Wednesday, February 15, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 5


Suntik apa?!

            Profesor tidak mengatakan apa-apa soal tempat tujuan tong ini. Dia hanya bilang nanti akan tau kalo liat sendiri. Tousuke dan Hitomi lebih penasaran dengan bagaimana keadaan negeri itu daripada melihat pemandangan di depan. Dan mereka terus merayu Profesor. Profesor terlihat cuek bukannya marah. Akhirnya Profesor bicara juga dari celah pipa walau cuma sebentar.

            “Apa saja yang hidup di dunia kalian?”

            “Dunia kami? Hmm....manusia.” Tousuke menjawab pertanyaan Profesor.

            “Cuma manusia? Ada semut dan pohon sakura juga kan?”

            “Oh, iya. Aku ralat jawabanku tadi. Di dunia kami banyak binatang. Dunia binatang juga dunia manusia.” Tousuke menoleh ke arah Hitomi untuk memastikan jawabannya. Hitomi pun mengangguk.

            “Oh, begitu ya.” Kata Profesor.

            “Aku mau tanya lagi. Apa yang bergerak di dunia kalian?”

            Rasanya jadi seperti seorang narasumber.

            “Yaa, makhluk hidup. Manusia, kuda, burung, ikan, lalu kumbang, kupu-kupu, ulat, semua makhluk hidup.” Ini jawaban Hitomi.

            “Apa ada lagi selain itu?”

            “Selain makhluk hidup, tidak ada yang bergerak. Karena makhluk hidup memakai kanji `bergerak`, jadi yang bisa bergerak yaa cuma makhluk hidup.” Hitomi merasa percaya diri menjawabnya.

            “Oh, begitu ya. Kalau begitu, aku mau tanya lagi. Apa yang mempunyai insting di dunia kalian? Misalnya ingin pergi ke suatu tempat, maka akan pergi. Kalo merasa dingin, maka akan berusaha melindungi diri dari rasa dingin. Menghirup udara segar, kalau ingin minum pasti akan minum. Apakah itu?”

            “Itulah makhluk hidup.”

            “Aku juga berpikir begitu. Itu makhluk hidup.”

            Mereka berdua menjawab begitu. Seperti memang begitulah kenyataannya.            “Oh, begitu ya.” Sahut Profesor seperti ragu.

            Kenapa Profesor seperti meragukan hal itu? Rasanya Hitomi dan Tousuke ingin bertanya begitu pada Profesor.

            “Berarti dunia kalian tuh dunia makhluk hidup. Sesuatu yang bergerak di muka bumi disebut makhluk hidup. Sesuatu yang punya insting atau keinginan untuk melakukan sesuatu pun makhluk hidup. Kalian bilang begitu, kan. Aku harap kalian mengingat kata-kataku ini. Setelah itu, aku akan bertanya hal yang sama lagi pada kalian.” Kata-kata Profesor terkesan misterius.

            “Selagi kita ngobrol, kita telah sampai. Kita akan mendarat di negeri ajaib itu. Mungkin nanti agak sedikit pusing tapi bertahanlah, ya.” Bersamaan setelah Profesor selesai ngomong, terdengar suara aneh. Lama-lama berubah menjadi nada aneh. Hati mereka berdua mendadak merasa nggak enak. Rasanya pengen muntah.

            Sebentar saja nada itu menghilang. Suara aneh itu pun menghilang. Getarannya pun menghilang. Dengan malas-malasan, Profesor berdiri dari ruang kokpit.

            “Kita sudah sampai di negeri itu. Kita akan turun, tapi sebelumnya kita harus disuntik khusus dulu. Soalnya kalo tidak disuntik, nanti kalian tidak bisa melihat sesuatu yang menarik. Ayo mana lengan kalian.” Entah sejak kapan, tangan Profesor sudah memegang suntikan saja.

            Karena sudah datang sampai sini, mau nggak mau Hitomi dan Tousuke hanya bisa nurut kata-kata Profesor. Mereka menutup mata dan Profesor menyuntik lengan mereka. Jangankan sakit, geli aja nggak! Perasaan mereka pun sama sekali nggak berubah. Hanya saja perasaan mereka jadi lebih baik dari sebelumnya.

            “Ayo kita keluar dari sini.”Profesor berdiri di depan mereka lalu membuka pintu. Pintu masuk besar dan bulat seperti berdiameter dua meter, terbuka. Diluar tidak terlihat apa-apa karena gelap. Hitomi dan Tousuke memegang tangan Profesor lalu menghitung one, two, three dan lompat! Suara seperti petir itu lagi-lagi terdengar bikin sesak napas. Sama seperti sebelumnya. Dan tiba-tiba saja cerah.

            Matahari bersinar terik di atas kepala. Angin pun bertiup sepoi-sepoi. Permukaannya ternyata padang pasir. Saat berbalik, tong kecil yang diliat mereka pas di ruang bawah tanah, tergeletak di atas pasir. Lalu mereka diselimuti kabut putih. Hitomi dan Tousuke mengira asap putih ini berasal dari tong itu. Makanya mereka tidak merasa aneh.

            “Ini dimana? Mana hal menariknya?”

            “Masih belum sadar juga? Coba liat kesana.” Profesor menunjuk ke arah horison. Hitomi dan Tousuke menengok ke arah yang ditunjuk Profesor. Wajah mereka berdua benar-benar keliatan sangat kaget.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment