Korban Selamat yang Tak
Disangka-sangka
Pak Furuya menarik Kaitani, mendobrak pintu dan
bersama-sama masuk ke bagian dalam kapal dan....ternyata gelap.
“Hei! Kau yang ada di
dalam, keluarlah!” Teriak Pak Furuya dalam bahasa Inggris. Suara Pak Furuya
menggema seperti berada di dalam gua. Tidak ada respon darinya.
“Kalau kau nggak mau
keluar, aku tembak! Menyerahlah!” Teriak Pak Furuya lagi. Tapi tidak ada
seorang pun yang muncul dari ruangan itu.
“Bukankah ini aneh,
Kaitani?” Pak Furuya menengok ke arah Kaitani.
“Iya, yaa.” Kaitani juga
berpikir begitu.
“Kalo begitu, saya coba
teriak.”Setelah bilang begitu, Kaitani mengeluarkan suara super kencangnya.
“HEI! KALO KAMU SAYANG
NYAWA, KELUARLAAH! KALO TIDAK, AKU AKAN MENEMBAKMU!”
“Hei hei, Kaitani.
Memangnya orang asing mengerti bahasa Jepang?”
“Ah, saya tidak bisa
berteriak kalo tidak pake bahasa Jepang.”Saat Kaitani selesai bicara, dari arah
seberang yang gelap muncul sesosok orang.
“Tuh, kan! Dia muncul!”
Salah seorang bawahan Pak Furuya akan bersiap menembak. Ia bermaksud akan
melumpuhkan orang itu dengan satu tembakan jika ternyata orang itu memang orang
mencurigakan.
“Hoo! Pak Furuya!” Orang
di tengah kegelapan itu di luar dugaan berteriak dalam bahasa Jepang!
“Si...siapa kau?!”
“Saya Maruo.”
“Hah? Maruo?”
Muncul seseorang dengan
celana panjang yang sudah compang camping. Dan memang orang itu....si teknisi Maruo!
“Ooh! Maruo! Kamu hantu
Maruo, ya! Tapi kok kamu tidak melayang?” Teriak Kaitani.
“Hantu? Jangan bercanda
dong. Saya masih hidup, kok. Saya Maruo, masih hidup.”
“Hoo..hahahaha ternyata
bukan hantu, yaa.”Dengan takut-takut, Kaitani menyentuh tubuh Maruo, terharu
lalu merasa senang.
“Maruo! Ternyata kamu
selamat! Jadi waktu aku di sekoci dua itu, aku mengambil tangan orang tak
dikenal, ya. Tangan itu menggenggam surat yang isinya tulisan tanganmu. Makanya
aku shok karena mengira kau sudah mati. Kamu benar-benar masih hidup!
Tapi....apa yang sebenarnya terjadi disini?”
“Hmm...ini gawat sekali!
Tapi bagaimana dengan binatang buasnya? Bukankah di kapal ini banyak singa dan
harimau, ya?”
“Kalo itu sudah kita
bereskan.”
“Hah? Sudah dibereskan?
Yang benar? Kalau begitu kita bisa tenang sekarang. Haa...syukurlaah.” Maruo
menepuk-nepuk dadanya.
“Karena acara berburu
sudah selesai, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Daripada itu,
bagaimana soal ceritamu....”
“Ooh...soal itu ya. Para
awak kapal Wajima Maru ada tiga orang. Lalu para penumpang yang selamat di
kapal Volk ini berjumlah tujuh-delapan orang. Mereka terluka parah.”
“Ooh, Volk. Jadi kapal ini
bernama kapal Volk, yaa. Berasal darimana?”
“Norwegia.”
“Aku ingin dengar cerita
soal kapal ini tapi sebelum itu, kau panggil teman-teman awak kapal Wajima Maru
dulu. Kau pasti mencemaskan mereka, kan? Aku juga ingin melihat mereka. Siapa
saja yang selamat?”
“Yajima, Kawasaki dan
Fujiwara.”
“Oh, begitu. Coba panggil
mereka, setelah itu kamu bisa santai bercerita.”
Sesuai perintah Pak
Furuya, Maruo kembali masuk ke dalam gelapnya ruangan sambil berteriak
memanggil mereka. Dari kabin yang tertutup rapat, diluar dugaan ditemukan
teman-teman awak kapal Maruo. Ekspresi mereka saat itu bagaikan sedang melihat
hantu atau melihat binatang buas yang tiba-tiba muncul. Semua bawahan Pak
Furuya bersorak kegirangan.
Kaitani buru-buru naik ke
atas geladak untuk memberitahukan hal ini pada Kapten Saeki di sekoci yang
sedang mengawasi keadaan di sekitar kapal. Kaitani menembakkan pistol ke atas.
“Hoooi! Hoooi!” Kaitani
memanggil teman-temannya di sekoci.
“Heei! Ada apa?!” dari
sekoci terdengar jawaban dari orang yang terus menunggu disana.
“Kami menemukan sesuatu
yang luar biasa! Awak kapal Wajima Maru ada di dalam kapal Volk ini! Binatang-binatang
buas yang memangsa manusia, semuanya sudah kami bereskan!” Kaitani
memberitahukan berita besar itu dengan kode semapor pakai tangan. Orang-orang
di atas sekoci pun terlihat seperti sangat kaget, lalu mereka mengangkat tangan
merayakan kegembiraan mereka. Kaitani dan awak di sekoci terus berkomunikasi
dengan menggunakan kode semapore. Kemudian Kapten Saeki yang menaiki sekoci,
mendayung hendak mendekati kapal Volk.
“Ini keajaiban! Ini
keajaiban yang harus aku percaya!” gumam Kapten Saeki sambil meniti jalan
sempit di kapal itu.
“Ooh, Maruo! Kamu masih
hidup! Yajima, Kawasaki, Fujiwara! Kalian juga selamat, ya!” Kapten dan para
awak kapal yang selamat saling berpelukan. Air mata kebahagiaan pun keluar dari
mata mereka.
“Kapten, saya sudah tau
semuanya dari Maruo.”
“Semuanya? Maksud kamu
soal kapal hantu itu?”
“Itu juga sih, tapi saya
juga tau soal sinyal SOS misterius yang kita dapatkan tempo lalu.”
“Hooo! Kamu sampai tau
soal itu?!”
“Maruo, coba kamu
ceritakan kejadian itu ke Kapten.”
“Baik.” Maruo menghadap
Kapten dengan sikap sopan, lalu mulai menceritakan semua kejadian itu.
“Pertama, saya harus
cerita dari petualangan kami. Saat sekoci kami sedang berlayar di tengah lautan
yang gelap, sekoci kami dicegat oleh kapal hantu ini dari samping. Kami agak
kaget tapi karena kapal ini keliatan mewah, jadi kami tidak merasa takut lagi.
Kami bertujuh naik ke geladak dengan menggunakan tangga tali. Tapi entah
darimana asalnya, tiba-tiba kami mendengar suara raungan. Di tengah kegelapan,
muncul binatang buas yang sepertinya akan mengoyak jantung kami. Lalu kami
bertarung mati-matian melawan binatang buas itu, karena kami takut mati. Lama
kelamaan, kami kelelahan dan melihat binatang buas kelaparan itu mengincar orang-orang
dan melompat ke arahnya. Saat itu, jumlah binatang buasnya makin bertambah.
Kemudian salah seorang temanku yang bernama Kitani, diserang mereka. Lalu
binatang buas itu melompat ke arah Kitani. Tadinya saya ingin menolongnya, tapi
keadaannya tidak memungkinkan. Kejadian mengerikan saat itu, rasanya seperti
masih terjadi di depan mataku.” Maruo berhenti bicara sebentar. Tubuhnya
gemetaran.
“.......saat Kitani
diserang binatang buas, kami hanya bisa melihatnya dari celah sempit. Waktu itu
dia bilang, sekarang! Cepat pergi ke tempat
yang aman! Karena dia bilang begitu, tanpa sadar kami naik ke anjungan.
Tapi kami sadar kalo saat itu pun keadaannya tidak memungkinkan. Karena mencium
bau manusia, binatang buas itu mengejar kami. Kami sekuat tenaga bertarung
habis-habisan. Akibatnya, pintu kaca jadi pecah dan dari situ harimau-harimau
hitam menerjang kami. Kami sudah tidak sanggup lagi. Salah satu dari kami sampe
berteriak.Sayang sekali, kami semua pengecut. Nggak bisa apa-apa. Kami kabur ke
anjungan kapal. Kami terpisah-pisah dan saat itu aku membawa informasi yang ku
tulis. Mitaka yang seharusnya sudah kembali ke sekoci pun sejak saat itu tidak
ketemu lagi. Saat aku berniat keluar dari ventilasi, tiba-tiba saja aku
memutuskan untuk sembunyi disana. Aku beruntung sekali karena bisa selamat. Berkat
sembunyi di ventilasi, saya berhasil selamat.” Keringat mulai bercucuran dari
dahi Maruo.
“Saya merusak kisi
ventilasi lalu terus merayap masuk. Saya tidak ingat seberapa panjang ventilasi
itu tapi begitu sampai di ujung, tiba-tiba saya berada di sebuah kabin lalu
saya keluar. Intinya, saya keluar dari ventilasi dan tiba di kabin lain. Lalu
saya heran dan lama-lama saya mengerti bahwa di kabin pun saya akan merasa
tidak tenang. Soalnya binatang buas itu ternyata berkeliaran juga di kabin, saya
kabur ke lorong dan dicegat binatang. Saya merasa saya harus pergi ke ruangan
yang aman sembari bertarung melawan mereka. Dan akhirnya saya tiba di ruang
komunikasi.”
“Oh, begitu. Jadi kamu
tiba di depan ruang komunikasi, ya.”Kata Pak Furuya.
“Benar. Saya masuk ke
ruang komunikasi dari pintu keluar di lorong. Saat aku masuk ke ruang
komunikasi, diluar dugaan saya menemukan tujuh penumpang kapal Volk yang
selamat. Mereka keliatan lemah karena terluka dan kelaparan. Ya, benar!
Sepertinya mereka selamat karena sembunyi di ruang komunikasi itu. Tapi
akibatnya, mereka tidak bisa mengambil makanan karena kalo mereka nekat keluar,
pasti akan menjadi mangsa para binatang buas itu. Mau nggak mau mereka harus
bertahan dalam kelaparan. Rasa letih dan lesu datang dan mereka bilang mereka
sampai tidak sanggup lagi untuk berdiri. Soalnya sudah tiga minggu mereka terus
sembunyi.”
“Tiga minggu? Oh, begitu.
Aku sudah tau karena sempat melihat catatan komunikasi.”Kata Pak Furuya.
“Tapi....kenapa
yaa di kapal Volk itu bisa ada binatang buas?” Tanya Kapten ke Maruo dengan
wajah sangat penasaran.-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment