Wednesday, June 3, 2015

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Kode Pertolongan Darurat



Kode Pertolongan Darurat

“Ah! Ini SOS!” Seru Pak kepala lalu langsung menuju mesin penerima gelombang.
“Oi, Maruo! Coba cek apakah mesin perekam suaranya bekerja?” perintah Pak Kepala terkesan cepat dan berapi-api. Maruo seperti terkaget-kaget lalu buru-buru mendatangi tempat piringan perekamnya berputar.
“Pak, kepala ini gawat! Piringannya memang berputar tapi suaranya hanya terdengar samar-samar, kalau begini tidak akan terdengar apa-apa.”
“Oh, begitu.” Pak kepala menggerakan matanya sekilas lalu langsung mengambil telepon. Beliau mendekatkan gagangnya ke telinganya.
            “Terdengar sih tapi kecil sekali.” Kata Pak kepala lalu mengambil telepon dan dengan tangan ahlinya, beliau menulis sesuatu dengan cepat di atas kertas dengan pensil. Dengan cerdasnya beliau bisa mengambil alih masalah ini. Sama sekali tidak terlihat seperti baru bangun dari tidurnya.
            “Oi, Maruo! Cepat cari tau lokasinya!”
            “Baik!”
             Maruo yang sempat bengong, langsung tersadar dan segera mencari lokasi kapal dengan GPS. Ini adalah alat untuk mengetahui darimana sebuah gelombang berasal. Jarum di alat ini menggerakan antena yang berada di geladak kapal sedikit demi sedikit. Karena ini adalah cabang pengukuran yang paling dikuasai Maruo saat sekolah dulu, Maruo merasa percaya diri. Sayangnya sinyal yang masuk adalah sinyal lemah dan rasanya ingin menahan napas saja. Tapi Maruo tetap ingin menangkap sinyal itu. Pada sinyal lemah itu, dipertaruhkan banyak nyawa yang akan menuju kematian.
            “Bagaimana, sudah tau lokasinya?”
            “Sudah, Pak. Arah Tenggara ke timur.”
            “Apa? Tenggara ke timur?” Pak kepala menaruh telepon di bawah dan nada bicaranya seperti terburu-buru.
            “Segera lapor ke kapten kapal! Hubungi dia!”
            Saat Maruo selesai menekan tombol-tombol telepon, terdengar suara nada tunggu di seberang. Ternyata cukup lama juga sang kapten kapal mengangkat teleponnya.
            “Sudah terhubung dengan Kapten kapal.”
            “Oh, begitu.” Sambil memegang sebuah kertas, Kepala komunikasi segera menuju mik.
            “Kapten, kami menerima sinyal SOS. Sayangnya kami hanya menerima sebagian pesan dari sang pengirim telegram. Seperti ini isi telegramnya. Bagian bawah kapal mengalami kerusakan parah sehingga kapal kami kemasukan air. Dalam waktu sepuluh menit, kapal kami akan tenggelam. Kami mohon pertolongan darurat. Begitulah.”
            “Dimana kapal itu berada? Lalu apa nama kapal itu?” Kapten kapal balik bertanya.
            “Kalo soal itu saya juga tidak begitu mengerti. Pada telegram hanya terketik nama kapalnya adalah..... dan setelah itu tidak ada lanjutannya. Tidak ada simbol lain. Aneh sekali, ya. Kenapa dia tidak menyebutkan nama kapalnya....”
            “Hmm...” Kapten hanya bergumam.
            “Jangan-jangan, itu kapal perang, atau mungkin kapal bajak laut? Lalu, dimana lokasi kecelakaannya?”
           “Letak persisnya tidak jelas. Sempat tertangkap pada sinyal SOS yang diberikan dan kami mendengarnya. Tapi sepertinya sinyalnya lemah sekali, jadi suara telegrafnya terdengar kecil dan setelah itu tak terdengar apa-apa lagi.”
            “Lho? Kalo letaknya tidak tahu, bagaimana kita bisa menyelamatkannya?”
            “Memang benar. Tapi tadi Maruo berhasil mengetahui arah gelombang sinyal dari kapal itu.”
            “Hoo, itu bagus! Dimana?”
            “Arah tenggara ke timur,” Jawabnya.
            Kapten kapal sempat terdiam seperti berpikir.
            “Ya, sudah. Kalo begitu mulai saat ini arahkan kompas ke tenggara dan timur. Jalankan kapal dengan kecepatan tinggi ke arah sana. Sekarang ini tolong perhatikan sinyal yang masuk.” Kapten kapal menutup teleponnya.
            Saat itu, haluan serasa membengkok. Tiba-tiba suara mesin terdengar lebih keras. Dengan kekuatan penuh, kapal berlayar untuk mengungkap lokasi terjadinya kecelakaan itu.

--BERSAMBUNG--

No comments:

Post a Comment