Wednesday, May 3, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps 27

Jatuhnya Meteorit               
            Tak lama kemudian, Profesor datang membawa gulungan kertas.
            “Coba kalian liat ini. Ada tiga grafik.”          
Saat Profesor membuka gulungan kertas, terdapat tiga grafik yang terdiri dari a, b dan c.

               
        





“Grafik A adalah grafik yang tadi kita pikirkan, saat gravitasi akan dibandingkan dengan kuadrat jarak. Lihat, garis kurva nya melengkung seperti jurang kan. Ketinggian kurva menunjukkan nilai daya tarik. Kalo jaraknya satu meter, berarti nilai daya tariknya satu meter. Kalo dua meter berarti nol koma dua lima. Kalo tiga meter menjadi nol koma satu satu. Laju daya tarikannya akan semakin mengecil. Grafik A jelas ya.”
            “Iya, aku udah ngerti.”
            “Nah, grafik A tadi kan gravitasi yang telah dibandingkan dengan jarak kuadrat kan. Kalo grafik B adalah perkiraan bagaimana jika gravitasi dibandingkan dengan jarak.”
            “Maksudnya nilai jaraknya tanpa dikuadratkan, ya?”
            “Benar. Misalkan jarak A B adalah satu meter, maka hasil perbandingannya tetap satu. Jika dua meter, maka satu dibagi dua sama dengan nol koma lima. Dan jika jaraknya tiga meter, maka satu dibagi tiga sama dengan nol koma tiga tiga. Kalo dibandingkan dengan garis kurva yang ada di grafik A, daya tarik di grafik B ini tidak begitu berkurang drastis kan.”
            “Iya.”
            “Iya, kan. Nah, jarak satu meter akan selalu sama hasilnya. Jarak tiga meter pada grafik A hasilnya nol satu-satu, sedangkan pada grafik B hanya turun sedikit menjadi nol koma tiga-tiga.”
            “Profesor Polder, memangnya kalau sudah hitung-menghitung begitu mau ngapain? Cepat ajak kami ke dunia ajaib itu!” Tousuke berwajah agak bosan.
            “Rumus ini adalah petunjuk untuk pergi ke dunia ajaib tujuan kita. Kita sudah cukup bahagia dengan hidup di dunia yang menganut sistem gravitasi di grafik A sih yaa. Tapi bagaimana kalo seandainya kita tinggal di dunia yang menganut sistem gravitasi grafik B? Pasti bakal ribut, jantung serasa berdebar, kepala jadi lebih fresh dan menjadi resah gelisah. Dan kalo seandainya tinggal di dunia grafik C, mungkin tidak hanya perasaan resah, tapi juga bakal terluka-luka. Karena kalian tinggal di dunia sistem grafik A, jadi kalian merasa tenang dan aman, yaa.”
            “Memangnya dunia bersistem grafik C tuh seperti apa?”
            “Oooh, aku belum menjelaskannya, ya. Grafik C tuh jika jarak tidak ada hubungannya dengan daya tarik antara A dan B. Artinya, walaupun jaraknya jauh atau dekat, nilai daya tariknya akan sama. Kemudian, karena tidak ada jarak maka hanya besar massa yang digunakan untuk menentukan nilai daya tarik. Tapi kalo memang seperti itu, bakal ribut jadinya.”
            “Seperti apa ributnya? Kalo ada dunia yang seperti itu, ajak kami kesana doong.”
            “Kalo begitu, ayo kita pergi kesana. Dunia dengan sistem gravitasi grafik C. Dunia tanpa ada hubungan jarak. Dunia dengan sistem yang menganut semakin berat suatu benda semakin besar juga daya tariknya. Nah, saat aku bilang one, two, three! Kalian akan langsung sampai ke dunia itu.” Kata Profesor Polder sambil mengayunkan tangannya lalu mulai teriak one, two, three. Lalu ruang di dalam roket seketika itu menghilang. Lalu Tousuke dan Hitomi tiba-tiba saja berada di sebuah kota yang berisik. Mendadak terdengar suara keras seperti zung zung gitu. Saat melihat ke sumber suara, terlihat asap kotor membumbung tinggi dari arah atap sebuah gedung besar, sebagian dari gedung itu hancur dan jatuh berantakan ke bawah. Para pejalan kaki pada jatuh dan terluka. Bus pun hancur rata, dan para penumpangnya terkena reruntuhan gedung.
            “Wah wah! Gawat! Apa yang terjadi?!”
            “Batu-batu besar berjatuhan! Ini hal yang aneh!” Saat bilang begitu, terdengar suara yang keras. Lebih keras dari sebelumnya.
            “Hoo, luar biasa! Gedung pencakar langit berlantai lima puluh lima itu hancur separo. Hah?! Reruntuhannya mau jatuh kesini! Ayo cepat kabur!”
            “Ada apa sih?! Kenapa gedung kokoh itu bisa terbelah jadi dua begitu?!”
            “Batu-batu besar menghantam gedung-gedung. Batu-batunya itu lhoo segede gunung Atago! Gedung manapun pasti hancur lah kalo dihantam batu segede itu! Ah, gawat! Ayo cepat lari!”
            Suara berisik itu terus saja berlanjut, asap kotor pun masih aja menutupi langit sehingga menjadi gelap. Tousuke terkejut lalu meraih tangan Hitomi untuk kabur.
            “Kenapa bisa begini ya, Tousuke?”
            “Pasti itu. Grafik C itu! Intinya, daya tarik disini tidak terpengaruh oleh jarak. Makanya itu bagaimanapun jauh-deketnya jarak, daya tariknya akan tetap sama. Besarnya suatu daya tarik hanya bergantung pada massa suatu benda. Berarti benda yang ringan akan tertarik oleh benda yang berat.”
            “Ke...kenapa bisa...?”
            “Gini, ya. Bumi tuh besar sedangkan batu-batu yang melayang ini kecil, jadi...bumi lah yang menarik semua batu-batu ini!”
            “Hmm...bukankah seharusnya ada meteorit yang jatuh juga ya dengan batu-batu itu? Tapi nggak ada diantara batu sebanyak ini.”
            “Sampai sekarang batu-batu yang beterbangan di langit ini memang tertarik ke arah bumi, tapi balik lagi ke teori gaya tarik menarik yang dibandingkan dengan jarak kuadrat. Meteorit akan terlempar jauh ke arah lain tanpa tertarik oleh Bumi karena jaraknya yang sangat jauh. Lagipula dunia ini menganut sistem gravitasi grafik C, jadi daya tarikannya tidak berhubungan dengan jarak sehingga benda berat akan menarik benda-benda ringan. Makanya semua batu tertarik ke bumi ini. Bakal ada banyak batu-batu besar yang akan jatuh. Jadi kalo kita tidak masuk ke ruang bawah tanah, bisa bahaya.”
            “Itu apa ya? Aku melihat benda bulat besar di langit. Ah! Lama-lama makin membesar! Bentuknya seperti bulan, ah! Lebih besar dari bulan.”
            “Gawat! Bulan pun tertarik ke Bumi dan akan jatuh kemari! Ini bahaya! Bumi dan Bulan akan bertabrakan! Bumi....bumi akan hancur! Kita akan mati!”

            “Ah, gawat! Profesor Poldeeeeer!”

-BERSAMBUNG-

Tuesday, May 2, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 26

Misteri Kekuatan
            Hitomi dan Tousuke membawa karangan bunga berupa bunga tulip cantik, anyelir, bunga bakung, geranium, cyclamen dan daun-daun Asparagus di bagian luarnya. Mereka akan pergi menuju padang rumput yang telah tinggi di tengah-tengahnya itu. Kalian pasti sudah tau bahwa hari ini adalah hari kunjungan Profesor Polder. Setiap sebulan sekali dia pasti akan mengajak mereka mengunjungi tempat-tempat ajaib. Bulan lalu mereka diajak ke kota bawah laut. Dua bulan sebelumnya mereka diajak sampe ke ujung luar angkasa. Mereka sudah tidak sabar, bulan ini bakal diajak ke negeri ajaib mana lagi nih?
            Profesor Polder berdiri dari kursi kokpit, lalu melambaikan tangan ke arah mereka.
            “Selamat siang, Profesor.”
            “Profesor, hari ini aku pengen ngasih karangan bunga buat Profesor.”
            “Waah, bunga yang sangat cantik. Banyak juga bunganya. Makasih makasih.”
            Profesor menggoyangkan janggutnya dengan wajah senyum yang sepertinya sangat senang.
            “Kalau begitu, ayo kita taruh ini di kolam bunga roket tong. Nah, Hitomi, Tousuke. Ayo kita masuk sama-sama.” Lalu mereka masuk ke dalam tong bersama-sama.
            “Profesor, hari ini kita mau diajak ke negeri ajaib mana lagi, nih?”
            “Hmm...hari ini aku akan mengajak kalian ke sebuah negeri yang mempunyai kekuatan ajaib.”
            “Negeri kekuatan ajaib tuh seperti apa?”
            “Apa kalian tahu soal kekuatan tarik menarik antara misalnya benda A dan benda B?”
            “Kalo gaya tarik-menarik sih, aku tau.”
            “Bagus. Tapi apa kalian tau hukum gaya tarik-menarik itu? Hukum gaya ini ditemukan oleh Newton. Bagaimana, Tousuke?”
            “Karena semua orang tahu hukum tarik menarik ini, jadi tentu saja aku sangat mengingatnya. Gaya gravitasi antar dua benda tergantung pada perbandingan jumlah massa dan perbandingan terbalik pada jarak kuadrat dua buah benda. Benar kan?”
            “Benar. Contohnya disini cuma ada dua benda A dan B. Diantara benda itu terjadi gaya tarik-menarik. Besarnya gaya tarik-menarik antar dua benda itu seperti yang dibilang Tousuke tadi, bergantung pada dua hal. Pertama, massa benda A dan B. Bisa disebut juga sebagai berat benda. Semakin besar suatu benda, semakin besar juga gaya tarik menariknya. Kedua, seberapa jauh letak A dan B. Semakin dekat jaraknya maka semakin kuat gaya tarikannya. Kalo jaraknya jauh, kekuatan tarikannya pun jadi kecil. Hari ini aku akan mengambil hubungan antara kekuatan dan jarak ini untuk menunjukkan pemandangan menarik. Bagi manusia, hukum ini sangat berguna.”
            “Profesor, kok hari ini ceritanya agak sulit yaa. Aku jadi nggak ngerti. Bisa diulang sekali lagi?”
            “Ho ho! Nggak sesusah itu kok. Mungkin kalo soal hukum gaya tarik-menarik, kedengarannya susah tapi coba deh inget apa yang aku bilang dan jangan mikir yang susah-susah.”
            “Baiklah.”
            “Hitomi, rumus gaya gravitasi adalah perbandingan terbalik dibagi jarak kuadrat. Hahaha...mukamu jadi keliatan bingung gitu. Masih susah ya. Hmm...misal jarak antara A dan B sekitar satu atau dua meter. Nah, gaya gravitasinya pasti ada perbedaan kan. Nah, itulah maksud dari hukum tadi. Coba deh dipikir-pikir dan hitung. Pasti bisa deh.”
            Hitomi memiringkan kepalanya lalu mulutnya mulai komat-kamit.
            “Jarak antar dua benda.....ah, bukan! Karena rumus perbandingan terbalik dari gaya gravitasi sama dengan jarak kuadrat, maka kalo jaraknya semeter, berarti satu kuadrat sama dengan satu. Terus satu itu dibagi perbandingan tebalik. Satu dibagi satu yaa tetap satu dong.”
            “Lalu kalo jaraknya dua meter, gimana?”
            “Kalo jaraknya dua meter berarti dua kuadrat. Dua kali dua sama dengan empat. Lalu perbandingan terbaliknya sama dengan satu dibagi empat. Berarti....nol koma dua lima. Benar nggak?”
            “Benar sih tapi artinya apa?”
            “Hmm...”
            “Jika jarak A dan B satu meter, maka daya tarikannya adalah satu. Jika jaraknya dua meter, maka daya tariknya adalah nol koma dua lima. Karena itu, kalo jaraknya dua kali lipat berarti daya tarikannya menjadi satu bagi empat. Nah kalo jaraknya tiga meter, maka jadi tiga kali lipat berarti satu bagi sembilan, sama dengan nol koma satu satu. Ngerti nggak?”
            “Yaah...bisa iya bisa juga nggak.”

            “Kalo gitu coba deh gambar grafik. Dengan begitu mungkin bisa lebih mengerti.” Profesor bangkit dari kursinya lalu masuk ke dalam.

-BERSAMBUNG-

Thursday, April 27, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps. 25



Proyek Luar Biasa
            Akhirnya mereka transit juga ke jalan warna merah. Saat itu juga, mereka masuk ke sebuah distrik yang ada di kedua sisi kota yang terang. Orang berjalan dalam sebuah rombongan. Karena jalannya cepat kayak orang Jepang, jadi nggak begitu jelas rupa mereka. Saat itu, tiba-tiba Tousuke seperti teringat akan sesuatu.
            “Profesor, abis ini kita pergi kemana? Abis mengendarai jalan hidup ini, apa nanti kita akan diusir keluar?”
            “Nggak usah khawatir. Jalan hidup ini akan berlanjut sampai ke mall Negeri Bawah Laut. Sebentar lagi kita akan sampai di mall itu. Nanti kita akan transit ke jalan yang bergerak lebih lambat!” Profesor Polder meraih tangan Tousuke dan Hitomi lalu melompat dari satu jalan ke lima warna jalan lainnya. Mereka naik jalan berwarna putih yang lambat dan setelah itu....sampai di sebuah kota yang indah dan ramai.
            “Wah! Ada orang Jepang! Bukan! Kebanyakan memang orang Jepang! Apa ini tempat imigrasi orang Jepang?” Tanya Tousuke dengan mata berbinar.
            “Ini adalah Negeri Bawah Laut yang dibuka oleh orang Jepang. Proporsi penduduk di negara aslinya sudah kebanyakan, makanya hidup orang Jepang jadi susah. Lalu mereka punya ide untuk menciptakan dunia bawah laut dan tinggal disana. Tidak! Tidak hanya tinggal, mereka juga menggali tanah untuk mengambil hasil bumi seperti tembaga, besi, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi di bawah laut sana. Dengan modal kekuatan survey penelitian dan kepercayaan, sedikit demi sedikit mereka membangun Negeri Bawah Laut ini.” Jelas Profesor Polder.
            Oh, begitu yaa. Aku benar-benar tidak ingat kalo di dasar laut ada tanah. Tousuke jadi malu sama otaknya sendiri.
            “Nah, mall nya mulai keliatan tuh! Yuk kita turun.” Profesor bersama mereka berdua pindah dari jalan warna putih ke trotoar tidak bergerak.
            “Waah, indahnya! Mall nya bagus sekali!”
            “Luasnyaa. Aku nggak pernah liat mall seluas ini!”
            Mall tersebut berbentuk bulat dengan luas kira-kira dua puluh ribu tsubo[1]. Di sekelilingnya berderet gedung-gedung pencakar langit yang pastinya ada berpuluh-puluh tingkat. Masing-masing gedung mempunyai struktur dan warna yang berbeda-beda. Benar-benar keserasian yang indah sekali! Di tengah-tengah mall tersebut, terdapat menara air mancur. Tetesannya berjatuhan seperti butiran kristal, dan berkumpul di sebuah kolam bunga. Langitnya biru bercahaya.
            “Luar biasa. Ini....di dasar laut, kan? Tapi...kenapa langitnya bisa berwarna biru cerah seperti itu?”
            “Pertanyaan yang bagus. Tousuke, itu bukan langit beneran tapi atap kaca berwarna biru yang terpasang di langit-langitnya. Lalu di atasnya, dipasang lampu dengan ukuran cahaya yang sama dengan matahari. Walaupun mereka tinggal di Negeri Bawah Laut, mereka tetap bisa melihat langit yang cerah banget ini dengan berkumpul di mall ini. Perasaan kita jadi baik, kan?”
            “Oh, begitu. Tapi kalo bukan matahari beneran, nggak bagus juga ya. Soalnya kan tidak mengandung sinar ultar-violet yang dibutuhkan tubuh.”
            “Kalo soal itu, Menteri Kesehatan sudah memikirkannya. Cahaya lampu itu mengandung banyak sinar ultra-violet. Makanya karena orang-orang disini terpapar sinar ultra violet lebih kuat daripada orang-orang yang tinggal di kota di atas sana, jadi sedikit sekali orang yang sakit di Negeri Bawah Laut ini. Perbandingannya 3:1 untuk penduduk di atas bumi.” Semakin mendengar penjelasan dari Profesor Polder, lama-lama Negeri Bawah Laut jadi negeri yang bagus juga.
            “Profesor, bagaimana kehidupan dan pekerjaan orang-orang di Negeri Bawah Laut ini?”
            “Ada macam-macam pekerjaan disini. Bisnis toko yang menjual barang dianggap sepele disini. Pekerjaan yang paling utama disini adalah menggali dasar laut, mengambil barang tambang berharga, mengambil ikan di berbagai macam kedalaman laut, mengambil emas di laut, membuat obat penting, memanfaatkan panas bumi untuk pembangkit listrik atau memanaskan barang. Ada juga yang menggali batu air dan memotong batu untuk bahan bangunan. Nggak keitung deh pokoknya.”
            “Waah, ternyata ada banyak sekali pekerjaan yaa. Sepertinya lebih sibuk dibanding penduduk di atas bumi.”
            “Iya. Pekerjaan mereka juga memberikan keuntungan. Nah, kita liat-liat lokasi pertambangan laut yuk lalu abis itu, aku akan mengajak kalian ke tempat pemancingan bawah laut.” Profesor menarik tangan mereka berdua, lalu meninggalkan mall. Saat itu tiba-tiba Tousuke berteriak.
            “Ah! Disitu ada kereta yang sedang berhenti! Disitu tertulis kereta dengan tujuan Tokyo!”
            “Memang. Kereta bawah laut itu terhubung dengan dunia luar sana. Pulangnya kita naik itu aja, yuuk.”
            Tak lama kemudian, Hitomi seperti kaget.
            “Lho? Koran yang dijual ini kok bulan Mei 1969? Kenapa ya?”
            Lalu Profesor tersenyum menyeringai.
            “Benar. Sekarang tahun 1969. Karena disini sedang zamannya energi nuklir, jadi mereka bisa menggunakan kekuatan nuklir yang besar. Proyek besar di Negeri Bawah Laut seperti mesin waktu pun bisa mereka buat tanpa kesulitan. Hal seperti ini tidak akan mungkin bisa dilakukan walau menceritakan Negeri Bawah Laut pada orang yang cepat meninggal, kan?”

-BERSAMBUNG-


[1]1 tsubo = 3,31 m2

Tuesday, April 25, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Eps 24



Gerbang Negeri Bawah Laut
            Roket tong yang mereka bertiga naiki telah masuk ke bawah laut. Rimbunan rumput laut dan ikan-ikan tujuh warna berlarian di belakangnya, lalu sekitarnya tiba-tiba menjadi suram. Sebagai latar belakangnya, tulang belulang manusia yang terselimuti lumpur, berserakan dimana-mana. Ikan laut dalam yang bercahaya fosfor, berlalu-lalang bikin perasaan jadi nggak enak. Roket terus saja turun sampai ke dalam permukaan batu. Entah istana naga atau neraka setan bawah laut yang ada di sana. Tiba-tiba Profesor menyalakan lampu roket tong yang super terang. Pemandangan di depan jadi lebih terang.
            “Waah, indahnya!” Teriak Hitomi.
            “Lho? Apa itu?” Mata Tousuke membulat.
            Lihatlah! Ratusan, ribuan....buanyak sekali asap putih yang membumbung tinggi dari bawah laut—bukan! Itu bukan asap putih! Melainkan pilar! Wajarlah tadi dikira asap, karena pilar-pilar itu agak miring seperti mau jatuh. Pada bagian ujung pilar putih yang banyak itu, masing-masing terdapat tabung gas yang berwarna sama. Saat mendekat kesana, ternyata tabung gas nya super besar! Pilar itu lebih lebar daripada cerobong asap yang ada di kapal pesiar. Pilar-pilar itu berjajar rapi seperti hutan dan menjulang ke atas. Bagian ujungnya tak terlihat karena terhalang keruhnya air laut. Sebenarnya...ini apaan sih?
            Saat itu, roket tong sedang berjalan melewati rimbunan pilar di tengah lautan dan tiba-tiba saja Profesor menurunkan roketnya untuk mendekat ke arah pilar. Ternyata banyak sekali barisan tabung gas tergantung di atasnya. Atap tabungnya rata. Lalu di bagian garis hitamnya banyak lingkaran, dan pada lingkarannya tertulis angka. Saat itu, roket tong mengunjungi tabung bertuliskan angka 8 di bagian dalam lingkarannya. Tiba-tiba saja lingkaran angka 8 itu melekuk. Bukan melekuk, melainkan bergerak turun.
            “Kenapa, Profesor Polder?”
            Profesor bangkit dari kursi kokpit, lalu mendatangi mereka berdua.
            “Kita sudah sampai. Kita sudah sampai di Negeri Bawah Laut. Nanti roket ini akan masuk ke dalam.”
            “Negeri Bawah Laut?”
            “Iya. Kita sekarang berada di pintu masuk menuju Negeri Bawah Laut. Nanti ada lima pintu dan masing-masing akan terbuka dan tertutup satu per satu. Kalo kita masuk, pintunya akan terbuka.”
            “Lima pintu? Kenapa harus begitu?”
            “Dibikin lima pintu supaya tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Kemudian, pintu itu akan menurunkan tekanan air yang dahsyat sampe tekanan udara di Negeri Bawah Laut satu per satu. Karena kalo tidak, manusia dan kendaraan akan rusak terkena perubahan tekanan yang dahsyat, tubuh pun hancur, dan kita akan mengalami pendarahan dalam tubuh.”
            Mata Tousuke dan Hitomi membelalak baru mengerti maksudnya. Cakram yang tertulis angka itu ternyata semacam lift yang bergerak naik-turun. Roket tong masuk ke dalam dan turun menuju pintu kedua. Di pintu pertama, roket meluncur turun lalu terhalang oleh sebuah lubang. Lalu tekanan udara dan air laut yang sama-sama masuk, dibuang keluar. Selanjutnya roket tong masuk ke pintu kedua menuju pintu ke tiga. Saat pintu kedua tertutup selanjutnya buka-tutup buka-tutup begitu seterusnya. Setelah melewati ruang di pintu kelima, Roket tong sampai di sebuah ruangan besar.
            “Nah, ayo kita keluar.” Entah sejak kapan penampilan Profesor Polder udah kayak mau jalan-jalan aja, lalu mendesak Hitomi dan Tousuke.
            “Jalan-jalan ke Negeri Bawah Laut!”
            “Seperti apa yaa Negeri Bawah Laut itu? Penghuninya seperti apa, yaa?”
            “Sabar sabar. Nanti juga kalian akan mengerti.”Kata Profesor.
            Saat mereka bertiga keluar dari roket, terdapat sebuah pintu di salah satu sisi ruang besar ini. Begitu mereka melewati pintu, ada ruang semacam jembatan yang luas sekali. Ada sungai yang mengalir diantara jembatan satu ke jembatan lain.
            “Ternyata di tempat seperti ini ada aliran sungai juga yaa.”
            “Bukan, itu bukan sungai. Itu disebut ‘jalan hidup’.”
            “Jalan hidup?”
            “Maksudnya jalannya bergerak. Ada sembilan jalan disini. Kedua sisi dan luarnya berwarna putih. Lalu ada biru, oranye, nila, merah sampai merah tua. Warna putih tuh jalan yang bergerak paling lambat. Kalo ingin lebih cepat, pergi ke jalan di sebelahnya. Nanti bakal ada jalan warna merah tua yang merupakan jalan paling cepat. Kecepatan jalan itu bergerak sekitar ratusan kilometer per jam.”
Oh, begitu ya. Jadi ini bukanlah sungai. Awalnya karena bergerak jadi dikiranya sungai yang mengalir. Ternyata ini bukan sungai melainkan jalan yang bergerak seperti yang Profesor bilang tadi.
“Jadi jalan yang bergerak tuh bukan jalan yang terbuat dari tanah atau aspal seperti biasanya ya.”
“Benar. Jalan ini terbuat dari sejenis karet. Gaya geseknya dan elastisitasnya pas. Soal kekokohannya nggak usah khawatir. Raksasa atau buldozer pun bisa berdiri di jalan ini. Jalan ini bergerak dengan kecepatan yang telah ditentukan. Nah, kita juga naik itu yuk. Pertama kita coba naik jalan yang warna putih, jalan yang paling lambat dulu aja. Saat lompat ke jalan itu, kalian harus mendaratkan kedua kaki kalian seperti kelinci. Tidak boleh mengangkang.” Profesor mendorong bahu mereka berdua yang lagi ketakutan.
“Satu! Dua! Tiga!” Mereka bertiga lompat. Saat melompat, tidak terjadi apa-apa. Melihat-lihat sekeliling pun tidak.
“Kecepatan jalan ini hanya lima kilometer per jam. Nah selanjutnya, kita pindah ke jalan warna biru, yuk. Kita akan berpindah ke jalan yang semakin cepat.”
Begitulah, setelah dicoba ternyata nggak kenapa-napa. Di negeri ini, tidak ada yang namanya kereta atau mobil. Semuanya menggunakan ‘jalan hidup’ sebagai alat transportasi.

-BERSAMBUNG-