Haloooo, blogger mania pecinta novel, cerpen, atau novel terjemahan? Kali ini Kumi chan mau nge-share nih novel Jepang berbau (emangnya s**mpah pake ada bau-bauan #dzig) misteri. Semoga suka yaa! Jangan lupa komen dan sarannya lhoo untuk membangkitkan semangat Kumi chan sayang yang lagi males-malesnya (*bangun woooy!) Lets check it out!! ^o^/
Rahasia Kapal Hantu
By Unno
Juusa
Jalur selatan
Dulu, di samudera Pasifik terasa suatu kekuatan aneh yang
tak terlihat mata dan bergerak. Kekuatan aneh? Sebenarnya itu apa sih? Laut biru yang luas menunjukkan tarian ombak besarnya
yang serasa menunjukkan kemarahan. Terkadang di ujung laut, muncul segaris asap
yang semakin lama semakin terlihat membesar di langit. Dan tak lama kemudian,
di bawah asap itu muncul lambung kapal. Semakin diliat, wujudnya makin besar
dan setelah itu lewatlah sebuah kapal uap mewah di depan mataku. Cerobongnya
yang berwarna kuning. Kabin yang berwarna putih, dan bagian dasar kapal yang
hitam pekat. Di tengah deburan ombak, sekilas terlihat garis warna merah di kapal,
juga ada tiang kapal yang rasanya seperti menjulang ke langit. Semuanya indah
seperti lukisan! Saat melihatnya, kedamaian yang ada.
Tapi entah kenapa ombak di
laut terlihat seperti marah. Percikan air yang menyerang haluan kapal, sekarang
terlihat mulai mencapai tiang kapal. Terlihat juga bagian bawah kapal besar itu
sedang menerjang ombak, seperti akan terlempar ke langit. Sepertinya lautlah
yang mengacaukan suasana. Ada juga gosip seperti ini. Mungkin di lautan Pasifik
ini, akan terjadi perang laut besar yang belum pernah ada sebelumnya. Mungkin....nggak
lebih dari setengah tahun lagi. Banyak negara-negara yang akan mendatangi
Samudera Pasifik, mereka akan terbagi dalam dua kubu dan perang kejam pun
dimulai. Armada besar kapal pun jauh-jauh datang dari Samudera Atlantik untuk
segera bergabung. Di atas samudera Pasifik, armada dari seluruh dunia mulai
melancarkan serangan. Mungkin penentuan kemenangannya adalah kapal siapa yang
akan tenggelam lebih dulu. Nama Samudera Pasifik yang mengandung unsur
ketenangan itu, jadi jauh dari unsur tersebut. Asap mesiu, puing kapal yang
hancur, serta darah dan minyak yang banyak bersimbah di lautan samudera
Pasifik. Kabar itu telah menyebar kemana-mana. Mungkin Samudera Pasifik marah
karena ia membenci hari saat namanya yang mengandung unsur ketenangan
terenggut.
Sebenarnya, kapal
tiap-tiap negara di dunia sedang menyeberangi Samudera Pasifik dalam ketakutan,
karena nggak tau kapan perang itu akan terjadi.
Kapal kargo bernama Wajima
Maru yang membawa muatan seribu lima ratus ton, akan berlayar di perairan
samudera Pasifik yang sekarang sedang tenang. Tempat tujuannya adalah Amerika
selatan, dan memuat berbagai macam barang. Sebagai gantinya, mereka akan
mendapatkan bijih besi dan kapas mentah. Cerita ini akan dimulai dari ruang
komunikasi di kapal Wajima Maru. Waktu kejadiannya pukul setengah satu pagi.
Di ruangan sempit yang penuh dengan alat komunikasi
ini, dua orang teknisi terjaga di bawah sinar lampu yang terang. Seorang
veteran angkatan laut berumur lebih dari empat puluh tahun, berkulit cokelat
terbakar. Sedangkan yang seorang lagi teknisi pria muda berkulit putih yang
baru sebulan bekerja setelah lulus sekolah.
“Hei, Maruo. Apa ada sinyal yang masuk?” Teknisi
senior itu duduk di kursi rotan sambil baca novel. Matanya tiba-tiba melotot
saat bicara pada teknisi muda. Dia kepala bagian komunikasi yang bernama
Furuya.
“Hanya ada sebuah sinyal. Nggak ada yang lain
selain itu.” Kata teknisi muda bernama Maruo itu mencoba menekan tombol
penerima gelombang dengan tangannya, lalu membalas sinyal itu.
Kepala bagian Furuya menggangguk kuat lalu
mengambil jam saku dari kantong rompinya.
“Hmmm, udah jam setengah satu pagi, ya. Kita juga
sudah menerima sinyal waktu dan telegram koran. Karena menerima telegraf malam
ini pun nggak akan terjadi apa-apa, matikan saja mesinnya dan kau boleh tidur.”
Mesin yang beliau maksud adalah Mesin Otomatis Penerima
Gelombang Darurat. Walaupun seorang teknisi tidak mengawasi mesin penerima
gelombang radio, saat ada sebuah kapal yang meminta pertolongan, mesinnya akan
bekerja dengan membunyikan alarm. Dulu, saat alat ini belum ada, seorang
teknisi komunikasi harus terjaga di tengah malam untuk mengawasi adanya kode
SOS dari kapal yang meminta pertolongan. Sekarang dengan adanya alat ini,
menjadi lebih praktis.
“Baiklah, Pak kepala. Saya akan mematikan mesin
penerima gelombang daruratnya.”
“Ya, silahkan. Lagipula saya juga sudah ngantuk.”
Maruo melangkah menuju mesin lalu satu persatu
mematikan tombolnya. Kalau salah, bisa terjadi hal yang gawat. Tadinya, Maruo
bermaksud mengawasi mesin itu dengan meminta izin pada Pak Furuya untuk
menggantikan gilirannya. Kemudian saat itu Pak Kepala sudah tidur saja di atas
kursi rotan dengan buku yang terbuka di suatu halaman. Sembari mematikan
tombol-tombol, Maruo berpikir tidak akan sampai membangunkan beliau yang sedang
tidur untuk niatannya itu. Namun, saat Maruo sedang membereskan meja, tiba-tiba
saja terdengar alarm yang berisik sekali. Tidak ada lima menit setelah ia
mematikan tombol. Ada SOS dari kapal yang terkena musibah! Pak kepala komunikasi
langsung terbangun bagaikan sedang tersengat listrik.
---BERSAMBUNG---
No comments:
Post a Comment