Tuesday, February 14, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 4

Di dalam Tong
            Karena tertarik dengan cerita Profesor Polder, Hitomi dan Tousuke jadi ingin coba masuk ke dalam tong. Tapi memang agak menakutkan sih.
            “Nah, kita bertiga satukan tangan. Tousuke, kamu masuk duluan. Pegang tangan Hitomi, setelah itu Hitomi masuk duluan. Tangan Hitomi aku pegang setelah itu aku masuk. Sampai sini mengerti?” Intinya, Profesor minta untuk menggabungkan tangan mereka berdua dan dirinya.
            “Tapi mana mungkin badanku bisa masuk ke lubang tong sekecil itu?”
            “Lagi-lagi kamu bicara seperti itu. Percayalah padaku. Pikirkanlah kalo kamu bisa masuk ke dalam tong sekecil itu. Kamu tinggal lompat saja, pasti bisa masuk. Aku nggak boong.”
            “Apa iya, yaa.”
            “Kemanapun kita pergi, garis paralel ini nggak akan terputus, deh. Ruang Euclidian yang menetapkannya. Tapi garis paralel di ruang non-Euclidian yang aku ajak nanti akan terputus. Maka dari itu sebesar apapun objeknya, akan mengecil. Nanti saat kalian masuk pun, badan kalian akan mengecil. Sudah jangan banyak curiga, cepat masuk.”
            Walaupun Tousuke nggak gitu ngerti apa yang dikatakan Profesor tadi, Tousuke tetap lompat ke lubang kecil tong itu karena merasa badannya akan bisa mengecil.
            “Kalau begitu aku duluan! One! Two! Three!
            Tanpa pikir panjang, Tousuke lompat ke arah lubang tong kecil itu. Tousuke mengarahkan tangannya ke kepala seperti hendak terjun untuk berenang. Tapi karena tangan kirinya sedang memegang tangan Hitomi, jadi cuma tangan kanannya saja yang direntangkannya. Tiba-tiba kepala Tousuke serasa berputar-putar. Ia juga mendengar suara dahsyat seperti petir, dekat sekali di telinganya. Tapi itu cuma sebentar saja. Selanjutnya mendadak perasaannya jadi nyaman. Terdengar musik lembut di telinganya. Hidungnya pun mencium aroma yang wangiiii sekali. Sekitarnya menjadi cerah. Ia duduk di ruangan yang nggak biasa baginya.
            Ruangannya tidak begitu luas tapi berjejer banyak mesin-mesin. Seperti sebuah kokpit pesawat yang besar. Tapi walaupun begitu, banyak mesin yang kelihatannya rumit. Dengan ukuran kokpit sebesar ini, seharusnya pesawatnya juga besar.
            “Tousuke, kamu sedang mikir apa, sih?” Ini suara Hitomi. Saat sudah tenang dan berbalik, entah sejak kapan Hitomi dan Profesor Polder yang berjanggut lebat sedang tersenyum.
            “Bagaimana? Seperti yang aku bilang, kan? Kamu akan bisa masuk ke lubang kecil itu kok. Dalamnya luas juga, kan?”
            Sepertinya Profesor merasa bangga. Entah sejak kapan ia telah ganti baju. Celana pendek yang dipakainya seperti seorang penjelajah yang akan pergi berburu ke Afrika. Toga yang tadi dipakai menutup kepalanya, sekarang berubah menjadi helm putih. Di mulutnya terpasang peluit yang terbuat dari jagung. Asapnya keluar dari cerobong. Tousuke masih memikirkan bagaimana dirinya melewati ruangan aneh tadi.
            “Ini di dalam tong atau tempat lain?”
            “Tentu saja di dalam tong.”
            Apa mungkin aku dan yang lain benar-benar sedang mengecil, ya?

            “Nah, aku akan mengemudikan tong ini dan mengajak kalian pergi ke sebuah negeri yang menarik. Kalian cukup duduk disana dan tunggu lima belas menit.” Profesor duduk di ruang yang sepertinya ruang kokpit. Lalu ia menggerakan semacam tombol dan menyalakan semacam mesin pengendali. Tiba-tiba ruangan bergetar dan bergerak! Ooh, sekarang tongnya akan terbang! Kemana tong aneh ini akan pergi?

-BERSAMBUNG-

Thursday, February 9, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act. 3



Profesor Aneh
            Jujur saja Hitomi dan Tousuke sudah merasa ingin pingsan aja liatnya. Tapi untungnya mereka bisa bertahan. Mereka berdua memang melihatnya. Asap putih muncul dari dalam tong, dan dari balik asap itu muncul orang misterius bertubuh tinggi yang tau-tau sudah berdiri di samping mereka.
            “Kalian tidak perlu takut. Aku Profesor Polder.” Kata orang misterius itu sambil tersenyum ke arah mereka. Dia terlihat seperti orang asing. Di wajah putihnya yang berminyak, ada janggut yang tumbuh lebat di dagunya. Di atas hidungnya yang besar, bertengger kacamata hitam. Di atas kepalanya, ia memakai toga dengan tali merah terpasang di toganya. Ah, iya! Ia memakai gaun merah marun panjang! Wajah putih dan kerah putihnya sangat serasi dengan tali merah di toga dan gaun merahnya. Tapi wajah orang itu terlihat menakutkan.
            “Aku datang kesini ingin bertemu kalian berdua. Aku akan mengajak kalian ke negeri ajaib yang menarik. Kalian akan ikut bersamaku. Kalian mau?” kata Profesor Polder sambil terus mengarahkan tangannya ke arah tong. Tousuke dan Hitomi sampai saat itu masih saja belum bisa buka suara. Karena Tousuke berpikir nggak baik juga kalo terlalu takut, ia mengedipkan mata ke Hitomi lalu melangkah maju mendekati orang misterius itu.
            “Sebenarnya kamu siapa? Tadi kamu bilang Profesor Po siapaa gitu. Kamu berasal darimana?!” sambil berkata tegas seperti itu, Tousuke berusaha menyuruh dirinya untuk tenang.
            “Namaku Profesor Polder. Namaku susah disebut, ya? Kalau begitu kalian boleh memanggilku Profesor Po.”
            “Kamu berasal darimana?”
            “Asalku? Hahaha....sekarang aku tidak bisa mengatakannya. Nanti kalian juga akan tahu. Tapi aku bukan orang aneh, kok. Jadi kalian tenang saja dan ikut bersamaku.”
            “Tidak! Kami tidak bisa percaya begitu saja denganmu! Kamu yang menyebut diri Profesor Po, justru lebih aneh. Ditambah lagi, daritadi kami liat kamu muncul diantara asap putih. Asap putih itu berasal dari tong kecil ini. Walaupun tubuhmu dipotong jadi empat bagian pun, tubuh besarmu itu tidak mungkin muat di tong ini. Kamu yang bisa keluar dari tong sekecil itu, benar-benar tidak masuk akal! Karena itu kami merasa kalau kamu adalah hantu atau penyihir. Kami tidak akan ikut orang aneh! Walaupun...pengen liat negeri ajaib itu sih.”
            “Hahahaha....kalian terlalu khawatir. Aku bukan orang aneh. Aku juga bukan hantu bukan juga penyihir. Kalo kalian pikir aku orang aneh, aku sama sekali bukan orang aneh. Aku mengajak kalian karena ilmu pengetahuan kalian kurang.”
            “Tunggu, Profesor Polder! Jangan mengalihkan pertanyaanku, ya. Coba jelaskan, bagaimana caranya kamu bisa keluar dari tong sekecil itu sementara badanmu besar? Kalau kamu tidak mau menjelaskan, kita tidak akan percaya padamu.” Tousuke tidak mau mengalah begitu saja. 
            Setelah Profesor misterius itu mengangguk kuat-kuat, ia berkata sambil memandang ke arah Hitomi.
            “Kalian pasti pernah belajar ruang geometri Euclidian di dunia ini. Tapi yang ini berbeda. Ruang yang tidak ada Euclidian. Intinya ruang non-Euclidian dan itu benar-benar ada. Seperti itulah yang aku ciptakan. Aku menciptakan ruang yang menghubungkan antara dunia ini dan dunia di dalam tong ini dengan menggunakan ruang non-Euclidian. Coba saja kalian masuk ke tong ini sesuai instruksiku. Tidak akan apa-apa. Disitu ada dunia yang saking luasnya sampe membuat kalian terkaget-kaget. Aku akan memandu kalian.” Profesor Polder antusias sekali mengajak mereka. Hitomi dan Tousuke berpikir apa mereka benar-benar bisa masuk ke tong ini? Di dalam tong sekecil ini, mana mungkin bisa masuk? Ditambah lagi, dunia mengejutkan seperti apakah yang akan menanti mereka?

-BERSAMBUNG-

Tuesday, February 7, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 2



Benda yang Terbang di Langit
            Mereka sudah siap menerima kejadian menakutkan yang bakal terjadi nanti. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Permukaan padang rumput menguning yang luas itu sepi. Nggak ada suara, nggak ada cahaya. Tenang sekali. Hitomi dan Tousuke melepas pelukan mereka. Lalu mereka saling bercerita tentang apa yang mereka liat tadi. Mereka benar-benar melihat hal yang sama dan sama-sama mencocokan pendapat mereka tentang letak jatuhnya benda aneh itu.
            “Kita liat lokasi jatuhnya, yuk? Itu pasti salah satu jenis UFO!  Kalau aku sudah melihatnya kan bisa ku jadikan referensi untuk penelitianku!” Tousuke tiba-tiba saja jadi semangat sampe berpikir seperti itu. Perasaan takutnya hilang seketika dan sebagai gantinya malah muncul rasa penasaran ingin melihat benda aneh itu dari dekat. Semangatnya ini telah memuncak di kepalanya. Hitomi dari awal memang bukan bagian dari geng Mesoko chan, dan berkarakter ceria penuh semangat. Karena itu saat Tousuke bilang begitu, Hitomi pun merasa tertarik sampai mempercepat langkahnya. Ia berniat pergi kesana untuk mengambil benda aneh itu.
            Mereka berdua mulai berlari. Mereka takut benda aneh itu akan terambil duluan oleh yang lain. Tapi saat dipikir baik-baik, dari tadi tidak ada seorang pun selain mereka karena daerah padang rumput ini memang tak berpenghuni. Makanya mereka berpikir tidak mungkin ada orang lain yang akan mengambilnya.
            Saat itu juga langkah mereka melambat. Soalnya mereka telah dekat di lokasi jatuhnya benda aneh itu, dan mereka merinding. Entah sejak kapan mereka jadi berani dan berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya. Mereka memang mengira kejadiannya di sekitar sini. Tapi, benda aneh itu tidak terlihat dimana-mana!
            “Kok aneh, ya. Jatuhnya memang disini, kan Hitomi?”
            “Iya, kok. Waktu kita liat dari seberang, memang diantara padang rumput menguning dan pintu besi ini kok. Memang sekitar sini nggak salah lagi!”
            “Tapi, tidak ada apa-apa disini. Mana mungkin hilang, kan?  Kok bisa begitu ya?” Mereka berpikir ini benar-benar misterius, lalu mereka berusaha mencari di sekitar situ. Tapi yaa memang tidak ada. Yang ada cuma besi karatan, batu dan pecahan genteng. Mereka jadi berpikir jangan-jangan yang tadi itu cuma mimpi.
            Saat itu, tiba-tiba saja Hitomi memanggil Tousuke dan menunjuk ke arah permukaan tanah.
            “Tousuke, disini ada lubang. Jangan-jangan benda aneh itu masuk sampai ke dalam sini, ya?”
            “Oh, ada lubang ya. Mungkin disini!”
              Saat Tousuke mendekat ke lubang itu, tiba-tiba kakinya terpeleset. Hitomi langsung meraih tangan Tousuke, dan menariknya keluar. Karena kalo tidak begitu, Tousuke bisa jatuh ke lubang itu. Tanahnya amblas, membuat lubang itu jadi makin besar. Jadi sebesar gua. Saat mereka berdua mengintip lubang itu, mereka melihat ada tangga untuk turun ke bawah. Karena lubang itu juga gelap sekali, mereka tidak tahu ada apa di dalamnya. Mereka sudah sampai sejauh ini, jadilah mereka memutuskan untuk masuk ke lubang itu. Setelah menaruh jaring serangga dan tempat menaruh tumbuhan di suatu tempat, mereka masuk ke lubang dengan menuruni tangga yang terbuat dari batu dan pasir kasar. Saat tangga yang panjang itu telah mencapai akhir, ada sebuah ruang bawah tanah yang kosong. Lalu entah darimana ada secercah cahaya saat mata mereka sedang merasakan gelap. Dengan begini mereka jadi bisa memastikan bagian dalam ruangan. Di ruang bawah tanah yang sangat luas itu, tidak ada apa-apa. Ah, tidak! Memang ada sesuatu! Di sudut dalam ruangan itu, ada sebuah objek hitam kecil tergeletak di lantai. Saat mereka berdua menemukan itu, mereka berdua sontak kaget. Mereka berdua saling pandang lalu mengepalkan tangan.
            “Itu....yang terbang di langit tadi?”
            “Ya iyalah! Ternyata memang jatuh sampai kesini, ya. Tapi...apa yaa yang seperti tong ini?”
            “Kita bawa terus lihat di ruangan sebelah saja yuk? Tapi...ini bukan bom waktu kan?”
            “Aku yakin bukan benda ini yang tadi terbang di langit, deh. Ini pasti cuma tong yang isinya sake atau koin emas mungkin?”
            “Kamu cerewet sekali, Hitomi. Kita kan nggak akan tahu kalo tidak dibawa ke sebelah sekalipun nanti meledak terus kita berdua mati.”
            “Abisnya, ini kan cuma tong. Pasti isinya cuma anggur.”
            “Kalau memang ini isinya anggur, kenapa bisa terbang di langit? Aneh, kan?”
            Saat sedang berbicara seperti itu, tiba-tiba dari tong muncul semacam cerobong kecil. Kemudian saat itu juga muncul suara aneh dan semacam kilat yang bercahaya.
            “HAH?!
            “Tousuke!”
            Mereka berdua reflek saling berpelukan walau mata mereka tidak lepas dari tong itu. Dari cerobongnya muncul asap putih yang membumbung tinggi. Lalu dari asap itu muncul wajah besar seseorang. Wajahnya tidak begitu terlihat, tapi hidungnya mancung dan berjanggut.
            Siapa orang misterius ini?!

-BERSAMBUNG-

Thursday, February 2, 2017

Penjelajahan Negeri Ajaib by Unno Juusa Act 1



PR Musim Panas
            Hitomi dan Tousuke menjelajah padang rumput yang menguning dengan keringat membanjiri badan mereka. Sore hari ini telah mendekati akhir musim panas. Langit juga mendung pertanda badai akan datang. Pergerakan awan pun semakin cepat. Tousuke menurunkan tas serangga dan botol racun yang diikat dengan tali di bahu. Jaring serangga yang dibawanya, ia pegang. Sedangkan Hitomi menenteng tas berisi kumpulan tumbuhan di pundaknya dengan tali. Dua anak ini teman sekelas. Karena mereka belum menemukan spesimen untuk PR musim panasnya, maka hari ini mereka pergi untuk tujuan itu. Hari ini bagaimanapun juga Tousuke ingin menangkap kupu-kupu Ageha, capung gede, capung laut, apa saja pokoknya serangga. Sedangkan Hitomi ingin mencari rumput Kaya atau bunga Aster. Tapi sayangnya apa yang mereka inginkan, tidak bisa mereka dapatkan.
           “Sudahlah, Tousuke. Mau dicari bagaimanapun juga nggak bakalan ketemu, deh. Kita nyerah aja terus pulang, yuuk.”
            “Nggak, aku nggak mau! Ayo dong lebih semangat lagi nyarinya! Karena rumputnya cuma tumbuh segini, pasti bakal ketemu di suatu tempat.”
            “Mungkin sih. Tapi kan kamu nggak dapet capungnya juga, Tousuke.”
            “Capungnya cuma ada sedikit. Lagipula pasti semuanya sudah pada terbang ke langit, jadi nggak mungkin turun ke bawah.”
            “Apa jangan-jangan karena kita nyari di padang rumput menguning itu ya?”
            “Habisnya apa boleh buat. Di sekitar sini nggak ada tempat lain selain padang rumput menguning itu.”
            “Iya juga sih.” Hitomi memandang sekeliling padang rumput yang tersinari cahaya matahari, lalu menghela napas. Tousuke lagi-lagi kehilangan capungnya.
            “Tugas penelitian Hitomi seperti apa?” tanya Tousuke.
            “Tugas penelitianku? Tentang geometri Euclidian.”
            “Geometri Euclidian, yaa. Pasti susah.”
            “Ah, nggak juga kok. Kalau kamu apa, Tousuke?”
            “Kalau aku sih tentang hubungan antara arwah dengan UFO.”
            “Hubungan arwah dan UFO? Waah, menarik ya!”
            “Menarik sih tapi aku belum pernah melihat keduanya. Jadi mana mungkin aku menulisnya?”
            “Kalo arwah aku pernah melihatnya sekali.”
            “Haah?! Yang bener?! Kamu beneran pernah liat arwah, Hitomi?! Bentuknya seperti apa? Terus warnanya apa?”
            “Kejadiannya malam Agustus sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu aku mau pergi mandi sama Ibu. Dan saat kami pulang lewat kuburan bambu, aku liat sesuatu yang aneh......e-eh, Tousuke! Kok disitu ada sesuatu yang terbang gitu. Ah! Dia menuju kemari!”Hitomi tiba-tiba menghentikan pembicaraannya soal arwah. Tangannya menunjuk ke arah langit dengan suara yang terdengar seperti ketakutan.
            “Eh? Apa?! Dimana?!”
            Tousuke yang sedang duduk di atas batu, langsung berdiri saking kagetnya. Matanya ikut melihat ke arah telunjuk Hitomi.
            “Disana, tau! Disanaa! Tuh!Kayak ada benda bulat gitu di langit, kan?Ada jejak asap juga di belakangnya.”
            “Ah, yang itu! Iya, benar terbang! Terbang! Itu bukan pesawat! Itu benda aneh! Benda aneh yang terbang di langit!” Tousuke merasa merinding saat melihat benda aneh itu. Benda itu bentuknya bulat dan hitam sekali. Mereka tidak tahu benda apa itu. Asap yang keluar di belakang benda itu cenderung berwarna cokelat. Cara terbangnya pun tidak lurus, melainkan belak-belok nggak jelas.
            “Tousuke, apa itu bukan UFO ya?!” Seru Hitomi.
            “Mungkin. Tadinya sih aku juga mikir begitu, tapi benda itu agak beda dengan UFO. Iya kan? Abisnya bentuknya nggak benar-benar bulat. Bentuknya lebih seperti bola rugby yang ada sudut di dua sisinya.”
            “Kalo dari buku dongeng Barat nih, ada juga lho yang pernah liat bentuknya seperti tong.”
            Di saat mereka berdua sedang asik berdebat, benda aneh itu semakin mendekat dengan suaranya yang menakutkan. Dan saat itu juga tiba-tiba benda tersebut jatuh dari langit. Benda itu jatuh menimpa tumpukan pecahan atap dan batu dari puing-puing rumah besar. Jaraknya dari tempat mereka berdiri sekitar lima puluh meter. Mereka memang melihat benda itu jatuh dan terdengar gema yang seperti mengguncang dunia. Mereka sadar bahwa kaki mereka sekarang ini jadi gemetaran. Saking takutnya wajah Tousuke dan Hitomi putih pucat seperti kertas, dan mereka saling berpelukan.

-BERSAMBUNG-