Melayang
di Udara
Entah
sejak kapan Profesor Polder sudah tersenyum menyeringai di depan mereka berdua.
Dan entah sejak kapan juga mereka sudah berada di dalam roket tong.
“Bagaimana, Hitomi? Tousuke?”
Mereka berdua menghela napas.
“Menakutkan, Profesor. Memang daya tarik tuh lebih bagus
kalo dibandingkan dengan jarak kuadrat yaa.”
“Aku baru sadar betapa bersyukurnya aku tinggal di dunia
yang menganut daya tarik yang terpengaruh jarak kuadrat.” Mereka berdua
bergantian memuji hukum gaya tarik yang ditemukan Newton. Tidak. Mereka
bersyukur karena dunia ini menganut hukum tersebut.
“Tidak hanya gaya tarikan gravitasi saja. Daya tarik
magnet, kekuatan listrik dunia ini telah diverifikasi oleh hukum perbandingan
jarak kuadrat.Memang sih hal ini patut disyukuri ya.” Profesor berhenti sejenak
setelah bilang begitu.
“Profesor, kalo seandainya dunia kami bukan memakai
sistem gravitasi perbandingan jarak kuadrat, melainkan hanya jarak saja. Apa
akan mempengaruhi kehidupan kami?”
“Aku sudah menduga Tousuke bakal nanya hal itu. Tapi
Tousuke seperti yang tadi ku bilang. Kalo memakai sistem gravitasi grafik B, tubuh
manusia yang lebih besar, daya tariknya akan semakin kuat. Sampai sekarang pun
tubuh manusia nggak pernah bebas, sehingga akan menolak kekuatan yang tidak
menarik dari luar. Kalo begitu, aku akan mengajak kalian ke dunia itu.”
“Tunggu, Profesor Polder! Batu-batu besar tadi sudah
cukup menjadi pengalaman pahitku! Tolong jangan ajak aku ke dunia yang
menakutkan lagi.”
“Wah wah. Hitomi sepertinya nggak mau ya. Oke, kalo
begitu kalian cukup melihat dunia grafik B itu dari jendela ini saja. Silahkan
diliat. Sudah keliatan, kok.”
“Eh?! Sudah keliatan?” Mereka berdua mendekatkan wajah
mereka ke jendela. Mata mereka berdua memandang keluar dari jendela kaca bulat.
Anak-anak yang sedang berjalan di sekitar taman
berteriak-teriak kegirangan. Lalu seorang anak di belakangnya, seketika itu
melayang di udara. Cara melayangnya seperti balon yang terlepas dari
pegangannya.
“Lho? Kok bisa begitu, ya?”
Sesaat kemudian, anak yang melayang itu turun ke bawah.
Sebagai gantinya, anak-anak tadi melayang dari belakang ke depan, lalu setelah
itu turun lagi. Pemandangan yang menakjubkan!
“Profesor, kenapa bisa terjadi seperti itu, ya?” Tanya
Tousuke.
“Tadi tuh pesawatnya sedang terbang rendah dan lewat di
atas anak-anak tadi. Jika memakai hukum berbanding dengan jarak kuadrat, hal
seperti tadi tidak akan terjadi. Aku akan menunjukkan satu pemandangan menarik
lain.” Seketika itu pemandangannya berubah. Ada seorang wanita gendut sedang
melihat ke atas di taman rumahnya.
“Woooi! Wooooiii!” Panggilnya.
“Dia sedang apa?” Tanya Tousuke.
“Nanti juga akan tahu. Akan ada sesuatu yang jatuh dari
atas. Kalo liat juga tau.”
Terdengar suara seperti benda jatuh dengan cepat.
Ternyata sebuah dipan kayu yang jatuh ke tengah-tengah taman dari langit.
Sesaat kemudian kali ini ada orang yang turun dari atas.
“Ah! Sakiiit!”
“Hei, kau! Kan ada larangan tidur di dipan! Semua orang
tidur di ruang bawah tanah!”
“Aku mengerti aku mengerti. Aku akan tidur di ruang bawah
tanah, Hakusho!” Pemilik rumah ini mengerutkan wajahnya lalu mengangguk.
“Pria itu kenapa, sih?”
“Itu karena saat dia tidur di taman, ada bulan. Nah,
karena tarikan bulan lah pria itu naik ke langit sampai ratusan meter. Karena
tadi bulannya sembunyi, jadi dia jatuh deh. Sepertinya dia terkena flu. Kasian.”
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment