Tim Penyidik Berani Mati
“Kalian siapkan alat untuk melindungi diri kalian
sendiri. Apa saja mau balok kayu, pisau atau apapun. Kaitani, jaga senapanmu
baik-baik karena kita cuma punya satu.” Pak Furuya yang menjabat sebagai ketua
penyidik, memberi perintah. Nada bicaranya menggebu-gebu sekali. Ia sendiri pun
bersedia bergabung menjadi tim penyidik demi Maruo sang teknisi yang ia
sayangi.
“Nah, sudah kalian
persiapkan, kan? Ayo kita maju! Satu! Dua! Satu! Dua!” Sesuai perintah Pak
Furuya, sekoci bergerak maju di tengah derasnya hujan, membelah ombak ganas
bagaikan busur panah. Saat itu, kapal hantu sama sekali tidak bergerak seperti
terjebak di tengah badai. Kapal itu bisa juga terlihat seperti gajah yang sedang
berendam. Dari badan kapal, terlihat cahaya redup yang berkedip-kedip. Saking
angkernya pemandangan itu, para prajurit pemberani yang memegang dayungsampai
terlihat gemetar. Yaah, walaupun itu wajar sih.
“Hoi! Tetap mendayung! Bagi
kalian yang masih sayang nyawa, angkat tangan. Kalian boleh kembali ke sekoci
satu.”
Tentu saja tidak ada
seorang pun yang mengangkat tangan. Lalu saat itu juga terdengar suara yel-yel
penuh semangat.
“Disana! Dayung lebih
kuat! Kaitani, jaga senapanmu! Kita akan naik ke buritan kapal dengan tangga
tali! Setelah aku naik, kalian semua ikut naik!”
Akhirnya sekoci berhasil
mendekati kapal hantu. Saking besarnya, mereka harus mendongak untuk melihat
kapal itu. Entah apa karena terkena deburan ombak jadinya berkarat, nama kapal
itu tidak terbaca. Walaupun begitu, pastinya kapal ini adalah kapal asing.
Namun karena ombak masih
tinggi dan hujan belum berhenti juga, sekoci mereka terkadang mendekat ke kapal
hantu itu, tapi terkadang menjauh juga.
“Hup!” Dalam sekejap saja,
Pak Furuya sudah melompat ke kapal hantu itu! Walaupun tangganya bergoyang
heboh, tapi tubuh Pak Furuya tetap stabil di tangga tali.
“Hei, ayo cepat kita
susul! Kalo Pak Furuya tewas, kita harus bertanggung jawab!”
“Sekarang! Ayo lompat!”
Entah kenapa ada tiga
tangga tali yang menggantung di geladak kapal. Para pemberani sekoci dua, satu-persatu
melompat ke tangga tali ini bagaikan katak. Sambil menggantung senapan di
punggung, Kaitani sudah melompat ke tangga sebelah Pak Furuya dengan cekatan,
lalu naik sampai ke pinggir kapal. Sepertinya dia memang berniat ingin menjadi
yang paling pertama memanjat.
“Oi, Kaitani. Jangan
lengah.”Kata Pak Furuya yang direspon cepat olehnya. Pak Furuya menggantung
pedang kecilnya di pinggang. Tinggal satu langkah lagi sampai ke pinggir kapal.
Hati mereka bergetar tapi bukan karena takut. Pak Furuya menjejakkan tangannya
di pinggir kapal lalu melompat masuk ke dalam. Ia mengangkat kepalanya dengan
tenang.
“Itu dia geladaknya!” Pak
Furuya memandang geladak yang ada di seberangnya. “Hmm...memang tidak ada orang
disini.”
“Pak kepala, tulang
belulang manusia berserakan di geladak. Disana. Lho? Disini juga....darah,
makhluk buas! Kita harus bagaimana?!” Kaitani teriak-teriak.
“Begitu,
yaa. Ternyata dia mengerikan juga. Aku sudah tau sekarang kalo dia yang disebut
hantu itu adalah makhluk yang kejam.”-BERSAMBUNG-
No comments:
Post a Comment