Jangan Biarkan Kapal
Hantu Lolos!
Entah ini sudah yang keberapa kali kah mereka bertemu
dengan kapal hantu. Kalau tidak salah saat kapal Wajima Maru ditenggelamkan dan
semuanya kabur, naik empat sekoci, kemudian kapal hantu ini muncul. Berarti
dengan yang sekarang sudah dua kali kapal itu muncul. Awalnya hanya dengan
menembakkan satu peluru ke arah kapal hantu itu, dan tidak terjadi apa-apa. Tapi
hari ini kapal hantu itu terlihat berbeda! Kenapa? Karena pada sekoci dua tadi, ditemukan sepotong
tangan Maruo sang teknisi komunikasi yang menggenggam semacam surat. Arti dari “jangan
dekati kapal hantu” mungkin saja maksudnya adalah kapal hantu ini melakukan hal
yang mengerikan kepada Maruo dan para awak kapal sekoci dua sebelumnya.
Sebenarnya kejadian seperti apa yang dialami mereka? Dan kemana mereka pergi? Ah,
tidak! Daripada disebut pergi, mungkin lebih tepat dengan kalimat : semua
terbunuh tanpa tersisa satu orang pun. Dan sekarang di tengah hujan lebat ini,
kapal hantu sialan itu tiba-tiba muncul!
“Hoi, kapal hantu! Kali
ini aku tidak akan membiarkanmu begitu saja! Kaulah musuh rekan kami! Aku harus
membalaskan dendam mereka, akan ku hajar habis-habisan!” dari dua sekoci, para
awak kapal kompak menyuarakan kemarahan mereka kepada kapal hantu. Mereka benar-benar
lupa akan ganasnya badai petir, ombak yang bergunung-gunung dan keangkeran
kapal hantu. Mereka sangat membenci kapal hantu itu.
“Kapten, tolong izinkan
saya untuk mendatangi kapal hantu itu. Saya ingin mencari tau kenapa
teman-teman saya dibunuh. Pasti rahasianya ada di dalam kapal itu.”
“Izinkan saya juga,
Kapten. Maruo pemuda yang baik dan ramah. Aku ingin membalaskan dendam Maruo.
Saya menderita kalo saya hanya tinggal diam.” Lama kelamaan semuanya datang ke
Kapten untuk meminta izin menyelidiki kapal hantu. Kapten Saeki jadi bingung
nggak tau harus bagaimana. Padahal sebelum kapal hantu itu muncul, mereka
mengeluh lapar dan haus bagai orang sakit. Tapi sekarang, mereka berdiri tegak
dan semangat layaknya orang siap perang. Walaupun ombak bergulung-gulung, hujan
badai mengganas dan ada peringatan tertulis untuk tidak mendekati kapal hantu
mengerikan itu, mereka tidak merasa gentar sama sekali. Melihat hal itu, Kapten
Saeki mengangguk mantap.
“Oke, aku mengerti maksud
kalian. Kalau begitu, kita akan pergi menyelidiki kapal hantu itu!”
Terdengar suara
kegembiraan dari dua sekoci.
“Sekarang aku akan memberi
perintah. Pak Furuya akan bertindak sebagai ketua penyidik. Para awak kapal di
sekoci dua akan menjadi tim penyidik, segera berangkat! Sedangkan para awak
sekoci satu akan menjadi tim cadangan dan awasi keadaan kapal hantu baik-baik!”
Mendengar perintah beliau, ada yang merasa senang dan ada juga yang merasa
kurang puas.
“Bukan saatnya untuk
meributkan hal ini! Di saat kalian sibuk komplain, kapal hantu itu akan pergi
jauh! Hei, sekoci dua! Ayo berangkat!”
-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment