The hell challenge is beginning
SECOND LEVEL
Shizuka terus menguap seraya melihat
ke arah jendela. Ia bisa melihat atap-atap rumah penduduk dan burung yang
terbang di langit. Pelajaran Matematika emang pelajaran yang paling dibenci
Shizuka dari saat ia masih sekolah di Jepang. Rasanya ia ingin mengakhiri saja
pelajaran ini dan pulang.
“Fiuh....ternyata
sekolah Indonesia sama aja dengan di Jepang.” Gumam Shizuka. Rita yang duduk di
sebelahnya melihat wajah bosan Shizuka yang terus memandangi jendela. Rita
membuka notes untuk otretan dan menulis sesuatu. Setelah itu Rita menepuk bahu
Shizuka yang membuatnya tersadar dari lamunannya. ‘BT ya...’ Itu tulisan yang
terlihat di notes Rita saat membacanya. Shizuka memandangi Rita bingung. Tapi,
ia segera menulis balasannya. ‘BT itu apa?’ Itu yang dibaca Rita di notesnya
dan membuatnya tertawa sedikit. Oh, iya
ya. Dia kan bego. batin Rita. Rita menggeleng ke arah Shizuka seraya
tersenyum.
“Tenang,
bentar lagi kita pulang kok abis pelajaran ini. Semangat.” Bisik Rita yang
diikuti anggukan polos Shizuka. Tanpa disadari, matanya menatap kursi kosong di
baris keempat dari belakang di seberangnya. Izan...dasar
bodoh. Gue nggak akan kalah dari lo.
TEEEEEEEEET~! Tak terasa bel tanda
pulang sekolah berbunyi. Murid-murid kelas 2-4 sibuk membereskan buku.
“Yak,
anak-anak. Kumpulkan PR kalian di meja Bapak besok pagi, ya.” Ujar Pak Minto-
guru Matematika mereka seraya pergi. Shizuka memandangi dua cewek di depannya. semangat!
“A...anou...” Shizuka menyentuh kedua
pundak cewek di depannya. Sontak, mereka langsung berteriak.
“A...AMPUN
SHIZUKA! AMPUN.” Seru mereka berdua dan berlari keluar kelas. Shizuka menatap
sedih kursi yang jadi kosong di depannya. Rita tersenyum geli melihat tingkah
polos Shizuka. Shizuka menatap temen-temen lainnya. Yosh, ganbare[1]!
Shizuka mengambil tas nya lalu berjalan menghampiri cowok-cowok yang asyik
bercanda.
“Ha...halo...”
Sapa Shizuka yang disambut oleh kelima cowok tersebut dengan membereskan tasnya
terburu-buru dan lari tunggang langgang. Shizuka menatap mereka sedih. Ia masih
nggak menyerah dan menghampiri dua orang cewek yang sedang piket menyapu.
“Wah...kalian
lagi nyapu, ya. Boleh nggak gue...” Seorang cewek yang didekati Shizuka
tersebut langsung menatapnya lekat-lekat dan begitu tahu dia Shizuka ia
langsung berteriak sampai sapunya terlempar dan mengenai Shizuka. Cewek
tersebut diikuti temannya yang tadi ikut menyapu langsung lari kabur. Gue nggak mau mati. Gue belum punya pacar,
Shizuka. batin salah satu cewek yang piket tadi keluar kelas dan
memandangnya dengan wajah ketakutan. Rita langsung mendatangi Shizuka yang
wajah dan kepalanya terkena lemparan sapu tadi.
"Kamu nggak papa, kan, Shizuka. Sakit?"
“Huwaaaaa.....gue
nggak punya teman....huwaaa...mereka semua kabur.” Shizuka teriak-teriak
seperti anak kecil seraya memeluk Rita. Hei,
kalo kamu bilang nggak punya temen, lha aku ini siapa? batin Rita agak
kesal.
“Anata wa Shizuka nan deshou ne[2]”
Kata seorang cewek membuat Rita dan Shizuka menoleh. Shizuka terkejut. Cewek
cantik berambut sebahu itu berjalan mendekati mereka.
“Wah!
Kamu bisa bahasa Jepang?!” Seru Shizuka antusias. Cewek tersebut geleng-geleng
kepala.
“Nggak.
Dulu, aku pernah les karena pernah tertarik sama Jepang.” Kata cewek anggun
tersebut berhenti di depan mereka dan mengulurkan tangannya.
“Watashi wa Nana desu. Yoroshiku
onegaishimasu[3].”
Shizuka menyambut tangan Nana dengan riang gembira.
“Waaa~! Kochirakoso~! Yaai~! Yatto tomodachi
ga dekitan da~! Ureshii[4]!”
Seru Shizuka seraya menyalaminya kuat-kuat sampai tubuh Nana sedikit
berguncang.
“Woy!
Udah dong ngomong gituannya. Aku nggak ngerti nih.” Seru Rita kesal seraya
melipat tangannya di depan dada dan mendengus kesal. Shizuka dan Nana tertawa
kecil.
“Maaf,
ya Rita. Iya, deh di depan lo kita nggak akan ngomong gitu lagi hahahhaha...”
Tawa Shizuka diikuti anggukan Nana.
“Kalian
mau kemana?” Tanya Nana.
“Oh,
rencananya aku sama Shizuka mau jalan-jalan sekitar sini aja. Karena katanya
dia pengen lihat-lihat Bandung.” Kata Rita seraya menyingkut lengan Shizuka. Shizuka
hanya meringis.
“A...aku...boleh
ikut kalian...” Rita dan Shizuka menoleh. Shizuka yang lebih terlihat bingung.
“E..elo...nggak
takut sama gue?”
Nana
tersenyum. “Kenapa aku harus takut sama kamu? Aku percaya kamu orang baik.”
Muka Shizuka terlihat sangat terharu dan senang bukan kepalang. Dasar cewek gampang ditebak, batin Rita
seraya tersenyum.
“Nana,
mulai sekarang lo sahabat gue!” Kata Shizuka seraya memegang kedua tangan Nana.
Nana hanya tersenyum kecil. Merasa aneh dengan tingkah polos Shizuka.
“Heee?!
Aku kan lebih lama temenan sama kamu. Aku bukan sahabat, nih?” Celetuk Rita
kesal. Shizuka dan Nana tertawa cekikikan.
“Uh!
Kok malah ketawa sih kalian. Oke...oke...karena Shizuka udah punya temen
baru...akunya....” Rita nggak sempat melanjutkan kata-katanya karena Shizuka
tiba-tiba menyentuh pundaknya.
“Kalo
Rita bukan sahabat. Tapi....super sahabat.” Kata Shizuka santai seraya
tersenyum. Rita terpana. Nana pun ikut tersenyum. Seketika itu senyum Rita
mengembang dengan lebar dan langsung merangkul mereka berdua.
“Yok,
kita jalan-jalan~! Bantuin si cewek kuat dan bego ini hahahhahha...” Seru Rita
seraya melirik ke arah Shizuka dan membuat Shizuka cemberut sebentar lalu
tertawa bersama. Saat hendak keluar gerbang sekolah, di depan halaman, berdiri
cowok tinggi besar berkulit cokelat muda dengan kepala sedikit ditumbuhi rambut
menghalangi langkah mereka. Nana dan Rita terkejut.
“Halo,
lo masih inget gue?”
Shizuka
melihat cowok tersebut dan raut mukanya terlihat seperti menerawang berpikir
keras.
“Nggak.”
Jawabnya dengan muka polos. Rita menepuk wajahnya. Dasar bodoh. batinnya.
“Gue!
Lo sama sekali nggak inget gue? Gue yang lo kalahin!”
“Nggak.”
Cowok
tersebut melangkah mendekati Shizuka sampai jarak mereka cuman lima belas
sentian. Cowok tersebut mengulurkan tangannya.
“Gue
mohon. Masuklah ke klub kami.” Katanya tiba-tiba. Rita dan Nana melongo. Mereka
udah ketakutan berpikir bakalan ada pertumpahan darah.
“Klub?”
“Ya.
Klub Karate. Gue terkesan liat teknik lo. Selama ini gue nggak pernah dibanting
sehebat itu. Apalagi sama cewek.”
“Oh!
Iya iya gue ingat! Elo yang kemaren ngelawan gue di klub Karate, ya? Si cowok
pantang menyerah! Oh, iya gue ingat.”
GUBRAAAAAAAAK~!
Kenapa dia baru inget?!otaknya sudah
rusak kali, ya. Sialan! Baru pertama kali gue dilupain gitu aja. Sama cewek
lagi. Nih cewek mana keliatan polos dan bego gini lagi. Beneran kuat nggak sih.”
“Apa
lo mau nerima undangan gue?”
“Nggak.”
Kata Shizuka datar. Membuat Rita dan Nana melongo sekali lagi.
“Shi...Shizuka...lebih
baik..”
“Tenang
aja, Nana.”
“Gue
mohon.” Kata cowok itu.
“Hei.
Sebelum ngajak orang masuk ke klub nya harusnya memperkenalkan diri dulu dong.”
Kata Shizuka dengan mata tajam.
“SHIZUKA~!”
Seru Rita dan Nana serempak. Sialan nih
cewek. Banyak lagak. Sabar~sabar. Dalam hati sebenarnya Rido udah nggak
tahan lagi dengan tingkah Shizuka yang baginya sok berkuasa itu.
“Nama
gue Rido. Kita seangkatan kok. Gue murid kelas dua juga. Tapi kelas 2-1. Kapten
klub karate.”
“Hmmm...bagus...bagus...”
Ujar Shizuka seraya mengangguk-angguk. Gila!
Shizuka bisa naklukin Rido? Cowok yang terkenal nggak akan memohon sama
siapapun itu? Cowok berpengaruh kedua setelah Izan? Gila! beneran gila! batin
Nana nggak percaya.
“Jadi
gimana? Gue mohon lo..”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Nggak
menarik.”
“Gue
mohon.”
“Pokoknya
nggak. Udah, ya. Gue nggak mau membuat Nana dan Rita menunggu. Ayo!” Kata
Shizuka seraya membungkuk sedikit dan
menggandeng kedua sahabatnya itu berjalan melewati Rido. Rido berbalik.
“Gue
bakal ngikutin lo kemanapun lo pergi sampe lo nerima undangan gue!” Shizuka
berhenti melangkah. Ia membalikkan badannya dan melihat Rido berjalan menghampirinya.
“Hei,
Shizu. Mending kamu terima aja, deh. Cocok buat kamu juga kan.” Bisik Rita.
“Nggak
mau.”
“Kenapa?
Nanti dia ngikutin kamu terus lho. Dia itu yaa nggak pernah ditolak kalo ia
minta. Kamu orang pertama yang berani menolak permintaannya, lho.” Timpal Nana
seraya berbisik-bisik ke telinga Shizuka. Shizuka berbalik lalu terdiam menatap
tajam Rido.
“Ternyata
reputasi lo bagus juga di sekolah.”
“Ya...asal
lo tau aja gue ngajak lo karena gue mengakui...”
“Silahkan
aja ngikutin gue. Gue tetep nggak mau masuk klub elo.” Potong Shizuka tegas dan
membuat Rido cukup tersentak nggak percaya mendengar kata-kata Shizuka.
“Shi...Shizuka...seriusan...kamu...”
Rita mulai khawatir. Nana juga melihatnya dengan tatapan nggak percaya ke arah
Shizuka.
“Gue
pengen tahu seberapa kuat lo ngikutin gue. Hmmm....” Shizuka terlihat seperti
berpikir sebentar.
“Mungkin
kita bisa jadi teman?” Kata Shizuka antusias dengan mata berbinar-binar.
“NGGAK
AKAN.” Ujar Nana dan Rita serempak seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
“HEIII~!
JADI MAKSUD KALIAN GUE NGGAK BISA TEMENAN SAMA NIH CEWEK BEGO, GITU? HAH?!” Seru Rido marah membuat Nana dan Rita
merinding ketakutan.
Shizuka
langsung menendang tulang kering Rido yang membuat Rido mengaduh-aduh
mengangkat kakinya.
“ENAK
AJA GUE DIBILANG CEWEK BEGO! SINI LO KALO BERANI!”
“HEH!
SEMBARANGAN NENDANG KAKI ORANG. LO CEWEK JADI-JADIAN, YA?
“SIALAN!
GUE CEWEK BENERAN~!” Mata Shizuka dan Rido saling menatap tajam dan penuh
amarah. Nana memberanikan diri maju dan merentangkan kedua tangannya di depan
mereka.
“Udah...udah...Jadi
jalan-jalan, nggak?”
“NGGAK!
Udah kesel gue.”
“Ya...ya
udah. Kita pulang aja yuk. Shizu.” Kata Rita seraya menggandeng tangan Shizuka.
Shizuka menurut dan berjalan pergi. Rido terpaku diam seraya menunduk. Tanpa
mereka sadari di belakang pohon, Rizal tangan kanan sekaligus mata-mata buat
Izan mengawasinya. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Izan.
“Halo,
bos. Ini saya. Target udah keluar dari sekolah.”
“Bego
lo! Kenapa lama banget! Hah?!”
“Ma..maafkan
saya, bos. Tadi dicegat sama si botak.”
“Si botak? Sialan! Ya,
sudah! Lo awasin terus boneka gue. Oke?” Rizal
menutup ponselnya. Kali ini lo nggak
bakalan lolos, Shizuka. Neraka level dua Izan jauh lebih berat. batin Rizal
seraya tertawa jahat.
-BERSAMBUNG-
[1] Ya~! Semangat!
[2] Kamu yang namanya Shizuka, kan?
[3] Namaku Nana senang berkenalan
[4] Waaah! Sama-sama!hore! akhirnya bisa punya teman~!
No comments:
Post a Comment