Perpisahan
“Ada
satu macam mesin abadi lagi. Yaitu menciptakan mesin abadi untuk mengubah
temperatur dari suhu rendah ke suhu tinggi.”
“Itu seperti apa?”
“Alat untuk menurunkan temperatur, misalnya dari suhu 15
Celcius menjadi 14 Celcius, atau menaikan temperatur dari suhu 16 Celcius
menjadi 25 Celcius. Dengan alat itu, perlahan suhunya akan turun atau naik.
Kalo memang bisa begitu, tidak akan ada masalah soal bahan bakar. Karena bahan
bakar akan menjadi sumber daya alam tak terbatas. Tapi...tetap saja mesin abadi
tidak akan pernah bisa dibuat.”
“Apaan...ternyata nggak bisa ya.”
“Hukum Termodinamik II. Hukum itu menjelaskan bahwa tidak
akan bisa mengubah temperatur dari rendah ke tinggi. Makanya, orang-orang yang
nggak tau hukum ini, berpikir untuk menciptakan mesin abadi dan.....berakhir
dengan kegagalan.”
“Jadi bagaimanapun juga, tidak akan mungkin bisa membuat
mesin abadi, ya.”
“Benar. Makanya tolong jangan lupakan hal itu.” Saat itu,
Profesor Polder bangkit dari kursi kokpit dan mendatangi mereka berdua.
“Tousuke, Hitomi. Sudah saatnya kita berpisah. Perjalanan
Negeri Ajaib kalian pun akan berakhir hari ini.”
“Yang bener, Profesor?!”
“Profesor, aku nggak mau! Pasti masih banyak negeri ajaib
lainnya kan? Tolong ajak kami ke negeri ajaib selamanya, yaa.
“Hmm....untuk sekarang ini aku rasa cukup. Saat tahun
berlalu dan ada waktu yang tepat, aku akan mengajak kalian lagi. Memang sih ada
sebuah negeri yang sulit tapi itu terlalu berat untuk kalian. Tolong ingat dan
pelajari baik-baik tempat yang telah kita kunjungi, karena semua itu menjadi
kenangan yang penting. Mungkin sekarang kalian jadi mengerti sekali kan, rasa
tertarik akan penjelajahan selama ini? Nah, selamat tinggal.”
“Ah! Profesor! Tunggu dulu!”
“Profesor Polder! Jangan pergi!”
Tousuke dan Hitomi berteriak, tapi suasana ruangan di
dalam roket tong dan Profesor seketika itu menghilang. Mereka berdua
ditinggalkan di sebuah lapangan yang tertutup oleh hijaunya rumput.
-TAMAT-
No comments:
Post a Comment