Pak,
mana anaknya? Kok daritadi kita muter-muter aja, sih.” Ujar Shizuka dengan nada
sopan. Hmm...nih cewek ternyata polos
juga. Yah, apa boleh buat.
“Ya...naik
ke atas sini. Disana ada kamar anak
saya.” Shizuka mengangguk dan menaiki tangga tersebut sampai tiba di depan
sebuah kamar.
“Buka
aja, neng. Saya udah nyerah ngadepin dia.”
Kata Jack saat Shizuka memandang ke arahnya. Tangan Shizuka perlahan
bergerak hendak membuka handel pintu. Hahahahha....rasain
lo bocah. Gue emang selalu bersih ngelaksanain tugas. Ini mah gampang. Jack
yang ternyata sedang menyamar itu tertawa dalam hati. Tapi, tiba-tiba Shizuka
menghentikan gerak tangannya.
“Oh,
iya! Daritadi Nana dan Rita kok nggak ada, ya? Bapak tau nggak dua cewek yang
tadi bersama saya kemana?” Tanya Shizuka dengan wajah khawatir. Sial! Nih cewek berisik amat sih! Tinggal
buka pintunya aja padahal. Huh! Apa boleh buat harus akting dikit lagi.
Ternyata Izan nggak bohong. Cewek ini bukan cewek sembarangan.
“Kalo gitu, tunggu bentar ya. Saya mau cari temen saya
dulu.” Kata Shizuka sopan seraya hendak beranjak pergi. Tapi, Jack menahan
tangan Shizuka.
“KYAAAAAAA~!” Sontak Shizuka langsung melayangkan tendangan
kaki kanannya hingga Jack terpental jauh.
“A! Maaf! Maaf! Maafkan saya. Saya reflek. Maaf.” Shizuka
membungkuk beberapa kali saat mendekatinya dan mengulurkan tangannya. GILA! BENERAN GILA! CEWEK INI KUAT BANGET!
GUE...GUE BISA TERPENTAL JAUH KAYAK GINI?! DAN DIA BILANG ITU CUMA REFLEK?! GUE
HARUS WASPADA SAMA NIH CEWEK. Jack sebenarnya sudah habis kesabaran karena
tadi ia kena pukul tapi ia teringat tugasnya harus ‘bersih’ sempurna. Jack
langsung menggenggam kedua tangan Shizuka seraya menangis.
“Saya mohon, neng. Kasihanilah anak saya. Dia nggak mau sekolah
dan sekarang dia pengen mati. Saya mohon.”
Shizuka iba melihat Jack yang tidak sadar kalo sebenarnya ia
tertipu. “Baiklah. Saya buka, ya pak.” Kata Shizuka seraya berjalan mendekati
pintu tersebut tanpa ragu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, Shizuka sangat
terkejut. Ia melihat Izan pingsan dengan tangan terlihat seperti terikat ke
belakang. Walaupun ia tahu Izan sangat bengis, tapi sisi kemanusiaan Shizuka
tetap peduli dan kasihan melihatnya.
“IZAN~!” Shizuka segera mendatangi Izan dan melihat
keadaannya. Jack menyeringai jahat. Ia mengeluarkan pisau dari saku jasnya lalu
dengan gerakan cepat ia berlari menghunuskan pisau ke arah Shizuka yang
membelakanginya. Tapi, sangat tidak disangka-sangka Jack, Shizuka menahan pisau
yang akan menusuk dirinya itu dengan tangan kanannya tanpa membalikkan
badannya. Jack menarik-narik pisau yang digenggam Shizuka dengan kuat tapi
tidak bisa.
“Temee nani wo shita no
ka shitteru no...”
Shizuka berkata pelan menahan tangannya yang sudah berdarah-darah menahan pisau.
Bo...bocah ini...ngomong apa dia? Gue..nggak
ngerti...
“Apa yang anda lakukan pada temen gue?” Shizuka menoleh ke
arah Jack yang ada di belakangnya dan berdiri seraya masih menahan pisau Jack.
Jack berusaha menghindar tapi ia hanya bisa menjauhinya beberapa inchi karena
entah kenapa saat melihat Shizuka, seperti ada lem yang membuatnya nggak bisa melepaskan
pegangan pisaunya. Ma...mata itu...mata
setan?! Ba..baru pertama kali ini gue menjabat jadi bos tukang pukul
profesional ngerasa ketakutan begini.
“SHINEE YOO USOTSUKEEE~!”
Shizuka dengan wajah berapi-api dan membabi buta membanting Jack berkali-kali.
Saat tubuh Jack membentur pintu, ia menendang wajah Jack sampai ia terlempar ke
samping dan pingsan. Shizuka bernafas terengah-engah seraya menahan tangan
kanannya yang masih nggak berhenti mengeluarkan darah. Dengan mata sedikit berkunang-kunang
ia menghampiri Izan yang masih tak sadarkan diri itu.
“Izan...Izan...lo nggak papa kan. Izan...”
DUAK! Tiba-tiba Izan membenturkan keningnya ke kening Shizuka
dan membuatnya jatuh terduduk pingsan. Izan mengeluarkan tangannya yang
ternyata selama ini nggak terikat sama sekali dan mengangkat dagu Shizuka yang
tak sadarkan diri itu.
“HA..HAHA....HAHA...Gue..bisa...gue...ngalahin boneka bodoh
ini? HA..HAHA...HAHAHAHHAHHA...” Izan tertawa puas seraya melihat wajah
Shizuka.
“Hmmm...ternyata ide gue hebat juga. Gue emang sengaja nggak
ngasih tau detail tentang Shizuka ke Jack biar dia yang jadi korban amukan si
boneka payah ini.” Katanya seraya duduk santai. Ia menyibak rambut panjang
Shizuka yang menghalangi wajahnya.
“Hmmm... ternyata kalo lagi pingsan gini cantik juga. Coba
dia bukan cewek bengal udah gue pacarin.” Gumam Izan seraya mengangkat wajah
Shizuka yang tertunduk pingsan.
“Kesempatan ‘mainin’ boneka gue akhirnya dateng juga.
Hmmm...pertama...” Ia berpikir dan melihat bibir Shizuka yang tipis dan
berwarna pink tersebut. Izan tersenyum jahat dan mendekatkan wajahnya.
“Lo pikir gue mau jadi pacar lo sekalipun gue nggak bengal.”
Dengan mata masih tertutup Shizuka berkata pelan dan membuat Izan melompat
menjauhi Shizuka. Nggak mungkin! Nggak
mungkin! Seharusnya dia belum bisa siuman! Shizuka berdiri dan melemaskan
lehernya. Ia mengambil sapu tangan dari kantongnya lalu melilit tangan kanannya
yang berdarah itu.
“Kenapa...kenapa...lo...”
“Kenapa? Lo pikir benturan kepala lo tadi bikin gue pingsan?
Hhh...jangan bikin gue ketawa. Bagi gue, yang kayak gitu kayak digigit nyamuk
aja nggak.” Shizuka telah berdiri tegak seraya melipat tangannya di depan dada.
Izan masih nggak percaya. Siapa....siapa
cewek ini? Gue yakin banget benturan tadi cukup bikin satu cowok kekar
sekalipun pingsan.
“Kalo gitu pas gue lengah deketin lo tadi, kenapa lo nggak
nyerang gue? HAH?! JAWAB!”
Shizuka tersenyum seraya berjalan hendak mendekati Izan.
Tanpa disadari, Izan berjalan mundur perlahan. Tubuhnya pun reflek bergetar
sekalipun dalam hatinya Izan menyuruh tubuhnya jangan bergetar.
“Gue cuman pengen tahu lo masih punya harga diri sebagai
cowok atau nggak. Hhh...ternyata...” Langkah Shizuka terhenti saat ia tiba lima
senti di depan Izan.
DUG! Shizuka memukul perut Izan dengan cepat sekali sampai Izan
nggak sempat menghindar. Izan jatuh terduduk di depan Shizuka. Ia masih nggak
percaya dirinya bisa dikalahkan dengan mudah oleh cewek. Ya. SEORANG CEWEK.
“Hei, Izan.” Shizuka menunduk menatap Izan di bawahnya. Entah
kenapa, Izan mendongakkan kepalanya dan menatap Shizuka yang matanya bukan lagi
terlihat seperti mata setan, tapi mata kecewa.
“Tadinya, gue bener-bener kagum dengan kegigihan lo buat
ngejatuhin gue. Tapi....” Shizuka berhenti bicara. Matanya terus menatap Izan
seraya berdiri dan melipat tangannya di depan dada. Kenapa...kenapa mata gue...mata gue nggak bisa berhenti natap dia?
“Izan....gue...bener-bener kecewa dengan cara lo ini. Di mata
gue, lo sama sekali bukan cowok. Bahkan....bukan manusia.” Kata Shizuka tajam
seraya mengibaskan rambut panjangnya dan pergi meninggalkan Izan. Baru pertama
kali ini, hati Izan bergejolak. Stress, marah, sedih, kesal bercampur jadi satu
di otak dan hati Izan. Kata-kata Shizuka tadi entah kenapa sangat sangat
membekas di hati dan pikirannya.
“Nggak...jangan...jangan ganggu pikiran gue...JANGAAAAAAAAAANNN~!”
Izan memegangi kepalanya stres saat Shizuka hendak membuka gagang pintu. Ia
berhenti sesaat dan mendelik dengan pandangan tajam ke arahnya dan keluar.
Shizuka
menuruni tangga dan saat tiba di bawah, ia melihat semua orang-orang berbadan
kekar terkapar tak sadarkan diri. Mata Shizuka berbinar-binar melihat siapa
yang berdiri disana.
“RITA?!” seru Shizuka seraya berlari memeluk Rita.
“Oh, syukurlah kamu...HUWAAA~! SHIZUKA! KAMU KENAPA? Keningmu?
Terus...Hyaaa~! Tanganmu berdarah begini~!” Seru Rita saat meraih tangan
Shizuka yang terbelit sapu tangan yang telah penuh darah itu.
“Hei, kenapa gue nggak disapa? Gue kan juga ada.” Ujar Rido
nggak terima. Shizuka melihat ke arah Rido dengan muka bingung.
“Tadi, pas aku nangis ketakutan karena bapak tadi tiba-tiba
menutup pintu masuk, terus Rido muncul di depanku.” Jelas Rita seraya
tersenyum.
“Iya, liat. Semua orang ini gue lho yang ngalahin.
Gimana?Gimana? Gue kuat, kan?” Kata Rido antusias seraya nunjukkin otot-ototnya
yang emang gede. Shizuka terdiam.
“Heh, bodoh! Lo pikir dengan lo terus ngikutin gue dan
nyelamatin gue dan temen gue. Gue bakalan luluh dan masuk ke klub lo?”
“Iya. Nah, bayarannya lo harus masuk klub gue.”
“Kan gue nggak minta! Huh! Lagian, kenapa lo ngikutin gue dan
malah ngehajar nih preman-preman?”
“Udah gue bilang, kan. Apapun yang terjadi kalo lo belum
bilang ‘iya’ untuk masuk ke klub Karate gue, gue bakalan terus ngikutin lo
sekalipun gue harus bolos sekolah.”
“Alasan bodoh.” Ujar Shizuka seraya berjalan keluar. Tapi,
tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik. Ia hanya melihat dua orang di
belakangnya.
“Rido...Rita...hmmm...kayaknya ada yang kurang...Oh! Nana
mana? Nana?” Pertanyaan Shizuka membuat Rido dan Rita saling pandang.
“Tadi, dia bilang mau cari bantuan tapi daritadi dia belum
datang....He..HEI! Kamu mau kemana?!” Seru Rita melihat Shizuka tiba-tiba
beranjak keluar dari rumah tersebut dan menengok ke kiri dan kanan dengan
tergesa-gesa. Mata Shizuka tertuju pada cewek berambut sebahu di bawahnya yang
sedang berjongkok menelungkupkan wajahnya. Shizuka segera berjongkok dan
memeluk Nana.
“Gue tahu lo pasti ketakutan. Kata Rita lo lari cari
bantuan.”
“HUWAAAA...MAAF...MAAFIN NANA. SAKING TAKUTNYA NANA NGGAK
BERANI MINTA TOLONG...MAAFIN...”Teriak Nana. Kemeja Shizuka jadi basah oleh air
mata Nana.
“Oh, ya ampun ternyata daritadi kamu disini. Eh, Rido. Kenapa
kamu nggak sadar ada Nana sih pas kamu datang?” Ujar Rita yang sekarang sudah
mulai berani bicara dengan Rido.
“Gue emang beneran nggak nyadar. Lo nggak papa, kan? Nggak
luka?” Rido ikut berjongkok dan Nana menggeleng. Tak lama kemudian, terdengar
sirine dan dari jauh terlihat mobil polisi yang arahnya hendak mendatangi rumah
itu.
“Itu...aku yang panggil saking takutnya.” Kata Rita. Shizuka
dan Rido menganga terkejut.
“AYO LARIIII~!” Seru Shizuka seraya memapah Nana yang kakinya
masih terasa lemas diikuti Rita dan Rido yang berlari menjauhi rumah tersebut.
Setelah dirasa jauh dari tempat itu, mereka berhenti berlari untuk mengatur
nafas mereka.
“Gila, lo Rit. Kenapa pake lapor polisi sih?” Ujar Rido
seraya menepuk-nepuk dadanya.
“Lho? mereka emang orang jahat, kan. Ya, harus dilaporin
polisi dong. Coba pikir deh. Mana ada coba yang minta bantuan cewek-cewek kayak
kita buat ngebantuin anaknya supaya nggak jadi bunuh diri? Ini nih, si Shizu
yang bikin gara-gara. Coba dia...” Rita nggak bisa melanjutkan kata-katanya
melihat Shizuka menunduk.
“Hhh...Rita payah...” Gumam Rido seraya menepuk wajahnya.
“A!...aaaa...ngomong-ngomong, Shizu. Sebaiknya kamu ke rumah sakit
aja, deh. Lihat tuh tanganmu masih...” Rita berhenti bicara. Aduh! Gawat! aku dijotos nih. Kena jotos
nih. Aduh dasar mulutku ini banyak maunya! Huh, pulang-pulang aku pukulin deh nih
mulut. Tiba-tiba, Shizuka mengangkat tangan kirinya ke atas dan
mengayunkannya.
“KYAAAAAAA~! EH?” Rita
berhenti berteriak saat tangan Shizuka menyentuh pundaknya pelan.
“Maaf, ya. Lagi-lagi, gue ngebuat lo khawatir dan yang
lebih parahnya lagi gue..gue udah ngelibatin lo sampai begini. Maaf, ya.”
Rita nggak bisa berkata-kata saat Shizuka mengangkat wajahnya
ternyata wajahnya sudah penuh dengan air mata. Hmm...ternyata...Shizuka emang cewek. Bisa nangis juga dia, batin
Rido. Tiba-tiba, Shizuka menginjak kaki Rido yang membuat ia langsung
mengangkat-angkat kakinya.
“Kenapa sih?”
“Apa-apaan lo ketawa-ketiwi sambil liat wajah orang?! Aneh,
hah? Gue nangis aneh? Ha?!”
“Gue nggak ketawa-ketiwi kok. Cuma senyum-senyum aja.”
“Ya, sama aja! Huh! Padahal sih tadinya gue punya minat mau
masuk ke klub lo.”
“A! Seriusan?! Ma...maaf deh. Tadi gue agak kaget aja
ternyata seorang Shizuka bisa nangis juga.”
“Apa maksud kata-kata lo barusan, hah?! Gue ya...”
“Nana...lo udah nggak papa, kan.” Potong Rido. Nana
mengangguk lalu melangkah mundur menjauhi Shizuka.
“Makasih, ya Shizu.” Shizuka mengangguk dengan muka polos.
“Nah, sekarang...” Rido melepaskan handuk kecil yang selama
ini menggantung di lehernya dan mengikatnya di tangan Shizuka yang sudah
berlumuran darah itu.
“Nah, beres. Abis ini kita ke klinik ato puskesmas yang deket
ya. Biar luka lo nggak infeksi.”
Shizuka terdiam dan menatap handuk kecil yang kini membalut
tangannya itu. Tiba-tiba, mata Shizuka terasa berkunang-kunang.
“Bodoh...gue...nggak..” Tiba-tiba, Shizuka sempoyongan dan
hampir saja jatuh ke aspal kalo saja nggak ditahan Rido.
“Shizu!” Seru Rita dan Nana bersamaan.
“Udah gue duga.”
“Shizu kenapa, Rido?” Tanya Rita cemas diikuti anggukan Nana.
“Coba liat tangannya.” Rido mengangkat tangan Shizuka dan
melihat darah masih tetap merembes menembus handuk kecilnya. Rita dan Nana
menutup mulutnya terkejut.
“Yosh. Lo lo pada tau nggak klinik, puskesmas, rumah sakit
ato apalah yang deket sini? Dukun juga boleh deh.” Ujar Rido seraya menggendong
Shizuka.
“Iya, aku tahu. Dari sini ada rumah sakit deket kok.” Kata
Nana seraya berlari di depan sebagai penunjuk jalan diikuti Rido dan Rita. Rita
melirik ke arah Shizuka yang pingsan. Sabar,
ya Shizu. Kamu...hebat. Bagi aku kamu sahabat yang hebat.
-BERSAMBUNG-