Tuesday, June 2, 2015

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Jalur Selatan

Haloooo, blogger mania pecinta novel, cerpen, atau novel terjemahan? Kali ini Kumi chan mau nge-share nih novel Jepang berbau (emangnya s**mpah pake ada bau-bauan #dzig) misteri. Semoga suka yaa! Jangan lupa komen dan sarannya lhoo untuk membangkitkan semangat Kumi chan sayang yang lagi males-malesnya (*bangun woooy!) Lets check it out!! ^o^/





Rahasia Kapal Hantu
By Unno Juusa

Jalur selatan
          Dulu, di samudera Pasifik terasa suatu kekuatan aneh yang tak terlihat mata dan bergerak. Kekuatan aneh? Sebenarnya itu apa sih? Laut biru yang luas menunjukkan tarian ombak besarnya yang serasa menunjukkan kemarahan. Terkadang di ujung laut, muncul segaris asap yang semakin lama semakin terlihat membesar di langit. Dan tak lama kemudian, di bawah asap itu muncul lambung kapal. Semakin diliat, wujudnya makin besar dan setelah itu lewatlah sebuah kapal uap mewah di depan mataku. Cerobongnya yang berwarna kuning. Kabin yang berwarna putih, dan bagian dasar kapal yang hitam pekat. Di tengah deburan ombak, sekilas terlihat garis warna merah di kapal, juga ada tiang kapal yang rasanya seperti menjulang ke langit. Semuanya indah seperti lukisan! Saat melihatnya, kedamaian yang ada.
            Tapi entah kenapa ombak di laut terlihat seperti marah. Percikan air yang menyerang haluan kapal, sekarang terlihat mulai mencapai tiang kapal. Terlihat juga bagian bawah kapal besar itu sedang menerjang ombak, seperti akan terlempar ke langit. Sepertinya lautlah yang mengacaukan suasana. Ada juga gosip seperti ini. Mungkin di lautan Pasifik ini, akan terjadi perang laut besar yang belum pernah ada sebelumnya. Mungkin....nggak lebih dari setengah tahun lagi. Banyak negara-negara yang akan mendatangi Samudera Pasifik, mereka akan terbagi dalam dua kubu dan perang kejam pun dimulai. Armada besar kapal pun jauh-jauh datang dari Samudera Atlantik untuk segera bergabung. Di atas samudera Pasifik, armada dari seluruh dunia mulai melancarkan serangan. Mungkin penentuan kemenangannya adalah kapal siapa yang akan tenggelam lebih dulu. Nama Samudera Pasifik yang mengandung unsur ketenangan itu, jadi jauh dari unsur tersebut. Asap mesiu, puing kapal yang hancur, serta darah dan minyak yang banyak bersimbah di lautan samudera Pasifik. Kabar itu telah menyebar kemana-mana. Mungkin Samudera Pasifik marah karena ia membenci hari saat namanya yang mengandung unsur ketenangan terenggut.
            Sebenarnya, kapal tiap-tiap negara di dunia sedang menyeberangi Samudera Pasifik dalam ketakutan, karena nggak tau kapan perang itu akan terjadi.
            Kapal kargo bernama Wajima Maru yang membawa muatan seribu lima ratus ton, akan berlayar di perairan samudera Pasifik yang sekarang sedang tenang. Tempat tujuannya adalah Amerika selatan, dan memuat berbagai macam barang. Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan bijih besi dan kapas mentah. Cerita ini akan dimulai dari ruang komunikasi di kapal Wajima Maru. Waktu kejadiannya pukul setengah satu pagi.

Di ruangan sempit yang penuh dengan alat komunikasi ini, dua orang teknisi terjaga di bawah sinar lampu yang terang. Seorang veteran angkatan laut berumur lebih dari empat puluh tahun, berkulit cokelat terbakar. Sedangkan yang seorang lagi teknisi pria muda berkulit putih yang baru sebulan bekerja setelah lulus sekolah.
“Hei, Maruo. Apa ada sinyal yang masuk?” Teknisi senior itu duduk di kursi rotan sambil baca novel. Matanya tiba-tiba melotot saat bicara pada teknisi muda. Dia kepala bagian komunikasi yang bernama Furuya.
“Hanya ada sebuah sinyal. Nggak ada yang lain selain itu.” Kata teknisi muda bernama Maruo itu mencoba menekan tombol penerima gelombang dengan tangannya, lalu membalas sinyal itu.
Kepala bagian Furuya menggangguk kuat lalu mengambil jam saku dari kantong rompinya.
“Hmmm, udah jam setengah satu pagi, ya. Kita juga sudah menerima sinyal waktu dan telegram koran. Karena menerima telegraf malam ini pun nggak akan terjadi apa-apa, matikan saja mesinnya dan kau boleh tidur.”
Mesin yang beliau maksud adalah Mesin Otomatis Penerima Gelombang Darurat. Walaupun seorang teknisi tidak mengawasi mesin penerima gelombang radio, saat ada sebuah kapal yang meminta pertolongan, mesinnya akan bekerja dengan membunyikan alarm. Dulu, saat alat ini belum ada, seorang teknisi komunikasi harus terjaga di tengah malam untuk mengawasi adanya kode SOS dari kapal yang meminta pertolongan. Sekarang dengan adanya alat ini, menjadi lebih praktis.
“Baiklah, Pak kepala. Saya akan mematikan mesin penerima gelombang daruratnya.”
“Ya, silahkan. Lagipula saya juga sudah ngantuk.”
Maruo melangkah menuju mesin lalu satu persatu mematikan tombolnya. Kalau salah, bisa terjadi hal yang gawat. Tadinya, Maruo bermaksud mengawasi mesin itu dengan meminta izin pada Pak Furuya untuk menggantikan gilirannya. Kemudian saat itu Pak Kepala sudah tidur saja di atas kursi rotan dengan buku yang terbuka di suatu halaman. Sembari mematikan tombol-tombol, Maruo berpikir tidak akan sampai membangunkan beliau yang sedang tidur untuk niatannya itu. Namun, saat Maruo sedang membereskan meja, tiba-tiba saja terdengar alarm yang berisik sekali. Tidak ada lima menit setelah ia mematikan tombol. Ada SOS dari kapal yang terkena musibah! Pak kepala komunikasi langsung terbangun bagaikan sedang tersengat listrik.

---BERSAMBUNG---

No comments:

Post a Comment