Kode
Pertolongan Darurat
“Ah! Ini SOS!” Seru Pak kepala lalu langsung
menuju mesin penerima gelombang.
“Oi, Maruo! Coba cek apakah mesin perekam suaranya
bekerja?” perintah Pak Kepala terkesan cepat dan berapi-api. Maruo seperti
terkaget-kaget lalu buru-buru mendatangi tempat piringan perekamnya berputar.
“Pak, kepala ini gawat! Piringannya memang
berputar tapi suaranya hanya terdengar samar-samar, kalau begini tidak akan
terdengar apa-apa.”
“Oh, begitu.” Pak kepala menggerakan matanya
sekilas lalu langsung mengambil telepon. Beliau mendekatkan gagangnya ke
telinganya.
“Terdengar sih tapi kecil
sekali.” Kata Pak kepala lalu mengambil telepon dan dengan tangan ahlinya,
beliau menulis sesuatu dengan cepat di atas kertas dengan pensil. Dengan
cerdasnya beliau bisa mengambil alih masalah ini. Sama sekali tidak terlihat
seperti baru bangun dari tidurnya.
“Oi, Maruo! Cepat cari tau
lokasinya!”
“Baik!”
Maruo yang sempat bengong, langsung tersadar
dan segera mencari lokasi kapal dengan GPS. Ini adalah alat untuk mengetahui
darimana sebuah gelombang berasal. Jarum di alat ini menggerakan antena yang
berada di geladak kapal sedikit demi sedikit. Karena ini adalah cabang
pengukuran yang paling dikuasai Maruo saat sekolah dulu, Maruo merasa percaya
diri. Sayangnya sinyal yang masuk adalah sinyal lemah dan rasanya ingin menahan
napas saja. Tapi Maruo tetap ingin menangkap sinyal itu. Pada sinyal lemah itu,
dipertaruhkan banyak nyawa yang akan menuju kematian.
“Bagaimana, sudah tau
lokasinya?”
“Sudah, Pak. Arah Tenggara
ke timur.”
“Apa? Tenggara ke timur?”
Pak kepala menaruh telepon di bawah dan nada bicaranya seperti terburu-buru.
“Segera lapor ke kapten kapal!
Hubungi dia!”
Saat Maruo selesai menekan
tombol-tombol telepon, terdengar suara nada tunggu di seberang. Ternyata cukup
lama juga sang kapten kapal mengangkat teleponnya.
“Sudah terhubung dengan
Kapten kapal.”
“Oh, begitu.” Sambil
memegang sebuah kertas, Kepala komunikasi segera menuju mik.
“Kapten, kami menerima
sinyal SOS. Sayangnya kami hanya menerima sebagian pesan dari sang pengirim
telegram. Seperti ini isi telegramnya. Bagian
bawah kapal mengalami kerusakan parah sehingga kapal kami kemasukan air. Dalam
waktu sepuluh menit, kapal kami akan tenggelam. Kami mohon pertolongan darurat.
Begitulah.”
“Dimana kapal itu berada?
Lalu apa nama kapal itu?” Kapten kapal balik bertanya.
“Kalo soal itu saya juga
tidak begitu mengerti. Pada telegram hanya terketik nama kapalnya adalah..... dan setelah itu tidak ada lanjutannya.
Tidak ada simbol lain. Aneh sekali, ya. Kenapa dia tidak menyebutkan nama
kapalnya....”
“Hmm...” Kapten hanya
bergumam.
“Jangan-jangan, itu kapal
perang, atau mungkin kapal bajak laut? Lalu, dimana lokasi kecelakaannya?”
“Letak persisnya tidak
jelas. Sempat tertangkap pada sinyal SOS yang diberikan dan kami mendengarnya. Tapi
sepertinya sinyalnya lemah sekali, jadi suara telegrafnya terdengar kecil dan
setelah itu tak terdengar apa-apa lagi.”
“Lho? Kalo letaknya tidak
tahu, bagaimana kita bisa menyelamatkannya?”
“Memang benar. Tapi tadi
Maruo berhasil mengetahui arah gelombang sinyal dari kapal itu.”
“Hoo, itu bagus! Dimana?”
“Arah tenggara ke timur,” Jawabnya.
Kapten kapal sempat
terdiam seperti berpikir.
“Ya, sudah. Kalo begitu
mulai saat ini arahkan kompas ke tenggara dan timur. Jalankan kapal dengan
kecepatan tinggi ke arah sana. Sekarang ini tolong perhatikan sinyal yang
masuk.” Kapten kapal menutup teleponnya.
Saat
itu, haluan serasa membengkok. Tiba-tiba suara mesin terdengar lebih keras.
Dengan kekuatan penuh, kapal berlayar untuk mengungkap lokasi terjadinya
kecelakaan itu.
--BERSAMBUNG--
No comments:
Post a Comment