Gerbang
Negeri Bawah Laut
Roket tong yang
mereka bertiga naiki telah masuk ke bawah laut. Rimbunan rumput laut dan
ikan-ikan tujuh warna berlarian di belakangnya, lalu sekitarnya tiba-tiba
menjadi suram. Sebagai latar belakangnya, tulang belulang manusia yang
terselimuti lumpur, berserakan dimana-mana. Ikan laut dalam yang bercahaya
fosfor, berlalu-lalang bikin perasaan jadi nggak enak. Roket terus saja turun
sampai ke dalam permukaan batu. Entah istana naga atau neraka setan bawah laut
yang ada di sana. Tiba-tiba Profesor menyalakan lampu roket tong yang super
terang. Pemandangan di depan jadi lebih terang.
“Waah,
indahnya!” Teriak Hitomi.
“Lho?
Apa itu?” Mata Tousuke membulat.
Lihatlah!
Ratusan, ribuan....buanyak sekali asap putih yang membumbung tinggi dari bawah
laut—bukan! Itu bukan asap putih! Melainkan pilar! Wajarlah tadi dikira asap,
karena pilar-pilar itu agak miring seperti mau jatuh. Pada bagian ujung pilar
putih yang banyak itu, masing-masing terdapat tabung gas yang berwarna sama.
Saat mendekat kesana, ternyata tabung gas nya super besar! Pilar itu lebih
lebar daripada cerobong asap yang ada di kapal pesiar. Pilar-pilar itu berjajar
rapi seperti hutan dan menjulang ke atas. Bagian ujungnya tak terlihat karena
terhalang keruhnya air laut. Sebenarnya...ini apaan sih?
Saat
itu, roket tong sedang berjalan melewati rimbunan pilar di tengah lautan dan
tiba-tiba saja Profesor menurunkan roketnya untuk mendekat ke arah pilar.
Ternyata banyak sekali barisan tabung gas tergantung di atasnya. Atap tabungnya
rata. Lalu di bagian garis hitamnya banyak lingkaran, dan pada lingkarannya
tertulis angka. Saat itu, roket tong mengunjungi tabung bertuliskan angka 8 di
bagian dalam lingkarannya. Tiba-tiba saja lingkaran angka 8 itu melekuk. Bukan
melekuk, melainkan bergerak turun.
“Kenapa,
Profesor Polder?”
Profesor
bangkit dari kursi kokpit, lalu mendatangi mereka berdua.
“Kita
sudah sampai. Kita sudah sampai di Negeri Bawah Laut. Nanti roket ini akan
masuk ke dalam.”
“Negeri
Bawah Laut?”
“Iya.
Kita sekarang berada di pintu masuk menuju Negeri Bawah Laut. Nanti ada lima
pintu dan masing-masing akan terbuka dan tertutup satu per satu. Kalo kita masuk,
pintunya akan terbuka.”
“Lima
pintu? Kenapa harus begitu?”
“Dibikin
lima pintu supaya tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Kemudian, pintu itu
akan menurunkan tekanan air yang dahsyat sampe tekanan udara di Negeri Bawah
Laut satu per satu. Karena kalo tidak, manusia dan kendaraan akan rusak terkena
perubahan tekanan yang dahsyat, tubuh pun hancur, dan kita akan mengalami
pendarahan dalam tubuh.”
Mata
Tousuke dan Hitomi membelalak baru mengerti maksudnya. Cakram yang tertulis
angka itu ternyata semacam lift yang bergerak naik-turun. Roket tong masuk ke
dalam dan turun menuju pintu kedua. Di pintu pertama, roket meluncur turun lalu
terhalang oleh sebuah lubang. Lalu tekanan udara dan air laut yang sama-sama
masuk, dibuang keluar. Selanjutnya roket tong masuk ke pintu kedua menuju pintu
ke tiga. Saat pintu kedua tertutup selanjutnya buka-tutup buka-tutup begitu
seterusnya. Setelah melewati ruang di pintu kelima, Roket tong sampai di sebuah
ruangan besar.
“Nah,
ayo kita keluar.” Entah sejak kapan penampilan Profesor Polder udah kayak mau
jalan-jalan aja, lalu mendesak Hitomi dan Tousuke.
“Jalan-jalan
ke Negeri Bawah Laut!”
“Seperti
apa yaa Negeri Bawah Laut itu? Penghuninya seperti apa, yaa?”
“Sabar
sabar. Nanti juga kalian akan mengerti.”Kata Profesor.
Saat
mereka bertiga keluar dari roket, terdapat sebuah pintu di salah satu sisi
ruang besar ini. Begitu mereka melewati pintu, ada ruang semacam jembatan yang
luas sekali. Ada sungai yang mengalir diantara jembatan satu ke jembatan lain.
“Ternyata
di tempat seperti ini ada aliran sungai juga yaa.”
“Bukan,
itu bukan sungai. Itu disebut ‘jalan hidup’.”
“Jalan
hidup?”
“Maksudnya
jalannya bergerak. Ada sembilan jalan disini. Kedua sisi dan luarnya berwarna
putih. Lalu ada biru, oranye, nila, merah sampai merah tua. Warna putih tuh
jalan yang bergerak paling lambat. Kalo ingin lebih cepat, pergi ke jalan di
sebelahnya. Nanti bakal ada jalan warna merah tua yang merupakan jalan paling
cepat. Kecepatan jalan itu bergerak sekitar ratusan kilometer per jam.”
Oh,
begitu ya. Jadi ini bukanlah sungai. Awalnya karena bergerak jadi dikiranya
sungai yang mengalir. Ternyata ini bukan sungai melainkan jalan yang bergerak
seperti yang Profesor bilang tadi.
“Jadi
jalan yang bergerak tuh bukan jalan yang terbuat dari tanah atau aspal seperti
biasanya ya.”
“Benar.
Jalan ini terbuat dari sejenis karet. Gaya geseknya dan elastisitasnya pas.
Soal kekokohannya nggak usah khawatir. Raksasa atau buldozer pun bisa berdiri
di jalan ini. Jalan ini bergerak dengan kecepatan yang telah ditentukan. Nah,
kita juga naik itu yuk. Pertama kita coba naik jalan yang warna putih, jalan
yang paling lambat dulu aja. Saat lompat ke jalan itu, kalian harus mendaratkan
kedua kaki kalian seperti kelinci. Tidak boleh mengangkang.” Profesor mendorong
bahu mereka berdua yang lagi ketakutan.
“Satu!
Dua! Tiga!” Mereka bertiga lompat. Saat melompat, tidak terjadi apa-apa.
Melihat-lihat sekeliling pun tidak.
“Kecepatan
jalan ini hanya lima kilometer per jam. Nah selanjutnya, kita pindah ke jalan
warna biru, yuk. Kita akan berpindah ke jalan yang semakin cepat.”
Begitulah,
setelah dicoba ternyata nggak kenapa-napa. Di negeri ini, tidak ada yang
namanya kereta atau mobil. Semuanya menggunakan ‘jalan hidup’ sebagai alat
transportasi.
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment