Tuesday, December 13, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Sekoci yang Terkatung-katung



Sekoci yang Terkatung-katung
          Entah bagaimana bisa hanya dengan segelas air,membuat para awak kapal baik-baik saja. Selanjutnya, kapten membagikan satu onigiri basah karena terkena air laut itu ke para awak kapal. Karena cuma ada sedikit, sebisa mungkin harus kebagian semua.
            “Hei, bukankah disana ada makanan kaleng, ya?”
            “Oh, benar. Ternyata aku membungkus makanan kaleng itu dengan taplak meja, ya. Aku sampe lupa hal sepenting ini.”
            Memang jumlahnya kurang dari sepuluh, tapi bagi mereka itu sudah lebih dari syukur.
            “Oi, cepat bagikan. Tiga saja.”
            “Sebentar, aku tanya dulu ke kapten.”
            Daritadi kapten terdiam memandang mereka. Sebelum dibicarakan oleh bawahannya, beliau sudah angkat bicara.
            “Hanya satu saja yang boleh dibuka. Kita belum tahu butuh berapa hari sampai pertolongan datang. Karena itu sebisa mungkin kita harus menghemat bahan makanan. Lebih baik buka satu saja dan bagikan ke semuanya.”
            “Cuma satu?! Kalo begitu kan satu suap aja nggak ada kalo dibagikan ke semuanya.”Kata salah satu awak kapal seperti nggak terima lalu menelan ludah.
            Tapi bagaimana pun juga sang kapten hanya mengizinkan membuka satu kaleng saja. Ada kemungkinan akan terus terkatung-katung di Samudera Pasifik selama setengah tahun dengan kapal yang sudah bobrok. Pahit-pahitnya pun kalo harus terkatung selama satu-dua bulan, ada kemungkinan perhitungannya nanti jadi salah. Soalnya di atas sekoci ini, ada sekitar dua puluh empat orang.
            “Air. Aku butuh air daripada makanan. Kapten, izinkan saya minum satu gelas lagi.”
            “Ya, boleh saja. Tapi sabar, ya.”Kata Kapten seperti bicara ke anak kecil. Tapi kenyataannya, cahaya matahari memang semakin menyengat. Siapa saja pasti jadi merasa kehausan. Sudah pasti minum berapa banyak pun, tidak akan pernah cukup.
            “Hei, semuanya. Tolong buat pelindung matahari di atas sekoci ini. Kumpulkan baju atau celana panjang kalian untuk dijahit jadi satu. Dengan begitu, kalian tidak akan kehausan lagi.”Perintah Kapten.


            Mendengar perintah Kapten, wajah para bawahan yang tadinya terlihat bosen dan kecewa seketika itu jadi bersemangat. Soalnya Kapten memberikan pekerjaan untuk mereka. Baju kerja mereka yang telah terkumpul, dijahit menjadi satu dan menjadi semacam taplak besar. Akhirnya, di atas sekoci terpasang juga taplak putih ini. Walaupun seadanya, setidaknya bisa melindungi tubuh para awak kapal dari terik matahari.
            “Seandainya saja ada sedikit baju lagi, kita bisa buat layar deh.”
            “Jangan. Kita kan tidak tahu kemana kita harus pergi, buat apa kita bikin layar, kan?”
            Walaupun beradu mulut begitu, berkat adanya taplak putih ini keadaan para awak kapal jadi lebih baik. Hari sudah mendekati siang. Kaitani—pria paling bersemangat diantara yang lain, tiba-tiba saja berteriak.
            “Hei! Ada sekoci! Ada sekoci yang berlayar!”
            “Hah?! Sekoci?!”
            “Apa jangan-jangan sekoci dari Wajima Maru? Dimana? Ada dimana?”
            Kaitani menunjuk ke arah timur dengan memegang lengan bawahnya. Entah kenapa baru menyadari soal itu sekarang. Karena memang ada sebuah sekoci yang sedang terkatung-katung di dekat mereka.
            “Oi! Itu sekoci Wajima Maru!”
            “Heei! Kami sekoci nomer satu ada disiniiii!”
            Para awak kapal di sekoci nomer satu berteriak-teriak keras, sampai-sampai mereka menurunkan taplak putih lalu mengibar-ngibarkannya.
            “Aneh....kok nggak ada respon, ya. Apa mereka tidak menyadari panggilan kita?” Kata Kapten Saeki. Lalu, ia melihat ke arah sana dengan teropong.
            “Memang benar, ini aneh. Tidak ada dayung di atas sekoci. Jangankan dayung, orangnya saja sepertinya tidak ada. Tapi aku yakin itu sekoci nomer dua.”
             “Hah?! Sekoci nomer dua?! Apa benar-benar tidak ada orang? Kenapa bisa begitu, ya?”
             “Aneh juga, ya.”Kata Kapten sambil menggelengkan kepala. Beliau menjauhkan teropong dari matanya lalu memandang sekeliling lautan.
            “Hei, ambil dayung! Kita akan mendatangi sekoci nomer dua itu!”
            Apa mungkin memang tidak ada orang di sekoci nomer dua itu? Tanpa tahu akan ada kasus misterius yang tidak disangka-sangka oleh bawahan Kapten Saeki, sekoci nomer satu bergerak cepat di permukaan laut dengan didayung semangat oleh para awak kapal.

- BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment