Peluru yang Tidak Berguna
Saat mereka tiba di geladak, telah terjadi sesuatu yang
gawat dan diluar dugaan mereka. Para awak sekoci nomer
dua yang ikut bersama Pak Furuya, terus berteriak ke bawah dari atas tiang
kapal.
“Ah, Pak kepala! Ada! Ada!
Ada enam binatang buas disini!”
“Hah?! Dimana?!” tepat
saat Pak Furuya bilang begitu, tiba-tiba ada seekor singa yang mendekat dan
meraung-raung ke arahnya.
“Ah! Bahaya!” dengan
cepat, singa itu melompat ke arah Kaitani dan Pak Furuya, lalu menuju ke bawah
tiang....
Ternyata daritadi ada
sekitar lima-enam singa yang dengan buasnya terus mengincar para awak kapal
Wajima Maru yang sedang berada di atas tiang kapal.
“Hmm...ini gawat. Kita
nggak bisa apa-apa hanya dengan satu senapan.” Kata Pak Furuya dengan nada
lemas.
“Tapi, Pak kepala. Senapan
saya masih terisi lima peluru. Saya masih bisa menembak binatang-binatang itu
dengan semua peluru yang ada, kan?” Kaitani sepertinya sudah siap menembak.
“Tunggu! Coba pikir kalo
kau sudah menembakkan lima peluru itu! Jangan menembak sembarangan. Kalo
pelurunya habis, nasib kita akan sama dengan para penumpang kapal ini. Kita
akan menjadi tulang belulang dimangsa binatang-binatang buas. Iya kan? Makanya
jangan tembak dulu.”
Suara raungan
binatang-binatang buas itu makin keras. Mereka semua keliatan seperti
kelaparan. Selagi binatang-binatang itu meraung, lama-lama jumlah mereka di
bawah tiang makin bertambah.
Hmmm...sebenarnya ada berapa ekor sih binatang buas di kapal ini?! Batin
Kaitani sambil menghela napas. Sekarang ada sekitar sembilan singa dan harimau
sedang berkumpul di bawah tiang. Para awak kapal Wajima Maru yang sedang
menggantung di atas tiang, seperti nggak ada harapan untuk hidup. Kaitani
mengawasi para binatang buas itu dari balik untaian tali yang menggantung di
depannya. Setelah itu, Pak Furuya seperti berusaha memutar otak.
“Ah! Aku punya ide!” Pak
Furuya tiba-tiba berseru sambil menepuk pundak Kaitani.
“Bagaimanapun juga kalo
begini terus, kita hanya akan menjadi makanan para binatang buas sialan itu.
Nah, Kaitani. Aku akan pergi ke dalam kapal untuk mencari pistol atau senapan.
Kamu bertahanlah disini, ya.”
“Hah?! Pak kepala!
Berbahaya kalo sendirian pergi ke dalam kapal!”
“Tapi kalo begini terus,
akan lebih berbahaya lagi! Selain itu...nyawa para awak kapal teman kita pun
sedang bahaya juga.... aku serahkan disini padamu.” Pak Furuya langsung pergi
meninggalkannya.
Sudah hampir dua puluh
menit berlalu dari saat Pak Furuya pergi, tapi rasanya seperti dua-tiga hari
bagi Kaitani. Dua puluh menit tepat berlalu, Pak Furuya kembali dengan napas
memburu ke tempat Kaitani menunggu.
“Ah, Pak kepala!
Bagaimana?” tanya Kaitani dengan wajah tetap mengarah ke para binatang itu. Ia
terus mengawasinya dengan baik-baik.
“Ada. Ini dia.” Dengan
bangga, Pak Furuya menunjukkan tiga pistol dan dua senapan ke Kaitani.
“Senapan
ada, peluru juga banyak. Nah, ayo kita habisi binatang-binatang itu dengan ini!”
Pak Furuya keliatan lebih semangat, beda sekali dengan sebelumnya. Pada
hitungan ketiga, Kaitani dan Pak Furuya mulai menembak dengan mengarahkan
pistol diantara tali yang tergantung di depan mereka.-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment