Thursday, November 24, 2016

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Karangan Bunga Berpita Hitam

Konnichiwa, minasan! Waaah! Udah lama banget yaa Kumi chan hiatus. Udah setaun lebih lho! (*pas liat tanggal post terakhir langsung shok @#$%^). Mulai Jumat ini, Kumi chan akan aktif nge-post cerita-cerita terjemahan dari beberapa penulis Jepang. Bagi yang suka genre horror, detektif, thriller, dark, silahkan mampir ke blog-ku di kumikumiaw.blogspot.co.id
Tiap hari Rabu dan Jumat akan update ceritanya, jadi jangan ketinggalan, yaa! ^0^/



          Awalnya mereka tidak sadar akan benda aneh itu karena dibungkus dengan kertas minyak dan disimpan di ujung kotak. Dengan tenang Kapten Saeki mengambil benda terbungkus kertas minyak itu lalu merobek satu persatu kertas yang membungkusnya. Setelah itu, ada sebuah karangan bunga kecil yang terjatuh. Karangan bunga itu disusun dengan beberapa jenis bunga yang telah dikeringkan dan modis. Tapi karangan bunga itu tetap sedap dipandang mata. Selain itu juga praktis karena disimpan berapa lama juga tidak akan layu.
            “Wah, karangan bunga!” mata para awak kapal kompak tertuju ke arah benda itu, lalu saat itu juga tiba-tiba wajah seorang awak kapal terlihat pucat.
            “Hei, bukankah karangan bunga ini diikat dengan pita hitam? Ini bukan pertanda baik!”
            Pita hitam biasa dipakai hanya pada saat upacara pemakaman. Dan karangan bunga ini diikat dengan pita hitam. Wajah kapten Saeki langsung berubah tidak enak.
            “Hoo... ada sesuatu yang tertulis di kotak ini.”Kapten Saeki mengambil secarik kartu yang terletak di dasar kotak. Ternyata, di luar kotaknya pun ada tulisan aneh semacam bahasa Inggris.
            Karangan bunga ini diberikan untuk semua awak kapal Anda yang akan tertidur selamanya di dasar lautan. Begitulah tulisannya. Bagaimana pun juga tulisan ini menyeramkan. Soalnya kan bisa diartikan seperti kalau membaca ini, orang-orang yang menaiki kapal Anda akan tenggelam ke dasar lautan.
            “Ku...kurang ajar!” Para pelaut yang melihat tulisan itu, mengepalkan tangan karena marah. Tapi hebatnya, Kapten Saeki bukannya terlihat marah tapi menyadari akan bahaya yang terjadi pada kapal Waji Maru ini.
            “Hei semuanya! Ini adalah peringatan dari kapal yang mengalami kecelakaan itu! Kalian semua, cepat kembali ke pos kalian! Bunyikan alarm di ruang manajer dan sampaikan berita ini kepada semua divisi!” Suara kapten meninggi. Memang karena ini gawat. Kalo memang kata-kata kapten benar, berarti kapal Wajima Maru ini akan segera mengalami musibah. Mungkin suatu saat di tengah malam yang gelap ini, akan terjadi sesuatu.
            “Ayo, naik ke geladak!”
            “Hei! Bagian sini cepat ke ruang komunikasi!”
            Para pelaut dengan cepat berlarian di dalam kapal bagaikan kumpulan monyet-monyet yang sedang melompat dari satu pohon ke pohon lain.
            “Matikan semua lampu yang ada di ruangan, luar kapal , dan lampu pencari! Jangan sampai kita menjadi target!” Kapten kapal memberikan perintah kedua.
            Lampu pencari dimatikan. Jendela ditutup dengan tirai hitam. Seketika itu suasana kapal seperti mati lampu. Di saat suasana sedang tenang, tiba-tiba terdengar suara aneh dari dasar kapal. Badan kapal pun jadi bergoyang hebat.
            “Ah! Apa itu tadi?!” Saat kapten menoleh, terdengar suara meraung hebat dari dasar kapal. Lalu kapal Wajima Maru mengalami guncangan kuat seperti terkena gempa bumi besar.
            “Ah! Kita diserang! Sepertinya ini ledakan!” Gara-gara guncangan tadi, kapten tidak bisa berdiri tegak. Jalannya sempoyongan sampai tiba di depan meja, beliau baru bisa berdiri tegak. Disana ada seorang awak kapal yang bagian dadanya tiba-tiba berwarna merah lalu jatuh ke laut.
            “Ah, kapten! Ini gawat! Bagian dasar kapal kita diserang semacam torpedo. Dasar kapal jadi berlubang besar! Kami sudah memasang anti air, tapi tidak tau sampai kapan alat itu akan berfungsi! Dalam dua-tiga menit kapal ini akan tenggelam!” Ini laporan yang sangat gawat! Kalo seandainya semua lampu kapal dimatikan lebih cepat lima menit saja, pasti tidak akan terjadi seperti ini. Kapten Saeki menundukkan kepala lalu menggeleng cepat.
            “Turunkan sekoci!” Perintahnya dengan nada sedih.

-Bersambung-

Saturday, June 6, 2015

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Lokasi Aktual Sekitarnya



Lokasi aktual di sekitarnya
            Para awak kapal dan juru api yang tadi tidur nyenyak, jadi terbangun semua membentuk tim penolong dan menjejerkan semua bahan makanan sehat di ruang kapten kapal. Di setiap jendela dipasangi lampu yang terang untuk memberitahu keberadaan kapal Wajima Maru ini. Pada tiang kapal pun dipasang lampu kecil, tapi karena tersinari dari cahaya lampu pencari, sehingga bagian depan kapal dan permukaan laut bersinar terang. Sosok kapal yang mengalami kecelakaan itu tak terlihat dimana pun. Sudah hampir sejam kapal melaju, tapi yang terlihat hanya laut yang gelap. Walaupun begitu, kapten kapal Saeki Kouhei tetap menyuruh untuk menjalankan kapal dengan kecepatan penuh. Lalu tak lama kemudian, ada telepon dari kapten di ruang komunikasi.
            “Bagaimana? Apa ada sinyal yang masuk?”
            “Ada, Pak. Tadi ada sinyal lemah yang masuk. Kali ini dia menyebutkan lokasi kejadiannya. Dia bilang : lokasi kapal kami berada di sekitar titik seratus enam puluh lima derajat lintang utara dan tiga puluh dua derajat lintang selatan. Begitulah.”
            “Hah? Seratus enam puluh lima derajat lintang utara dan tiga puluh dua derajat lintang selatan? Berarti sekitar sini, dong?” kata kapten kapal dengan nada kaget. Kalo memang isi telegraf itu benar, berarti kapal Wajima Maru telah berada di lokasi kecelakaan yang dimaksud. Mereka harus menemukan sosok kapal yang terkena musibah itu. Tapi walau sudah mengarahkan lampu pencari ke segala arah, tidak ada satu sekoci pun yang terlihat.
            Aneh sekali! Kapten Saeki mulai kebingungan.
            “Hei, kepala komunikasi! Sudah kau coba ukur arah datangnya sinyal?”
            “Sudah, Pak. Arahnya tetap sama tapi ini lebih nggak jelas dibanding saat diukur sebelumnya. Kalo dari informasi yang didapat, tidak salah lagi kita sudah dekat di lokasi kecelakaan.”
            “Oh, begitu. Berarti seharusnya terjadi sesuatu di sekitar sini, ya. Coba kalian cari lebih teliti lagi!” kata kapten lalu memberikan perintah kepada awak kapal yang sedang bekerja di geladak.
            “Oi! Tambah lima orang pengawas! Periksa lebih teliti di permukaan laut!”
            Kecepatan kapal Wajima Maru menurun. Sebagai gantinya, haluan kapal berputar cepat dan dengan semangat memeriksa tiap inchi permukaan laut. Tapi sosok kapal yang mengalami kecelakaan krusial itu, tidak terlihat dimana-mana. Kapten baru sadar tidak ada puing-puing kapal, bahan bakar atau barang-barang yang mengambang di sekitar lautan. Aneh sekali benda-benda seperti itu tidak terlihat dimana-mana. Kapten Saeki menyadari hal itu saat melihat anak-anak buahnya sudah terlihat kesal sekali. Salah seorang awak kapal yang terus melihat ke arah lautan gelap, tiba-tiba saja berteriak.
            “Heei! Liat itu! Ada sesuatu yang mengambang!” Lampu pencari langsung mengarah ke tempat yang dimaksud. Memang, ada semacam benda aneh yang sedang mengambang diantara ombak. Sebuah rakit yang terbuat dari kayu kualitas bagus. Ada semacam kotak di atasnya. Saat itu juga awak kapal itu langsung mendekati haluan.
            “Hei, turunkan sekoci dan ambil benda itu!”
            Para awak kapal yang berbaris langsung turun ke atas permukaan laut dengan menaiki sekoci. Sekoci-sekoci itu mendekati benda aneh yang mengambang itu bagaikan anak panah. Lalu tanpa kesulitan mereka mengikat rakit dengan tali dan para sekoci kembali ke kapal induk. Awak kapal memberikan bantuan dengan menarik sekoci dan menarik rakit dengan sekuat tenaga. Di atas kapal suasananya seperti sedang perang. Rakit yang mengangkut kotak itu diletakkan di depan kapten.
            “Apa ini sebenarnya? Ya sudah! Cepat buka kotak ini!” Perintah kapten dengan tegas. Kotak itu sebesar kardus jeruk. Di atasnya ada semacam antene kecil. Saat penutupnya dibuka, diluar dugaan ternyata isinya walkie talkie.
            “Lho? Bukankah ini walkie talkie?” Gumam kapten dan saat itu ia terkejut melihat sebuah benda di dalamnya. Para awak kapal terutama kapten kompak berseru dan wajah mereka pucat semua. Sebenarnya, apa yang ada di dalam kotak itu?

--Bersambung--

Wednesday, June 3, 2015

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Kode Pertolongan Darurat



Kode Pertolongan Darurat

“Ah! Ini SOS!” Seru Pak kepala lalu langsung menuju mesin penerima gelombang.
“Oi, Maruo! Coba cek apakah mesin perekam suaranya bekerja?” perintah Pak Kepala terkesan cepat dan berapi-api. Maruo seperti terkaget-kaget lalu buru-buru mendatangi tempat piringan perekamnya berputar.
“Pak, kepala ini gawat! Piringannya memang berputar tapi suaranya hanya terdengar samar-samar, kalau begini tidak akan terdengar apa-apa.”
“Oh, begitu.” Pak kepala menggerakan matanya sekilas lalu langsung mengambil telepon. Beliau mendekatkan gagangnya ke telinganya.
            “Terdengar sih tapi kecil sekali.” Kata Pak kepala lalu mengambil telepon dan dengan tangan ahlinya, beliau menulis sesuatu dengan cepat di atas kertas dengan pensil. Dengan cerdasnya beliau bisa mengambil alih masalah ini. Sama sekali tidak terlihat seperti baru bangun dari tidurnya.
            “Oi, Maruo! Cepat cari tau lokasinya!”
            “Baik!”
             Maruo yang sempat bengong, langsung tersadar dan segera mencari lokasi kapal dengan GPS. Ini adalah alat untuk mengetahui darimana sebuah gelombang berasal. Jarum di alat ini menggerakan antena yang berada di geladak kapal sedikit demi sedikit. Karena ini adalah cabang pengukuran yang paling dikuasai Maruo saat sekolah dulu, Maruo merasa percaya diri. Sayangnya sinyal yang masuk adalah sinyal lemah dan rasanya ingin menahan napas saja. Tapi Maruo tetap ingin menangkap sinyal itu. Pada sinyal lemah itu, dipertaruhkan banyak nyawa yang akan menuju kematian.
            “Bagaimana, sudah tau lokasinya?”
            “Sudah, Pak. Arah Tenggara ke timur.”
            “Apa? Tenggara ke timur?” Pak kepala menaruh telepon di bawah dan nada bicaranya seperti terburu-buru.
            “Segera lapor ke kapten kapal! Hubungi dia!”
            Saat Maruo selesai menekan tombol-tombol telepon, terdengar suara nada tunggu di seberang. Ternyata cukup lama juga sang kapten kapal mengangkat teleponnya.
            “Sudah terhubung dengan Kapten kapal.”
            “Oh, begitu.” Sambil memegang sebuah kertas, Kepala komunikasi segera menuju mik.
            “Kapten, kami menerima sinyal SOS. Sayangnya kami hanya menerima sebagian pesan dari sang pengirim telegram. Seperti ini isi telegramnya. Bagian bawah kapal mengalami kerusakan parah sehingga kapal kami kemasukan air. Dalam waktu sepuluh menit, kapal kami akan tenggelam. Kami mohon pertolongan darurat. Begitulah.”
            “Dimana kapal itu berada? Lalu apa nama kapal itu?” Kapten kapal balik bertanya.
            “Kalo soal itu saya juga tidak begitu mengerti. Pada telegram hanya terketik nama kapalnya adalah..... dan setelah itu tidak ada lanjutannya. Tidak ada simbol lain. Aneh sekali, ya. Kenapa dia tidak menyebutkan nama kapalnya....”
            “Hmm...” Kapten hanya bergumam.
            “Jangan-jangan, itu kapal perang, atau mungkin kapal bajak laut? Lalu, dimana lokasi kecelakaannya?”
           “Letak persisnya tidak jelas. Sempat tertangkap pada sinyal SOS yang diberikan dan kami mendengarnya. Tapi sepertinya sinyalnya lemah sekali, jadi suara telegrafnya terdengar kecil dan setelah itu tak terdengar apa-apa lagi.”
            “Lho? Kalo letaknya tidak tahu, bagaimana kita bisa menyelamatkannya?”
            “Memang benar. Tapi tadi Maruo berhasil mengetahui arah gelombang sinyal dari kapal itu.”
            “Hoo, itu bagus! Dimana?”
            “Arah tenggara ke timur,” Jawabnya.
            Kapten kapal sempat terdiam seperti berpikir.
            “Ya, sudah. Kalo begitu mulai saat ini arahkan kompas ke tenggara dan timur. Jalankan kapal dengan kecepatan tinggi ke arah sana. Sekarang ini tolong perhatikan sinyal yang masuk.” Kapten kapal menutup teleponnya.
            Saat itu, haluan serasa membengkok. Tiba-tiba suara mesin terdengar lebih keras. Dengan kekuatan penuh, kapal berlayar untuk mengungkap lokasi terjadinya kecelakaan itu.

--BERSAMBUNG--

Tuesday, June 2, 2015

Rahasia Kapal Hantu by Unno Juusa Eps. Jalur Selatan

Haloooo, blogger mania pecinta novel, cerpen, atau novel terjemahan? Kali ini Kumi chan mau nge-share nih novel Jepang berbau (emangnya s**mpah pake ada bau-bauan #dzig) misteri. Semoga suka yaa! Jangan lupa komen dan sarannya lhoo untuk membangkitkan semangat Kumi chan sayang yang lagi males-malesnya (*bangun woooy!) Lets check it out!! ^o^/





Rahasia Kapal Hantu
By Unno Juusa

Jalur selatan
          Dulu, di samudera Pasifik terasa suatu kekuatan aneh yang tak terlihat mata dan bergerak. Kekuatan aneh? Sebenarnya itu apa sih? Laut biru yang luas menunjukkan tarian ombak besarnya yang serasa menunjukkan kemarahan. Terkadang di ujung laut, muncul segaris asap yang semakin lama semakin terlihat membesar di langit. Dan tak lama kemudian, di bawah asap itu muncul lambung kapal. Semakin diliat, wujudnya makin besar dan setelah itu lewatlah sebuah kapal uap mewah di depan mataku. Cerobongnya yang berwarna kuning. Kabin yang berwarna putih, dan bagian dasar kapal yang hitam pekat. Di tengah deburan ombak, sekilas terlihat garis warna merah di kapal, juga ada tiang kapal yang rasanya seperti menjulang ke langit. Semuanya indah seperti lukisan! Saat melihatnya, kedamaian yang ada.
            Tapi entah kenapa ombak di laut terlihat seperti marah. Percikan air yang menyerang haluan kapal, sekarang terlihat mulai mencapai tiang kapal. Terlihat juga bagian bawah kapal besar itu sedang menerjang ombak, seperti akan terlempar ke langit. Sepertinya lautlah yang mengacaukan suasana. Ada juga gosip seperti ini. Mungkin di lautan Pasifik ini, akan terjadi perang laut besar yang belum pernah ada sebelumnya. Mungkin....nggak lebih dari setengah tahun lagi. Banyak negara-negara yang akan mendatangi Samudera Pasifik, mereka akan terbagi dalam dua kubu dan perang kejam pun dimulai. Armada besar kapal pun jauh-jauh datang dari Samudera Atlantik untuk segera bergabung. Di atas samudera Pasifik, armada dari seluruh dunia mulai melancarkan serangan. Mungkin penentuan kemenangannya adalah kapal siapa yang akan tenggelam lebih dulu. Nama Samudera Pasifik yang mengandung unsur ketenangan itu, jadi jauh dari unsur tersebut. Asap mesiu, puing kapal yang hancur, serta darah dan minyak yang banyak bersimbah di lautan samudera Pasifik. Kabar itu telah menyebar kemana-mana. Mungkin Samudera Pasifik marah karena ia membenci hari saat namanya yang mengandung unsur ketenangan terenggut.
            Sebenarnya, kapal tiap-tiap negara di dunia sedang menyeberangi Samudera Pasifik dalam ketakutan, karena nggak tau kapan perang itu akan terjadi.
            Kapal kargo bernama Wajima Maru yang membawa muatan seribu lima ratus ton, akan berlayar di perairan samudera Pasifik yang sekarang sedang tenang. Tempat tujuannya adalah Amerika selatan, dan memuat berbagai macam barang. Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan bijih besi dan kapas mentah. Cerita ini akan dimulai dari ruang komunikasi di kapal Wajima Maru. Waktu kejadiannya pukul setengah satu pagi.

Di ruangan sempit yang penuh dengan alat komunikasi ini, dua orang teknisi terjaga di bawah sinar lampu yang terang. Seorang veteran angkatan laut berumur lebih dari empat puluh tahun, berkulit cokelat terbakar. Sedangkan yang seorang lagi teknisi pria muda berkulit putih yang baru sebulan bekerja setelah lulus sekolah.
“Hei, Maruo. Apa ada sinyal yang masuk?” Teknisi senior itu duduk di kursi rotan sambil baca novel. Matanya tiba-tiba melotot saat bicara pada teknisi muda. Dia kepala bagian komunikasi yang bernama Furuya.
“Hanya ada sebuah sinyal. Nggak ada yang lain selain itu.” Kata teknisi muda bernama Maruo itu mencoba menekan tombol penerima gelombang dengan tangannya, lalu membalas sinyal itu.
Kepala bagian Furuya menggangguk kuat lalu mengambil jam saku dari kantong rompinya.
“Hmmm, udah jam setengah satu pagi, ya. Kita juga sudah menerima sinyal waktu dan telegram koran. Karena menerima telegraf malam ini pun nggak akan terjadi apa-apa, matikan saja mesinnya dan kau boleh tidur.”
Mesin yang beliau maksud adalah Mesin Otomatis Penerima Gelombang Darurat. Walaupun seorang teknisi tidak mengawasi mesin penerima gelombang radio, saat ada sebuah kapal yang meminta pertolongan, mesinnya akan bekerja dengan membunyikan alarm. Dulu, saat alat ini belum ada, seorang teknisi komunikasi harus terjaga di tengah malam untuk mengawasi adanya kode SOS dari kapal yang meminta pertolongan. Sekarang dengan adanya alat ini, menjadi lebih praktis.
“Baiklah, Pak kepala. Saya akan mematikan mesin penerima gelombang daruratnya.”
“Ya, silahkan. Lagipula saya juga sudah ngantuk.”
Maruo melangkah menuju mesin lalu satu persatu mematikan tombolnya. Kalau salah, bisa terjadi hal yang gawat. Tadinya, Maruo bermaksud mengawasi mesin itu dengan meminta izin pada Pak Furuya untuk menggantikan gilirannya. Kemudian saat itu Pak Kepala sudah tidur saja di atas kursi rotan dengan buku yang terbuka di suatu halaman. Sembari mematikan tombol-tombol, Maruo berpikir tidak akan sampai membangunkan beliau yang sedang tidur untuk niatannya itu. Namun, saat Maruo sedang membereskan meja, tiba-tiba saja terdengar alarm yang berisik sekali. Tidak ada lima menit setelah ia mematikan tombol. Ada SOS dari kapal yang terkena musibah! Pak kepala komunikasi langsung terbangun bagaikan sedang tersengat listrik.

---BERSAMBUNG---