Surat Wasiat yang Menyedihkan
Sekoci nomer dua
terkatung-katung dibawa ombak. Sepertinya tidak ada seorang pun disana. Bahkan
dayungnya pun sepertinya tidak ada. Kondisi sekoci yang ditemukan ini membuat
raut dua puluh tiga bawahan yang mendapat perintah dari Kapten Saeki, jadi
cemas.
“Ayo dayung! Sedikit lagi! Satu!
Dua!” kapten Saeki memberi semangat ke para awak kapal. Bagaikan anak panah,
sekoci nomer satu melesat cepat. Mata kapten pun nggak terlepas dari
teropongnya. Pak Furuya yang berdiri di sebelah beliau melirik ke tangan kapten
yang memegang teropong. Baru sadar kenapa tangan beliau gemetaran?
“Kapten, apa ada sesuatu yang Anda
liat?”
“Hmm...” Kapten Saeki menurunkan
tangan yang memegang teropong. Beliau menghela napas panjang. Raut wajahnya
seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Sepertinya Kapten menemukan
sesuatu yang tak disangka beliau.
“Kapten, apa yang Anda liat?” Todong
Pak Furuya. Kapten seperti menyerah pada rasa penasaran Furuya.
“Semuanya,
dengarkan aku. Aku melihat kondisi sekoci nomer dua yang terapung disana dengan
teropong ini. Aku mengira di sekoci itu orang bahkan dayung saja tidak ada.
Tapi....setelah ku lihat baik-baik....di sekoci itu....ada sesuatu.”Cara bicara
Kapten terkesan berbelit-belit.
“Terus
apa yang Anda lihat di sekoci nomer dua itu? Kapten, tolong cepat katakan pada
kami.”
“DARAH!
DARAH! Di sekoci nomer dua itu, banyak darah berceceran!”
“HAH?!”
saking kagetnya, tangan para awak kapal yang memegang dayung sampai melemas.
Akibatnya, sekoci jadi miring dan akan terguling jatuh.
“Hei! Terus mendayung! Bagaimana
nasib para pelaut Jepang kalo mendengar hal ini saja sudah ketakutan?! Ayo
cepat! Kita datangi sekoci nomer dua itu!” Kapten marah-marah kepada awak kapal
sambil mengetuk keras bibir sekoci. Dan akhirnya sekoci nomer satu kembali
berlayar cepat seperti anak panah. Para pendayung menahan rasa terkejut mereka
dan mendayung sekuat tenaga.
“Cukup
mendayungnya!” Perintah Kapten. Para pendayung mulai menengok ke kiri dan
kanan. Ternyata sekoci mereka sudah dekat dengan sekoci nomer dua. Mata mereka
semua berkilat-kilat tajam saat melihat sekoci nomer dua.
“Ah, sepertinya telah terjadi
sesuatu yang mengerikan!”
“Apa yang sebenarnya telah
terjadi disini?!”
“Di...di tempat seperti
itu....ada ada...lengan buntung?”
Aku tidak tahu bagaimana
sebaiknya menulis kondisi di sekoci nomer dua itu. Saking mengerikannya, aku
sampai tidak tahu apa yang harus kutulis. Intinya kondisinya saaangat
mengerikan, sampai rasanya ingin membasuh wajah dengan darah. Tidak ada satu
jasad pun yang masih utuh di sekoci ini. Banyak lengan, kaki dan tulang-tulang
manusia berlumuran darah yang berserakan di sekitar sekoci.
“Apa-apaan ini?!” Kapten
Saeki yang terkenal akan ketenangannya, seketika itu jadi berwajah pucat
melihat kondisi mengerikan di sekoci ini.
-BERSAMBUNG-
wow
ReplyDeletemenakutkan :D :D :D
Supplier Tas Terbesar
Ikuti terus kisahnya ya ヽ(*´∀`)ノ
Delete