayung saja tidak ada. Tapi....setelah ku lihat baik-baik....di sekoci itu....ada sesuatu.”Cara bicara Kapten terkesan berbelit-belit.
             “Terus apa yang Anda lihat di sekoci nomer dua itu? Kapten, tolong cepat katakan pada kami.”
             “DARAH! DARAH! Di sekoci nomer dua itu, banyak darah berceceran!”
             “HAH?!” saking kagetnya, tangan para awak kapal yang memegang dayung sampai melemas. Akibatnya, sekoci jadi miring dan akan terguling jatuh.
            “Hei! Terus mendayung! Bagaimana nasib para pelaut Jepang kalo mendengar hal ini saja sudah ketakutan?! Ayo cepat! Kita datangi sekoci nomer dua itu!” Kapten marah-marah kepada awak kapal sambil mengetuk keras bibir sekoci. Dan akhirnya sekoci nomer satu kembali berlayar cepat seperti anak panah. Para pendayung menahan rasa terkejut mereka dan mendayung sekuat tenaga.
             “Cukup mendayungnya!” Perintah Kapten. Para pendayung mulai menengok ke kiri dan kanan. Ternyata sekoci mereka sudah dekat dengan sekoci nomer dua. Mata mereka semua berkilat-kilat tajam saat melihat sekoci nomer dua.
            “Ah, sepertinya telah terjadi sesuatu yang mengerikan!”
            “Apa yang sebenarnya telah terjadi disini?!”
            “Di...di tempat seperti itu....ada ada...lengan buntung?”
            Aku tidak tahu bagaimana sebaiknya menulis kondisi di sekoci nomer dua itu. Saking mengerikannya, aku sampai tidak tahu apa yang harus kutulis. Intinya kondisinya saaangat mengerikan, sampai rasanya ingin membasuh wajah dengan darah. Tidak ada satu jasad pun yang masih utuh di sekoci ini. Banyak lengan, kaki dan tulang-tulang manusia berlumuran darah yang berserakan di sekitar sekoci.
            “Apa-apaan ini?!” Kapten Saeki yang terkenal akan ketenangannya, seketika itu jadi berwajah pucat melihat kondisi mengerikan di sekoci ini.

-BERSAMBUNG-

2 comments: