Jatuhnya
Meteorit
Tak
lama kemudian, Profesor datang membawa gulungan kertas.
“Coba kalian liat ini. Ada tiga grafik.”
Saat
Profesor membuka gulungan kertas, terdapat tiga grafik yang terdiri dari a, b
dan c.
“Grafik
A adalah grafik yang tadi kita pikirkan, saat gravitasi akan dibandingkan
dengan kuadrat jarak. Lihat, garis kurva nya melengkung seperti jurang kan.
Ketinggian kurva menunjukkan nilai daya tarik. Kalo jaraknya satu meter,
berarti nilai daya tariknya satu meter. Kalo dua meter berarti nol koma dua lima.
Kalo tiga meter menjadi nol koma satu satu. Laju daya tarikannya akan semakin
mengecil. Grafik A jelas ya.”
“Iya, aku udah ngerti.”
“Nah, grafik A tadi kan gravitasi yang telah dibandingkan
dengan jarak kuadrat kan. Kalo grafik B adalah perkiraan bagaimana jika
gravitasi dibandingkan dengan jarak.”
“Maksudnya nilai jaraknya tanpa dikuadratkan, ya?”
“Benar. Misalkan jarak A B adalah satu meter, maka hasil
perbandingannya tetap satu. Jika dua meter, maka satu dibagi dua sama dengan
nol koma lima. Dan jika jaraknya tiga meter, maka satu dibagi tiga sama dengan
nol koma tiga tiga. Kalo dibandingkan dengan garis kurva yang ada di grafik A,
daya tarik di grafik B ini tidak begitu berkurang drastis kan.”
“Iya.”
“Iya, kan. Nah, jarak satu meter akan selalu sama
hasilnya. Jarak tiga meter pada grafik A hasilnya nol satu-satu, sedangkan pada
grafik B hanya turun sedikit menjadi nol koma tiga-tiga.”
“Profesor Polder, memangnya kalau sudah hitung-menghitung
begitu mau ngapain? Cepat ajak kami ke dunia ajaib itu!” Tousuke berwajah agak
bosan.
“Rumus ini adalah petunjuk untuk pergi ke dunia ajaib
tujuan kita. Kita sudah cukup bahagia dengan hidup di dunia yang menganut
sistem gravitasi di grafik A sih yaa. Tapi bagaimana kalo seandainya kita
tinggal di dunia yang menganut sistem gravitasi grafik B? Pasti bakal ribut,
jantung serasa berdebar, kepala jadi lebih fresh dan menjadi resah gelisah. Dan
kalo seandainya tinggal di dunia grafik C, mungkin tidak hanya perasaan resah,
tapi juga bakal terluka-luka. Karena kalian tinggal di dunia sistem grafik A,
jadi kalian merasa tenang dan aman, yaa.”
“Memangnya dunia bersistem grafik C tuh seperti apa?”
“Oooh, aku belum menjelaskannya, ya. Grafik C tuh jika
jarak tidak ada hubungannya dengan daya tarik antara A dan B. Artinya, walaupun
jaraknya jauh atau dekat, nilai daya tariknya akan sama. Kemudian, karena tidak
ada jarak maka hanya besar massa yang digunakan untuk menentukan nilai daya
tarik. Tapi kalo memang seperti itu, bakal ribut jadinya.”
“Seperti apa ributnya? Kalo ada dunia yang seperti itu,
ajak kami kesana doong.”
“Kalo begitu, ayo kita pergi kesana. Dunia dengan sistem
gravitasi grafik C. Dunia tanpa ada hubungan jarak. Dunia dengan sistem yang
menganut semakin berat suatu benda semakin besar juga daya tariknya. Nah, saat
aku bilang one, two, three! Kalian
akan langsung sampai ke dunia itu.” Kata Profesor Polder sambil mengayunkan
tangannya lalu mulai teriak one, two,
three. Lalu ruang di dalam roket seketika itu menghilang. Lalu Tousuke dan
Hitomi tiba-tiba saja berada di sebuah kota yang berisik. Mendadak terdengar
suara keras seperti zung zung gitu. Saat
melihat ke sumber suara, terlihat asap kotor membumbung tinggi dari arah atap
sebuah gedung besar, sebagian dari gedung itu hancur dan jatuh berantakan ke
bawah. Para pejalan kaki pada jatuh dan terluka. Bus pun hancur rata, dan para
penumpangnya terkena reruntuhan gedung.
“Wah wah! Gawat! Apa yang terjadi?!”
“Batu-batu besar berjatuhan! Ini hal yang aneh!” Saat
bilang begitu, terdengar suara yang keras. Lebih keras dari sebelumnya.
“Hoo, luar biasa! Gedung pencakar langit berlantai lima
puluh lima itu hancur separo. Hah?! Reruntuhannya mau jatuh kesini! Ayo cepat
kabur!”
“Ada apa sih?! Kenapa gedung kokoh itu bisa terbelah jadi
dua begitu?!”
“Batu-batu besar menghantam gedung-gedung. Batu-batunya
itu lhoo segede gunung Atago! Gedung manapun pasti hancur lah kalo dihantam
batu segede itu! Ah, gawat! Ayo cepat lari!”
Suara berisik itu terus saja berlanjut, asap kotor pun
masih aja menutupi langit sehingga menjadi gelap. Tousuke terkejut lalu meraih
tangan Hitomi untuk kabur.
“Kenapa bisa begini ya, Tousuke?”
“Pasti itu. Grafik C itu! Intinya, daya tarik disini
tidak terpengaruh oleh jarak. Makanya itu bagaimanapun jauh-deketnya jarak,
daya tariknya akan tetap sama. Besarnya suatu daya tarik hanya bergantung pada
massa suatu benda. Berarti benda yang ringan akan tertarik oleh benda yang
berat.”
“Ke...kenapa bisa...?”
“Gini, ya. Bumi tuh besar sedangkan batu-batu yang
melayang ini kecil, jadi...bumi lah yang menarik semua batu-batu ini!”
“Hmm...bukankah seharusnya ada meteorit yang jatuh juga
ya dengan batu-batu itu? Tapi nggak ada diantara batu sebanyak ini.”
“Sampai sekarang batu-batu yang beterbangan di langit ini
memang tertarik ke arah bumi, tapi balik lagi ke teori gaya tarik menarik yang
dibandingkan dengan jarak kuadrat. Meteorit akan terlempar jauh ke arah lain
tanpa tertarik oleh Bumi karena jaraknya yang sangat jauh. Lagipula dunia ini
menganut sistem gravitasi grafik C, jadi daya tarikannya tidak berhubungan
dengan jarak sehingga benda berat akan menarik benda-benda ringan. Makanya
semua batu tertarik ke bumi ini. Bakal ada banyak batu-batu besar yang akan
jatuh. Jadi kalo kita tidak masuk ke ruang bawah tanah, bisa bahaya.”
“Itu apa ya? Aku melihat benda bulat besar di langit. Ah!
Lama-lama makin membesar! Bentuknya seperti bulan, ah! Lebih besar dari bulan.”
“Gawat! Bulan pun tertarik ke Bumi dan akan jatuh kemari!
Ini bahaya! Bumi dan Bulan akan bertabrakan! Bumi....bumi akan hancur! Kita
akan mati!”
“Ah, gawat! Profesor Poldeeeeer!”
-BERSAMBUNG-

