Monday, May 15, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 28



Melayang di Udara
             
           Entah sejak kapan Profesor Polder sudah tersenyum menyeringai di depan mereka berdua. Dan entah sejak kapan juga mereka sudah berada di dalam roket tong.
            “Bagaimana, Hitomi? Tousuke?”
            Mereka berdua menghela napas.
            “Menakutkan, Profesor. Memang daya tarik tuh lebih bagus kalo dibandingkan dengan jarak kuadrat yaa.”
            “Aku baru sadar betapa bersyukurnya aku tinggal di dunia yang menganut daya tarik yang terpengaruh jarak kuadrat.” Mereka berdua bergantian memuji hukum gaya tarik yang ditemukan Newton. Tidak. Mereka bersyukur karena dunia ini menganut hukum tersebut.
            “Tidak hanya gaya tarikan gravitasi saja. Daya tarik magnet, kekuatan listrik dunia ini telah diverifikasi oleh hukum perbandingan jarak kuadrat.Memang sih hal ini patut disyukuri ya.” Profesor berhenti sejenak setelah bilang begitu.
            “Profesor, kalo seandainya dunia kami bukan memakai sistem gravitasi perbandingan jarak kuadrat, melainkan hanya jarak saja. Apa akan mempengaruhi kehidupan kami?”
            “Aku sudah menduga Tousuke bakal nanya hal itu. Tapi Tousuke seperti yang tadi ku bilang. Kalo memakai sistem gravitasi grafik B, tubuh manusia yang lebih besar, daya tariknya akan semakin kuat. Sampai sekarang pun tubuh manusia nggak pernah bebas, sehingga akan menolak kekuatan yang tidak menarik dari luar. Kalo begitu, aku akan mengajak kalian ke dunia itu.”
            “Tunggu, Profesor Polder! Batu-batu besar tadi sudah cukup menjadi pengalaman pahitku! Tolong jangan ajak aku ke dunia yang menakutkan lagi.”
            “Wah wah. Hitomi sepertinya nggak mau ya. Oke, kalo begitu kalian cukup melihat dunia grafik B itu dari jendela ini saja. Silahkan diliat. Sudah keliatan, kok.”
            “Eh?! Sudah keliatan?” Mereka berdua mendekatkan wajah mereka ke jendela. Mata mereka berdua memandang keluar dari jendela kaca bulat.
            Anak-anak yang sedang berjalan di sekitar taman berteriak-teriak kegirangan. Lalu seorang anak di belakangnya, seketika itu melayang di udara. Cara melayangnya seperti balon yang terlepas dari pegangannya.
            “Lho? Kok bisa begitu, ya?”
            Sesaat kemudian, anak yang melayang itu turun ke bawah. Sebagai gantinya, anak-anak tadi melayang dari belakang ke depan, lalu setelah itu turun lagi. Pemandangan yang menakjubkan!
            “Profesor, kenapa bisa terjadi seperti itu, ya?” Tanya Tousuke.
            “Tadi tuh pesawatnya sedang terbang rendah dan lewat di atas anak-anak tadi. Jika memakai hukum berbanding dengan jarak kuadrat, hal seperti tadi tidak akan terjadi. Aku akan menunjukkan satu pemandangan menarik lain.” Seketika itu pemandangannya berubah. Ada seorang wanita gendut sedang melihat ke atas di taman rumahnya.
            “Woooi! Wooooiii!” Panggilnya.
            “Dia sedang apa?” Tanya Tousuke.
            “Nanti juga akan tahu. Akan ada sesuatu yang jatuh dari atas. Kalo liat juga tau.”
            Terdengar suara seperti benda jatuh dengan cepat. Ternyata sebuah dipan kayu yang jatuh ke tengah-tengah taman dari langit. Sesaat kemudian kali ini ada orang yang turun dari atas.
            “Ah! Sakiiit!”
            “Hei, kau! Kan ada larangan tidur di dipan! Semua orang tidur di ruang bawah tanah!”
            “Aku mengerti aku mengerti. Aku akan tidur di ruang bawah tanah, Hakusho!” Pemilik rumah ini mengerutkan wajahnya lalu mengangguk.
            “Pria itu kenapa, sih?”
            “Itu karena saat dia tidur di taman, ada bulan. Nah, karena tarikan bulan lah pria itu naik ke langit sampai ratusan meter. Karena tadi bulannya sembunyi, jadi dia jatuh deh. Sepertinya dia terkena flu. Kasian.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment