Thursday, January 26, 2017

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Kapten Baru (TAMAT)



Kapten Baru
          Cerita Maruo masih berlanjut.
            “Saya sempat bertanya ke penumpang selamat kapal Volk soal itu. Saya baru tahu ternyata kapal ini mengimpor banyak binatang buas di Afrika walau kapal ini berasal dari Norwegia. Kapal ini sempat transit ke Amerika selatan sebelum tiba di negara asalnya. Dari Afrika dan Amerika selatan, kapal ini mengeruk banyak bahan makanan dan barang tambang. Sepertinya kapal ini juga sempat masuk ke Jerman. Selain itu, ada sekumpulan orang Spanyol dan Inggris juga yang menjadi penumpang kapal ini. Saat perjalanan menuju Amerika selatan, orang-orang Spanyol itu membayar orang kelas bawah untuk membuka kandang binatang buas. Awalnya, mereka hanya bermaksud bikin sedikit keributan di kapal,tapi malah terjadi hal yang mengerikan. Saat binatang buas itu mencium darah manusia, mereka langsung mengganas. Kemudian binatang buas lain yang masih terkurung di kandang pun jadi ikut mengganas menghancurkan kandang sendiri. Suasana jadi benar-benar tak terkendali. Dan pada akhirnya, terjadilah pertarungan antara binatang buas melawan manusia. Para awak kapal teman kami yang kuat pun diserang, penumpang kelas atas juga banyak yang jadi korban, lalu ada juga yang menurunkan sekoci untuk kabur. Benar-benar keributan besar. Sialnya, di lautan pun sedang terjadi badai. Maka dari itu, tidak ada seorang penumpang pun yang selamat kecuali kami yang terjebak di ruang komunikasi.”
            “Oh, begitu ya. Semakin didengar suasananya makin mencekam ya.”
            “Saat saya sedang berduka cita untuk para penumpang kapal Volk, tiba-tiba saja Yajima masuk ke ruang komunikasi, disusul Kawasaki yang datang bersama Fujiwara. Jumlah orang di ruang komunikasi jadi bertambah. Yaah walaupun harus susah makan.”
            “Iya juga, yaa.” Kapten memandang Maruo dan korban lain dengan tatapan simpati.
            “Ngomong-ngomong soal rakit SOS itu, siapa yang melakukannya? Walkie talkie yang terapung di atas rakit bersama karangan bunga berpita hitam itu, lho.”
            “Ooh, itu? Kalo soal itu...saya kurang begitu mengerti.” Maruo menggelengkan kepalanya.
            “Kapten, saya punya analisis mengenai hal itu.”Kata Pak Furuya.
            “Oh, bagaimana analisismu?”
            “Saya rasa itu kapal selam peranguntuk melancarkan serangan torpedo pada Wajima Maru kita.”
            “Aku setuju.” Kata Kapten.
            “Saya rasa sih kapal selam itu ditujukan untuk kapal Volk, deh.”
            “Hah? Kapal Volk?”
            “Iya. Kapal selam itu tadinya mengincar kapal Volk saat lewat di sekitar wilayahnya, tapi terjadi keributan binatang buas itu dan komunikasi di kapal Volk terhenti. Kemudian sesaat setelah itu, kapal ini diombang-ambingkan oleh topan sehingga kapal ini dijuluki kapal hantu. Maka dari itu, surat tantangan yang tadinya ditujukan untuk kapal Volk jadi kapal Wajima Maru yang kena. Sebagai ganti kegagalan menyerang kapal Volk, kapal selam itu menyerang kapal Wajima Maru dengan hujan torpedo. Bagaimana?” Penjelasan Pak Furuya menarik juga.
            “Hoo...analisis yang luar biasa, Furuya. Bukan! Mungkin memang terjadi seperti yang dikatakan Furuya. Berarti ini murni karena kita sedang sial.” Kapten memandang satu persatu wajah mereka semua.
            “Kapten, ngomong-ngomong darimana kapal selam itu berasal?”
            “Hmm...aku tidak tahu.”
            “Bukankah itu dari Inggris? Karena Amerika juga diizinkan berpartisipasi dalam perang, jadi Amerika sampe berlayar ke Pasifik selatan dan menyerang kita, kan?”
            “Sepertinya bukan begitu juga, sih.” Kapten mengatupkan bibirnya dengan gestur yang masih tenang.
            “Saya ingin menemukan kapal selam itu! Soalnya aku tidak puas kalo tidak melampiaskan semua kemarahan ini! Ah, bukan! Selagi kita sedang begini, mungkin saja kapal selam itu sedang berada di sekitar sini.”
            “Kaitani, mungkin....kau tidak akan bisa bertemu dengan kapal selam itu.”
            “Lho? Kenapa, Pak Furuya?”
            “Saat aku sedang memeriksa kapal ini, aku punya dugaan seperti ini. Sesaat setelah kapal Wajima Maru kita ditenggelamkan, kapal selam itu juga tenggelam.”
            “Furuya, analisismu memang tajam. Jangan-jangan...”
            “Tidak, Kapten. Haluan kapal Volk ini rusak parah. Ada semacam goresan di haluan seperti bekas dihantam sesuatu. Saat kapal Wajima Maru telah ditenggelamkan, aku tertarik melihat kapal selam itu muncul di antara puing kapal dari permukaan laut. Tiba-tiba dari arah samping, kapal Volk yang sinyalnya terhenti itu, muncul di atas permukaan kapal selam tanpa bersuara. Dengan begitu, sudah pasti kan kapal selam itu akan tenggelam dalam sekejap. Saat itu juga kapal Volk juga mungkin mengalami kerusakan serius, kan? Soalnya setelah itu aku tidak melihat lagi penampakan kapal selam itu.”
            “Oh, begitu. Masuk akal juga, sih.”Kapten Saeki tersenyum.
            “Kalau begitu, kita akan meminjam transmitter di kapal Volk ini lalu kirim sinyal SOS. Kemudian tetap biarkan lampu redup ini di sekitar geladak. Karena kalo tidak begitu, tidak akan ada yang percaya soal kejadian disini.” Entah sejak kapan, Kapten Saeki menjadi kapten kapal Volk dan dengan semangat memerintah awak kapal yang selamat dari kejadian naas itu.

-TAMAT-

No comments:

Post a Comment