Tuesday, January 17, 2017

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Peluru yang Tidak Berguna


Peluru yang Tidak Berguna
          Saat mereka tiba di geladak, telah terjadi sesuatu yang gawat dan diluar dugaan mereka. Para awak sekoci nomer dua yang ikut bersama Pak Furuya, terus berteriak ke bawah dari atas tiang kapal.
            “Ah, Pak kepala! Ada! Ada! Ada enam binatang buas disini!”
            “Hah?! Dimana?!” tepat saat Pak Furuya bilang begitu, tiba-tiba ada seekor singa yang mendekat dan meraung-raung ke arahnya.
            “Ah! Bahaya!” dengan cepat, singa itu melompat ke arah Kaitani dan Pak Furuya, lalu menuju ke bawah tiang....
            Ternyata daritadi ada sekitar lima-enam singa yang dengan buasnya terus mengincar para awak kapal Wajima Maru yang sedang berada di atas tiang kapal.
            “Hmm...ini gawat. Kita nggak bisa apa-apa hanya dengan satu senapan.” Kata Pak Furuya dengan nada lemas.
            “Tapi, Pak kepala. Senapan saya masih terisi lima peluru. Saya masih bisa menembak binatang-binatang itu dengan semua peluru yang ada, kan?” Kaitani sepertinya sudah siap menembak.
            “Tunggu! Coba pikir kalo kau sudah menembakkan lima peluru itu! Jangan menembak sembarangan. Kalo pelurunya habis, nasib kita akan sama dengan para penumpang kapal ini. Kita akan menjadi tulang belulang dimangsa binatang-binatang buas. Iya kan? Makanya jangan tembak dulu.”
            Suara raungan binatang-binatang buas itu makin keras. Mereka semua keliatan seperti kelaparan. Selagi binatang-binatang itu meraung, lama-lama jumlah mereka di bawah tiang makin bertambah.
            Hmmm...sebenarnya ada berapa ekor sih binatang buas di kapal ini?! Batin Kaitani sambil menghela napas. Sekarang ada sekitar sembilan singa dan harimau sedang berkumpul di bawah tiang. Para awak kapal Wajima Maru yang sedang menggantung di atas tiang, seperti nggak ada harapan untuk hidup. Kaitani mengawasi para binatang buas itu dari balik untaian tali yang menggantung di depannya. Setelah itu, Pak Furuya seperti berusaha memutar otak.
            “Ah! Aku punya ide!” Pak Furuya tiba-tiba berseru sambil menepuk pundak Kaitani.
            “Bagaimanapun juga kalo begini terus, kita hanya akan menjadi makanan para binatang buas sialan itu. Nah, Kaitani. Aku akan pergi ke dalam kapal untuk mencari pistol atau senapan. Kamu bertahanlah disini, ya.”
            “Hah?! Pak kepala! Berbahaya kalo sendirian pergi ke dalam kapal!”
            “Tapi kalo begini terus, akan lebih berbahaya lagi! Selain itu...nyawa para awak kapal teman kita pun sedang bahaya juga.... aku serahkan disini padamu.” Pak Furuya langsung pergi meninggalkannya.
            Sudah hampir dua puluh menit berlalu dari saat Pak Furuya pergi, tapi rasanya seperti dua-tiga hari bagi Kaitani. Dua puluh menit tepat berlalu, Pak Furuya kembali dengan napas memburu ke tempat Kaitani menunggu.
            “Ah, Pak kepala! Bagaimana?” tanya Kaitani dengan wajah tetap mengarah ke para binatang itu. Ia terus mengawasinya dengan baik-baik.
            “Ada. Ini dia.” Dengan bangga, Pak Furuya menunjukkan tiga pistol dan dua senapan ke Kaitani.
            “Senapan ada, peluru juga banyak. Nah, ayo kita habisi binatang-binatang itu dengan ini!” Pak Furuya keliatan lebih semangat, beda sekali dengan sebelumnya. Pada hitungan ketiga, Kaitani dan Pak Furuya mulai menembak dengan mengarahkan pistol diantara tali yang tergantung di depan mereka.

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment