Kapal yang Misterius
Seketika itu, bagian dasar kapal Wajima Maru yang
diserang, langsung terbanjiri luapan air laut yang bagaikan naga. Dalam waktu
singkat, kapal akan tertarik ke dalam laut.
“Oh, kapal ini sudah
benar-benar miring! Cepat turunkan sekoci yang disana!” di tengah kegelapan
malam, terdengar suara kencang seseorang. Lampu pencari di atas kapal menyala. Ada
seseorang entah siapa yang menggerak-gerakkan lampu pencari di sekitar
permukaan lautan. Padahal kapal akan segera tenggelam, apa yang dia cari?
Saat keributan ini
terlewati, dalam empat menit kapal Wajima Maru yang menyedihkan itu tertelan
ombak dan tenggelam ke dasar laut. Karena sangat gelap, suasana di atas
permukaan laut benar-benar tidak bisa dimengerti. Empat kapal sekoci mengambang
dengan tenangnya di atas lautan. Di belakang mereka, terdengar suara gemuruh
air yang dahsyat. Sepertinya itu suara terakhir dari kapal Wajima Maru. Mungkin
kapal itu mengalami ledakan di dalam laut. Saat itu juga muncul pusaran air
yang menjulang ke atas. Tapi anehnya di tengah gelapnya malam, pusaran itu
bercahaya redup. Hal itu menggugah hati para pelaut yang ada di atas sekoci.
Mungkin...ini adalah serangan laut mendadak.
Benar-benar gelap. Mereka
sama sekali tidak tahu siapa yang berbuat seperti ini. Kapten Saeki yang berada
di sekoci pertama, terus saja menggigit bibirnya.
“Kapten, semua sekoci
selamat. Urutan kapal dari satu, dua, tiga dan empat lengkap semua.”Lapor
manajer di tengah kegelapan malam. Dari tadi, dia memberikan kode semapore di
atas kapal. Ia memberitahu bahwa semua sekoci lengkap selamat.
“Oh, begitu. Jalankan
sekoci. Kita akan bergerak lurus ke timur.”
Dengan semangat dan susah
payah, empat sekoci itu mulai berlayar di atas permukaan laut yang gelap.
“Hei, Pak Furuya.” Kapten
memanggil kepala bagian komunikasi.
“Ada apa, Pak?” Pak kepala
Furuya sedang menggenggam dayung dan mengayuh sekuat tenaga.
“Apa mungkin kode SOS dari
kapal kita akan muncul di transmitter?”
“Iya. Kode itu akan terus
ada sampai tiga menit. Di waktu itu, aku sudah berusaha mengirim telegram.”
“Apa tidak ada respon?”
“Sayang sekali. Tidak ada
satu pun....”
“Transmiter kita kan
menghasilkan gelombang radio, ya.”
“Kalo soal itu Anda tidak
perlu khawatir. Karena waktu pengiriman telegram sangat cepat. Saya rasa karena
pihak penerima saja yang nggak bisa membalasnya.”
“Hmmm....”
Kapten tidak menyangka
kalo harus menunggu kedatangan kapal yang menerima sinyal SOS ini untuk segera
menolong. Padahal tadi, mereka segera berangkat untuk menolong kapal yang
diduga mengalami kecelakaan. Tapi sekarang justru sebaliknya. Pihak Wajima Maru
lah yang meminta pertolongan. Benar-benar kejadian sial.
“Oi, Pak Furuya.”Kapten
memanggilnya lagi.
“Ada apa, Pak?”
“Tadi saat kau mengirim
sinyal dari kapal kita, apa kau bilang di telegram bahwa kapal kita diserang
torpedo?”
“Iya. Saya sudah
melaporkannya terlebih dahulu ke kantor pusat. Saya mengirimnya via telegraf.”
“Oh, begitu. Bagus deh.”
Suara kapten menghilang di tengah kegelapan. Angin semilir berhembus di atas
permukaan samudera. Ombak menghempaskan sisi sekoci sehingga menghasilkan
percikan air.
“Semangat! Kayuh kapal
dengan semangat! Dua jam lagi, malam akan berakhir!” Dengan suara keras,
manajer memberi semangat. Saat itu....
“Ah, kapal! Ada kapal
besar melintas!”
“Kapal besar?! Dimana?!”
“Disana! Mungkin tidak
keliatan tapi tepat di sebelah kiri!”
“Tepat di sebelah kiri,
ya!”
Seketika itu, mereka semua
menengok ke arah yang dimaksud. Memang ada sebuah kapal bercahaya redup yang
akan melintas kemari.
“Ah! Yang itu, ya!
Kapalnya besar sekali! Panggil kapal itu!”
“Tunggu dulu. Jangan
gegabah. Coba liat kapal itu! Kapal itu berlayar dalam gelap, kan?
Jangan-jangan kapal itulah yang menyerang Wajima Maru kita dengan torpedo.”
“Hmm...bisa jadi, sih.
Kalau begitu kami tidak akan memanggil sembarangan.”
-BERSAMBUNG-
aduh bersambungg..
ReplyDeleteseru padahal..
dtunggu kelanjutannya sensei :D