Thursday, May 25, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 30



Pemanfaatan Fenomena Kapilaritas
            
            “Ayo kita observasi tempat lain. Kita akan terbang. Dekat sini kok.” Sesaat setelah Profesor Polder selesai bicara, terlihat sebuah ruangan bergaya Barat yang lagi-lagi jadul. Orang aristokrat itu terus saja memandang senar dan spons yang sedang berada di dalam akuarium.
            “Dia adalah Sir Kon Gleip yang terkenal itu.”Jelas Profesor Polder.
            “Apa yang dilakukan orang itu?”
           “Dia ingin membuat sesuatu untuk tempat menempelkan spons yang ada di dalam senar baja itu. Pada bagian dalamnya ini dipasang dua katrol dan separo bagiannya ditenggelamkan ke air. Dengan begini tinggal membiarkan alatnya berfungsi, spons akan menyerap air dan mengembang seperti gambar ini. Artinya A dan C adalah spons yang menyerap air karena fenomena kapilaritas sehingga mengembang. Bagian ini akan menjadi berat. Berbeda dengan yang tadi, spons diantara A dan B yang menghimpit katrol dan senar baja, sifatnya ringan karena tidak menyerap air. Intinya, A dan C berat sedangkan A dan B ringan. Lalu senar ini mungkin akan bergerak seperti anak panah. Iya kan.”







            “Benar.”
            “Kalo kalian ngerti cara kerjanya, nanti kalian juga akan mengerti proses kerja selanjutnya. Intinya, alat ini adalah mesin abadi ciptaan Sir Kon Gleip dari penelitian kerasnya. Tapi....pada akhirnya gagal.”
            “Kok bisa gagal?”
            “Sebenarnya sih sudah coba buat, tapi alatnya nggak bergerak sesuai yang dipikirkannya.”
            “Ooh. Jadi artinya memang nggak mungkin yaa membuat membuat mesin abadi.”
            “Benar. Aku akan memperlihatkan sesuatu pada kalian. Kita akan terbang sebentar.”
            Lagi-lagi pemandangan diluar seperti kumpulan awan-awan. Lalu suasana di dalam roket menjadi tenangdan terlihat sebuah pemandangan. Ada seorang anak mirip Tousuke yang sedang menaiki sepeda. Di sebelahnya ada sebuah sketsa dan dia terus saja menggelengkan kepalanya.
            “Memang sih tidak akan berhasil. Kenapa yaa setelah membuat, pasti tidak berhasil. Hmm...pertama....saat aku naik sepeda ini.....sepedanya berjalan lambat. Lalu...karena menahan beban manusia yang menaikinya, tekanan tube pada bagian ban semakin tinggi. Tekanan tube itu digunakan untuk memutar poros pedal. Lalu jika manusia mulai menggerakan pedal saat ingin naik sepeda, manusia tidak perlu menggunakan kakinya untuk memutar pedal. Karena tekanan tub akan selalu memutar pedal. Tapi....bagian mananya yang salah yaa....aneh...” Wajah anak laki-laki mirip Tousuke itu seperti kebingungan.
            “Ini juga mesin abadi. Bendanya memang beda tapi teorinya sama dengan mesin abadi. Karena itu mau sesusah apapun, percobaannya tidak akan berhasil.”
            “Profesor, kenapa....kenapa mesin abadi tidak pernah berhasil? Kenapa alat seperti itu tidak mungkin bisa diciptakan?”
“Yaah, itu dia masalahnya. Di dunia ini tidak ada benda yang bergerak tanpa energi. Kalo memang bisa bergerak, pasti ujung-ujungnya membutuhkan energi. Di dunia ini sama sekali tidak ada benda yang bergerak tanpa energi.”
            “Tapi, kalo seandainya itu memang ada, apa boleh buat kan?”
            “Itu tidak mungkin, karena ada yang namanya Hukum Kekekalan Energi. Jumlah energi di alam semesta ini selalu sama, tidak berkurang dan tidak bertambah. Karena itu, kalo memang ada suatu benda yang bergerak tanpa energi, maka energi di alam semesta akan bertambah drastis. Dan itu berarti, akan bertentangan dengan Hukum Kekekalan Energi. Makanya, benda yang bergerak tanpa energi tidak akan pernah bisa diciptakan. Kalian mengerti?”
            “Yaah, ngerti nggak ngerti sih.”
            “Yang nggak kalian ngerti tuh karena kalian tidak memikirkan hukum tadi baik-baik. Coba kalian pikir lagi.”
            “Aku masih nggak ngerti.”
            “Susah juga, ya. Kalo begitu aku akan memberikan pelumas pada sepeda ini. Tapi ada juga orang yang memberikan air sebagai pengganti minyak. Inilah pemikiran yang salah. Walaupun sudah banyak orang yang memberitahu kesalahan itu, tapi tetap saja mereka tidak mengubah pola pikirnya. Lalu mereka terus saja menggunakan air sebagai pengganti minyak. Nah, apa yang akan terjadi pada sepeda ini?”
            “Porosnya akan berkarat.”
            “Tepat sekali. Makanya, air tidak bisa menggantikan minyak. Mereka yang menggunakan air sebagai pelumas, tidak percaya akan hukum itu. Maka dari itu mereka nggak bisa ngerti kenapa sepedanya jadi rusak setelahnya. Iya, kan.”
            “Iya.”
            “Pertama, tolong ingat bahwa Hukum Kekekalan Energi itu memang ada. Entah ada atau tidak, kalian pasti tidak akan bisa mengerti kenapa mesin abadi tidak bisa diciptakan.”
            “Ooh, begitu. Sekarang aku sudah mengerti.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment