Konnichiwa, minasan! Waaah! Udah lama banget yaa Kumi chan hiatus. Udah setaun lebih lho! (*pas liat tanggal post terakhir langsung shok @#$%^). Mulai Jumat ini, Kumi chan akan aktif nge-post cerita-cerita terjemahan dari beberapa penulis Jepang. Bagi yang suka genre horror, detektif, thriller, dark, silahkan mampir ke blog-ku di kumikumiaw.blogspot.co.id
Tiap hari Rabu dan Jumat akan update ceritanya, jadi jangan ketinggalan, yaa! ^0^/
Awalnya mereka tidak sadar akan benda aneh itu karena dibungkus dengan kertas minyak dan disimpan di ujung kotak. Dengan tenang Kapten Saeki mengambil benda terbungkus kertas minyak itu lalu merobek satu persatu kertas yang membungkusnya. Setelah itu, ada sebuah karangan bunga kecil yang terjatuh. Karangan bunga itu disusun dengan beberapa jenis bunga yang telah dikeringkan dan modis. Tapi karangan bunga itu tetap sedap dipandang mata. Selain itu juga praktis karena disimpan berapa lama juga tidak akan layu.
Tiap hari Rabu dan Jumat akan update ceritanya, jadi jangan ketinggalan, yaa! ^0^/
Awalnya mereka tidak sadar akan benda aneh itu karena dibungkus dengan kertas minyak dan disimpan di ujung kotak. Dengan tenang Kapten Saeki mengambil benda terbungkus kertas minyak itu lalu merobek satu persatu kertas yang membungkusnya. Setelah itu, ada sebuah karangan bunga kecil yang terjatuh. Karangan bunga itu disusun dengan beberapa jenis bunga yang telah dikeringkan dan modis. Tapi karangan bunga itu tetap sedap dipandang mata. Selain itu juga praktis karena disimpan berapa lama juga tidak akan layu.
“Wah, karangan bunga!”
mata para awak kapal kompak tertuju ke arah benda itu, lalu saat itu juga
tiba-tiba wajah seorang awak kapal terlihat pucat.
“Hei, bukankah karangan
bunga ini diikat dengan pita hitam? Ini bukan pertanda baik!”
Pita hitam biasa dipakai
hanya pada saat upacara pemakaman. Dan karangan bunga ini diikat dengan pita
hitam. Wajah kapten Saeki langsung berubah tidak enak.
“Hoo... ada sesuatu yang
tertulis di kotak ini.”Kapten Saeki mengambil secarik kartu yang terletak di
dasar kotak. Ternyata, di luar kotaknya pun ada tulisan aneh semacam bahasa
Inggris.
Karangan bunga ini diberikan
untuk semua awak kapal Anda yang akan tertidur selamanya di dasar lautan. Begitulah
tulisannya. Bagaimana pun juga tulisan ini menyeramkan. Soalnya kan bisa
diartikan seperti kalau membaca ini, orang-orang yang menaiki kapal Anda akan
tenggelam ke dasar lautan.
“Ku...kurang ajar!” Para
pelaut yang melihat tulisan itu, mengepalkan tangan karena marah. Tapi
hebatnya, Kapten Saeki bukannya terlihat marah tapi menyadari akan bahaya yang
terjadi pada kapal Waji Maru ini.
“Hei semuanya! Ini adalah
peringatan dari kapal yang mengalami kecelakaan itu! Kalian semua, cepat
kembali ke pos kalian! Bunyikan alarm di ruang manajer dan sampaikan berita ini
kepada semua divisi!” Suara kapten meninggi. Memang karena ini gawat. Kalo
memang kata-kata kapten benar, berarti kapal Wajima Maru ini akan segera
mengalami musibah. Mungkin suatu saat di tengah malam yang gelap ini, akan
terjadi sesuatu.
“Ayo, naik ke geladak!”
“Hei! Bagian sini cepat ke
ruang komunikasi!”
Para pelaut dengan cepat
berlarian di dalam kapal bagaikan kumpulan monyet-monyet yang sedang melompat
dari satu pohon ke pohon lain.
“Matikan semua lampu yang
ada di ruangan, luar kapal , dan lampu pencari! Jangan sampai kita menjadi
target!” Kapten kapal memberikan perintah kedua.
Lampu pencari dimatikan.
Jendela ditutup dengan tirai hitam. Seketika itu suasana kapal seperti mati
lampu. Di saat suasana sedang tenang, tiba-tiba terdengar suara aneh dari dasar
kapal. Badan kapal pun jadi bergoyang hebat.
“Ah! Apa itu tadi?!” Saat
kapten menoleh, terdengar suara meraung hebat dari dasar kapal. Lalu kapal
Wajima Maru mengalami guncangan kuat seperti terkena gempa bumi besar.
“Ah! Kita diserang!
Sepertinya ini ledakan!” Gara-gara guncangan tadi, kapten tidak bisa berdiri
tegak. Jalannya sempoyongan sampai tiba di depan meja, beliau baru bisa berdiri
tegak. Disana ada seorang awak kapal yang bagian dadanya tiba-tiba berwarna
merah lalu jatuh ke laut.
“Ah, kapten! Ini gawat! Bagian
dasar kapal kita diserang semacam torpedo. Dasar kapal jadi berlubang besar!
Kami sudah memasang anti air, tapi tidak tau sampai kapan alat itu akan
berfungsi! Dalam dua-tiga menit kapal ini akan tenggelam!” Ini laporan yang
sangat gawat! Kalo seandainya semua lampu kapal dimatikan lebih cepat lima
menit saja, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Kapten Saeki menundukkan
kepala lalu menggeleng cepat.
“Turunkan sekoci!”
Perintahnya dengan nada sedih.
-Bersambung-