Saturday, January 19, 2013

Yakuza van Java (Act 5)



The hell challenge is beginning
SECOND LEVEL

            Shizuka terus menguap seraya melihat ke arah jendela. Ia bisa melihat atap-atap rumah penduduk dan burung yang terbang di langit. Pelajaran Matematika emang pelajaran yang paling dibenci Shizuka dari saat ia masih sekolah di Jepang. Rasanya ia ingin mengakhiri saja pelajaran ini dan pulang.
“Fiuh....ternyata sekolah Indonesia sama aja dengan di Jepang.” Gumam Shizuka. Rita yang duduk di sebelahnya melihat wajah bosan Shizuka yang terus memandangi jendela. Rita membuka notes untuk otretan dan menulis sesuatu. Setelah itu Rita menepuk bahu Shizuka yang membuatnya tersadar dari lamunannya. ‘BT ya...’ Itu tulisan yang terlihat di notes Rita saat membacanya. Shizuka memandangi Rita bingung. Tapi, ia segera menulis balasannya. ‘BT itu apa?’ Itu yang dibaca Rita di notesnya dan membuatnya tertawa sedikit. Oh, iya ya. Dia kan bego. batin Rita. Rita menggeleng ke arah Shizuka seraya tersenyum.
“Tenang, bentar lagi kita pulang kok abis pelajaran ini. Semangat.” Bisik Rita yang diikuti anggukan polos Shizuka. Tanpa disadari, matanya menatap kursi kosong di baris keempat dari belakang di seberangnya. Izan...dasar bodoh. Gue nggak akan kalah dari lo.
            TEEEEEEEEET~! Tak terasa bel tanda pulang sekolah berbunyi. Murid-murid kelas 2-4 sibuk membereskan buku.
“Yak, anak-anak. Kumpulkan PR kalian di meja Bapak besok pagi, ya.” Ujar Pak Minto- guru Matematika mereka seraya pergi. Shizuka memandangi dua cewek di depannya. semangat!
“A...anou...” Shizuka menyentuh kedua pundak cewek di depannya. Sontak, mereka langsung berteriak.
“A...AMPUN SHIZUKA! AMPUN.” Seru mereka berdua dan berlari keluar kelas. Shizuka menatap sedih kursi yang jadi kosong di depannya. Rita tersenyum geli melihat tingkah polos Shizuka. Shizuka menatap temen-temen lainnya. Yosh, ganbare[1]! Shizuka mengambil tas nya lalu berjalan menghampiri cowok-cowok yang asyik bercanda.
“Ha...halo...” Sapa Shizuka yang disambut oleh kelima cowok tersebut dengan membereskan tasnya terburu-buru dan lari tunggang langgang. Shizuka menatap mereka sedih. Ia masih nggak menyerah dan menghampiri dua orang cewek yang sedang piket menyapu.
“Wah...kalian lagi nyapu, ya. Boleh nggak gue...” Seorang cewek yang didekati Shizuka tersebut langsung menatapnya lekat-lekat dan begitu tahu dia Shizuka ia langsung berteriak sampai sapunya terlempar dan mengenai Shizuka. Cewek tersebut diikuti temannya yang tadi ikut menyapu langsung lari kabur. Gue nggak mau mati. Gue belum punya pacar, Shizuka. batin salah satu cewek yang piket tadi keluar kelas dan memandangnya dengan wajah ketakutan. Rita langsung mendatangi Shizuka yang wajah dan kepalanya terkena lemparan sapu tadi.
 "Kamu nggak papa, kan, Shizuka. Sakit?"
“Huwaaaaa.....gue nggak punya teman....huwaaa...mereka semua kabur.” Shizuka teriak-teriak seperti anak kecil seraya memeluk Rita. Hei, kalo kamu bilang nggak punya temen, lha aku ini siapa? batin Rita agak kesal.
“Anata wa Shizuka nan deshou ne[2]” Kata seorang cewek membuat Rita dan Shizuka menoleh. Shizuka terkejut. Cewek cantik berambut sebahu itu berjalan mendekati mereka.
“Wah! Kamu bisa bahasa Jepang?!” Seru Shizuka antusias. Cewek tersebut geleng-geleng kepala.
“Nggak. Dulu, aku pernah les karena pernah tertarik sama Jepang.” Kata cewek anggun tersebut berhenti di depan mereka dan mengulurkan tangannya.
“Watashi wa Nana desu. Yoroshiku onegaishimasu[3].” Shizuka menyambut tangan Nana dengan riang gembira.
“Waaa~! Kochirakoso~! Yaai~! Yatto tomodachi ga dekitan da~! Ureshii[4]!” Seru Shizuka seraya menyalaminya kuat-kuat sampai tubuh Nana sedikit berguncang.
“Woy! Udah dong ngomong gituannya. Aku nggak ngerti nih.” Seru Rita kesal seraya melipat tangannya di depan dada dan mendengus kesal. Shizuka dan Nana tertawa kecil.
“Maaf, ya Rita. Iya, deh di depan lo kita nggak akan ngomong gitu lagi hahahhaha...” Tawa Shizuka diikuti anggukan Nana.
“Kalian mau kemana?” Tanya Nana.
“Oh, rencananya aku sama Shizuka mau jalan-jalan sekitar sini aja. Karena katanya dia pengen lihat-lihat Bandung.” Kata Rita seraya menyingkut lengan Shizuka. Shizuka hanya meringis.
“A...aku...boleh ikut kalian...” Rita dan Shizuka menoleh. Shizuka yang lebih terlihat bingung.
“E..elo...nggak takut sama gue?”
Nana tersenyum. “Kenapa aku harus takut sama kamu? Aku percaya kamu orang baik.” Muka Shizuka terlihat sangat terharu dan senang bukan kepalang. Dasar cewek gampang ditebak, batin Rita seraya tersenyum.
“Nana, mulai sekarang lo sahabat gue!” Kata Shizuka seraya memegang kedua tangan Nana. Nana hanya tersenyum kecil. Merasa aneh dengan tingkah polos Shizuka.
“Heee?! Aku kan lebih lama temenan sama kamu. Aku bukan sahabat, nih?” Celetuk Rita kesal. Shizuka dan Nana tertawa cekikikan.
“Uh! Kok malah ketawa sih kalian. Oke...oke...karena Shizuka udah punya temen baru...akunya....” Rita nggak sempat melanjutkan kata-katanya karena Shizuka tiba-tiba menyentuh pundaknya.
“Kalo Rita bukan sahabat. Tapi....super sahabat.” Kata Shizuka santai seraya tersenyum. Rita terpana. Nana pun ikut tersenyum. Seketika itu senyum Rita mengembang dengan lebar dan langsung merangkul mereka berdua.
“Yok, kita jalan-jalan~! Bantuin si cewek kuat dan bego ini hahahhahha...” Seru Rita seraya melirik ke arah Shizuka dan membuat Shizuka cemberut sebentar lalu tertawa bersama. Saat hendak keluar gerbang sekolah, di depan halaman, berdiri cowok tinggi besar berkulit cokelat muda dengan kepala sedikit ditumbuhi rambut menghalangi langkah mereka. Nana dan Rita terkejut.
“Halo, lo masih inget gue?”
Shizuka melihat cowok tersebut dan raut mukanya terlihat seperti menerawang berpikir keras.
“Nggak.” Jawabnya dengan muka polos. Rita menepuk wajahnya. Dasar bodoh. batinnya.
“Gue! Lo sama sekali nggak inget gue? Gue yang lo kalahin!”
“Nggak.”
Cowok tersebut melangkah mendekati Shizuka sampai jarak mereka cuman lima belas sentian. Cowok tersebut mengulurkan tangannya.
“Gue mohon. Masuklah ke klub kami.” Katanya tiba-tiba. Rita dan Nana melongo. Mereka udah ketakutan berpikir bakalan ada pertumpahan darah.
“Klub?”
“Ya. Klub Karate. Gue terkesan liat teknik lo. Selama ini gue nggak pernah dibanting sehebat itu. Apalagi sama cewek.”
“Oh! Iya iya gue ingat! Elo yang kemaren ngelawan gue di klub Karate, ya? Si cowok pantang menyerah! Oh, iya gue ingat.”
GUBRAAAAAAAAK~! Kenapa dia baru inget?!otaknya sudah rusak kali, ya. Sialan! Baru pertama kali gue dilupain gitu aja. Sama cewek lagi. Nih cewek mana keliatan polos dan bego gini lagi. Beneran kuat nggak sih.”
“Apa lo mau nerima undangan gue?”
“Nggak.” Kata Shizuka datar. Membuat Rita dan Nana melongo sekali lagi.
“Shi...Shizuka...lebih baik..”
“Tenang aja, Nana.”
“Gue mohon.” Kata cowok itu.
“Hei. Sebelum ngajak orang masuk ke klub nya harusnya memperkenalkan diri dulu dong.” Kata Shizuka dengan mata tajam.
“SHIZUKA~!” Seru Rita dan Nana serempak. Sialan nih cewek. Banyak lagak. Sabar~sabar. Dalam hati sebenarnya Rido udah nggak tahan lagi dengan tingkah Shizuka yang baginya sok berkuasa itu.
 “Nama gue Rido. Kita seangkatan kok. Gue murid kelas dua juga. Tapi kelas 2-1. Kapten klub karate.”
“Hmmm...bagus...bagus...” Ujar Shizuka seraya mengangguk-angguk. Gila! Shizuka bisa naklukin Rido? Cowok yang terkenal nggak akan memohon sama siapapun itu? Cowok berpengaruh kedua setelah Izan? Gila! beneran gila! batin Nana nggak percaya.
“Jadi gimana? Gue mohon lo..”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Nggak menarik.”
“Gue mohon.”
“Pokoknya nggak. Udah, ya. Gue nggak mau membuat Nana dan Rita menunggu. Ayo!” Kata Shizuka seraya membungkuk sedikit dan  menggandeng kedua sahabatnya itu berjalan melewati Rido. Rido berbalik.
“Gue bakal ngikutin lo kemanapun lo pergi sampe lo nerima undangan gue!” Shizuka berhenti melangkah. Ia membalikkan badannya dan melihat Rido berjalan menghampirinya.
“Hei, Shizu. Mending kamu terima aja, deh. Cocok buat kamu juga kan.” Bisik Rita.
“Nggak mau.”
“Kenapa? Nanti dia ngikutin kamu terus lho. Dia itu yaa nggak pernah ditolak kalo ia minta. Kamu orang pertama yang berani menolak permintaannya, lho.” Timpal Nana seraya berbisik-bisik ke telinga Shizuka. Shizuka berbalik lalu terdiam menatap tajam Rido.
“Ternyata reputasi lo bagus juga di sekolah.”
“Ya...asal lo tau aja gue ngajak lo karena gue mengakui...”
“Silahkan aja ngikutin gue. Gue tetep nggak mau masuk klub elo.” Potong Shizuka tegas dan membuat Rido cukup tersentak nggak percaya mendengar kata-kata Shizuka.
“Shi...Shizuka...seriusan...kamu...” Rita mulai khawatir. Nana juga melihatnya dengan tatapan nggak percaya ke arah Shizuka.
“Gue pengen tahu seberapa kuat lo ngikutin gue. Hmmm....” Shizuka terlihat seperti berpikir sebentar.
“Mungkin kita bisa jadi teman?” Kata Shizuka antusias dengan mata berbinar-binar.
“NGGAK AKAN.” Ujar Nana dan Rita serempak seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
“HEIII~! JADI MAKSUD KALIAN GUE NGGAK BISA TEMENAN SAMA NIH CEWEK BEGO, GITU?  HAH?!” Seru Rido marah membuat Nana dan Rita merinding ketakutan.
Shizuka langsung menendang tulang kering Rido yang membuat Rido mengaduh-aduh mengangkat kakinya.
“ENAK AJA GUE DIBILANG CEWEK BEGO! SINI LO KALO BERANI!”
“HEH! SEMBARANGAN NENDANG KAKI ORANG. LO CEWEK JADI-JADIAN, YA?
“SIALAN! GUE CEWEK BENERAN~!” Mata Shizuka dan Rido saling menatap tajam dan penuh amarah. Nana memberanikan diri maju dan merentangkan kedua tangannya di depan mereka.
“Udah...udah...Jadi jalan-jalan, nggak?”
“NGGAK! Udah kesel gue.”
“Ya...ya udah. Kita pulang aja yuk. Shizu.” Kata Rita seraya menggandeng tangan Shizuka. Shizuka menurut dan berjalan pergi. Rido terpaku diam seraya menunduk. Tanpa mereka sadari di belakang pohon, Rizal tangan kanan sekaligus mata-mata buat Izan mengawasinya. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Izan.
“Halo, bos. Ini saya. Target udah keluar dari sekolah.”
“Bego lo! Kenapa lama banget! Hah?!”
“Ma..maafkan saya, bos. Tadi dicegat sama si botak.”
“Si botak? Sialan! Ya, sudah! Lo awasin terus boneka gue. Oke?” Rizal menutup ponselnya. Kali ini lo nggak bakalan lolos, Shizuka. Neraka level dua Izan jauh lebih berat. batin Rizal seraya tertawa jahat.

-BERSAMBUNG-


[1] Ya~! Semangat!
[2] Kamu yang namanya Shizuka, kan?
[3] Namaku Nana senang berkenalan
[4] Waaah! Sama-sama!hore! akhirnya bisa punya teman~!









































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































No comments:

Post a Comment