Thursday, January 5, 2017

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Tim Penyidik Berani Mati



Tim Penyidik Berani Mati
          “Kalian siapkan alat untuk melindungi diri kalian sendiri. Apa saja mau balok kayu, pisau atau apapun. Kaitani, jaga senapanmu baik-baik karena kita cuma punya satu.” Pak Furuya yang menjabat sebagai ketua penyidik, memberi perintah. Nada bicaranya menggebu-gebu sekali. Ia sendiri pun bersedia bergabung menjadi tim penyidik demi Maruo sang teknisi yang ia sayangi.
            “Nah, sudah kalian persiapkan, kan? Ayo kita maju! Satu! Dua! Satu! Dua!” Sesuai perintah Pak Furuya, sekoci bergerak maju di tengah derasnya hujan, membelah ombak ganas bagaikan busur panah. Saat itu, kapal hantu sama sekali tidak bergerak seperti terjebak di tengah badai. Kapal itu bisa juga terlihat seperti gajah yang sedang berendam. Dari badan kapal, terlihat cahaya redup yang berkedip-kedip. Saking angkernya pemandangan itu, para prajurit pemberani yang memegang dayungsampai terlihat gemetar. Yaah, walaupun itu wajar sih.
            “Hoi! Tetap mendayung! Bagi kalian yang masih sayang nyawa, angkat tangan. Kalian boleh kembali ke sekoci satu.”
            Tentu saja tidak ada seorang pun yang mengangkat tangan. Lalu saat itu juga terdengar suara yel-yel penuh semangat.
            “Disana! Dayung lebih kuat! Kaitani, jaga senapanmu! Kita akan naik ke buritan kapal dengan tangga tali! Setelah aku naik, kalian semua ikut naik!”
            Akhirnya sekoci berhasil mendekati kapal hantu. Saking besarnya, mereka harus mendongak untuk melihat kapal itu. Entah apa karena terkena deburan ombak jadinya berkarat, nama kapal itu tidak terbaca. Walaupun begitu, pastinya kapal ini adalah kapal asing.
            Namun karena ombak masih tinggi dan hujan belum berhenti juga, sekoci mereka terkadang mendekat ke kapal hantu itu, tapi terkadang menjauh juga.
            “Hup!” Dalam sekejap saja, Pak Furuya sudah melompat ke kapal hantu itu! Walaupun tangganya bergoyang heboh, tapi tubuh Pak Furuya tetap stabil di tangga tali.
            “Hei, ayo cepat kita susul! Kalo Pak Furuya tewas, kita harus bertanggung jawab!”
            “Sekarang! Ayo lompat!”
            Entah kenapa ada tiga tangga tali yang menggantung di geladak kapal. Para pemberani sekoci dua, satu-persatu melompat ke tangga tali ini bagaikan katak. Sambil menggantung senapan di punggung, Kaitani sudah melompat ke tangga sebelah Pak Furuya dengan cekatan, lalu naik sampai ke pinggir kapal. Sepertinya dia memang berniat ingin menjadi yang paling pertama memanjat.
            “Oi, Kaitani. Jangan lengah.”Kata Pak Furuya yang direspon cepat olehnya. Pak Furuya menggantung pedang kecilnya di pinggang. Tinggal satu langkah lagi sampai ke pinggir kapal. Hati mereka bergetar tapi bukan karena takut. Pak Furuya menjejakkan tangannya di pinggir kapal lalu melompat masuk ke dalam. Ia mengangkat kepalanya dengan tenang.
            “Itu dia geladaknya!” Pak Furuya memandang geladak yang ada di seberangnya. “Hmm...memang tidak ada orang disini.”
            “Pak kepala, tulang belulang manusia berserakan di geladak. Disana. Lho? Disini juga....darah, makhluk buas! Kita harus bagaimana?!” Kaitani teriak-teriak.
            “Begitu, yaa. Ternyata dia mengerikan juga. Aku sudah tau sekarang kalo dia yang disebut hantu itu adalah makhluk yang kejam.”

-BERSAMBUNG-

No comments:

Post a Comment