Tuesday, April 25, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps 24



Gerbang Negeri Bawah Laut
            Roket tong yang mereka bertiga naiki telah masuk ke bawah laut. Rimbunan rumput laut dan ikan-ikan tujuh warna berlarian di belakangnya, lalu sekitarnya tiba-tiba menjadi suram. Sebagai latar belakangnya, tulang belulang manusia yang terselimuti lumpur, berserakan dimana-mana. Ikan laut dalam yang bercahaya fosfor, berlalu-lalang bikin perasaan jadi nggak enak. Roket terus saja turun sampai ke dalam permukaan batu. Entah istana naga atau neraka setan bawah laut yang ada di sana. Tiba-tiba Profesor menyalakan lampu roket tong yang super terang. Pemandangan di depan jadi lebih terang.
            “Waah, indahnya!” Teriak Hitomi.
            “Lho? Apa itu?” Mata Tousuke membulat.
            Lihatlah! Ratusan, ribuan....buanyak sekali asap putih yang membumbung tinggi dari bawah laut—bukan! Itu bukan asap putih! Melainkan pilar! Wajarlah tadi dikira asap, karena pilar-pilar itu agak miring seperti mau jatuh. Pada bagian ujung pilar putih yang banyak itu, masing-masing terdapat tabung gas yang berwarna sama. Saat mendekat kesana, ternyata tabung gas nya super besar! Pilar itu lebih lebar daripada cerobong asap yang ada di kapal pesiar. Pilar-pilar itu berjajar rapi seperti hutan dan menjulang ke atas. Bagian ujungnya tak terlihat karena terhalang keruhnya air laut. Sebenarnya...ini apaan sih?
            Saat itu, roket tong sedang berjalan melewati rimbunan pilar di tengah lautan dan tiba-tiba saja Profesor menurunkan roketnya untuk mendekat ke arah pilar. Ternyata banyak sekali barisan tabung gas tergantung di atasnya. Atap tabungnya rata. Lalu di bagian garis hitamnya banyak lingkaran, dan pada lingkarannya tertulis angka. Saat itu, roket tong mengunjungi tabung bertuliskan angka 8 di bagian dalam lingkarannya. Tiba-tiba saja lingkaran angka 8 itu melekuk. Bukan melekuk, melainkan bergerak turun.
            “Kenapa, Profesor Polder?”
            Profesor bangkit dari kursi kokpit, lalu mendatangi mereka berdua.
            “Kita sudah sampai. Kita sudah sampai di Negeri Bawah Laut. Nanti roket ini akan masuk ke dalam.”
            “Negeri Bawah Laut?”
            “Iya. Kita sekarang berada di pintu masuk menuju Negeri Bawah Laut. Nanti ada lima pintu dan masing-masing akan terbuka dan tertutup satu per satu. Kalo kita masuk, pintunya akan terbuka.”
            “Lima pintu? Kenapa harus begitu?”
            “Dibikin lima pintu supaya tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Kemudian, pintu itu akan menurunkan tekanan air yang dahsyat sampe tekanan udara di Negeri Bawah Laut satu per satu. Karena kalo tidak, manusia dan kendaraan akan rusak terkena perubahan tekanan yang dahsyat, tubuh pun hancur, dan kita akan mengalami pendarahan dalam tubuh.”
            Mata Tousuke dan Hitomi membelalak baru mengerti maksudnya. Cakram yang tertulis angka itu ternyata semacam lift yang bergerak naik-turun. Roket tong masuk ke dalam dan turun menuju pintu kedua. Di pintu pertama, roket meluncur turun lalu terhalang oleh sebuah lubang. Lalu tekanan udara dan air laut yang sama-sama masuk, dibuang keluar. Selanjutnya roket tong masuk ke pintu kedua menuju pintu ke tiga. Saat pintu kedua tertutup selanjutnya buka-tutup buka-tutup begitu seterusnya. Setelah melewati ruang di pintu kelima, Roket tong sampai di sebuah ruangan besar.
            “Nah, ayo kita keluar.” Entah sejak kapan penampilan Profesor Polder udah kayak mau jalan-jalan aja, lalu mendesak Hitomi dan Tousuke.
            “Jalan-jalan ke Negeri Bawah Laut!”
            “Seperti apa yaa Negeri Bawah Laut itu? Penghuninya seperti apa, yaa?”
            “Sabar sabar. Nanti juga kalian akan mengerti.”Kata Profesor.
            Saat mereka bertiga keluar dari roket, terdapat sebuah pintu di salah satu sisi ruang besar ini. Begitu mereka melewati pintu, ada ruang semacam jembatan yang luas sekali. Ada sungai yang mengalir diantara jembatan satu ke jembatan lain.
            “Ternyata di tempat seperti ini ada aliran sungai juga yaa.”
            “Bukan, itu bukan sungai. Itu disebut ‘jalan hidup’.”
            “Jalan hidup?”
            “Maksudnya jalannya bergerak. Ada sembilan jalan disini. Kedua sisi dan luarnya berwarna putih. Lalu ada biru, oranye, nila, merah sampai merah tua. Warna putih tuh jalan yang bergerak paling lambat. Kalo ingin lebih cepat, pergi ke jalan di sebelahnya. Nanti bakal ada jalan warna merah tua yang merupakan jalan paling cepat. Kecepatan jalan itu bergerak sekitar ratusan kilometer per jam.”
Oh, begitu ya. Jadi ini bukanlah sungai. Awalnya karena bergerak jadi dikiranya sungai yang mengalir. Ternyata ini bukan sungai melainkan jalan yang bergerak seperti yang Profesor bilang tadi.
“Jadi jalan yang bergerak tuh bukan jalan yang terbuat dari tanah atau aspal seperti biasanya ya.”
“Benar. Jalan ini terbuat dari sejenis karet. Gaya geseknya dan elastisitasnya pas. Soal kekokohannya nggak usah khawatir. Raksasa atau buldozer pun bisa berdiri di jalan ini. Jalan ini bergerak dengan kecepatan yang telah ditentukan. Nah, kita juga naik itu yuk. Pertama kita coba naik jalan yang warna putih, jalan yang paling lambat dulu aja. Saat lompat ke jalan itu, kalian harus mendaratkan kedua kaki kalian seperti kelinci. Tidak boleh mengangkang.” Profesor mendorong bahu mereka berdua yang lagi ketakutan.
“Satu! Dua! Tiga!” Mereka bertiga lompat. Saat melompat, tidak terjadi apa-apa. Melihat-lihat sekeliling pun tidak.
“Kecepatan jalan ini hanya lima kilometer per jam. Nah selanjutnya, kita pindah ke jalan warna biru, yuk. Kita akan berpindah ke jalan yang semakin cepat.”
Begitulah, setelah dicoba ternyata nggak kenapa-napa. Di negeri ini, tidak ada yang namanya kereta atau mobil. Semuanya menggunakan ‘jalan hidup’ sebagai alat transportasi.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment