Tuesday, January 24, 2017

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Korban Selamat yang Tak Disangka-sangka



Korban Selamat yang Tak Disangka-sangka
          Pak Furuya menarik Kaitani, mendobrak pintu dan bersama-sama masuk ke bagian dalam kapal dan....ternyata gelap.
            “Hei! Kau yang ada di dalam, keluarlah!” Teriak Pak Furuya dalam bahasa Inggris. Suara Pak Furuya menggema seperti berada di dalam gua. Tidak ada respon darinya.
            “Kalau kau nggak mau keluar, aku tembak! Menyerahlah!” Teriak Pak Furuya lagi. Tapi tidak ada seorang pun yang muncul dari ruangan itu.
            “Bukankah ini aneh, Kaitani?” Pak Furuya menengok ke arah Kaitani.
            “Iya, yaa.” Kaitani juga berpikir begitu.
            “Kalo begitu, saya coba teriak.”Setelah bilang begitu, Kaitani mengeluarkan suara super kencangnya.
            “HEI! KALO KAMU SAYANG NYAWA, KELUARLAAH! KALO TIDAK, AKU AKAN MENEMBAKMU!”
            “Hei hei, Kaitani. Memangnya orang asing mengerti bahasa Jepang?”
            “Ah, saya tidak bisa berteriak kalo tidak pake bahasa Jepang.”Saat Kaitani selesai bicara, dari arah seberang yang gelap muncul sesosok orang.
            “Tuh, kan! Dia muncul!” Salah seorang bawahan Pak Furuya akan bersiap menembak. Ia bermaksud akan melumpuhkan orang itu dengan satu tembakan jika ternyata orang itu memang orang mencurigakan.
            “Hoo! Pak Furuya!” Orang di tengah kegelapan itu di luar dugaan berteriak dalam bahasa Jepang!
            “Si...siapa kau?!”
            “Saya Maruo.”
            “Hah? Maruo?”
            Muncul seseorang dengan celana panjang yang sudah compang camping. Dan memang orang itu....si teknisi Maruo!
            “Ooh! Maruo! Kamu hantu Maruo, ya! Tapi kok kamu tidak melayang?” Teriak Kaitani.
            “Hantu? Jangan bercanda dong. Saya masih hidup, kok. Saya Maruo, masih hidup.”
            “Hoo..hahahaha ternyata bukan hantu, yaa.”Dengan takut-takut, Kaitani menyentuh tubuh Maruo, terharu lalu merasa senang.
            “Maruo! Ternyata kamu selamat! Jadi waktu aku di sekoci dua itu, aku mengambil tangan orang tak dikenal, ya. Tangan itu menggenggam surat yang isinya tulisan tanganmu. Makanya aku shok karena mengira kau sudah mati. Kamu benar-benar masih hidup! Tapi....apa yang sebenarnya terjadi disini?”
            “Hmm...ini gawat sekali! Tapi bagaimana dengan binatang buasnya? Bukankah di kapal ini banyak singa dan harimau, ya?”
            “Kalo itu sudah kita bereskan.”
            “Hah? Sudah dibereskan? Yang benar? Kalau begitu kita bisa tenang sekarang. Haa...syukurlaah.” Maruo menepuk-nepuk dadanya.
            “Karena acara berburu sudah selesai, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Daripada itu, bagaimana soal ceritamu....”
            “Ooh...soal itu ya. Para awak kapal Wajima Maru ada tiga orang. Lalu para penumpang yang selamat di kapal Volk ini berjumlah tujuh-delapan orang. Mereka terluka parah.”
            “Ooh, Volk. Jadi kapal ini bernama kapal Volk, yaa. Berasal darimana?”
            “Norwegia.”
            “Aku ingin dengar cerita soal kapal ini tapi sebelum itu, kau panggil teman-teman awak kapal Wajima Maru dulu. Kau pasti mencemaskan mereka, kan? Aku juga ingin melihat mereka. Siapa saja yang selamat?”
            “Yajima, Kawasaki dan Fujiwara.”
            “Oh, begitu. Coba panggil mereka, setelah itu kamu bisa santai bercerita.”
            Sesuai perintah Pak Furuya, Maruo kembali masuk ke dalam gelapnya ruangan sambil berteriak memanggil mereka. Dari kabin yang tertutup rapat, diluar dugaan ditemukan teman-teman awak kapal Maruo. Ekspresi mereka saat itu bagaikan sedang melihat hantu atau melihat binatang buas yang tiba-tiba muncul. Semua bawahan Pak Furuya bersorak kegirangan.
            Kaitani buru-buru naik ke atas geladak untuk memberitahukan hal ini pada Kapten Saeki di sekoci yang sedang mengawasi keadaan di sekitar kapal. Kaitani menembakkan pistol ke atas.
            “Hoooi! Hoooi!” Kaitani memanggil teman-temannya di sekoci.
            “Heei! Ada apa?!” dari sekoci terdengar jawaban dari orang yang terus menunggu disana.
            “Kami menemukan sesuatu yang luar biasa! Awak kapal Wajima Maru ada di dalam kapal Volk ini! Binatang-binatang buas yang memangsa manusia, semuanya sudah kami bereskan!” Kaitani memberitahukan berita besar itu dengan kode semapor pakai tangan. Orang-orang di atas sekoci pun terlihat seperti sangat kaget, lalu mereka mengangkat tangan merayakan kegembiraan mereka. Kaitani dan awak di sekoci terus berkomunikasi dengan menggunakan kode semapore. Kemudian Kapten Saeki yang menaiki sekoci, mendayung hendak mendekati kapal Volk.
            “Ini keajaiban! Ini keajaiban yang harus aku percaya!” gumam Kapten Saeki sambil meniti jalan sempit di kapal itu.
            “Ooh, Maruo! Kamu masih hidup! Yajima, Kawasaki, Fujiwara! Kalian juga selamat, ya!” Kapten dan para awak kapal yang selamat saling berpelukan. Air mata kebahagiaan pun keluar dari mata mereka.
            “Kapten, saya sudah tau semuanya dari Maruo.”
            “Semuanya? Maksud kamu soal kapal hantu itu?”
            “Itu juga sih, tapi saya juga tau soal sinyal SOS misterius yang kita dapatkan tempo lalu.”
            “Hooo! Kamu sampai tau soal itu?!”
            “Maruo, coba kamu ceritakan kejadian itu ke Kapten.”
            “Baik.” Maruo menghadap Kapten dengan sikap sopan, lalu mulai menceritakan semua kejadian itu.
            “Pertama, saya harus cerita dari petualangan kami. Saat sekoci kami sedang berlayar di tengah lautan yang gelap, sekoci kami dicegat oleh kapal hantu ini dari samping. Kami agak kaget tapi karena kapal ini keliatan mewah, jadi kami tidak merasa takut lagi. Kami bertujuh naik ke geladak dengan menggunakan tangga tali. Tapi entah darimana asalnya, tiba-tiba kami mendengar suara raungan. Di tengah kegelapan, muncul binatang buas yang sepertinya akan mengoyak jantung kami. Lalu kami bertarung mati-matian melawan binatang buas itu, karena kami takut mati. Lama kelamaan, kami kelelahan dan melihat binatang buas kelaparan itu mengincar orang-orang dan melompat ke arahnya. Saat itu, jumlah binatang buasnya makin bertambah. Kemudian salah seorang temanku yang bernama Kitani, diserang mereka. Lalu binatang buas itu melompat ke arah Kitani. Tadinya saya ingin menolongnya, tapi keadaannya tidak memungkinkan. Kejadian mengerikan saat itu, rasanya seperti masih terjadi di depan mataku.” Maruo berhenti bicara sebentar. Tubuhnya gemetaran.
            “.......saat Kitani diserang binatang buas, kami hanya bisa melihatnya dari celah sempit. Waktu itu dia bilang, sekarang! Cepat pergi ke tempat yang aman! Karena dia bilang begitu, tanpa sadar kami naik ke anjungan. Tapi kami sadar kalo saat itu pun keadaannya tidak memungkinkan. Karena mencium bau manusia, binatang buas itu mengejar kami. Kami sekuat tenaga bertarung habis-habisan. Akibatnya, pintu kaca jadi pecah dan dari situ harimau-harimau hitam menerjang kami. Kami sudah tidak sanggup lagi. Salah satu dari kami sampe berteriak.Sayang sekali, kami semua pengecut. Nggak bisa apa-apa. Kami kabur ke anjungan kapal. Kami terpisah-pisah dan saat itu aku membawa informasi yang ku tulis. Mitaka yang seharusnya sudah kembali ke sekoci pun sejak saat itu tidak ketemu lagi. Saat aku berniat keluar dari ventilasi, tiba-tiba saja aku memutuskan untuk sembunyi disana. Aku beruntung sekali karena bisa selamat. Berkat sembunyi di ventilasi, saya berhasil selamat.” Keringat mulai bercucuran dari dahi Maruo.
            “Saya merusak kisi ventilasi lalu terus merayap masuk. Saya tidak ingat seberapa panjang ventilasi itu tapi begitu sampai di ujung, tiba-tiba saya berada di sebuah kabin lalu saya keluar. Intinya, saya keluar dari ventilasi dan tiba di kabin lain. Lalu saya heran dan lama-lama saya mengerti bahwa di kabin pun saya akan merasa tidak tenang. Soalnya binatang buas itu ternyata berkeliaran juga di kabin, saya kabur ke lorong dan dicegat binatang. Saya merasa saya harus pergi ke ruangan yang aman sembari bertarung melawan mereka. Dan akhirnya saya tiba di ruang komunikasi.”
            “Oh, begitu. Jadi kamu tiba di depan ruang komunikasi, ya.”Kata Pak Furuya.
            “Benar. Saya masuk ke ruang komunikasi dari pintu keluar di lorong. Saat aku masuk ke ruang komunikasi, diluar dugaan saya menemukan tujuh penumpang kapal Volk yang selamat. Mereka keliatan lemah karena terluka dan kelaparan. Ya, benar! Sepertinya mereka selamat karena sembunyi di ruang komunikasi itu. Tapi akibatnya, mereka tidak bisa mengambil makanan karena kalo mereka nekat keluar, pasti akan menjadi mangsa para binatang buas itu. Mau nggak mau mereka harus bertahan dalam kelaparan. Rasa letih dan lesu datang dan mereka bilang mereka sampai tidak sanggup lagi untuk berdiri. Soalnya sudah tiga minggu mereka terus sembunyi.”
            “Tiga minggu? Oh, begitu. Aku sudah tau karena sempat melihat catatan komunikasi.”Kata Pak Furuya.
            “Tapi....kenapa yaa di kapal Volk itu bisa ada binatang buas?” Tanya Kapten ke Maruo dengan wajah sangat penasaran.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment