Suntik
apa?!
Profesor
tidak mengatakan apa-apa soal tempat tujuan tong ini. Dia hanya bilang nanti
akan tau kalo liat sendiri. Tousuke dan Hitomi lebih penasaran dengan bagaimana
keadaan negeri itu daripada melihat pemandangan di depan. Dan mereka terus
merayu Profesor. Profesor terlihat cuek bukannya marah. Akhirnya Profesor
bicara juga dari celah pipa walau cuma sebentar.
“Apa saja yang hidup di dunia kalian?”
“Dunia kami? Hmm....manusia.” Tousuke menjawab pertanyaan
Profesor.
“Cuma manusia? Ada semut dan pohon sakura juga kan?”
“Oh, iya. Aku ralat jawabanku tadi. Di dunia kami banyak
binatang. Dunia binatang juga dunia manusia.” Tousuke menoleh ke arah Hitomi
untuk memastikan jawabannya. Hitomi pun mengangguk.
“Oh, begitu ya.” Kata Profesor.
“Aku mau tanya lagi. Apa yang bergerak di dunia kalian?”
Rasanya jadi seperti seorang narasumber.
“Yaa, makhluk hidup. Manusia, kuda, burung, ikan, lalu
kumbang, kupu-kupu, ulat, semua makhluk hidup.” Ini jawaban Hitomi.
“Apa ada lagi selain itu?”
“Selain makhluk hidup, tidak ada yang bergerak. Karena makhluk
hidup memakai kanji `bergerak`, jadi yang bisa bergerak yaa cuma makhluk hidup.”
Hitomi merasa percaya diri menjawabnya.
“Oh, begitu ya. Kalau begitu, aku mau tanya lagi. Apa
yang mempunyai insting di dunia kalian? Misalnya ingin pergi ke suatu tempat,
maka akan pergi. Kalo merasa dingin, maka akan berusaha melindungi diri dari
rasa dingin. Menghirup udara segar, kalau ingin minum pasti akan minum. Apakah
itu?”
“Itulah makhluk hidup.”
“Aku juga berpikir begitu. Itu makhluk hidup.”
Mereka berdua menjawab begitu. Seperti memang begitulah
kenyataannya. “Oh, begitu ya.”
Sahut Profesor seperti ragu.
Kenapa Profesor seperti meragukan hal itu? Rasanya Hitomi
dan Tousuke ingin bertanya begitu pada Profesor.
“Berarti dunia kalian tuh dunia makhluk hidup. Sesuatu
yang bergerak di muka bumi disebut makhluk hidup. Sesuatu yang punya insting
atau keinginan untuk melakukan sesuatu pun makhluk hidup. Kalian bilang begitu,
kan. Aku harap kalian mengingat kata-kataku ini. Setelah itu, aku akan bertanya
hal yang sama lagi pada kalian.” Kata-kata Profesor terkesan misterius.
“Selagi kita ngobrol, kita telah sampai. Kita akan
mendarat di negeri ajaib itu. Mungkin nanti agak sedikit pusing tapi
bertahanlah, ya.” Bersamaan setelah Profesor selesai ngomong, terdengar suara
aneh. Lama-lama berubah menjadi nada aneh. Hati mereka berdua mendadak merasa
nggak enak. Rasanya pengen muntah.
Sebentar saja nada itu menghilang. Suara aneh itu pun
menghilang. Getarannya pun menghilang. Dengan malas-malasan, Profesor berdiri dari
ruang kokpit.
“Kita sudah sampai di negeri itu. Kita akan turun, tapi
sebelumnya kita harus disuntik khusus dulu. Soalnya kalo tidak disuntik, nanti
kalian tidak bisa melihat sesuatu yang menarik. Ayo mana lengan kalian.” Entah
sejak kapan, tangan Profesor sudah memegang suntikan saja.
Karena sudah datang sampai sini, mau nggak mau Hitomi dan
Tousuke hanya bisa nurut kata-kata Profesor. Mereka menutup mata dan Profesor
menyuntik lengan mereka. Jangankan sakit, geli aja nggak! Perasaan mereka pun
sama sekali nggak berubah. Hanya saja perasaan mereka jadi lebih baik dari
sebelumnya.
“Ayo kita keluar dari sini.”Profesor berdiri di depan
mereka lalu membuka pintu. Pintu masuk besar dan bulat seperti berdiameter dua
meter, terbuka. Diluar tidak terlihat apa-apa karena gelap. Hitomi dan Tousuke
memegang tangan Profesor lalu menghitung one,
two, three dan lompat! Suara seperti petir itu lagi-lagi terdengar bikin
sesak napas. Sama seperti sebelumnya. Dan tiba-tiba saja cerah.
Matahari bersinar terik di atas kepala. Angin pun bertiup
sepoi-sepoi. Permukaannya ternyata padang pasir. Saat berbalik, tong kecil yang
diliat mereka pas di ruang bawah tanah, tergeletak di atas pasir. Lalu mereka
diselimuti kabut putih. Hitomi dan Tousuke mengira asap putih ini berasal dari
tong itu. Makanya mereka tidak merasa aneh.
“Ini dimana? Mana hal menariknya?”
“Masih belum sadar juga? Coba liat kesana.” Profesor
menunjuk ke arah horison. Hitomi dan Tousuke menengok ke arah yang ditunjuk
Profesor. Wajah mereka berdua benar-benar keliatan sangat kaget.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment