Tuesday, November 29, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Kapal yang Misterius



Kapal yang Misterius
          Seketika itu, bagian dasar kapal Wajima Maru yang diserang, langsung terbanjiri luapan air laut yang bagaikan naga. Dalam waktu singkat, kapal akan tertarik ke dalam laut.
            “Oh, kapal ini sudah benar-benar miring! Cepat turunkan sekoci yang disana!” di tengah kegelapan malam, terdengar suara kencang seseorang. Lampu pencari di atas kapal menyala. Ada seseorang entah siapa yang menggerak-gerakkan lampu pencari di sekitar permukaan lautan. Padahal kapal akan segera tenggelam, apa yang dia cari?
            Saat keributan ini terlewati, dalam empat menit kapal Wajima Maru yang menyedihkan itu tertelan ombak dan tenggelam ke dasar laut. Karena sangat gelap, suasana di atas permukaan laut benar-benar tidak bisa dimengerti. Empat kapal sekoci mengambang dengan tenangnya di atas lautan. Di belakang mereka, terdengar suara gemuruh air yang dahsyat. Sepertinya itu suara terakhir dari kapal Wajima Maru. Mungkin kapal itu mengalami ledakan di dalam laut. Saat itu juga muncul pusaran air yang menjulang ke atas. Tapi anehnya di tengah gelapnya malam, pusaran itu bercahaya redup. Hal itu menggugah hati para pelaut yang ada di atas sekoci. Mungkin...ini adalah serangan laut mendadak.
            Benar-benar gelap. Mereka sama sekali tidak tahu siapa yang berbuat seperti ini. Kapten Saeki yang berada di sekoci pertama, terus saja menggigit bibirnya.
            “Kapten, semua sekoci selamat. Urutan kapal dari satu, dua, tiga dan empat lengkap semua.”Lapor manajer di tengah kegelapan malam. Dari tadi, dia memberikan kode semapore di atas kapal. Ia memberitahu bahwa semua sekoci lengkap selamat.
            “Oh, begitu. Jalankan sekoci. Kita akan bergerak lurus ke timur.”
            Dengan semangat dan susah payah, empat sekoci itu mulai berlayar di atas permukaan laut yang gelap.
            “Hei, Pak Furuya.” Kapten memanggil kepala bagian komunikasi.
            “Ada apa, Pak?” Pak kepala Furuya sedang menggenggam dayung dan mengayuh sekuat tenaga.
            “Apa mungkin kode SOS dari kapal kita akan muncul di transmitter?”
            “Iya. Kode itu akan terus ada sampai tiga menit. Di waktu itu, aku sudah berusaha mengirim telegram.”
            “Apa tidak ada respon?”
            “Sayang sekali. Tidak ada satu pun....”
            “Transmiter kita kan menghasilkan gelombang radio, ya.”
            “Kalo soal itu Anda tidak perlu khawatir. Karena waktu pengiriman telegram sangat cepat. Saya rasa karena pihak penerima saja yang nggak bisa membalasnya.”
            “Hmmm....”
            Kapten tidak menyangka kalo harus menunggu kedatangan kapal yang menerima sinyal SOS ini untuk segera menolong. Padahal tadi, mereka segera berangkat untuk menolong kapal yang diduga mengalami kecelakaan. Tapi sekarang justru sebaliknya. Pihak Wajima Maru lah yang meminta pertolongan. Benar-benar kejadian sial.
            “Oi, Pak Furuya.”Kapten memanggilnya lagi.
            “Ada apa, Pak?”
            “Tadi saat kau mengirim sinyal dari kapal kita, apa kau bilang di telegram bahwa kapal kita diserang torpedo?”
            “Iya. Saya sudah melaporkannya terlebih dahulu ke kantor pusat. Saya mengirimnya via telegraf.”
            “Oh, begitu. Bagus deh.” Suara kapten menghilang di tengah kegelapan. Angin semilir berhembus di atas permukaan samudera. Ombak menghempaskan sisi sekoci sehingga menghasilkan percikan air.
            “Semangat! Kayuh kapal dengan semangat! Dua jam lagi, malam akan berakhir!” Dengan suara keras, manajer memberi semangat. Saat itu....
            “Ah, kapal! Ada kapal besar melintas!”
            “Kapal besar?! Dimana?!”
            “Disana! Mungkin tidak keliatan tapi tepat di sebelah kiri!”
            “Tepat di sebelah kiri, ya!”
            Seketika itu, mereka semua menengok ke arah yang dimaksud. Memang ada sebuah kapal bercahaya redup yang akan melintas kemari.
            “Ah! Yang itu, ya! Kapalnya besar sekali! Panggil kapal itu!”
            “Tunggu dulu. Jangan gegabah. Coba liat kapal itu! Kapal itu berlayar dalam gelap, kan? Jangan-jangan kapal itulah yang menyerang Wajima Maru kita dengan torpedo.”
            “Hmm...bisa jadi, sih. Kalau begitu kami tidak akan memanggil sembarangan.”

-BERSAMBUNG-

1 comment:

  1. aduh bersambungg..
    seru padahal..
    dtunggu kelanjutannya sensei :D

    ReplyDelete