Cahaya Misterius di
dalam Kapal
Kekuatan badai semakin melemah, dan hujan pun semakin
mereda. Para awak sekoci dua yang telah menyebar di berbagai tempat,
masing-masing sudah memegang senjata entah itu pisau atau balok kayu. Mereka
siap menerima perintah untuk mulai menyerang. Karena itu, tubuh mereka
mengeras.
“Kita akan siap tempur!”
Pak Furuya akan memberi aba-aba.
“Saat menyelidiki bagian
dalam kapal, setidaknya kalian harus berdua. Jangan ada yang sendirian! Pertama,
aku dan Kaitani akan pergi ke anjungan kapal. Kemudian, kalo tidak terjadi
apa-apa selama sepuluh menit, aku akan melambaikan tangan. Setelah itu kalian
mulai selidiki bagian dalam kapal!” Setelah berkata begitu, Pak Furuya dengan
cepat lompat ke pinggir kapal, dan naik ke atas geladak. Kaitani yang membawa
senapan pun ikut naik ke atas geladak. Para awak sisanya mengawasi mereka
berdua yang sedang naik ke atas di pinggir kapal. Saat itu lagi-lagi langit
menjadi gelap dan hujan mulai turun.Sosok Kaitani dan Pak Furuya yang sedang
bergerak pelan, jadi tak terlihat jelas karena terhalang hujan menyedihkan itu.
“Kita bergerak!” Pak
Furuya menarik tangan Kaitani lalu bergerak cepat. Mereka masuk ke anjungan
kapal dengan meniti tangga yang sempit.
“Sudah kuduga, tidak ada
orang.” Kaitani memandang sekeliling anjungan kapal dengan tubuh yang terguyur
hujan.
“Pak kepala, dari tadi
saya merasa kepikiran. Ada hal aneh disini. Coba liat itu.” Kaitani menunjuk ke
atas anjungan dengan wajah nyinyir merinding.
“Memang tidak begitu
keliatan karena terbasuh hujan, tapi kenapa ya dimana-mana terdapat tetesan
darah begini?”
“Iya juga, ya. Kalo disini
tepi pantai...ah, bukan! Kalo disini hutan sih bisa dipastikan itu jejak kaki
binatang buas, yaa.”
“Hmm...saya serius. Kita
kan sedang berada di atas laut!” Kata Kaitani. Tapi baik Pak Furuya maupun
Kaitani, mereka tidak bisa memecahkan misteri noda darah aneh itu. Di saat itu,
tak terasa sudah sepuluh menit berlalu dari waktu yang ditentukan.
“Pak kepala, semua awak
yang berada di tepi kapal sedang menunggu aba-aba Pak kepala.”
“Oh, iya. Kalo begitu kita
akan segera menelusuri bagian dalam kapal!” Setelah bilang begitu, Pak kepala
melambaikan tangan ke arah para awak kapal dan mengirim kode ke mereka. Setelah
menunggu lama, akhirnya mereka semua naik juga ke atas geladak.
“Hei, Kaitani. Ayo kita
pergi ke kabin.”Lalu mereka berdua turun menuju kabin. Tapi setelah mendobrak
atau membuka pintu kabin mana pun, bagian dalam kabin semuanya berantakan.
“Sebenarnya, apa yang
terjadi pada tamu-tamu kapal ini?”
“Pastinya dibunuh sama
hantu-hantu itu.”
“Begitu, yaa. Tapi...ini
terlalu kejam. Hmm...jangan-jangan di dalam kapal ini terjadi wabah penyakit
yang mengerikan, lalu semuanya meninggal. Bisa jadi, kan?”
“Hah? Wabah penyakit?”
Raut wajah Kaitani seketika itu berubah.
“Iya! Mungkin saja begitu!
Kapal ini terserang wabah pes atau penyakit bervirus lainnya yang tidak jelas.
Lalu karena tidak ada satu obat pun yang manjur, semua penghuni kapal tewas.
Bagaimana?”
“Tapi, Pak kepala. Disini
hanya ada tulang belulang manusia. Terus bagaimana soal jasad manusia yang
tidak ada satu pun dalam keadaan utuh itu?”Selagi mereka membicarakan hal itu,
mereka berdua keluar dari anjungan dengan meniti tangga. Saat itu mereka
mendengar suara semacam ketukan dari arah gudang di bawah. Suara aneh itu terus
terdengar di gudang bawah. Mereka berdua mengikuti suara itu dan sampai di
pintu gudang kedua bagian ujung. Sekitarnya gelap gulita karena lampu mati.
Tapi entah darimana tiba-tiba tercium bau anyir darah.
“Ah! Di
tempat seperti itu, ada sesuatu yang bercahaya!” Kaitani menarik lengan Pak
Furuya.-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment