Tuesday, May 23, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 29



Mesin Abadi
            “Menumpahkan air dari tempat yang tinggi.” Profesor Polder bercerita kepada Hitomi dan Tousuke.
            “Di bawahnya ada semacam kincir air. Kincir air ini menerima air tadi. Maka dari itu kincir airnya berputar. Nah, kalian mengerti kan?”
            “Iya, aku mengerti.” Tousuke dan Hitomi berwajah bosen. Semua kincir air berputar memang karena itu kan.
            “Mengenai tenaga kincir air itu, kali ini kincir air menerima air dari bawah ke atas. Alat itu bisa juga untuk digunakan dalam prinsip kerja eskalator, katrol ember yang digunakan di pertambangan, dan menggerakan pompa hisap. Intinya, kincir air menerima air dari bawah ke atas. Jadi, kincir bergerak karena menerima air dari bawah lalu menumpahkannya dari atas. Kalo ini terus berlanjut, apa yang akan terjadi?” Profesor Polder memandang tajam wajah mereka berdua. Hitomi dan Tousuke saling berpandangan. Mau diulang berapa kali juga, hasilnya akan tetap sama. Tousuke sih pengen bilang kayak gitu.
            “Dulu, ada juga orang yang memikirkan ini. Air yang jatuh menggerakan kincir air, memberikan air ke atas dengan tenaga dari kincir air lalu air itu dijatuhkan lagi. Mereka berpikir pergerakan kincir air ini akan menjadi abadi tanpa harus ada orang lain yang menggerakkannya. Namun itu merupakan suatu kesalahan. Ternyata tidak ada yang seperti itu. Sama sekali tidak akan abadi. Pada akhirnya akan berhenti. Kalian tau kenapa?” Dibilang seperti itu, mereka berdua jadi bingung. Mereka juga nggak ngerti.
            “Mesin abadi adalah alat yang bisa bergerak selamanya. Kalo memang hal ini bisa terwujud, maka akan menjadi alat yang sangat praktis. Saat pertama kali beroperasi, setelah itu akan terus beroperasi tanpa isi ulang bahan bakar selama berapa puluh ribu atau milyaran tahun ke depan. Selain itu, dari dulu banyak ilmuwan yang berusaha ingin menciptakan mesin abadi ini. Mereka menghabiskan semua harta mereka, sampai nyawa mereka juga. Saking banyaknya orang yang menjadi gila sampe nggak keitung lho. Pokoknya bagaimanapun bagusnya alat itu, mesin abadi adalah mesin yang tidak akan bisa terealisasikan. Betapa mengerikannya pesona mesin abadi. Misteri mesin yang bergerak abadi.” Profesor Polder bicara dengan wajah serius, lalu berdiri dan duduk di kursi kokpit roket tong.
            “Kalo begitu hari ini aku akan mengajak kalian observasi ke dua-tiga orang yang melakukan penelitian tentang mesin abadi. Coba kalian liat dari jendela situ. Nah, kita akan pergi.”
            Roket tong mulai terbang. Karena terbangnya begitu cepat sehingga tidak terlihat apa-apa di luar sana. Hanya cahaya dan warna-warna samar saja yang bermunculan seperti awan.
            “Hei, coba liat orang itu!” Kata Profesor. Lalu pemandangan di luar jendela begitu tenang karena berhenti. Sepertinya orang Eropa. Dia memakai pakaian jaman jadul. Di lengannya melingkar jam tangan antik berbentuk kotak. Jarum panjang di jam itu bergerak. Bunyinya tik tik.
            “Apa yang sedang dilakukan orang itu, Profesor Polder?” Tanya Hitomi.
            “Orang Eropa itu pun sedang memikirkan jam abadi. Jarum jamnya berputar. Kalo jarum jamnya bergerak, akan menginduksi energi di kumparan. Dengan energi itu, akan menggerakan mesin kecil dan menggulung kumparannya. Kemudian...jam itu akan bergerak sendiri selamanya. Begitulah yang dipikirkan orang itu.”
            “Apa berhasil?”
            “Bagaimana pun juga tidak ada yang namanya mesin abadi.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment